
Di pagi hari yang begitu cerah ini Argana tengah bersiap-siap berangkat ke kantor gedung Asian group yang belum pernah ia injakan kaki disana. Dikarenakan Argana sendiri yang tidak mau meskipun Lucas selalu menyuruhnya datang kesana.
Setelah ia keluar dari dalam kamar. Rehan yang tengah menunggunya di depan mobil seketika terbelanga melihat penampilan Argana yang benar-benar bukan seorang mahasiswa melainkan seorang pengusaha muda.
"Bagaimana penampilan ku?" tanya Argana berdiri dihadapannya.
Rehan pun langsung tersenyum mengangguk sambil mengangkat kedua jempolnya dihadapan Argana. "Bahkan saya sendiri hampir tidak mengenali tuan muda tadi. Luar biasa, semoga semuanya berjalan dengan baik. Silahkan masuk tuan" Rehan membukakan pintu mobil untuknya.
Begitu Argana masuk kedalam mobil, ia pun segera naik kedalam mobil itu juga menuju gedung tinggi Asian group milik Elisabet yang ia bangun selama ini.
Sesampainya disana, karyawan yang belum mengenal siapa Argana sebenarnya tidak satu orang pun diantara mereka yang memberikan hormat kepada putra sang Presdir di perusahaan tersebut.
Bahkan sekretaris Lucas sendiri tidak mengenali wajahnya Argana hingga ia tidak dapat bertemu dengannya di loby. "Ais, dimana dia sebenarnya?" gumamnya memperhatikan layar ponselnya.
Sedangkan Argana telah duluan naik lantai atas ruangan Lucas. Ia melihat beberapa karyawan telah tiba disana, setelah itu ia langsung masuk kedalam ruangan Argana tanpa meminta izin kepada siapa pun karena tidak akan ada satu orang yang akan melarangnya masuk.
Namun tanpa ia sadari, seorang karyawan yang ketepatan melihat dirinya segera berlari kearahnya.
"Maaf! Anda ini siapa? Kenapa anda ingin memasuki ruangan ini?" tanyanya melihat Argana dari atas sampai bawah.
Kemudian Argana tersenyum tipis, lalu memberitahu siapa namanya. Tetapi wanita tersebut bukannya mengenalnya, ia malah dibuat kebingungan begitu Argana menyebut namanya dan juga marganya.
"Sebaiknya anda lanjut bekerja saja. Jangan mencampuri urusan yang bukan urusan anda" ucap Argana membuat wanita itu membulatkan mata menatap Argana dengan tatapan tidak suka mendengarnya perkataan Argana yang sama sekali tidak menghargai dirinya.
"Kurang ajar. Sepertinya kamu disini karyawan baru. Yah, kamu tidak tau siapa saya disini?".
"Saya tidak perlu tau anda ini siapa. Permisi".
Tidak sampai disana, wanita itu lalu memanggil petugas keamanan untuk segera menyeret Argana keluar dari dalam ruangan Lucas yang telah berani memasuki ruangan Presdir mereka secara sembarangan.
Kemudian sekretaris Lucas melihat mereka, ia bertanya ada apa petugas keamanan berada di depan pintu ruangan Lucas. Lalu wanita itu memberitahu kalau seorang pria telah berani memasuki ruangan Lucas tampa izin terlebih dahulu dan mereka juga tahu kalau Lucas sedang tidak berada di Indonesia.
"Ya sudah. Biar saya saja, kalian tunggu diluar" ucapnya mengetuk pintu ruangan Lucas sebelum ia mendorong pintu tersebut.
__ADS_1
Ceklek!
Begitu ia masuk, ia melihat seorang pria bertubuh kekar berpakaian rapi tengah duduk diatas sofa yang berada di dekat jendela kaca menatap keluar gedung.
"Anda siapa?" tanyanya memberanikan diri mendekati Argana. "Apakah anda tuan Argana?".
"Jam berapa sekarang?" Argana menatapnya datar.
"Akh, benar anda tuan Argana" ucapnya setelah ia mencocokan foto yang ada di layar ponselnya dengan pria yang berada di hadapannya itu. "Selamat pagi tuan. Apa tuan Argana sudah sarapan?".
"Saya sudah sarapan" jawab Argana bangkit berdiri dari atas kursinya. "Sekarang dimana mereka? ini sudah hampir jam 9 pagi. Saya tidak ingin waktu saya terbuang begitu saja. Apa mereka sudah tiba?".
