
Frans berjalan kearah mobilnya terparkir.
"Frans tunggu!
Riska mengejar frans dan bertanya. "Ada apa sebenarnya kau dengan Fanny, bukankah kalian sepasang kekasih, kenapa justru Fanny calon tunangan Erland?"
Frans menghela nafas dalam dan dihembus kannya kasar "Kau pasti sudah mendengar cerita Erland tadi bukan? karena perjodohan! ok Ris sudah malam, aku pulang dulu."
Frans masuk kedalam mobil dan meninggalkan Riska yang menatap kepergiannya.
Sebuah gerbang terbuka dengan lebar, Mobil sport masuk kedalam mansion dan terparkir didepan teras.
"Terima kasih." ucap fanny singkat, ia langsung membuka pintu mobil.
"Fanny tunggu! Justin memegang pergelangan tangan fanny.
"Ada apa lagi, ini sudah malam aku harus istrahat."
"Kenapa kau sedari tadi selalu murung, ada apa fanny?"
"Tidak ada apa-apa just, aku memang jarang bicara apalagi sama orang yang baru aku kenal."
"Haii.. jadi kau mengaggap ku ini orang baru? bukan kah kedua Papa kita adalah sahabat, jngan pernah kau anggap aku orang yang baru kau kenal, aku mengaggumimu sudah cukup lama, semua foto fotomu ada di dingin kamar ku, bahkan di ruangan kerjaku terpampang wajah cantikmu."
Fanny mengerutkan keningnya 'Darimana kau dapatkan foto foto ku?"
"Fany.. fanny... tentu saja dari Instagram."
"Tapi aku tidak pernah berteman dengan mu, bagaimna bisa?"
Justin tersenyum sumringah "Aku punya nama lain di Instagram dan kita saling followan, bahkan kita sering DM ko."
Fanny menarik nafas dalam-dalam "Jadi kau selalu mengintai ku sejak lama! Ya sudah aku mau turun, lepaskan tanganku."
"Fanny, aku mencintaimu dan sudah menjadi penggemar rahasiamu." mencium tangan Fanny. dengan cepat fanny menarik tangannya.
"kau salah kalau mencintaiku! Bagaimana bila aku sudah memiliki kekasih?"
"Aku tak peduli walau kau telah memiliki sepuluh kekasih sekalipun, Kau akan tetap menjadi milikku karena perjodohan kedua orangtua kita, dan aku tidak akan pernah menolaknya. justru aku sangat berterima kasih pada Papaku yang telah pertemukan kau padaku."
Wajah Fanny memerah menahan kekesalan yang teramat dalam "Terserah padamu, tapi aku hanya menganggap mu teman relasi papaku, ku harap kau berpikiran maju dan tidak menerima keputusan kedua orangtua kita."
Fanny membuka pintu mobil dan turun begitu saja tanpa peduli ekspresi dingin Justin.
"Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan cintamu fanny! sebanyak apapun kau menolak ku, aku pastikan tidak akan pernah mundur, sudah banyak macam wanita yang aku taklukkan, tapi kau adalah tantangan buatku!" muehehehe...
Justin menoleh pada Arloji ditangannya "Masih banyak waktu, aku akan ke Bar dulu menemui Shella."
Mobil Justin pergi meninggalkan mansion.
__ADS_1
Sementara itu mobil frans sudah berhenti didepan Apartemen. ia masuk kedalam ruangan setelh membuka pintu. Seperti biasa Frans membuat kopi hitam kesukaannya dan naik keatas menuju kamar dengan membawa segelas kopi.
Masuk kedalam kamar mandi untuk bersih bersih, ia keluar dengan memakai jubah handuk dan menyeruput kopi. Frans mengambil ponsel dalam saku celananya, rasanya tak sabar untuk segera menelpon kekasih yang telah lama ia rindukan.
"Fanny sudah membuka bloknya." Frans tersenyum sumringah dengan cepat ia melakukan panggilan video call, lama menunggu akhirnya sebuah wajah imut fanny tanpa makeup terlihat didepan frans.
"Fanny!"
"Frans!"
Mereka berdua sama sama melepas rindu dari kejauhan, saling menatap tapi hati mereka tetap terasa dekat, begitulah perjalanan hidup dan cinta seseorang, manusia tidak ada yang tahu dan tidak semulus jalan tol. semua orang hidup pasti banyak ujiannya, tergantung sekuat dan semampu apa mereka menghadapi semua ujian itu. Ada yang cepat ada juga yang butuh proses untuk melangkah menuju kebahagiaan dan mendapatkan cinta sejati yang haqiqi.
