
Tommy terperanjat kaget, ia mengamati wajah seorang gadis yang sedang memeluknya.
"Siapa kau?"
"Ini aku kak? gadis itu melepas topinya "Aku Arneta adiknya kak gilang" gadis cantik itu tertawa cekikikan.
”Arneta?" ya Tuhan, kau dengan siapa kemari?
"Aku sendiri kak, nanti kak gilang akan menyusul ku kemari."
Tommy terlihat kikuk, ia bingung harus bagaimana, apalagi melihat wajah Siska yang mulai jutek.
"Arneta, tunggu sebentar disini, Kaka mau menjemput atasan kaka dulu" Tommy berjalan kearah Siska berdiri.
"Biar aku bawakan kopernya."
"Tidak perlu! ucap Siska cetus dan berjalan meninggalkan Tommy.
"Sis.. siska tunggu."
Tommy setengah berlari untuk mengejar Siska. Tangan kekarnya menarik pergelangan tangan Siska.
"Siska...! Ahh maksud aku Nona Siska."
"Lepaskan tanganku! aku bisa pulang sendiri!" ucapan Siska begitu cetus ada kecemburuan dari kata katanya.
"Aku datang untuk menjemput mu? bukankah tadi kau yang meminta."
"Itu tadi, sekarang tidak! menyeret tas dorong nya, dan mendahului Tommy.
"Jangan seperti anak kecil."
Siska hentikan langkahnya dan menoleh kebelakang menatap wajah Tonny yang terlihat bingung "Bukankah kau datang untuk menjemput gadis itu?" mata keduanya tertuju pada Arneta yang sedang menelpon.
"Arneta?"
Tommy menarik sudut bibirnya "Arneta Adik dari sahabatku. Aku juga tidak tau kalau dia mau datang kesini, sepertinya ini kebetulan saja."
Siska menghela nafas panjang, ia mulai sedikit mengerti walau ada rasa kesal dihatinya.
"Ayo ku antar Nona pulang, jam sepuluh aku ada rapat dikantor Tuan Reno."
Saat keduanya ingin beranjak, suara Arneta setengah berteriak sambil berlari mendekat.
"Kak Tommy ada telpon dari kak Gilang." Arneta memberikan ponsel itu ketangan Tommy, tentu saja ia tidak bisa menolak dan menerima panggilan telepon itu.
"Hallo Lang!'
"Haiii bro apa kabar? kau sudah bertemu adik ku bukan? tolong titip Arneta, dia ingin keliling Jakarta, kebetulan ia sedang libur kuliah."
__ADS_1
"Kenapa kau tidak mengabari sebelumnya?"
"Aku menelepon mu tadi pagi berkali-kali, tapi kau tidak angkat."
Tommy baru menyadari kalau ponselnya tertinggal di Apartemen karena terburu buru.
"Sori ponsel ku ketinggalan, kebetulan aku sedang menjemput atasan ku di bandara.'
"Kalau begitu tolong jaga adik ku, minggu depan aku akan datang kesana menjemputnya."
Sebelum Tommy bertanya, telpon itu sudah terputus.
"Aish, kau selalu saja merepotkan ku Lang!" gumamnya lirih. Tommy baru menyadari kalau Siska sudah tidak ada disampingnya.
"Siska?"
"Kemana perginya Nona tadi? bertanya pada Arneta yang sedang berdiri dengan pandangan kosong.
"Sepertinya kesana kak?"
Tommy berjalan cepat mencari sosok Siska, di ikuti Arneta disampingnya.
"Kenapa kak Tommy begitu ketakutan sekali kehilngan wanita tadi, apakah dia kekasihnya? pertanyaan dibenak Arneta sambil menatap wajah tampan Tommy yang terlihat cemas.
Siska sudah melewati pintu keluar bandara, ia berinisiatif untuk mencari taxi. Tampilan Siska yang modis dan cantik dengan fostur tubuh tinggi langsing. Kulit putihnya terkena sinar matahari pagi menambah daya tarik seorang Siska, siapa sangka wanita berusia 34 tahun itu terlihat lebih muda dari usianya. Banyak orang mengira kalau Siska berusia 27 tahun. Kacamata hitam ia tengger kan diatas kepalanya, jemari lentik siska yang terlihat terawat memegang ponsel untuk memesan sebuah taxi.
"Haiii cantik bisa kita bantu? tanya dua orang pria yang berdiri didepannya. Siska hanya menoleh sekilas tanpa menjawab pertanyaan dua pria itu. Siska meneruskan mengetik diatas ponsel.
Siska bungkam seribu bahasa tanpa perdulikan dua pria itu, ia menarik tas dorongnya kembali, berjalan menjauh.
"Dasar wanita sombong!"
Dua pria itu tampak kesal dengan keangkuhan Siska, dengan kasar ia menarik tangan Siska.
