ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Jebakan


__ADS_3

Vana keluar kamar dengan mengendap-endap. "Semoga Mommy tidak ada dibawah." ia terus berjalan kearah ruangan tamu dan memegang handel pintu, saat ingin membukanya tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang.


"DEG! Mata Vana membulat.


Seketika jantungnya berdegup kencang, dengan perlahan Vana membalikkan badannya ke belakang dan ia dikagetkan wajah wanita di depannya. "Mbak sari!! pekik Vana "Bikin jantungan orang saja sih! satu tangan Vana memegangi dadanya.


"Memangnya Non Vana mau kemana toh!


"Ssstttttttt.....!! jangan berisik. Mbak aku harus pergi sekarang, tolong jangan sampai Daddy dan Mommy tahu kalau aku keluar malam ini!"


"Tapi Non, kalau Nyonya tahu gimana? aku harus jawab apa?'


"Makanya usahakan mommy dan Daddy jangan sampai tahu kepergian ku."


"Terus Non Vana mau keluar keluar malam-malam begini untuk apa?"


"Teman ku butuh pertolongan Mbak, ya sudah aku harus secepatnya pergi ya."


"Non... kalau bisa beritahu Nyonya atau Tuan biar Mbak nggak kesalahan." ucap asisten rumah tangga itu yang sudah bekerja selama lima tahun di rumah keluarga Reno.


"Ya sudah, kalau gitu Mbak pura-pura nggak tahu ajah kalau aku pergi."


"Tapi Non.....


"Sudah ya Mbak aku pergi dulu." Vana membuka handle pintu dan berlari keluar, ia berjalan kearah garasi mobil khusus mobil-mobil mewah milik Daddy nya yang berjejer rapi. Vana masuk kedalam salah satu mobil favoritnya. Setelah menstsrter mobil, ia melajukan mobilnya dan meminta satpam membukakan pintu gerbang.


"Pak! bukakan pintu gerbangnya!"


"Non mau kemana? ini sudah jam setengah dua belas." tanya salah seorang satpam.


"Ada teman ku sedang sakit, dia minta aku datang hari ini!"


"Tapikan Non bisa besok pagi, malam begini sangat berbahaya."


"Insyaallah aku bisa jaga diri kok! Oiya pak tolong jaga rahasia ini ya jangan sampai Daddy dan Mommy tahu."


"Aduh Non, Bapak takut kalau gitu. Nanti kalau ketahuan bohong bapak di pecat bagaimana Non?"


"Ya sudah Pak, Bapak tenang saja biar itu jadi urusanku. Tolong bukakan pintu gerbangnya."


"kalau bisa ajak beberapa bodyguard, daripada mereka nonton bola nggak ada kerjaan.'


"Nggak apa-apa Pak, Kalau siang mereka bantu kerjaan Daddy, jaga gudang onderdil dipusat."


"Ya sudah hati-hati ya Non! jaga diri Non baik-baik!'


"Iya Pak!


Mobil sport melesat cepat menuju tempat yang sudah tahu lokasinya. Tak membutuhkan waktu lama, hanya 25 menit perjalanan Vana sampai di sebuah tujuan. Ia menepikan mobilnya di bahu jalan yang terlihat sudah agak sepi.


"Benarkah ini lokasinya?" gumam nya lirih, seraya melihat lokasi yang diberikan Luna. "Ini seperti sebuah gudang! Vana mengedarkan pandangannya. "Disana ada sebuah Cafe dan masih ada pengunjungnya. Lalu dimana Luna?


Vana mulai menghubungi Luna kembali. Dan telponnya kembali tersambung "Syukurlah telponnya aktif kembali."


"Hallo Luna..."


"Vana!!


"Kau dimana...?"

__ADS_1


"Gue berada di dalam cafe, Loe masuk saja."


