
"Bapak Tommy sudah melaporkan pihak kepolisian setempat. Kami ucapkan banyak terimakasih, adek sudah membasmi penjegal ini, yang sudah banyak meresahkan orang banyak."
"Sama-sama Pak! kalau begitu saya permisi."
"Kau tidak apa-apa? apa ada yang terluka?" tanya pak polisi lagi.
"Tidak pak! tidak ada yang terluka."
Tiga orang berandal yang profesi sebagai penjegal itu ditangkap dan di giring masuk kedalam mobil patroli.
Setelah bersalaman dan berpamitan pada polisi, Vano berjalan kearah Dev yang masih berdiri di samping motor dengan wajah lega.
"Ayo kita pergi dari sini?!
Dev memberikan tas Vano. Setelah menaruh tas dibelakang punggungnya, Dev duduk di belakang. Motor berjalan meninggalkan lokasi itu.
"Van! panggil Dev.
"Apa....!
"Kau belajar darimana bisa berkelahi, kau hebat Van, aku saja hampir nggak percaya!" pujinya seraya menepuk-nepuk pundak Vano.
"Kau mau belajar juga? tanya Vano serius. "kalau mau, datang lah kerumah ku setiap akhir pekan."
"Wah beneran nih!
"Iya, Daddy ku selalu latihan bersama ku dan Vana, juga ada pelatihnya setiap seminggu dua kali datang."
"Tapi, apa Daddy mu tidak marah?
"Daddy ku sangat baik, nanti aku kenalkan. kau harus bisa belajar ilmu beladiri Dev, biar kau tidak di tindas orang!
"Okeh, aku mau!
Motor terus melaju dengan kecepatan sedang. "Van, sepertinya ini bukan jalan menuju rumah ku? Dev yang sejak tadi sibuk ngobrol sampai tidak menyadari arah jalan yang Vano lalui. Hingga menuju jalanan raya ibu kota, Vano terus melajukan tanpa peduli sahabatnya yang terus bertanya.
"Van! kita mau kemana sih!
"Diem bawel!!
Dev sudah tidak banyak bertanya lagi, Sejam perjalanan motor berhenti di parkiran rumah sakit.
"Hey! buat apa kita ke rumah sakit? memangnya siapa yang sakit?" tanya Dev penasaran
"kau yang sakit! ucap Vano santai.
Vano terus berjalan melewati lorong rumah sakit, yang diikuti Dev dengan wajah bingungnya. Langkah Vano berhenti di sebuah ruangan. Dua orang Dokter yang sedang santai duduk di sofa, beranjak dari duduk saat melihat kedatangan Vano yang tiba-tiba.
"Selamat siang Tuan muda." sapa kedua Dokter itu ramah, seraya membungkuk memberi hormat.
Dev yang melihat kedua Dokter itu begitu hormat pada Vano, membelalakkan matanya dan tercengang. ia terus bingung dan bertanya-tanya dalam hati, siapakah sahabatnya itu, apakah ia sepenting itu berada di rumah sakit, begitu di hormati dan di panggil Tuan muda..?! Muehehehe.. Vano kau membuat aku penasaran.
Vano duduk di sofa yang berada di ruangan Dokter Agung. Diikuti Dev duduk disebelahnya.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?! tanya Dokter Agung ramah.
__ADS_1
"Tolong kak Agung periksa mata sahabat ku Dev, dan ganti juga kacamata nya yang baru, yang lama buang saja, sudah rusak."
"Baik Tuan muda, aku akan membawanya kerungan pemeriksaan mata."
Dev, melongo. "Apa maksud mu Van?
"Mata mu harus di periksa dulu, atau kalau perlu kau operasi matamu itu, biar matamu tidak jadi empat." ejek Vano tergelak.
"Van, kau gila ya, aku duit daripada untuk periksa mataku, apalagi beli kacamata baru? bisik Vano.
"Kau bisa berhutang dulu padaku, bayarnya nanti saja! sudah cepat sana pergi, aku tunggu disini." bujuk Vano seraya mendorong bahunya agar pergi mengikuti Dokter agung. Anak dari Dokter Iskandar sahabatnya Ramon, sekaligus Dokter pribadi keluarga Mahesa yang sudah pensiun. Sekarang posisi Ayahnya di ganti anaknya sendiri Dokter Agung.
Dev pergi bersama Dokter Agung, sementara Vano bersama Dokter Haris bertukar cerita. Satu jam kemudian Dev kembali lagi dengan memakai kacamata baru.
"Wah, tambah tampan saja pakai kacamata baru, lebih tampan lagi bila Dev, Pakai kacamata kuda." sambar Vano terkekeh. Dr Aris dan Dr Agung ikut terkekeh, mendapat ledekan dari sahabatnya, wajah Dev semakin memerah.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, mereka pun pamit dan kembali pulang. Satu jam perjalanan, Vano dan Dev sampai di depan gerbang pintu kompleks.
"Oke, aku pulang dulu."
"Kau tidak apa-apa pulang sendiri."
"Astaga, ini masih Jakarta bro, bukan di hutan."
Vano sudah memesan taxi, tak lama taxi sudah berhenti disamping Vano.
Sebelum Vano pergi Dev berkata "Terima kasih banyak tuan atas pengobatan mataku, aku pasti akan membayar kacamata ini."