"Lepaskan, apa mau kalian!" hardik Siska, mencoba melepaskan jeratan tangannya dari pria itu.
"Ayo ikut kami! tangan Pria itu menarik paksa siska untuk masuk kesebuah sedan, Siska terus berontak sekuat tenaga.
"Plakk! satu tangan Siska menampar wajah pria sangar itu, sikapnya yang berani menambah amarahnya, dengan kasar ia mendorong tubuh Siska untuk masuk kedalam mobil.
"Tommy tolong! teriakan Siska didalam mobil tidak terdengar sampai Keluar, satu pria duduk didepan kemudi, satu pria lagi memegangi tangan siska agar tidak kabur. Saat pintu akan ditutup sebuah tendangan dari arah luar, sebuah tangan kekar menarik kerah pria itu keluar dari mobil dan menonjok perutnya bertubi-tubi. Pria yang duduk didepan kemudi turun dari mobil membantu temannya.
Perkelahian tidak terelakkan lagi. Siska keluar dari dalam mobil dan melihat tiga pria yang sedang berkelahi.
"Tommy!"
Dua pria itu babak belur ditangan Tommy, mereka tersungkur di aspal "Berani kalian ingin membawa wanita ku!" tanpa sadar Tommy mengeluarkan kata 'wanita ku' membuat Siska tersenyum dan berlari kearah Tommy. Sebuah pelukan hangat Siska berikan pada Tommy. Dengan senyuman manis Tommy mengelus lembut kepala Siska.
"Kau tidak apa-apa? tanya Tommy lembut. Siska memperlihatkan pergelangan tangannya yang memerah.
__ADS_1
Tommy memegangi tangan Siska yang memerah, ada goresan bekas cakaran kuku ditangannya. "Apa ini sakit?" Siska mengangguk sambil meringis menahan sakit.
"Nanti aku obati di mobil, mobil ku ada disebelah sana."
Tommy menarik tas dorong Siska, satu tangannya menggandeng tangan Siska.
"Tommy." Siska menghentikan langkahnya. "Terimakasih kau telah menolong ku, bila tadi kau tidak datang, mungkin aku tidak akan bertemu keluarga ku lagi!" tetesan airmata Siska mengucur bebas begitu saja. Dengan penuh perhatian Tommy mengusap airmata Siska "Kau tidak boleh bicara begitu, sudah Seharusnya aku menolong dirimu."
Mereka melangkahkan kaki bersama menuju mobil Tommy yang terparkir, Tomy menaruh tas dorong Siska di bagasi, ia membuka pintu depan untuk Siska. Saat sudah didalam mobil Siska terperanjat kaget, sudah ada Arneta duduk di bangku belakang.
"Kau?!" Siska mengerucutkan bibirnya, Tommy mengerti kalau Siska tidak menyukai kehadiran Arneta. "Arneta hanya liburan disini, aku akan mencari penginapan untuknya."
Tommy mengambil salep dari kotak obat yang tersedia didalam mobil, meraih tangan Siska dan mengoleskan pada tangannya yang memar, sesekali Siska meringis.
Tommy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, didalam perjalanan Arneta begitu mencari perhatian, ia terus bertanya banyak hal pada Tommy. Siska hanya diam tanpa bicara satu katapun, terlihat wajahnya yang kecewa.
"Sialan ini anak, kenapa harus ada disini sih! kenapa juga Tommy memberi tumpangan padanya!" gerutu hati Siska, memalingkan wajahnya saat Tommy menoleh padanya.
"Nona Siska, apa kau ingin sarapan dulu?"
"Tidak usah, antar aku pulang!" Siska berbicara dengan nada kesal tanpa menoleh pada Tommy.
Tommy menghela nafas dalam.
"Kak Tommy ajak aku ke restoran aku sangat lapar, Oiya kak nanti antar aku keswalayan ya, banyak perlengkapan yang harus aku beli." perkataan Arneta menusuk hati Siska, bagaimana tidak! sudah pasti hari harinya akan bersama Tommy dan itu membuatnya cemburu.
"Kau merusak semuanya Arneta," gerutu Tommy dalam hati.
"Aku banyak pekerjaan di kantor, nanti aku menyuruh seseorang untuk menemani mu belanja."
"Sungguh disayangkan." Arneta bergumam.
Mobil sudah berhenti di pintu gerbang mansion, sebelum pintu gerbang terbuka, Siska sudah lebih dulu membuka pintu dan turun dari mobil.
"Nona Siska biar aku antar sampai dalam."
Siska tidak menghiraukan panggilan Tommy, di depan gerbang Siska menyuruh seorang satpam untuk mengambl kopernya. Ia berjalan begitu saja melewati pintu gerbang tanpa menghiraukan Tommy yang menatapnya.
Tommy menjalankan mobilnya dengan perasaan galau.
'
'
'
'
'
__ADS_1
BERSAMBUNG 😍