ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Mulai Terbongkar


__ADS_3

Robert berjalan kembali kerungan meja makan. Tak lama Davina datang bersama Helena dan menarik kursi makan. Mereka mulai menikmati makan malam bersama walau ada kecanggungan di antar Davin dan Robert.


Selesai makan malam Robert, Chika dan Helena berkumpul di ruangan kelurga. Asisten rumah tangga membereskan piring-piring kotor dan perabot, Davin mengambil buah-buahan dalam kulkas dan memotong.


Davina menaruh potongan buah diatas meja beserta minuman dingin. Helena masih ngobrol biasa dengan Robert, tentang sekolah Chika dan kegiatan dia di rumah sakit. Tidak sedikitpun Helena ikut campur urusan anak dan mantunya selama masih bisa di selesaikan berdua. Dalam hal ini Helena tidak akan condong membela Davina anaknya sendiri, ia harus berbuat netral, karena yang tahu permasalahan rumah tangganya hanya mereka berdua yang tahu. Sebagai seorang ibu yang bijak Helen hanya menasehati anak dan mantunya, selebihnya keputusan ada pada mereka berdua.


"Mami Chika ngantuk mau bobo."


"Chika bobo sama Oma ya, nanti Oma dongengin kelinci dan kura-kura."


"Nggak suka kisah kelinci dan kura-kura. Sukanya Cinderella."


"Iya Oma ceritain Cinderella dan sang pangeran."


Chika mengangguk setuju. Helena sengaja mengajak Chika tidur bersamanya, selain kangen sama cucunya yang jarang bertemu karena jauh. Ia juga ingin Davin dan Robert bisa menyelesaikan masalah rumah tangganya.


"Pih! Mih! Chika bobo sama Oma ya."


"Iya sayang." Robert mencium kening dan kedua pipi chubby anak gadisnya.


"Mami boleh nggak bobo sama Chika di kamar Oma?" sontak Helena menatap tajam kearah Davin.


"Kalau mami bobo sama Chika, nanti papi sama siapa? kasihan papi nggak ada temannya." ucapnya polos.


"Chika Ayo kita masuk kamar." sebelum Helena meninggalkan Robert dan Davina ia menatap keduanya bergantian. "Selesaikan masalah kalian berdua dengan kepala dingin, jangan sampai keputusan kalian bisa merugikan mental Chika, kasihan Chika masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya, bila tidak kalian akan menyesal dikemudian hari." ucap Helena tegas dan menggandeng tangan Chika masuk kedalam kamar.


Davina dan Robert hanya mengangguk. Davin membawa sisa buah dan gelas ke dapur. Robert sudah lebih dulu masuk kamar.


Sebelum masuk kedalam kamar, Davin mendengar sayup-sayup suara Robert sedang berbicara dengan seseorang sambil marah, Namun ia tidak begitu jelas suara obrolan itu. Seketika suasana berubah hening, tidak ada suara lagi di dalam kamar. Davin berdecak kesal, ada rahasia apa yang tidak ia ketahui tentang suaminya.


"Ceklek!


Melangkahkan kaki kedalam kamar, Davin melihat Robert berada di sofa sambil sibuk dengan ponselnya. ia masuk kedalam kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh wajah. Setelah mengganti kimono Davin naik keatas ranjang dan tidur menghadap dinding.


"Sayang...,bisa kita bicarakan baik-baik. Tolong kau jangan selalu salah paham, aku bisa jelaskan semuanya."


"Jelaskan bagian yang mana Mas?" masalah Mama mu kah? atau masalah kau sedang puber dengan wanita di luar sana!"


"Davin! kau jangan langsung menuduhku dulu tanpa bukti, aku tidak pernah berselingkuh. Sumpah demi apapun."


Davin membalikkan tubuhnya "Kau jangan pernah berani bersumpah Mas! kau tau dulu aku mantan b4jing4n! berselingkuh dengan para bos-bos beristri! apa kau lupa, Hah? aku bisa tebak dan tahu gerak-gerik dan gesture tubuhmu kalau kau sedang merahasiakan sesuatu dariku. kau! menunjuk wajah Robert "Menikah dengan mantan wanita perusak rumah tangga orang!!"


