
"Cepat bawa aku pada kakakmu! teriak vano dengan tatapan membunuh dan rahang yang mengeras, kedua tangannya sudah mengepal, urat-urat di keningnya sudah keluar. kalau sudah begitu sifat jahat Vano akan keluar dari sarangnya.
PRANKK!
Vano menghancurkan kaca mobil dengan tangan yang mengepal karena amarah, ia tidak ingin saudara kembarnya hancur di usianya yang masih belia, mendengarnya saja Vano sudah sakit hati, bagaimana kalau sampai terjadi?!
"Cepat kau hubungi kakakmu! bila tidak ingin aku hancurkan Keluarga mu sampai ke dasarnya! ancam Vano dengan sorot mata merah menyala.
"Memangnya kau siapa berani mengancam kau! kau tahu? tidak ada seorangpun yang berani memarahiku apalagi sampai mengancam ku, bahkan Papaku sendiri!"
"Wanita sombong! hardik Vano, ia sudah sangat geram dengan tingkah Tina. Vano turun dari mobil dan berjalan kearah pintu Tina, membuka pintu dan menarik kasar tangan Tina, darah segar terus mengucur dari punggung tangannya yang sudah terluka bekas menonjok kaca.
"Lepaskan bodoh! aku akan telpon Papaku untuk memasukkan mu kedalam penjara! karena kau telah menculik anak kesyangannya! kau pasti akan menyesal, bodyguard Papah ku banyak dan Perusahaan Papah ku juga ada di luar negeri, kau tidak ada apa-apanya di bandingkan kelurgaku! teriak Tina.
"Kau sudah melewati batasannya! kau pikir aku takut pada keluargamu! sekarang pun kalau aku mau, aku bisa menghancurkan perusahaan kelurga mu! kalau saja kau bukan wanita, sudah aku habisi sampai babak belur."
"Ayo sekarang antarkan aku ke markas kakak mu! sedikit saja kakakmu dan kawan-kawannya membuat lecet adikku dan Bella, bersiap-siaplah kalian untuk hancur!" ucapan Vano tidak pernah main-main.
"Hey perempuan! kau dengar tidak, cepat kau hubungi kakakmu dan secepatnya antar kami ke tempat kakakmu, sebelum anak macan Asia mengaum! seru Devan ikut tersulut emosi.
"Payah yang kita hadapi ini perempuan keras kepala, sepertinya dia sudah menguras tenaga mu, Van! ujar Devan bicara pelan.
Pikiran Vano sedang kacau, dadanya bergemuruh menahan amarah, ia dilema dan bingung bila harus memberitahu Daddynya.
"Baiklah bila kau tidak ingin memberitahu dimana kakakmu berada! hari ini juga perusahaan Ayahmu akan hancur, dan penyesalanmu sudah tidak berguna. Aku sendiri yang akan menurunkan saham ayahmu! tunggu kehancuran anak sombong seperti mu!
Vano meminta Dev untuk mengambil laptop di dalam mobil, Saat laptop sudah berada di tangannya, dengan cepat ia mencari nama Ayah Tina, Bram Stoker dan mencari nama perusahaan nya, dengan tersenyum licik Vano mulai memainkan jari tangannya dengan lincah diatas keyboard. setelah puas ia menekan tombol 'send...
"Selesai! ucapnya seraya menyunggingkan senyum pada Tina, dan menutup laptopnya kembali.
Vano mengambil ponsel dari saku celananya dan mulai menghubungi seseorang.
"Hallo Om!
"Vano, ada apa?!
"Om, tolong beli saham Tuan Bram Stoker atas nama diriku, dan jangan beritahu Daddy dulu?"
"Apa maksud mu Vano?!
"Nanti akan aku ceritakan, Om tau bukan? aku tidak pernah membuat masalah bila tidak di dahului, Om tahu apa yang harus Om lakukan untuk merebut perusahaan itu."
"Baik, demi keponakan Om, akan om lakukan sekarang juga, tunggu kabar dari Om."
"Baik om!
"Siapa kau berani ingin menghancurkan perusahaan Papah ku!