"Loe tidak apa-apa? Vana dibuat bingung oleh Luna, suaranya nggak ada ketakutan sama sekali sepert yang tadi ia dengar. "Bukankah tadi loe berteriak ketakutan dan minta tolong?! terdengar suara kekehan dari ujung telepon. Vana mendengus kesel, tahu temannya dalam keadaan baik dan malah menertawakan kebodohannya. "Aku tidak mau masuk ke cafe, kau buat mood ku kacau!" gerutu Vana.


"Ya sudah Gue yang kesana."


Tak berapa lama, Orang yang telah membuat Vana khawatir sudah berdiri didepannya.


"Loe pasti ngerjain gue kan! bentak Vana kesal, ia mengerucutkan bibirnya seraya melipat kedua tangan didada.


"Muhehehe... loe jangan ngambek donk Van. Sebenarnya gue hanya ingin mengajak loe ke party cowok gue Hendrik. Habis kalau gue nggak buat alasan, Loe nggak bakal mau datang."


"Loe tahu kan? waktu gue itu sangat berharga. Tiga hari lagi kita akan ujian kenaikan kelas!" cetus Vana "Gue ketakutan setengah mati, saat loe berteriak minta tolong, dan gue datang kesini tanpa sepengetahuan kedua orang tua gue,! ucap Vana terus nyerocos menumpahkan semua kekesalannya pada sahabatnya itu.


"Gue minta maaf ya van. Loe jangan ngambek lagi ya. Ayo kita masuk."


"Nggak! gue mau pulang ajah!


"Sebentar doang kok,Van! itu acaranya mau di mulai, tadi gue bilang sama Hendrik, acaranya jangan di mulai dulu sebelum Vana datang. Ayolah plis!" Luna menarik tangan Vana.


"Oke! tapi gue nggak lama, gue harus pulang sebelum kedua orang tua gue tahu, kalau gue pergi dari rumah tanpa izin!


"Okay...!"


"Tunggu! Loe nggak undang Rara dan Tiara? Vana menatap curiga.


"Ohhh, mereka berdua udah gue undang, katanya nggak bisa datang. Untungnya loe datang jadi bisa nemenin gue."


Vana berjalan bersama Luna masuk kedalam cafe, sebenarnya Vana sangat kesal dengan kebohongan Luna. Ia sampai pergi tanpa izin pada orang tuanya yang sangat ia hormati.


Hendrik kekasih Vana yang ternyata satu kelas dengan Reyhan, ia tersenyum sumringah melihat kedatangan Vana.


"Makasih ya Van, akhirnya loe mau datang ke acara party sederhana gue." Hendrik mengulurkan tangannya, dan disambut oleh Vana. Vana berasa aneh dan curiga, karena Cafe itu hanya ada teman-teman Hendrik yang tidak ia kenal. Para cowok menatap liar kearah Vana tanpa berkedip.


Acara pun dimulai, hanya memotong kue Black forest dan memberikan potongan kue itu pada semua mereka yang hadir.


"Lun! loe apa nggak curiga sama cowok loe, kok dia nggak undang teman satu kelasnya termasuk Reyhan."


"Oohh, mereka itu teman-teman satu band nya. Loe tahu kan Hendrik itu anak band, sering ngadain tour band keluar kota."


"Ohhh, ya udah gue pulang ya. Kaya nya gue risi banget, cowok semua lagi."


"Bentar dulu, ngapain sih buru-buru pulang."


"Gue udah gak nyaman, lagian ini udah jam setengah dua belas, Gue harus pulang sebelum Daddy gue tahu."


"Plis sebentar lagi..!


"Loe pulang kerumah gue ajah ya, kayanya gue nggak tega ninggalin loe sendiri disini, mana loe cewek sendiri."


"Nanti gue pulangnya diantar Hendrik, kok!


"Huft! Vana meniup kuat "Ya sudah terserah loe deh! tapi gue ingetin sama loe, jangan pernah loe nakutin gue kaya di telpon tadi, teganya loe bohongi gue kaya gitu."


