
"Sudah Cukup! Vana berteriak dan berusaha melepaskan dua pria yang saling pukul. Fisik mereka sama-sama kuat, tubuh Reyhan juga tinggi besar tak kalah besar dengan body Nathan yang atletis.
Perkelahian mereka banyak jadi tontonan di depan sekolahan. Murid-murid SMA favorit mulai mengabadikan ponsel mereka dan menjadi vital di mendos.
Perkelahian semakin sengit, tidak ada yang mau mengalah atau berhenti, mereka saling mementingkan ego masing-masing. Kini posisi Reyhan berada di bawah tubuh Nathan. Kedua tangan Reyhan berada didepan wajahnya untuk menghindar dari pukulan Nathan yang bertubi-tubi. Wajah Reyhan sudah babak belur dengan banyak luka.
"Nathan cukup! teriak Vana
Tangan Nathan yang masih terkepal, seketika berhenti. ia menatap wajah gadisnya penuh khawatir, Nathan bangkit dari tubuh Reyhan.
"Rey...! Vana mendekat dan membangunkan Reyhan. "Ma'afkan aku, semua ini salahku!" ucap Vana merasa bersalah.
"Kau tidak salah Van! pria BRENGSEK itu yang mulai duluan."
Wajah Nathan memerah menahan amarah. "Kau yang sudah mengina orang..!"
"Sudah Nathan, plis aku mohon..." pinta vana.
"Van, Reyhan harus cepat di obati lukanya." cecer Luna. yang juga ikut menyaksikan adu jotos itu.
Perasaan Nathan begitu sakit melihat Vana begitu perhatian pada Reyhan. ia mengeluarkan tissue, mengusap lembut hidung dan sudut bibir Reyhan yang berdarah.
"Ada apa ini? Tanya seorang guru, yang datang bersama beberapa guru lainnya.
"Reyhan, Zevana! ada apa ini? menatap lekat kedua anak muridnya.
"Mereka berantem dengan supir nya Zevana pak! seru salah seorang murid yang menonton kejadian tadi.
"Pak Burhan, ini tidak bisa dibiarkan, Bapak harus ambil tindakan tegas selaku kepala sekolah, apalagi kejadian perkelahian tadi sudah ada yang veral kan." ujar seorang guru.
"Pak Andri, Pak Haryanto tolong amankan anak-anak yang sudah viralkan kejadian tadi, jangan sampai nama sekolah kita jelek! ujar kepala sekolah memberikan mandat.
"Kalian semua cepat kumpulkan ponsel kalian dan berbaris di lapangan!" instruksi pak Andri. "Seharusnya kalian berfikir dulu sebelum viral kan kejadian tadi, ini sekolahan kalian dan berimbas pada masa depan kalian!" teriak pak Andri sengit. Semua murid-murid yang berada di teras sekolah hanya diam dan tertunduk, mereka masuk kedalam dan berdiri di lapangan yang panas.
"Reyhan, Zevana dan kau.." menunjuk Nathan. "Masuk keruangan BP!" perintah kepala sekolah.
Mereka bertiga berjalan masuk keruangan BP. Nathan saat di tanya kepala sekolah dengan tegas membenarkan tindakan sebagai seorang bodyguard. Reyhan juga tidak mau kalah merasa benar.
"Ini sekolahan, kalau mau ribut jangan di lingkungan sekolah. Badan kalian besar-besar tapi kelakuan kaya anak kecil. Mulai sekarang saya tidak akan toleransi perbuatan kalian! tegas Pak Burhan.
"Zevana! kau seorang murid yang cerdas dan berprestasi, kau kebanggan di sekolah ini, dan orangtua mu juga jadi donasi di sekolah ini, bukan berarti kau tidak Bapak kasih peringatan bila bersalah. Bapak harap kejadian ini tidak terulang lagi."
Vana hanya mengangguk.
"Dan kau Reyhan, apa kata sekolah lain bila kelakuan mu seperti ini? jangan coreng nama sekolahan mu sendiri, sebentar lagi kau akan lulus, bawa nama baik sekolahan tempat mu menimba ilmu."
"Iya pak! jawab Reyhan dengan wajah tertunduk.
"Dan kau, walau bekerja sebagai pengawal Zevana, jangan asal main hantam dan merasa benar sendiri, saya masih menghormati Orang tua Zevana, ini terakhir kali saya melihat anda berkelahi dengan anak didik saya. Lain kali tidak ada toleransi buat anda."
"Baik Pak! terimakasih." ucap Nathan sopan.
Nathan masuk kedalam mobil lebih dulu, ia merasakan kening perih, hanya bisa menghela nafas panjang setelah keluar dari ruangan guru.
__ADS_1
"Van! makasih ya, udah bersihin luka ku."
"Aku hanya membantu mengelap darah yang keluar kok, luka mu lumayan banyak, kau harus kerumah sakit sekarang."
"I'm fine, you don't have to worry."
"Aku juga minta maaf atas perbuatan bodyguard ku."
"Kau harus berhati-hati dengannya. jangan terlalu akrab, kau harus jaga jarak okey?"
Vana hanya mengangguk kecil "Aku pulang dulu."
Vana membuka pintu mobil dan duduk dengan tenang di kursi belakang. Nathan melajukan mobilnya dengan santai. Tidak ada perbincangan dari keduanya. Vana hanya berkutat pada ponsel pintarnya. Saat ia mengangkat kepalanya, melihat kening Nathan yang berdarah dari kaca spion. Nathan sepertinya tidak peduli, ia terus melajukan mobilnya. Vana gadis lembut hatinya, ia tidak akan tega melihat orang terluka, apalagi Nathan sudah menyelamatkan dirinya dari pemboman itu.
"Kak! kening mu berdarah."