"Cukup Davina! kenapa sekarang kau berubah? mana Davina yang lembut dan penyayang?! aku tidak pernah perduli dengan masa lalu mu? sudah aku bilang berkali-kali, bukan? aku menerima mu apa adanya."


"Tapi aku wanita pendosa!" seperti itulah Mama dan kakak mu Sarah selalu menghinaku!"


Robert naik keatas ranjang dan mendekat "Tidak sayang, semua orang pasti punya dosa, sama halnya dengan diriku yang juga banyak dosa, kau tidak usah pedulikan kakak dan Mama ku, kita yang menjalani rumah tangga, bukan mereka."


"Tetap saja Mas, aku tak terima. karena mereka keluarga mu!" kalau orang lain yang menghinaku, mungkin aku akan tutup mata, tapi mereka...?"


Robert mendesah kasar "Ma'afkan aku sayang, hanya itu yang bisa aku katakan? haruskah aku menghajar kakak ku atas penghinan nya padamu? haruskah aku memaki dan mengusir Mama ku agar lukamu terobati?" katakan Davin apa yang harus aku lakukan?!" ucapnya emosi dengan nafas kasar.


"Tes! airmata Robert jatuh menetes. Hal yang belum pernah Davin lihat sebelumnya. Robert seorang pria yang pantang meneteskan airmata, terakhir kali ia melihat suaminya menangis saat kepergian Ayah kandungnya untuk selamanya, yang notabene asli orang Brazil, sedang Mamanya Rere asli orang Bali.

__ADS_1


Robert terdiam dengan wajah tertunduk, ia merasakan sesak di dadanya, karena posisinya serba salah. Davin bangun dan terduduk.


"Aku hanya kesal padamu yang tidak bisa membela istrinya di depan Mama mu!


Robert mengangkat wajahnya "Aku juga sudah berusaha Davin, dan terus nasehati Mama. Aku bingung harus bagaimana lagi menghadapi ibu kandungku?"


"Kalau begitu beri keputusan untuk ku?"


"Keputusan apa? Robert menautkan kedua alisnya.


"Pilih aku atau Mama mu? sepertinya aku dan Mama mu tidak akan bisa menyatu. Selalu saja aku salah di mata Mama mu!."


"Kenapa kau memberikan pilihan yang amat sulit Davin? tidak kah kau kasihan melihat Chika? bukankah tadi ibu bilang, jangan ambil keputusan yang akan merusak mental Chika."


"Dua belas tahun Mas, aku cukup bersabar menghadapi sikap Mama mu! tidakkah kau mengerti perasaan ku ini?! airmata Davina sudah menganak sungai. Butiran kristal itu Davin usap kasar dengan punggung tangannya.


"Aku sangat mencintaimu, Davin. Apakah kau tega Ingin meninggalkan ku dengan dua pilihan yang tak mungkin aku pilih salah satunya?"


Davin terdiam, kedua jemarinya saling bertautan dan memilin-milin. Mereka belum juga mendapatkan selusi.


"Hening.....


Tidak ada lagi obrolan dari keduanya, mereka saling berkutat dengan Pikiran masing-masing. Davina merebahkan tubuhnya kembali dan menghadap dinding. Robert melihat istrinya tidur menyamping dengan membelakangi dirinya, ia hanya bisa pasrah dan ikut tertidur di sampingnya.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, ia melihat Robert masih tertidur pulas, Kebetulan Davin sedang datang bulan, ia masuk kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih.


Suara dering ponsel terdengar nyaring di telinga Robert, ia terbangun dan menggeser tombol hijau.


"Hallo..." terdengar suara serak Robert khas bangun tidur.


Robert menoleh ke samping, istrinya sudah tidak ada disana "Boro-boro main kuda-kudaan, yang ada tensi lagi pada naik."