"Lusa aku akan berangkat ke Korea, jaga hatimu untukku."
"Frans, kau harus kembali lagi untuk ku, jangan biarkan Justin merebut ku darimu, aku tidak ingin itu terjadi dan cepatlah sembuh, aku pasti akan selalu merindukanmu."
"Doa'mu adalah kekuatan buatku, dan dirimu adalah obat penyembuh ku, kaulah penyemngat hidupku fanny, i love you my honey."
"Frans... hiks, hiks,.. berat rasanya harus jauh darimu, andaikan saja aku bukan dari keluarga terpandang, andaikan saja aku bukan anak dari Ramon Mahesa, sudah pasti cinta kita takkan sesakit ini, aku pasti sudah menjadi bagian dalam hidupmu selamanya. hiks...
"Ssstttt... kau tidak boleh bicara begitu, kalau kau bukan anak dari Tuan Ramon, belum tentu kita bertemu, dan belum tentu aku berada disini bersamamu, semua ini adalah takdir dan ujian cinta kita, percayalah Tuhan tidak akan pernah memberi kita ujian diluar batas kemampuan umatnya."
Frans menatap iba wajah Fanny yang terus meneteskan airmata, bila ia berada disampingnya sudah pasti Frans sebagai penghangat buat Fanny, Fanny menyandarkan kepalanya didada bidang Frans dan sebuah kecupan hangat dikening ia berikan, tapi kini ia hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Hingga malam itu mereka habiskan waktu untuk saling melepas rindu.
****
"Sayang kau sedang apa?" sebuah tangan kekar memeluk pinggang ramping Delena dan mencium pipinya hangat.
"Mas sudah bangun?" menoleh kesamping menatap wajah tampan suaminya yang baru bangun tidur.
"Iya sayang, kau pergi begitu saja dari ranjang." bergelayut manja di pundak istrinya.
"Aku tidak ingin membangunkan mu mas, ini masih terlalu pagi, kau pasti lelah setelah bekerja seharian."
"Yank, kau sudah mandi? mandikan Mas ya."
"Suami manja, Mas bisa mandi sendiri, aku mau mandikan vano dan vana."
"Kau tau bukan suamimu tidak bisa dibantah." Reno mngangkat tubuh Delena dan masuk kedalam kamar mandi.
"Mas, apa apaan sih, turunkan aku sudah mandi tadi." Rengek Delena, tapi tingkat kebucinan Reno sudah tahap akut hingga Delena tidak akan bisa menolaknya.
Satu jam kemudian mereka selesai mandi basah, Delena mengeringkan rambutnya di bantu Reno, kini gantian Delena yang mengancingkan baju Reno dan memakaikan dasinya hingga terlihat sempurna.
"Mas besok Frans sudah berangkat ke Korea, kira kira siapa pengganti Asisten mu, aku tidak ingin Arneta mengambil kesempatan saat frans tak ada."
"Aku masih memikirkan nya yank."
'Kalau begitu aku yang akan menggantikan posisi frans selama ia tak ada."
__ADS_1
"Kau..? Reno terkejut.
"Kau pikir aku wanita yang lemah, mas tidak usah khawatir aku akan selalu berada disamping mas 1x24 jam." tersenyum lebar.
"Tapi yank kalau kau ikut bekerja dikantor, bagaimna dengan si kembar."
"Mas, ibu menjaga vano dan vana lebih telaten daripada ku, percayakan masalah anak anak sama ibu, kan ibu dibantu baby sister."
"Baiklah bila kau memaksa, tapi Mas takut bila dekat terus dengan mu."
Delena mengeryitkan dahinya "Takut karena apa Mas?
"Takut gak kuat untuk mengerem libido ku."
"Astaga Mas." Delena terkekeh geli "Tenang ajah aku punya cara yang jitu untuk mengerem nya."
"Kau selalu saja menggampangkan urusan bawah perutku yank."
Reno tampak kesal, Delena terus tertawa cekikikan.
"Frans akan datang pagi ini dan membicarakan tentang Arneta, ia sudah mengetahui siapa Arneta sebenarnya, dan kita harus tetap bersandiwara di depan Arteta."
"Aku jadi penasaran siapa Arneta itu."
Suara ketukan pintu dari luar kamar.
"Siapa?"
"Maaf Nyonya ada Tuan Frans dibawah."
"Frans sudah datang mas."
"Baiklah aku akan menemuinya." seru Delena pada pelayan nya.
Selesai berpakaian mereka berdua berjalan turun kebawah menuruni anak tangga berukir.
'
'
'
'
'
'
Bersambung 😍
__ADS_1