"Kau ingin tahu siapa, Aku! menatap tajam netral Tina penuh kebencian. "Buka telingamu dan dengarkan baik-baik, selama ini aku selalu menutupi identitas diriku di depan umum, karena aku tidak ingin mereka tahu siapa diriku yang sebenarnya, tapi kau yang sudah memulainya."
"Siapa kau! teriak Tina.
"Aku Zevano Mahesa anak dari Reno Mahesa!
"Apa...???? Mata Tina membulat sempurna, wajahnya berubah pias dan pucat pasi, tulang-belulangnya terasa lemas seketika, ia membekap mulutnya tak percaya dan gelengkan kepala. Setelah Tina tahu sedang berhadapan dengan anak nomor satu di dunia bisnis, bahkan di juluki Rajanya Perusahaan. Ia menjadi gemetar dan ketakutan setengah mati, ia sering mendengar Ayahnya bicara untuk menghindari perusahaan Reno Mahesa, justru ia malah melawannya. Sudah empat generasi perusahaan Mahesa Group tidak tergeser atau terkalahkan, kedudukan Macam Asia masih terus bertengger di urutan pertama. Perusahaan Mahesa Group, paling di takuti dan di hindari musuhnya. Melawan perusahaan Reno Mahesa sama saja menghancurkan perusahaannya sendiri, Dari banyaknya anak perusahaan di Indonesia, mereka lebih memilih berdamai dan berlindung di bawah perusahaan Mahesa group.
"Jadi kau anak crazy rich Reno Mahesa?" nafas Tina hampir saja habis, ia menghirup udara sebanyak mungkin untuk menetralisir jantungnya yang terus berdegup kencang.
__ADS_1
Dengan lemas Tina berjalan mendekat dan menjatuhkan tubuhnya di depan Vano "Ma'afkan aku, jangan kau hancurkan Perusahaan Papaku! aku mohon! Tina bersimpuh di depan Vano dengan kedua tangan mengatup. "Perusahaan itu adalah kebanggaan kelurgaku dan mata pencarian Papah ku untuk menghidupi anak-anaknya."
"Sudah terlambat! kau tidak mau mendengar kan aku! bahkan dengan sombongnya kau membanggakan dirimu sendiri!"
"Baiklah aku akan telpon kak Jimmy." ucap Tina pasrah
Tina mulai sibuk mencari ponselnya "Dimana ponsel ku? Tina terlihat panik, sebab didalam tasnya tidak ada ponselnya.
Vano mengambil sesuatu dari saku celananya "Ini ambil lah! melempar ponsel ketangan Tina, dan ia menangkapnya. Dengan terburu-buru ia mulai menghubungi Jimmy.
πππ
Sementara di dalam satu ruangan yang masih pengap, Vana dan Bella masih menunggu nasibnya, walau Vana terus bersikap hati-hati.
JEDAR
Suara pintu terbuka lebar, masuk dua orang pria membawa dua kotak makanan dan dua Cup minuman dingin. Mereka menaruh di depan Vana dan Bella.
"Makanlah dulu, biar kalian tidak lemas dan tidak menyusahkan kami!"
"Siapa suruh Kalian culik kami! makanya lepaskan kami berdua, sebelum kalian semua menyesal! hardik Vana.
"Kau pikir kami takut dengan ancaman mu, Nona cantik!" Pria itu ingin mencium pipi Vana, namun, sebelum bibir itu mendarat di pipinya, tangan Vana sudah lebih dulu menampar nya.
"PLAKK!
"Dasar brengsek! berani ya kau menampar aku!
"Wah..! wah...! masa sama anak SMP kau kalah Joe! sindir temannya.
"Kalian memang pantas mendapatkan tamparan, bahkan seharusnya lebih dari itu!"
"Bagus juga Ide loe, Gor! ayok kita garap mereka berdua, mumpung yang lain lagi beli barangnya."
"Diluar masih ada topan dan Jojo."
"Udah biarin ajah, ntar biar gantian sama kita."
Mereka berdua mulai ingin melancarkan aksinya, namun Vana dan Bella sudah mundurkan langkahnya.
"Bell, kau jangan takut! kau terus berada di belakang ku saja." perintah Vana.
"Apa yang akan kita lakukan,Van? tanya Bella ketakutan, ia melihat dua pria itu terus berjalan dengan wajah bringas seakan ingin menelan mangsanya hidup-hidup.