"Makanya istri jangan kelamaan di tinggalin, nanti jadi karatan." hahahaha....


"Ck." Sepertinya kau sedang bahagia Ren, selamat ya dapat tiga baby, kau memang tokcer Ren, aku belum nambah-nambah nih."


"Sabar lah, nanti juga dapat lagi, makanya di genjot setia malam." Reno terkekeh.


Robert terasa terhibur saat berbicara dengan Reno, seketika rasa stress nya sedikit berkurang dengan candaan Pria dingin tanpa ekspresi itu. Reno juga bisa bercanda hanya pada orang tertentu saja.


"Ya sudah bro nanti aku akan kesana tengok keponakan ku yang tampan."


"Pastilah tampan, kan aku yang buat." ucapnya bangga.


"Aish masih juga sombong."


Reno terkekeh "Okelah aku tunggu, kita makan siang di rumah."


"Siap Bos! Robert mengakhiri obrolannya.


"Ceklek!"


Keluar Davin dari kamar mandi memakai jubah handuk dan rambut di gulung handuk.

__ADS_1


"Pagi ini kita kerumah Reno, ia baru saja telpon aku. Bersiaplah aku mandi dulu."


Davina tidak menjawab, ia berjalan ke lemari dan mengambil pakaian casual.


"Ibu dan Chika juga hari ini akan ke rumah Dena, kita sama-sama saja kesana." ucapnya setelah Robert membuka pintu kamar mandi.


"Baiklah!"


Davin mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambut basahnya. Terdengar suara ponsel Robert berdering. Davin tidak mau mengangkatnya, takut dari pasien. Namun telpon tak henti berdering. Saat ingin mengambil ponsel yang tergeletak diatas nakas, bunyinya terhenti. "Ting!" Tiba-tiba masuk suara notif pesan di ponsel suaminya. Rasa penasaran terus bergelayut di hati Davin, ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya akhir-akhir ini, dilihat dari sikap Robert yang sering murung.


Ting!


"Ting!


Tiga pesan masuk, ia membuka aplikasi warna hijau itu. Tertera nama 'Pasien' rasa penasaran tak terbendung lagi, Davin membukanya.


["Mas kenapa telponku tidak di angkat!"]


["Mas kenapa kau sulit sekali di hubungi!"]


["Ingat Mas! Sabrina itu juga anakmu?! dia terus menanyakan Ayahnya!"]


"Deg! bagai di sambar petir di siang hari, tubuh Davin gemetaran, jantungnya berdebar tak karuan, hatinya bergelayut nyeri terasa jantungnya di remas begitu kuat hingga hampir ia tidak dapat bernafas.


"Mas kau tega! jatuh butiran bening dari sudut mata Davin di iringi suara ponsel berdering kembali. tanpa sadar Davin menjatuhkan ponsel suaminya.


"Ceklek!"


"Ada apa sayang...?'


Robert terkejut, Davin menatapnya tajam dengan airmata berderai. Ia melihat ponselnya sudah berada di bawah lantai. Robert berjalan dan mengambilnya. Robert terkejut saat Kinanti menelponnya berkali-kali. Ia langsung mematikan panggilan Kinan dan membaca pesan masuk yang sudah terbuka.


"Davin! aku akan menjelaskan semuanya!"


"Stop jangan mendekat!" teriak Davina lantang.


πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


@Assalamualaikum, alhamdulillah akhirnya kita masih diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan yang penuh barokah. Semoga amal ibadah puasa kita diterima Allah SWT.


Sebelum nya BUNDA minta maaf lahir dan batin bila selama ini banyak salah dalam menyikapi reader, Bunda hanya manusia biasa yang tak luput dari khilaf. Yuk kita saling memaafkan πŸ™


SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA πŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™


@yuk terus dukung bunda dengan cara...


πŸ’œlike


πŸ’œvote


πŸ’œgift


πŸ’œkomen

__ADS_1


@bersambung.....


__ADS_2