
"Mami..." teriak Vano
Didalam mobil Davin terus mempertahankan pistolnya "Jangan coba berani mendekat, aku tidak akan segan untuk menembak kepalamu!" teriak Davin dengan amarah meletup-letup.
"Jangan lakukan itu Mami! ingat ada Chika yang masih membutuhkan!" teriak Vano bersama kencangnya hembusan angin di luar.
"Bila kau ingin aku mati! baiklah kita mati bersama!" teriak Erland.
"DORR...!!"
Mobil seketika oleng dan tabrakan tak dapat di hindari. Dari kejauhan terdengar sirene mobil polisi. Vano yang masih ikut mengejar mobil Erland, di stop oleh polisi dengan menembakan peluru keatas sebagai tanda peringatan.
Dengan terpaksa Vano berhenti dan menepi. Motor polisi berhenti dan mendekati vano. Vano memberikan penjelasan kenapa ia harus masuk kedalam tol.
Di tempat lain Mobil patroli polisi masih terus mengejar mobil Erland.
"BRAKK...!!
"BRAKK....!!
Mobil Erland menabrak pembatas jalan, setelah mobil sedan dari arah belakang menghantam dengan kecepatan tinggi. Karena tidak ada keseimbangan, mobil itu oleng dan terseret hingga tiga ratus meter.
Suara teriakan di dalam mobil sempat terdengar lirih dan suara itu hilang bersama berhentinya mobil.
Mobil patroli berhenti dan mendekati mobil yang sudah hancur bagian depan dan belakangnya. keadaan di jalan raya tol Jagorawi terjadi kekacauan. Terpaksa mobil yang melintasi di jalan tol diberhentikan karena adanya tabrakan tiga mobil bersamaan.
Vano yang sudah menjelaskan semuanya pada polisi, ikut tercengang dan syok saat polisi itu mendapat info dari teman sesama polisi yang mengabarkan terjadinya kecelakaan beruntun.
"Cepat datang ke lokasi, terjadi kecelakaan beruntun, Dua sedan dan satu Inova."
"Siap! saya akan menyusul. sedang menangani seorang anak yang nekad dan menerobos jalan tol mengunakan motor balap."
Setelah pembicaraan selesai polisi itu masih memberikan peringatan.
"Untuk sementara motor anda kami tahan untuk bukti pelanggaran. Apalagi kau masih di bawah umur tidak memiliki KTP!"
"Maaf pak pol, masalahnya ini menyangkut mami saya, dan tadi saya mendengar ada tabrakan mobil beruntun. itu pasti mami saya. Tolong saya Pak! Vano bicara penuh permohonan. "Izinkan saya melihat keadaan Mami, sungguh saya takut terjadi apa-apa dengannya. Setelah itu Bapak boleh ambil motor saya dan membawa saya. Pasti saya akan bertanggung jawab."
"Siapa orang tua mu! dia harus datang ke kantor polisi dan melihat kelakuan anaknya!"
__ADS_1
Tidak ada pilihan lain, Vano berterus terang. "Nama saya Zevano, anak dari Reno Mahesa."
"Ap-apa..? anak tuan Reno?" kedua polisi itu saling bersitatap "Kau benar anak Tuan Reno? jangan bercanda kau?" polisi itu masih meragukan pengakuan Vano.
"Kalau pak pol tidak percaya, silakan bicara dengan Daddy saya! Vano mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memberikan ponsel itu pada pak pol.
"Sebutkan nomornya biar saya bicara dari ponsel saya!" tegas pak pol.
Vano memberikan nomor Reno. Pak pol mulai menghubungi Reno, tiga kali panggilan telpon terhubung.
"Hallo..." terdengar suara berat dari ujung telepon.
"Sore Tuan! apa benar anda bernama Tuan Reno Mahesa?"
"Iya benar saya sendiri. Saya bicara dengan siapa..?
"Maafkan saya tuan, apa benar anak tuan bernama Zevano?"
"Iya Zevano anak saya, ada apa dengan nya?"
"Anak tuan, telah melanggar hukum dengan masuk menerobos jalan tol dan tidak memiliki KTP."
"Pasti anak saya punya alasan kenapa ia sampai menerobosnya jalan tol! bela Reno. "Bisa saya bicara dengan anak saya."
Mereka berdua berbicara dengan lock speaker, Vano menceritakan kronologinya Kenapa ia harus melewati jalan tol demi mengejar Davina yang dalam bahaya. Selesai bicara dengan Vano, Reno meminta polisi untuk membebaskan Vano dan melihat keadaan tantenya. Dan Reno akan bertanggung jawab sebagai orang tua Vano yang telah menerobos jalan tol dan berkendara masih di bawah umur.
Vano berboncengan dengan pak polisi menuju tempat terjadinya kecelakaan. Saat di tempat kejadian, Vano melihat mobil sedan hitam yang di tumpangi Davina dalam keadaan ringsek. Dengan cepat ia meloncat dari motor dan berlari kearah mobil.
"Mami....." teriak Vano histeris.
Tempat kejadian banyak di kerumuni orang-orang yang ingin melihat tabrakan beruntun itu. Polisi sudah berada di tempat kejadian dan mengeksekusi para korban.
Vano menerobos pertahanan polisi untuk melihat keadaan Davina. "Mami...." jatuh sudah airmata Vano melihat para korban di keluarkan dari dalam mobil, Vano tidak tahu pasti apakah Tantenya masih hidup atau tidak.
