
"Apa kau yakin? tanya Reno, penuh penekanan.
"Aku akan berusaha semampuku, Davin adalah malaikat penolongku, tanpa pertolongannya, sampai saat ini aku tidak mungkin bisa bertemu dengan kalian."
Reno menoleh pada istrinya. Delena mengangguk setuju.
"Baiklah, Aku serahkan pengobatan Davina padamu." Reno tersenyum lega.
Selesai berbicara dengan Dokter Haris, Dokter yang menangani Davina. Robert, Reno dan Delena berkunjung ke kamar Frans. Setelah melewati lorong rumah sakit, mereka berhenti di ruangan rawat inap VIP.
KREKK...
"Frans!
"Fanny?
Panggil Reno, melihat fanny sudah berada di ruangan Frans, terduduk di pinggir ranjang.
"Tuan, Nona, Tuan Robert...? Frans yang sedang bersandar di sandaran divan, mencondongkan tubuhnya dan terduduk tegak.
"Fanny, kenapa kau tidak berada di ruangan mu? Reno mengalihkan pandangannya pada adiknya.
"Kakak! aku kesini hanya ingin menjenguk, kasihan Frans tidak ada teman ngobrol.." timpal fanny membela diri.
"Kau sudah sehat fan? tanya Delena, berjalan mendekat dan merangkul pundaknya.
"Sudah kak! Oiya kak, besok kata Dokter aku sudah boleh pulang. untuk sementara aku pulang kerumah kakak ya." menatap wajah Delena sayu.
"Adikku sayang, tidak perlu meminta izin kalau ingin tinggal di rumah Mas Reno. itu juga rumahmu, Pintu selalu terbuka untukmu Fan, tinggal selamanya di sana juga boleh."
Terima kasih Kak Dena, kakak ipar ku terbaik di dunia." memeluk pinggang Delena.
"Fanny! kau tetap harus pulang ke rumah Papa, sebab mereka adalah kedua orang tuamu." Reno memperingati.
"Tapi kak! Papa kan belum merestui hubunganku dengan Frans." fany tertunduk sedih.
"Bukankah kau ingin menikah dengan frans? bujuk hati papa agar dia luluh, Kakak yakin kau bisa melakukannya."
"Apa yang kakak mu katakan benar Fan, kau harus pulang kerumah Orang tuamu. Kita butuh restu Papah mu juga kan?" Frans berkata dengan penuh pengertian.
"Baiklah Frans, aku akan pulang kerumah Papah, asalkan bersamamu."
"Jangan dulu fan, kau sudah lama pergi dari rumah, Aku tidak ingin kehadiranku menambah amarah dan kebencian Ayahmu. Bila sudah mendapatkan restu, aku pasti akan datang melamar mu."
"Kalau begitu, aku tetap tidak akan pulang. Aku sudah lelah menahan penderitaan terpisah dari orang yang aku cintai. Aku tidak ingin pulang ke rumah tanpa Frans, kak! seru vany menahan getir, ia menitikkan air mata, bersandar di dada Delena. Delena mengusap lembut punggung fanny.
"Van, Kenapa kau begitu keras kepala?
"Mas, kita juga harus bisa memahami perasaan fany, begitu banyak penderitaan yang fanny dan Frans alami. Fany benar! begitu sakit berpisah dari orang yang kita cintai. Bila ia tidak ingin pulang tanpa Frans, karena fany punya alasan sendiri" bela Delena dengan mata berembun. Ia berkata dengan penuh perasaan, memposisikan dirinya sebagai fanny.
Reno menatap istrinya nanar. "Baiklah, bila istriku yang meminta, Karena ia juga seorang wanita yang punya perasaan seperti Fany, aku mengerti sekarang. Frans." menoleh kearah Frans "Pulang lah bersama fany, tunjukkan pada Papah ku, kalau kau seorang Pria yang bertanggung jawab dan pantas hanya untuk fanny."
__ADS_1
Frans mengangguk "Baik Tuan, aku akan mengantar Nona Fany pulang."
"Frans, kau kelak akan jadi Adik ipar ku, dan vany calon istrimu. Jangan pernah lagi memanggil ku Tuan, dan Vany, Nona. Sekarang kau dan aku tidak ada penyekat antara atasan dan bawahan lagi.
Wajah Frans berbinar cerah "Terima kasih, Tuan."
"Panggil aku kakak!' sambar Reno
Frans tersenyum lebar "Baik, kak!
🌸🌸🌸
Dua hari kemudian, Vany dan Frans sudah boleh keluar dari rumah sakit, Melalui pembicaraan yang alot, akhirnya kesepakatan diambil Reno, untuk sementara vany dan Frans tinggal di istana Reno sambil menyusun rencana kedepannya. Tentu saja dengan kamar terpisah dan setiap ruangan di penuhi cctv. Karena permintaan vany yang tidak ingin terpisah lagi dengan Frans. Reno mulai mengalah demi adik kesayangannya, apalagi Vany selalu mendapatkan dukungan dari istrinya.
Robert membawa Davina pulang ke Bali, setelah semalam Roberts meminta restu dari Helena selaku ibu kandungnya. Serta dukungan penuh dari Delena dan Reno.