Seketika wajah Luna terlihat pucat dan Panik, ada sesuatu yang ia sembunyikan, tapi Vana tidak dapat menebaknya.


"Loe baik-baik ajah kan, Lun?"


"Heh-iya, maafin gue ya Van, udah bohongin loe tadi di telpon." wajah Luna tertunduk malu dengan ekspresi datar.

__ADS_1


"Mereka kayanya lagi sibuk minum-minum, loe yakin nggak mau pulang sama gue? bujuk Vana, dan Luna gelengkan kepala.


Vana mendesah pelan, ia sebenarnya tak tega ninggalin sahabatnya, walau ada kekasihnya Hendrik, Namun Vana tak berhak memaksanya. walau sebenarnya ia sedikit curiga, ada sesuatu yang Luna sembunyikan.


"Loe beneran nggak papa gue tinggal?


"Nggak apa-apa Van." jawabnya lemes.


"Ya udah gue pulang ya, salamin ajah sama Hendrik, dia lagi minum sama teman-temannya."


"Iya Van gue salamin, makasih ya loe udah mau datang."


Tanpa banyak basa-basi lagi, Vana berjalan keluar dari Cafe yang semakin malam sudah sepi. Sejak tadi ia datang juga hanya ada teman-teman Hendrik, sekitar sepuluh orang yang berkumpul.


"PRANKK!!!!


Tiba-tiba Vana di kejutkan oleh suara pecahan botol yang di lemparkan.


"PRANKK!!


"Ahhhkkkk...!!!


Terdengar suara teriakan sahabatnya. Vana memutar tubuhnya dan melihat sahabatnya sudah bersimbah darah di kepalanya.


"Apa yang sudah kalian lakukan! bentak Vana.


"LUNA!!! saat Vana mau menolongnya Lima pria berjalan mendekati Vana dengan masing-masing memegang botol ditangannya. Vana memundurkan langkahnya kebelakang.


"APA INI JEBAKAN KALIAN!! SIAPA YANG ADA DI BELAKANG KALIAN!!! teriak Vana penuh amarah.


"Itu bukan urusan mu Nona! lebih baik ikut kami bersenang-senang dan kita nikmati hidup ini dengan tidur diatas ranjang! hahahaha...


"Ciih! Mendengarnya saja aku sudah jijik! lepaskan Luna! kenapa kalian jahat melukai wanita yang lemah!"


"Luna kekasih ku, dia sanggup melakukan apapun untuk ku, Kau tidak usah khawatir Vana. Luna akan baik-baik saja!"


"Kau memang kejam Hendrik! dari awal aku sudah curiga, tapi Luna terus meyakinkan ku!


"Kau yang kejam! kau yang memulai perang ini lebih dulu, Van! kau sudah memukuli sepupu ku bersama teman-temannya di lantai tiga, kini dia masih dirawat dirumah sakit. Dan anehnya kepala sekolah malah melindungi mu atas perbuatan jahat mu, kau seperti tidak bisa tersentuh hukum!"


Vana teringat kasus empat hari lalu bersama Jessica. ia juga menghatam empat orang kakak kelasnya. Esoknya Mommy nya di panggil kepala sekolah. dan benar saja Vana tidak dilaporkan ke polisi atas kasus penganiyaan. Berarti Mommy sudah membela dirinya.


"Semua itu salah mereka! aku tidak pernah memulai bila tidak di usik! Jessica yang salah disini! mereka di perintah Jessica untuk melecehkan aku!"


"Kau memang pantas di lecehkan! cepet seret wanita itu, kalian boleh lakukan apa saja termasuk meniduri nya!!! teriak Hendrik.


Kini posisi Vana sudah terkepung.


🔥


🔥


🔥


Jangan lupa follow Bunda, kalian bisa ngobrol langsung dengan Bunda di IG.


~follow IG @bunda.eny_76


@Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2