Beberapa polisi terus menarik tangan Vano yang nekad ingin mendekat.
"Jangan mendekat, para korban sedang di keluarkan dari mobil." seru salah seorang polisi yang bertugas.
"Di dalam mobil sport hitam itu ada Mami saya! tolong lepaskan pak, biar saya melihatnya sendiri."
__ADS_1
"Sabar Dek! kami sedang mengevakuasi satu persatu korban yang berada di dalam mobil.
Didalam mobil Inova, ada empat orang yang terjebak di dalam mobil, mereka di keluarkan satu persatu, Namun ada yang tergencet dan terluka parah. Di dalam mobil sedan putih ada dua orang korban, dan dinyatakan mati di tempat, keduanya tidak ada yang selamat. Kini mobil sport hitam milik Erland sedang di evakuasi. Vano yang sudah berdiri disana terus menyaksikan tanpa berkedip dan tidak mengalihkan pandangan. jantungnya berdebar kencang, keringat jagung menetes deras. Aliran darah Vano hampir terhenti saat tubuh Davin di keluarkan dari dalam mobil dalam keadaan penuh luka serius, darah kental juga keluar dari hidung dan bibirnya. Dokter forensik juga sudah ada di lokasi. Memberl laporan para korban dan mencatat hasil pemeriksaannya. ia menerangkan pada polisi dan Vano saat salah seorang polisi bertanya. Davina mendapatkan benturan keras hingga mengeluarkan darah. Korban berikutnya seorang pria yang di keluarkan secara paksa, karena salah satu kakinya terjepit, Mereka berdua di keluarkan tanpa sadar. Sementara sang supir mati mengenaskan dengan tubuh terjepit dan banyak darah di wajahnya, polisi perkirakan terkena benturan keras dan kaca mobil hancur mengenai wajahnya.
Seorang polisi mempersilahkan Vano untuk mendekat setelah korban sudah di keluarkan Semua, mereka di taruh di atas matras sambil menunggu mobil ambulance.
"Mami..." airmata tak kuasa vano tahan, butiran bening terus menetes membasahi pipinya. Vano menangis sesenggukan melihat wajah Davina dipenuhi luka memar "Mami harus kuat, jangan tinggalkan kami." bisik Vano mengusap lembut pucuk kepalanya. Meraih tangan lemah tak berdaya itu.Vano bernafas lega saat Dokter forensik mengatakan Davina masih hidup, walau detak jantungnya terdengar lemah.
"Tuan Vano! Tiba-tiba seorang komandan polisi mendekat "Kami akan membawa Nona Davina secepatnya ke rumah sakit, Ayah Tuan baru saja telpon dan secepatnya meminta di tangani."
Suara sirine ambulan semakin mendekat. Korban pertama yang di bawa adalah Davina atas perintah komandan polisi yang sudah mengenal baik dengan kelurga Mahesa.
Para medis mengangkat tubuh Davina ke atas brankar dan masuk kedalam mobil ambulance bersama Vano yang setia menemani. Selang infus dan selang oksigen telah terpasang sempurna di tubuh Davin. Mobil berjalan menuju rumah sakit dengan cepat.
Didalam mobil Vano terus menggenggam tangan Davin yang tak di infus. Ada rasa iba pada sosok wanita yang pernah ingin membunuhnya. Namun, Vano Seorang laki-laki berjiwa besar dan tidak pernah dendam apalagi membencinya, walau sebenarnya ia sudah tahu kebenarannya dan masa lalu Davina. Vano tetap menyayangi Davina seperti sayangnya pada ibu kandungnya. Hanyalah Davina satu-satunya Keluarga ibunya yang ada.
"Mami.., cepatlah sadar. Kasihan Chika selalu menanyakan Mami." Vano mengusap kasar airmatanya yang terus tumpah. Kenapa ia selalu berada di posisi seperti ini? belum lama ini Om nya Tommy yang mengalami musibah, kini ia harus di hadapkan kembali dengan musibah Davina wanita yang sudah ia anggap ibu keduanya.
Hanya menempuh waktu setengah jam, mobil ambulans sampai di depan lobby rumah sakit milik Ramon. Tubuh Davin di bawa ke ruangan UGD ( Unit Gawat Darurat ) untuk penanganan lebih intensif.
"Vano...!"
"Daddy...!" Vano berhambur memeluk Reno, anak dan Ayah itu terlihat saling menyayangi dan mendukung. Reno mengusap punggung anak lelakinya, selalu ada kebanggaan pada anaknya yang sudah tumbuh remaja dan selalu ada diposisi terdepan untuk membela keluarga dan orang-orang yang ia sayangi.
"Don't cry you boy, believe me everything will be fine! (jangan menangis kau adalah anak laki-laki percayalah semua akan baik-baik saja)
"Vano hanya nggak tega melihat kondisi Mami, Vano menangis bukan berarti lemah Dad! tapi ikut merasakan sakit dan sedih melihat orang yang Vano sayangi terluka."
"Daddy mengerti, kau mudah tersentuh. Sekarang kau istirahat dulu, sepertinya anak Daddy shok!' ujar Reno memberi ketenangan dan membawa Vano kesebuah kerungan
๐๐๐
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
๐like
๐vote
๐gift
__ADS_1
๐komen
@bersambung......