
Suara dering telepon berbunyi, Tommy merogoh saku celananya, tertera nama Nona Delena, ia pun mengangkatnya.
"Malam Nona."
"Kau sudah berada dimana kak Tom?"
"Masih di apartemen, tapi sudah selesai tinggal berangkat."
"Kalau begitu cepat lah, aku dan ibu sudah dalam perjalanan, mas Reno akan menyusul setelah pulang kantor."
"Baik Nona, terima kasih."
"Tunggu aku sayang, tidak lama lagi." tersenyum sumringah, mencium bunga mawar ditangannya.Tommy berjalan cepat meningglkan apartemen. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Didalam perjalanan Tommy tampak tegang, hari ini ia benar-benar tidak menyangka bisa melamar seorang wanita cantik dan berkelas dari keluarga terpandang. Rasa syukur pada Tuhan tak hentinya ia panjatkan dalam hati. Mobil Tommy merayap karena terjebak macet, jam tujuh waktunya orang pulang kerja, Terlihat wajah Tommy kesal karena sudah setengah jam menunggu, tapi masih saja macet total.
"Ya Allah jangan sampai telat." Tommy menoleh pada arloji ditangannya "Sudah jam delapan kurang seperempat." Ahh... mendesah kasar "Jam delapan seharunya sudah berada disana, aku tidak ingin Tuan Ramon berfikir kalau aku tidak serius."
"Tiiiinnn
"Tiiiinnn
Suara klakson saling bersahutan, jalanan makin tidak beraturan karena semua kendaraan Roda empat saling ingin mendahului.
"Tidak ada jalan memutar lagi. Aku terjebak macet di tengah jalan." mendengus kesel.
Sementara mobil Delena sudah berada didepan mansion. Ia keluar dari mobil bersama Helena sang ibu. Mereka menggendong Zevano dan Zevana masuk kedalam ruangan.
"Eehhh.. cucu oma sudah datang." sambut Andini mengambil zevana dari gendongan Helena.
"Cucu opa yang ganteng mana? Delena memberikan zevano pada Ramon.
Mereka semua sudah berada di ruangan keluarga tinggal menunggu kedatangan Tommy.
"Kak Tommy mana kak Dena, ko belum datang? tanya Fanny sambil mencubit pipi Zevana yang gembul di sebelah Andini.
"Katanya sudah berangkat, tadi kaka telpon waktu diperjalanan."
Jam sudah beranjak ke angka 8.30 menit. Tapi tidak ada tanda-tanda Tommy akan datang. Semua menunggu dengan cemas. Siska hanya diam terduduk dengan wajah tertunduk sedih. Ia sedang merasakan kegalauan hatinya.
"Coba kalian hubungi Tommy, sudah berada dimana? tanya Ramon memecahkan keheningan. Kecemasan pun terlihat dari Pria paru baya itu.
"Siska kau hubungi Tommy?" titah Ramon.
"Sudah kak, tapi tidak ada jawaban." menghela nafas berat.
"Biar aku saja yang hubungi lagi." Delena berinisiatif.
Panggilan telepon Delena berulang kali juga tidak Tommy angkat. "Mungkin saja ia sedang di perjalanan, jadi tidak sempat mengangkat telpon." tutur Delena menetralkan keadaan.
__ADS_1
"Tommy, apa kau tega mempermainkan perasaan ku, kenapa kau tidak menghubungi ku atau mengangkat telepon ku? bathin Siska bergejolak menahan kekesalan.
Sementara itu Tommy sudah keluar dari zona kemacetan, karena terburu-buru untuk cepat sampai Mansion. Tommy melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, saat melewati pertigaan tiba-tiba sebuah mobil melaju memotong jalan, tabrakan pun tidak bisa di hindari lagi.
"BRAKK!
Untung Tommy sempat mengerem jadi tabrakan tidak terlalu parah hanya menabrak body samping dan menimbulkan penyok pada mobil orang tersebut. Tommy menepikan mobilnya di pinggir trotoar. Pria itu juga menepikan mobilnya dan turun. untungnya tidak ada korban jiwa.
"Maaf Mas, kenapa memotong jalan saat di pertigaan, seharusnya itu tidak boleh." kata Tommy menjelaskan.
"Tapi mobil saya rusak karena anda telah menabraknya!" maki pria itu tak terima.
"Baik lah aku akan menggantinya. Tapi aku tidak bersalah karena anda telah menerobos tanpa memberi klakson."
"Anda tetap salah, aku tidak terima, ini mobil mahal keluaran terbaru. Akan aku tuntut anda."
"Aku sudah bilang akan menggantikan perbaikannya, tinggalkan saja kartu nama anda, besok akan aku urus, secepatnya aku harus pergi."
"Bukk!
Sebuah pukulan mendarat di wajah Tommy. "Bilang saja kau tidak ingin membayar kerusakan mobilku!" teriak pria itu tanpa basa-basi.