Saat dua pria itu mendekat dan Ingin menarik tangan Vana, dengan sigap Vana menendang dada mereka bergantian.
"Aaaawwww! pekik mereka bersamaan, merasakan dadanya nyeri bekas tendangan keras Vana dan membuat tubuhnya lambung dan terjatuh ke lantai.
"Brengsek kau! mereka bangun bersamaan dan mulai menyerang Vana. Tentu saja mereka bukan lawan yang seimbang bagi Vana yang baru berusia 14 tahun, namun tubuhnya berotot dan berisi karena sudah latihan sejak usianya enam tahun, walau gerakan dan pukulan tak sehebat Vano kembarannya.
Vana menarik tangan pria itu yang ingin mencakar wajahnya dan melintir kan satu tangannya kebelakang.
"Aaaaaaaaa... sakiitttt! teriak Pria remaja memakai baju seragam sekolah putih abu itu.
"Lepaskan kami berdua, sebelum tangan mu aku pelintir! seru Vana.
Melihat temannya di pelintir, ia malah lari ketakutan.
__ADS_1
"Ayo Beli! kita bersiap keluar dari tempat ini!
Bella mengangguk dan tercengang melihat sahabatnya bisa berkelahi.
"Ayo jalan! perintah Vana pada pria yang masih ia pelintir.
Mereka keluar dari kamar pengap itu dan melihat empat orang pria sudah berdiri didepannya.
"Dasar goblok! masa sama anak SMP saja kalah! teriak seseorang yang sudah masuk kedalam ruangan.
"Bos! tolong gue bos! tangan gue sakiiiit! rintihannya dengan nafas tersengal
Pria yang di panggil Bos, tak lain adalah Jimmy. ia malah terbahak.
"Cepat keluarkan kami berdua, atau temanmu ini, akan ku patahkan tangannya!"
"Hahahaha...." Bodoh! kau kira gue takut sama ancaman anak masih bocah seperti kalian berdua!
"Bos! tolong gue... tangan mau patah rasanya! keluh Pria bernama Joe
"Patahin ajah sekalian! gue males punya teman yang bodoh kaya luh! menunjuk temanya sendiri.
"Jim! loe emang nggak pernah setia kawan ya! awas ajah loh Jim! Pasti gue bales loh!
Jimmy seperti memberi kode pada temannya yang berada di belakang Vana, tanpa Vana sadari seseorang sudah membekap mulut Bella.
"Hhmmmppp!
Mendengar suara orang meringis, Vana membalikkan tubuhnya dan melihat dua pria, satunya membekap mulut Bella dan memegangi tangannya ke belakang, satunya lagi menaruh belati di leher Bella.
"Lepaskan Joe! atau kau ingin Bella mati di depanmu?! perintah Jimmy
"Kau sangat jahat! Bella itu masih saudara mu!" dengan terpaksa Vana melepaskan pria itu dengan mendorongnya kedepan Jimmy.
"Aku tidak pernah memiliki saudara seperti Bella! Apalagi ibu dan anak sama jal*ngnya! teriak Jimmy
"Apa gunanya kau menculik Aku dan Bella! itu masalah kelurga mu, kalian dendam pada ibunya Bella, kenapa anaknya yang harus jadi korban!"
"Itu urusan gue! Sebenarnya gue nggak pernah mengenal kau! tapi karena kau bersahabat dengan Bella dan selalu bersamanya. Bahkan kau juga yang menampung Bella di rumahmu! terpaksa gue menyandra loe juga! kalian berdua akan merasakan apa yang akan kami berikan, menjadi sakau dan lama-kelamaan mati dengan sendirinya. Bersiaplah! hahahaha.....
Terdengar suara ponsel berdering, Jimmy mengambil dari saku celananya dan melihat nama Tina di layar ponsel.
"Ahh! ganggu kesenangan orang saja! Jimmy langsung menon aktifkan ponselnya.
πππ
@Ayo kirim Bunda Hadiah, babnya lebih panjang, biar bunda semngat πͺ nulisπ
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
πlike
πvote
πgift
πkomen
__ADS_1
@bersambung......πππ