Mobil melintasi jalanan ibukota menuju sebuah bandara. Menggunakan pesawat pribadi Reno, Robert membawa Davina yang masih sakit, serta membawa empat orang perawat, bersama Anjali untuk pulang ke Bali.
Delena dan Reno sudah menjemput Anjali di rumah sakit sejak pagi. Mobil mereka sudah sampai didepan lobby Bandara. Reno dan Delena mengantar sampai ruangan pengunjung.
"Anjali, Jaga dirimu baik-baik disana. kabari aku bila sudah sampai Bali."
Terima kasih Delena, kau memang wanita hebat dan berjiwa besar, bukan hanya cantik tapi kau sangat tulus, beruntung Reno mendapatkan istri sebaik dirimu." Anjali tersenyum sumringah. Mereka saling berpelukan.
"Jangan berlebihan dalam memujiku, aku tidak sebaik pujian mu, masih banyak kekurangan ku." tersenyum lebar.
"Kau pantas dipuji, kecantikan mu bukan hanya paras saja, tapi juga dari hatimu." Anjali masih terus memuji dengan senyum mengembang.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang."
"Baiklah, kita berteman." Anjali menggenggam kuat jemari Delena.
"Reno, terimakasih atas semua kebaikanmu. Aku telah belajar tentang arti ketulusan dan keikhlasan. Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan lah yang menentukan takdir hidup seseorang. Walau kita tidak di takdirkan untuk bersama, tapi izinkan aku menjadi temanmu."
"Tentu saja, kau bukan hanya temanku, tapi sudah menjadi saudara ku."
Anjali menitikkan air mata haru. "Selamat tinggal." sekali lagi ia memeluk Delena, dan berjalan pergi tanpa menengok kebelakang.
"Bro! aku berangkat dulu!
Robert sudah berdiri disamping Reno. Mereka saling berangkulan.
"Apa kak Davin sudah masuk kedalam pesawat? tanya Delena sambil berjabat tangan dengan Robert.
"Sudah, dengan perawat."
"Aku takut kak Davin mengamuk di pesawat."
"Dokter Haris sudah memberikan obat penenang."
"Sebenarnya, aku ingin sekali ikut ke Bali, tapi masih harus mengurus Fany dan Frans."
__ADS_1
"Tidak usaha Delena, nanti bila Davina Sudah sembuh. Aku pasti akan mengabari kalian."
"Baiklah, Jaga dirimu baik-baik bro! Reno menepuk pundak Robert.
Robert berlalu dan masuk kedalam ruangan pemeriksaan, melambaikan tangan sekilas, lalu hilang dari pandangan.
Delena dan Reno menghembuskan nafas lega. Reno merangkul pinggang istrinya, dan berjalan meninggalkannya Bandara.
Esoknya Frans dan Fanny sudah selesai dengan aktivitasnya. Pagi itu selesai sarapan bersama, Frans berniat untuk mengantarkan fanny ke rumah Ramon.
"Frans apa tangan mu sudah benar-benar sembuh? tanya Reno saat sudah berada di ruangan keluarga.
"Masih ada sedikit ngilu, dan sisa lukanya sudah mengering."
"Kalau begitu, Kau belum bisa membawa mobil dulu, biar sopir saja yang membawanya."
"Ya sudah kak, aku dan frans akan pergi kerumah Papah!"
"Pergilah, semoga kalian mendapat restu Papa!
"Doakan kami kak,". Cup!" mencium pipi Reno.
Setelah berpamitan dengan Delena dan Helena, mereka berdua masuk kedalam mobil, menuju mansion Ramon."
Didalam mobil, tangan mereka berdua tak pernah lepas, saling bertautan erat.
"Kau bahagia? tanya Frans, tersenyum lebar. Menatap gadis cantik di sebelahnya.
"Tentu saja, pada akhirnya kita bisa mewujudkan impian kita berdua, walau masih terhalang restu Papa."
"Jangan pesimis, kita harus tetap optimis dan berbaik sangka lah pada sang pemilik kehidupan. Hanya dialah yang bisa membulak balikan hati manusia."
Mata fanny berbinar, tersungging senyuman manis di bibirnya, menyandarkan kepalanya di bahu lebar Frans.
"Frans apa kau percaya pada takdir? kalau kita akan menjadi sepasang suami istri, dan membina keluarga kecil yang bahagia?"
"Aku percaya pada takdir Tuhan, jodoh tidak akan pernah lari kemana, semakin di kejar ia akan menghindar, semakin kita ikhlas dan pasrah, jodoh akan datang dengan sendirinya. karena cinta hadir, tanpa di minta."
Frans terus memberi fanny semangat dan motivasi agar terus percaya diri untuk menghadapi Ayahnya.
Satu jam lebih perjalanan, Mobil mereka sudah memasuki pintu gerbang mansion Ramon.
'
'
'
@Bersambung....🌺🌺🌺
Yuk ikuti kisah novel Author yang lain, tak kalah seru dan bikin baperrrrr..
__ADS_1
""SUAMIKU SEORANG CEO"