Tommy menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke aspal, jempolnya mengusap darah di ujung pelipisnya. "Aku sudah bilang akan menggantinya tapi kau malah bikin masalah."
"Bukk!
"Bukk!
Beberapa orang yang berada di sana ikut melerai perkelahian itu. Tommy tidak tumbang dengan tubuh besarnya ia bisa menghajar dua pria itu juga.
Akhirnya perdamaian pun terjadi dengan bantuan orang-orang disekitar, pria itu tetap ngotot dan minta uang ganti rugi sama Tommy sebesar 20 juta. Tommy yang sedang panik dan tidak ingin perpanjang masalah, mengalah dan mentransfer sejumlah uang yang diminta pria itu.
Mobil Tommy sudah pergi meninggalkan lokasi kejadian itu. ia sangat jengkel saat jam sudah menunjukkan pukul 9.30 wib. "Aku harus menghubungi Siska agar ia tidak salah sangka dan meragukan aku."
Tommy terperanjat saat ia melupakan ponselnya yang tertinggal di Apartemen. "Ahh sial! memukul setir "Kenapa ponsel sampai ketinggalan diatas meja." Tommy mengingat kembali "Setelah Nona Delena menelpon ku, aku taruh dimeja karena aku terburu-buru ke toilet."
****
Di Mansion semua sudah berkumpul, mobil Reno sudah terparkir dengan sempurna di depan teras. Reno turun dari mobil membawa senyuman lebar di bibirnya, mana kala si kembar merengek minta di gendong sang Daddy.
"Anak Daddy sudah kangen ya." mencium Zevano dan zevani yang berada diambang pintu bersama Delena dan baby sister nya. Reno masuk kedalam menggendong dua anak kembarnya yang terlihat senang.
"Mana Tommy?! Suara Reno terdengar lirih, karena ia tidak melihat sosok Tommy disana.
"Dia belum datang mas." Delena bicara agak pelan.
"Ko bisa? bukankah Tommy berjanji datang?"
"Sabar saja dulu kita tunggu lagi, mungkin di perjalanan macet." kata Helena mencairkan suasana.
__ADS_1
"Coba aku yang telpon." Reno memberikan si kembar pada baby sister.
"Aku sudah berkali-kali menelponnya Mas, tapi tidak diangkat."
Kedua alis Reno mengkerut. Delena memberikan secangkir teh manis pada suaminya untuk menenangkan.
Siska yang terlihat tegang dengan ekspresi datar tiba-tiba berlari dari ruangan kelurga. Di dalam kamar Siska menangis terisak sambil menutup wajahnya dengan bantal. Delena masuk kedalam kamar, duduk di pinggir ranjang. "Tante sabar, pasti kak Tommy akan datang." Delena mengelus lembut punggung Siska. "Aku tau sifat kak Tommy tidak mungkin ingkar janji. Kecuali ada halangan yang sangat mendesak."
"Bagaimana aku tidak kecewa, aku menelpon Tommy berulang kali tapi tidak ada jawaban sama sekali." hiks..
Delena menoleh pada jam di dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 10.15 menit. "Tante aku takut kak Tommy mendapat halangan, tadi saat aku telpon ia bilang sudah mau jalan." ucapan Delena memberi keyakinan pada Siska.
"Seandainya malam ini Tommy tidak datang. Aku bersumpah akan membatalkan pernikahan ini dan pergi jauh dari negara ini! hiks... aku malu Dena, apakah aku sudah setua ini sampai harus dipermainkan?!"
"Tante jangan su'uzon dulu, kita kan belum tau apa yang sudah terjadi pada kak Tommy."
"Brakk!
Pintu terbuka dengan kasar. Fanny berdiri di ambang pintu sambil tersenyum sumringah. "Kak Tommy sudah datang!" seru fanny membuat Siska terduduk dan melempar bantal Itu.
"Kau tidak bohong kan?! mengusap kasar air matanya. Dan merapikan sanggup yang sedikit berantakan.
"Kalau Tante tidak percaya keluar ajah sendiri." titah Fanny mengerucutkan bibirnya.
Delena tersenyum, mengelus punggung Siska "Tante rapikan dulu riasannya, masa mau ketemu calon suami berantakan seperti itu." goda Delena terkekeh.
"Mana makeup ku?" Siska begitu tak sabar. Fanny memberikan serangkaian makeup untuk polesan ulang ke wajah Siska. rambut yang berantakan di rapikan kembali. wajah cantik Siska bersinar cerah lagi dan tersenyum manis. Delena dan Fanny mengampit Siska untuk berjalan ke ruangan keluarga.
Deg...
Deg...
Deg...
Begitulah getaran irama jantung Siska.
'
'
'
'
'
'
Bersambung....
__ADS_1