Sekretaris Lucas tersenyum mengangguk, "Tunggu sebentar tuan. Saya keluar dulu untuk memastikan mereka sudah tiba atau belum. Sebentar tuan" ia lalu keluar dari dalam ruangan Lucas. Melihat mereka yang masih berdiri menunggu di depan pintu ruangan Lucas, si sekretaris itu langsung menyuruh mereka bubar dan kembali bekerja tampa memberitahu siapa Argana sebenarnya.
_
_
Setelah hampir 25 menit lamanya Argana menunggu di dalam ruangan, sekretaris Lucas belum juga kembali membuat Argana pada akhirnya keluar dan bertanya kepada salah satu karyawan disana dimana letak ruangan meeting.
"Kami tidak menerima siapa pun kecuali tuan Lucas. Tolong katakan itu kepada beliau" ucap salah satu orang itu dari dalam ruangan meeting.
"Iya, bagaimana bisa kami mempercayainya? Sekalipun dia anak tuan Lucas sendiri" sambung yang lainnya.
Melihat mereka yang keras kepala, sekretaris Lucas merasa pusing harus mengatakan apa kepada Argana. Apalagi ia disana telah menghabiskan waktu selama 30 menit lamanya.
"Maaf, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya akan memberitahu..
Ceklek!
Mendengar suara pintu terbuka, semua mata tertuju ke ambang pintu dimana Argana yang tiba-tiba masuk kedalam dengan senyuman sinis yang ia terbitkan di wajahnya.
"Dia siapa?" tanya mereka.
__ADS_1
"Saya?" Argana tertawa kecil. Lalu mendudukkan diri diatas kursi yang seharusnya Lucas dudukki sambil menatap mereka satu persatu. "Sepertinya kalian semua belum mengenal saya siapa? Perkenalkan nama saya Argana Davison. Senang bertemu dengan kalian semua. Ada yang bisa saya bantu?".
Tidak ada jawaban.
Argana menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa? bukankah kalian kemari karena ada tujuan? Tapi kenapa tidak ada satupun diantara kalian yang angkat bicara?" ia melihat sekretaris itu.
"Ada apa dengan mereka?".
"Maaf tuan. Saya..
"Hentikan" potong Argana melihat mereka kembali. "Masih tidak ada yang ingin bicara dengan saya?".
"Maaf. Disini kami tidak ingin berbicara dengan anda meskipun anda sendiri adalah putranya tuan Lucas. Jadi sebaiknya kami pergi saja, kami akan menunggu sampai tuan Lucas kembali ke Indonesia. Terima kasih" jawab salah satunya bangkit berdiri meninggalkan ruangan tersebut.
"Baiklah. Kalian semua juga bisa pergi seperti dia" seringai Argana mempersilahkan mereka. Kemudian mengeluarkan ponselnya menghubungi nomor ponsel Lucas. "Hallo pa! mereka tidak terima yang mereka temui adalah aku. Mereka hanya mau bertemu dengan papa sendiri"
Argana sengaja menyalakan speaker ponselnya supaya mereka mendengar Jawaban apa yang akan Lucas berikan.
"Ya sudah. Suruh saja mereka pergi" jawab Lucas dengan simpel.
"Baiklah pa".
Argana mematikan ponselnya, ia tersenyum melihat mereka yang hanya bisa diam menyadari kalau Lucas bukanlah orang yang mudah mereka hadapi.
"Kenapa kalian masih disini? saya juga sangat sibuk. Permisi..
"Tunggu!" tahan salah satunya membuat mata mereka tertuju kepadanya. "Akh, maaf jika saya tidak sependapat dengan kalian semua. Tuan, bisa kita bicarakan ini lagi?" tanyanya kepada Argana.
Argana kemudian mangkat kedua bahunya sambil mengangguk, sedangkan yang lainnya memilih keluar dari dalam ruangan tersebut karena mereka belum bisa mempercayai Argana.
"Silahkan duduk" ucap Argana.
"Iya tuan" begitu ia duduk, ia melihat Argana dengan tatapan serius.
"Ada yang bisa kami bantu?" Argana duluan mengajukan sebuah pertanyaan kepada si pria itu. Dan ia pun langsung mengangguk menceritakan semuanya dari awal sampai akhir hingga kini ia berhasil diterima berinvestasi di perusahaan Asian group atas izin Argana.
__ADS_1
"Selamat bergabung di perusahaan kami, semoga kedepannya Asian grup semakin dikenal" senyum Argana.
"Iya tuan" senangnya.