
"Nona Fanny sangat cantik, aku sungguh terkesan dengan perkenalan kita malam ini, hmm... sepertinya aku menyukaimu." ucap Justin tersenyum lebar. "Semoga kita berjodoh!" tuturnya lagi tanpa basa-basi.
Fanny menoleh sekilas dan membuang jauh pandangannya dengan ekspresi kesal.
"Jangan senang dulu, kita lihat saja nanti kedepannya." ucap Fanny cetus, sambil melihat kedua tangannya.
"Justin! ayo cepat balik, masih ada waktu untuk menemui calon mu besok! seru Brian tergelak.
Setelah mereka masuk kedalam mobil, Justin dan kedua orangtuanya Pergi meningglkan Kediaman Ramon.
Fanny masuk kedalam kamar, membaringkan tubuhnya keatas ranjang. tiba-tiba ia teringat akan frans, rasa rindu yang teramat sangat harus ia pendam, sudah seminggu sejak kejadian dikantor Reno, Frans dan fanny tidak pernah bertemu atau mengirim pesan, bahkan mendengar suara masing-masing saja sudah tidak pernah sama sekali, jarak diantara mereka seakan tersekat dinding yang sangat tinggi.
"Frans, aku sangat merindukanmu."
Fanny mengambil ponsel diatas meja rias, ia mulai mencari nomor kontak frans. sebenarnya ia ragu untuk menghubungi Frans, tapi rasa rindu dihatinya sudah tak terbendung lagi. bagai bongkahan batu es yang belum mencair. setelah berfikir berkali-kali, akhirnya Fanny memutuskan untuk menelpon. Tapi sayang ponselnya Frans tidak dijawab.
"Frans, angkat teleponnya aku sangat merindukanmu." hiks...
"Hallo...
"Frans!
"Maaf ini siapa? tanya suara diseberang sana.
Fanny terkejut, terdengar suara seorang wanita dari ujung telepon. Seketika jantungnya hampir berhenti, ia merasakan dadanya begitu sakit, airmata mulai menetes deras dipipinya.
"Hallo....
Panggil suara wanita itu lagi.
"Frans, kau sangat jahat!
klik'
Telponnya Fanny putus, tanpa sadar ponselnya terjatuh kelantai.
"Hiks.. hiks.. hiks...
"Kau jahat Frans! secepatnya itu kau tega melupakan diriku dan mencari wanita lain!" fanny histeris dan frustasi ia menarik bed cover, bantal dan guling, lalu melemparkannya kelantai. Tak puas hanya mengacak tempat tidur saja, Fanny berjalan kemeja rias dan menjatuhkan semua barang barang kosmetik kelantai. Seketika kamar menjadi berantakan seperti kapal pecah.
Beruntung Ramon dan Andini sudah masuk kedalam kamar, karena ruangan didalam kamarnya kedap suara, jadi tidak akan bisa mendengar suara diluar kamar.
Nafas Fanny tersengal sengal, ia meraung-raung sejadi jadinya, rasa rindu yang teramat dalam harus terbayar dengan rasa sakit dihatinya.
"Aku benci padamu Frans! aku benciiii...! hiks... Fanny terus merutuki frans sambil terus menangis, tubuhnya seakan lemas tak bertulang ia jatuh dan terduduk dilantai bersandar pada divan ranjang.
Sementara itu...
"Mas, terima kasih banyak ya sudah dipinjami ponselnya." menyerahkan ponsel itu ketangan frans.
"Nona sudah menghubungi suaminya?"
"Sudah Mas, suamiku sedang kearah sini."
__ADS_1
Marcell memasukkan kembali ponsel kedalam saku celananya. Wanita tadi lupa memberitahu Frans kalau tadi ada panggilan telepon untuknya, karena ia terburu-buru harus menghubungi keluarganya.
Setengah jam kemudian mobil berhenti di belakang Frans. seorang pria keluar dan berlari kearah wanita itu.
"Kau tidak apa-apa? tanya seorang pria khawatir.
"Pah mobil si pengendara yang aku tabrak tadi mengalami patah tulang, beruntung ada mas itu." menunjuk frans yang sedang membantu korban kecelakaan didepan mobil wanita itu. "Dia yang datang membantu dan meminjam ponselnya, karena ponsel ku lowbet." wanita itu meneruskan dengan suara gemetar "kalau tidak ada Pria itu aku sudah diamuk massa." hiks..
"Ya Tuhan sayang, kenapa kau sangat ceroboh! memeluk tubuh istrinya "Terus bagaimana dengan pria yang kau tabrak."
"Masih menunggu ambulans Mas."
"Ya sudah kau tunggu di mobilku, biar aku melihat keadaan Korban, Mas akan urus semuanya."
Tak lama ambulance datang dan membawa si korban kerumh sakit. Setelah mengucapkan banyak terima kasih pada Frans, suami istri itu pergi kerumah sakit untuk bertanggung jawab.
