ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
kontrak kerjasama.


__ADS_3

Ceklek!


Andini masuk kedalam ruangan itu dan melerai perdebatan antara anak dan Ayah.


"Sudah cukup perdebatan kalian, suara kalian sampai terdengar keluar ruangan."


Reno beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Andini. "Mah, sepertinya aku tidak bisa membujuk Papa, karena ucapan ku tidak pernah dianggap. Aku pamit pulang dulu."


"Reno, hati hati dijalan Nak, kau jangan terbawa emosi saat mengendarai mobil." ujar Andini prihatin.


"Iya Mah! Reno tersenyum tipis. "Selamat malam Mah, pah!"


Reno berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.


Didalam mobil Reno terus berpikir, pikirannya terus tertuju pada Frans, Reno memutuskan untuk mengunjungi apartemen frans, ada perasaan bersalah padanya karena telah dihujat oleh Papanya. Reno tidak menyangka dengan sikap Papanya yang selama ini bersikap adil dan bijaksana, tapi bisa berbuat serendah itu pada Frans, asisten yang telah mengabdikan hidupnya pada dirinya. Tak terasa bola mata Reno sudah berembun, cairan hangat itu sudah membasahi pipinya.


"Frans maafkan aku, aku tidak pernah ada saat kau butuhkan, aku terlalu egois tanpa pernah peduli perasaanmu." Reno menarik nafas dalam-dalam.


Mobil Reno sudah terparkir di halaman Apartemen, ia berjalan menuju pintu lift. setelah berjalan beberapa belokan kakinya berhenti disebuah pintu. Reno menekan tombol disamping pintu berulang kali, tapi tidak juga pintu terbuka.


"Frans, dimanakah dirimu? kenapa ponselmu tidak aktif lagi, bahkan kau tidak membukakan pintu untukku?"


Setelah lama menunggu tidak ada tanda tanda pintu terbuka, Reno memutuskan untuk pulang.


****


Pagi itu seperti biasa mentari menyinari cahayanya di seluruh semesta alam. Delena sudah selesai mandi dan berpakaian, ia berjalan kearah ranjang dan membangunkan suaminya.


"Sayang, ayo bangun."


"Jam berapa sekarang?


"Sudah jam setengah tujuh mas."


Reno menggeliat sebentar dan menarik tubuh Delena dalam pelukannya, mencium kening istrinya penuh kehangatan.


"Cup! Kiss Morning honey."


"Terima kasih sayang." kembali mencium bibir Reno.


"Aku harus secepatnya kekantor, Frans datang atau tidak hari ini, aku begitu khawatir padanya."


"Aku juga kasihan pada frans dan fanny, kenapa cinta mereka berdua penuh ujian." Delena tersenyum "Sama halnya seperti kita dulu Mas, begitu banyak kesalahan pahaman diantara kita, tidak mudah menyatukan hati kita yang sudah dipenuhi dendam."


"Kenapa kau mengungkit itu lagi yank, itu adalah kesalahan ku yang paling fatal, karena aku tidak tau kalau kalian sudah berganti posisi saat pernikahan itu." meraih tangan Delena "Kini aku sangat mencintaimu dan tidak pernah menyesal menikah denganmu, semua ujian itu sudah lewat sayang, kedepannya kita harus sama-sama saling menguatkan."


"Iya Mas, tapi ujian itu masih tetap ada, kita harus waspada dan jangan lengah, karena bom sewaktu waktu akan meledak."


"Apa maksud perkataan mu yank? Reno mengerutkan keningnya.


"Suatu saat kau pasti akan tahu kebenarannya, sekarang lebih baik Mas mandi dulu, aku sudah siapkan air hangat untukmu."


Reno beranjak dari ranjang dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.


Diruangan meja makan, mereka sudah sarapan bersama. Seperti biasa Reno menciumi pipi si kembar yang gembul sebelum berangkat kerja.

__ADS_1


"vano dan vana jangan nakal ya." ujar Reno menciumi lagi karena gemez.


"Aku berangkat dulu yank."


"Iya Mas" mencium punggung tangan Reno.


Mobil Reno meningglkan mansion. satu jam setengah perjalanan mobil sampai di gedung perkantoran. Reno kluar dari mobil setelah bodyguard membukakan pintu. langkah Reno terhenti setelah melihat karyawan sedang berkumpul dan tertawa bahagia.


"Ada apa ini? tanya Reno pada penjaga yang berdiri di belakang Reno.


"Sepertinya Sekertaris Tuan sedang membagi bagikan makanan pada karyawan.'


"Membagikan makanan? ada acara apa?! seakan tidak peduli Reno meneruskan langkahnya.


"Pagi Presdir..


Ucap karyawan yang melihat kedatangan Reno.


"Ting! lift terhenti di lantai 25


Setelah keluar dari ruangan sempit itu Reno menuju ruangannya.