Nathan hanya membalas dengan senyuman, sepertinya ia tidak peduli keadaannya, atau sengaja mencari perhatian Vana.
"Kak berhenti sebentar!" seru Vana yang tak tega melihat darah terus mengalir. Nathan menepikan mobilnya. Vana turun dari mobil dan pindah kedepan.
Karena panik melihat luka Nathan, Vana mengambil tissue dalam tasnya dan mengusap lembut darah yang keluar dari kening Nathan. Getaran jantung Nathan bertalu-talu, terbesit senyuman samar di bibir seksinya. Baru kali ini ia bisa menatap wajah Vana dari dekat. Bola mata bening berbulu mata lentik, alis tebal tersusun rapih, hidung mangir dan bibir tipis bak delima. Ingin sekali Nathan mencium bibir ranum itu, Namun ia menepis otaknya yang sudah traveling kemana-mana."
Vana mengganti tissue baru, membersihkan luka disekitar kening. "Apa ini sakit?"
"Aaawww..." pekik Nathan pura-pura.
"Maaf, bila ini sakit kita ke dokter saja."
"Vana, luka ini tidak seberapa sakit, bahkan peluru pernah menembus daging ku, Namun hatiku sangat sakit melihat kau begitu perhatian pada pria sialan itu!" Batin Nathan
"Ma'afkan saya Nona, terima kasih sudah peduli padaku."
"Luka itu harus di tutupi hansaplas biar tidak infeksi. Vana mengambil hansaplas dari dalam tasnya.
"Tunggu! kau mau tempelkan dimana?
"Tentu saja di kening mu yang terluka."
Nathan terbahak melihat hansaplas bergambar Doraemon. "Astaga Vana, kau mau tempelkan itu di jidat ku? apa kata orang bila lihat Doraemon disini." menunjuk kening yang terluka.
"Jadi kakak tidak mau?"
Nathan tertawa karena gemes "Baiklah, pakaikan." perintahnya tanpa penolakan, apalagi yang memakainya gadis yang ia cintai. Nathan memajukan wajahnya kedepan Vana. Dengan hati-hati Vana menutup luka itu dengan hansaplas.
"PRANK! PRANK! PRANK!
Tiba-tiba ada yang menghancurkan kaca mobil depan, tepat di samping Vana duduk. Sontak Vana dan Nathan terkejut.
"Vana awas! Nathan melindungi Vana dengan menarik kedalam pelukan untuk menunduk. untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan, satu tangan Nathan menekan klakson sekeras mungkin, untuk mendatangkan orang-orang ketempat mereka. kebetulan keadaan terlihat sepi ditempat mereka menepi.
"TIIIIIIIINNNNNN!!!!!!!
Benar saja, Nathan melihat dua orang pengendara motor yang baru saja memukul kaca mobil dengan sebuah besi ditangannya. Mereka kabur dengan cepat meninggalkan kekacauan di tempat kejadian.
__ADS_1
Nathan yang masih menunduk bersama Vana mengangkat wajahnya perlahan. Pecahan kaca berhamburan kemana-mana.
"SIALAN MEREKA KABUR! aku harus mengejarnya!!"
"Jangan! Vana memengagi tangan Nathan "Aku takut dia membawa senjata." Vana melarang dengan ekspresi memohon, Vana sudah tahu sifat pria di sampingnya, sangat keras kepala dan mudah bertindak.
Nathan menghela nafas kasar, ia bukanlah Pria pengecut dan penakut. Namun orang yang ia sayangi melarangnya demi kebaikan.
"Kau tidak apa-apa? tanya Nathan khawatir. tanpa sadar tangannya mengusap lembut kepala Vana. Vana hanya menggeleng walau wajahnya terlihat pucat.
Orang-orang berdatangan melihat keadaan mereka berdua.
"Ada apa Mas? tanya salah satu dari mereka
Nathan keluar dari dalam mobil dan mendekati orang-orang itu. "Saya juga tidak tahu siapa yang sudah memukulkan kaca mobil saya, tadi orangnya langsung kabur."
"Hati-hati Mas, sekarang penjagal semakin buas dan liar, siang-siang saja berani keluar.
"Iya Pak! penjahat semakin merajalela."
"Mbaknya nggak apa-apa."
"Alhamdulillah, tidak apa-apa Pak! jawab Nathan sopan.
Nathan membuka pintu mobil dan membersihkan pecahan kaca yang berserakan di kursi dan di bawah kaki Vana.
"Apa ada yang terluka? aku takut punggung mu tergores, setelah pulang kau harus periksa semuanya." titah Nathan perhatian.
"Semoga tidak apa-apa." Vana gadis yang lembut dan tidak cengeng, bahkan ia terlihat biasa saja walau wajahnya sedikit tegang.
"Van, kau tetap didepan ajah ya, jangan pindah kebelakang, aku takut kau kenapa-napa."
Vana mengangguk.
"Kita harus secepatnya pergi dari tempat ini! pinta Vana yang sudah tidak nyaman berada di tempat itu.
"Sebentar, aku beli minum dulu." Nathan membeli minum tak jauh dari mobilnya terparkir.
"Ini minumlah dulu, wajahmu terlihat pucat."
Vana menerima botol berisi air mineral dan meneguknya.
"Untuk sementara kacanya aku tutup pakai triplek ini dulu, biar kau tidak masuk angin."
"BRENGSEK! SIAPA YANG SUDAH BERANI' MELAKUKAN INI! seru Nathan kesal, seraya menyalakan mesin mobilnya, dengan cepat ia melajukan mobilnya membelah jalanan yang agak sepi.
"Aku tidak akan tinggal diam, akan aku cari siapa dalang semua ini!" teriak Nathan dalam hati.
🔥
🔥
🔥
__ADS_1
@Bersambung.......
.