"Tuan...? Hahahaha... Vano terbahak mendengar teman karibnya manggil Vano, Tuan. "Kau jangan ikut-ikutan mereka, kita seumuran, tidak pantas aku di panggil Tuan."
"Sudah jangan di bahas lagi, Jangan sampai orang lain tahu siapa aku, itu makanya kenapa Daddy ku mengajari kedua anaknya belajar ilmu beladiri, untuk bisa menjaga dirinya sendiri."
Dev mengangguk "Aku salut padamu Van, kau baik dan tulus meskipun dari keluarga berada. Terima kasih banyak Van, kau adalah sahabat terbaik ku dan yang rendah hati."
"Oke aku pergi dulu ya, taxi sudah menunggu, untuk kacamata mu tidak usah bayar, aku memberikannya untuk mu."
"Serius....? tanya Dev kaget, bola matanya sudah memanas karena haru.
"Dah ya, aku jalan dulu. Sampai jumpa besok." Vano membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang.
Sementara di mansion, Delena tampak gusar. Ponsel Vano tidak diangkat sejak tadi.
"Van! tadi kakak mu bilang mau kemana? kok Mommy telpon tidak diangkat." Delena mundar mandir di depan pintu kamar vani, sambil satu tangannya menaruh ponsel di telinga.
"Tadi bilangnya mau kerumah Devan, teman satu bangkunya yang cu'lun itu."
"Coba kau telpon temannya Vano?!
"Sama saja Mah, tidak diangkat juga! mereka berdua itu kompak tau Mom! yang satu dingin kaya es balok, yang satunya cerewet." ujar Vani sambil sibuk mengerjakan tugas yang di berikan guru matematika.
"Vano ini bikin khawatir ajah sih! kesal Delena.
Terdengar suara deru mobil didepan halaman.
"Siapa yang pulang?! Delena berjalan kearah teras.
__ADS_1
"Mas Reno?
Terlihat wajah tampan penuh pesona keluar dari dalam mobil dan berjalan mendekati istrinya
"Cup! mencium kening istrinya, Delena meraih punggung tangan suaminya dan menyambut dengan senyuman sumringah, walau hatinya sedang gelisah.
"Sayang...,wajahmu terlihat murung, ada apa?
"Vano Mas! Delena sudah tidak bisa menutupi kegelisahan hatinya yang sejak tadi ia pendam.
"Ada apa dengan Vano, dia baik-baik saja bukan?"
Justru itu Mas." Reno merangkul pinggang Delena dan mereka masuk kedalam ruangan. "Vano belum juga pulang, di hubungi ponselnya aktif tapi tidak di angkat."
"Sayang, percaya pada anak lelaki kita. ia pasti akan kembali, berfikir lah positif." Reno mendudukkan tubuhnya diatas sofa, Delena melepaskan sepatu dan kaos kaki suaminya. "Kau tidak usah khawatir ya, Vano bisa menjaga dirinya sendiri." menarik Delena untuk duduk di pangkuannya. Delena tidak akan bisa menolak, kedua tangannya ia kalung kan ke leher suaminya.
"Mas jangan seperti ini, ahh! malu kalau di lihat Vana."
"Memangnya kenapa? kau itu istriku, anak-anak kita pasti bangga pada Daddy dan Mommy nya, karena kita tidak pernah ribut, selalu harmonis dan bahagia di depan mereka. Delena hanya menghela nafas dalam dan memandang wajah tampan suaminya yang sudah menjadi candu baginya.
"Suami tampan ku!" ucapnya dan tersenyum menggoda.
Tanpa sungkan, sepasang suami istri itu selalu membuat kemesraan di manapun, saling melepas rindu dan berciuman setelah seharian tidak bertemu. Mereka berdua sadar di jam sore menjelang magrib, para asisten rumah tangga dan supir sudah berada di paviliun yang berada di belakang mansion, Reno dan Delena sudah persiapkan tempat itu khusus untuk mereka.
"Terdengar suara langkah kaki dari kejauhan, dan semakin mendekat. Dengan cepat mereka menyudahi ciuman hangatnya. Delena turun dari pangkuan suaminya dan membuka pintu.
"Vano?!
Terlihat Vano yang ngos-ngosan Seperti habis berlari maraton.
"Vano? kenapa kau seperti kecapean, ada apa sih? dan kenapa jam segini baru pulang? tanya Delena bertubi-tubi.
"Vano habis dari rumah teman Mom, tadi pas arah pulang jalanan macet, terus pas di depan pertigaan mau masuk kesini, mobil yang Vano tumpangi ban nya bocor, terpaksa Vano turun. Ehh.. kena sial, ada anjing herder lepas dan ngejar Vano."
"Ya Tuhan Vano, Ayo masuk. Pasti kau lelah kan? sudah istirahat dulu, Mommy buatkan minum."
"Ded!
"Vano! duduk lah disini."
Vano mencium punggung tangan ayahnya dan duduk disamping Reno. Dua pria hebat itu sedang berbincang serius.
*
*
*
"
@Bersambung.....💃💃💃
JANGAN LUPA UNTUK LANJUT KE NOVEL "TUAN JENDERAL CINTAI AKU" BIKIN BAPERRRRR 😍😍
__ADS_1