"Selamat pagi Tuan Reno." sapa Arneta sopan membungkuk memberi hormat.


Tanpa menoleh padanya Reno berjalan melewati Arneta.


Reno mendudukkan tubuhnya dikursi Presdir, ia menelpon ruangan frans, tapi telpon tidak diangkat. terpaksa Reno bertanya pada sekretarisnya Arneta.


Tuts!


"Sejak tadi pagi asisten Frans tidak datang Tuan, oiya Tuan aku ingin memberikan laporan hasil meeting kemaren."


"Hasil meeting? Reno mengeryitkan alisnya.


"Iya tuan hasil meeting yang sudah saya....


Dret, drett, drett..


Tuts!


Reno mematikan telponnya secara tiba-tiba setelah terdengar getaran ponsel.


"Ahh.. sial! kenapa dia mematikan telponnya, aku belum selesai menjelaskannya! gerutu Arneta.


"Hallo Tuan Alvaro, maaf kemaren aku tidak bisa menghadiri meeting, semua aku serahkan pada Asisten ku Frans."


"Selamat Tuan Reno, aku menyetujui kerjasama ini, kapan kontrak kerjasama akan dibuat."


"Benarkah Tuan Alvaro menyetujuinya?" ujar Reno tersenyum sumringah.


"Tentu saja, aku suka penjelasan dan penjabaran tentang proyek di Malvia, kita akan bangun proyek besar di Negara kanguru itu."


"Aku sangat senang mendengarnya, Asisten frans memang hebat dalam bidangnya." puji Reno terus tersenyum.


"No, no.. bukan Tuan Frans, tapi sekertaris cantik anda Nona Arneta."

__ADS_1


"What Arneta?! Reno terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya.


"Tentu saja, karena sekretaris Anda Nona Arneta seorang profesional dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata, dia sanggup meyakinkan kami untuk bekerjasama dengan perusahaan anda."


Reno tercengang mendengar ucapan cliennya yang langsung mau bekerjasama dengan perusahaan otomotif nya, sebab untuk mendapatkan kontrak kerjasama dengan Tuan Alvaro tidaklah mudah, apalagi itu proyek besar yang membutuhkan dana ratusan miliar.


"Terima kasih atas kepercayaan tuan pada perusahaan kami, secepatnya kita akan buat kontrak kerjasama."


"Okey aku tunggu."


Deg!


jantung Reno berdebar kencang tak karuan, dia tidak pernah menyangka dibalik wajahnya yang mirip mantannya Anjali, Arneta berhasil membuat kontrak kerjasama dengan perusahaan ternama sekelas Tuan Alvaro.


"Pantas Arneta membagikan makanan pada Karyawan, siapa dia? Anjali tidak memiliki kecerdasan dibidang otomotif, jangankan untuk berbicara didepan para investor, dulu bila aku sedang meeting dan mengajaknya untuk menemaniku, ia tidak pernah tertarik.


Tok, tok, tok..


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Reno. Arneta masuk setelah Reno memberi perintah.


"Tuan, ini laporan hasil meeting kemaren." Arneta menaruhnya berkas berkas itu diatas meja Reno.


"Dan ini Tuan, aku ingin memberikan kegembiraan pada semua karyawan dan juga pada Tuan Reno, ada sedikit makanan sebagai bentuk rasa syukur saya atas keberhasilan kontrak kerjasama dengan Tuan Alvaro." Arneta menaruh bag berisi kotak makanan diatas meja Reno, tentu saja Reno tidak dapat menolaknya karena bagaimnapun juga Arneta telah merebut perusahaan bonafit itu ke perusahaannya.


"Terima kasih." ucap Reno datar.


"Kalau begitu aku permisi dulu."


Setelah kepergian Arneta, Reno menarik nafas dalam, membuka berkas itu. Ia hampir melupakan keberadaan Frans yang tidak ikut meeting kemaren.


"Jadi meeting kemaren Arneta semua yang mengambil alih?" Reno menatap tak percaya pada berkas berkas didepannya, walau sebenarnya ia takjub.


Reno membuka laci disampingnya dan ia menemukan sebuah surat, lalu membacanya.


"Frans ingin cuti dalam beberapa minggu? tapi pergi kemana dia? Reno terus memutar otaknya.


"Villa? aku pernah mendengar ia membeli sebuah villa untuk calon istrinya.


"Jangan jangan frans pergi kesana untuk menenangkan diri, tapi dimana alamatnya? Reno berfikir sejenak "Ya aku tau dia pernah mengatakan tempatnya."


Reno beranjak dari duduknya dan berjalan keluar ruangan.


"Tuan Reno anda mau kemana? tanya Arneta.


Tapi Reno tidak peduli pertanyaan Arneta, ia terus berjalan meninggalkan tempat itu.


'


'


'


'


'

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2