Frans melajukan mobilnya meningglkan lokasi itu, satu jam kemudian ia sudah berada di apartemennya.
Frans melepas jasnya, ia masuk kedalam dapur menyalakan kran kedalam teko, lalu menaruh diatas kompor. rasa lelah disekujur tubuhnya mulai terasa setelah seharian menjalani aktivitasnya dikantor, ditambah lagi kejadian tabrakan seorang wanita dengan pengendara taxi online, frans turun membantu wanita itu yang ketakutan. kata wanita itu tiba tiba remnya blong hingga tabrakan tak terhindari, beruntung wanita itu selamat.
Sambil menunggu air matang, frans mngambil ponsel dari saku celananya dan mulai menyalakan layar hp, ia melihat ada panggilan masuk dari fanny, frans tercengang.
"Fanny kau menelpon Aku? tapi kenapa panggilan ini sudah diterima? apa jangan jangan wanita tadi yang menerima panggilan dari fanny?" gumamnya menerka nerka.
"Aku harus menghubungi fanny."
Frans mulai mngubungi balik, tapi sayang nomor ponselnya sudah di blok.
"Fanny kenapa kau blok nomorku?! ada apa denganmu Fan? aku takut kau salah paham lagi, aku sedang berjuang untuk bisa hidup bersamamu, minggu depan aku akan pergi ke korea." Frans menatap sedih ponselnya, karena Fanny tiba-tiba blok nomornya, hatinya begitu perih. Ia menarik nafas dalam-dalam agar rasa sakitnya bisa berkurang.
"Kalau memang bener wanita tadi yang mngangkat, kenapa nggak bilang ada telpon masuk, apa yang sudah wanita tadi katakan? aku akan hubungi fanny besok melalui telpon kantor.
Frans menyeruput kopi panas itu perlahan, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, saat ia ingin naik keatas ponselnya berbunyi, tidak ada nama si penelpon, frans mengeryitkan alisnya. tanpa ragu ia menerimanya.
"Hallo...
"Haii bro, apa kabar mu?
"Maaf anda ingin bicara dengan siapa?
"Tentu saja dengan kau? Frans afredo."
frans tercengang, darimana si penelpon tau nama panjangnya.
"Kau siapa? jangan buat aku bingung."
"Hahahaha... apa kau lupa siapa gue Frans? sahabat mu yang paling tampan disekolah dan idola kaum hawa"
"Erlangga?!" Frans dibuat terkejut, Karena sudah delapan tahun ia tak bertemu sahabatnya itu, bahkan los kontak.
"Ternyata ingatan mu masih bagus bro?"
"Ahh, Erlan kau berada dimana sekarang? dan darimana kau tau nomorku?
__ADS_1
"Riska kekasihmu yang memberikan nomor ponselmu."
"Itu dulu, sekarang aku sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengannya."
"Ohh, kukira kalian bersatu kembali setelah sekian tahun berpisah."
"Haii, kau belum jawab pertanyaan ku, dimana kau tinggal sekarang."
"Sekarang gue berada di jakarta, baru tiba tadi pagi."
"Berarti kau akan tinggal di Jakarta."
"Tidak Bro! gue datang kemari untuk menjemput calon istri gue."
"Calon istri?
"Iya, perjodohan dua kelurga, bokap gue bersahabat dengan Ayah calon istri gue, tadinya gue menolak karena gue gak suka gadis lokal, tapi setelah gue lihat dia cantk dan dari klurga terpandang, gak ada salahnya kali ini gue turuti kemauan orang tua gue."
"Baguslah kalau kau menyukai cewek lokal, kupikir kau suka orang bule."
"Gue udah bosan dengan bule, cewek bule terlalu over, oke bro nanti kita ketemuan dan gue kenalin calon istri gue sebelum gue bawa ke Jerman."
"Jangan minggu depan aku mau ke Korea."
"Korea? apa kekasihmu orang Korea?"
"Bukan, aku nggak suka cewek luar."
"Hahahaha... Frans, Frans, kau dari dulu terlihat polos dan gak berubah, padahal kau tampan dan banyak idolanya di sekolah, sebelas dua belas sama gue."
"Jaman kita sudah lewat Land."
"Oke bro nanti gue kabarin lagi, akan gue kenalin sama calon istri gue, kebetulan gue juga kangen sama sahabat gue, gimna tampang kau sekarng."
Keduanya tergelak bersama, mereka mengakhiri obrolannya.
"Erland, dari dulu sifatnya tak berubah, begitu banyak wanita di sekitarmu, cowok playboy yang akhirnya mencari istri orang lokal, bagus lah semoga kau tulus mencintainya." gumam frans sambil menghabiskan kopi yang mulai dingin. Ia beranjak dari duduknya berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.
'
'
'
'
'
'
'
Bersambung......
__ADS_1
.