
Malam semakin larut, Nathan meninggalkan mansion yang sudah ia miliki dua tahun lalu. Dulu Diana memberikan tabungan milik Thomas pada Nathan yang jumlahnya fantastis, ratusan milyar. Berkat modal kecerdasan, keuletan dan kegigihannya Nathan membangun sebuah Perusahaan yang di kelola bersama sahabatnya Diego, kini Diego menjadi kaki tangan Nathan untuk melebarkan perusahaannya yang sudah ia bangun tiga tahun silam. Hasil dari jerih payahnya Nathan belikan sebuah mansion.
"Kau tetap akan pergi juga Nak!"
"Iya Pah! aku tidak ingin meninggalkan tanggung jawab ku pada seorang gadis."
"Sebegitu besar Cina mu pada gadis itu?"
"Gadis ku tak bersalah Pah! biarkan masa lalu keluarga ku menjadi kenangan dan tak perlu di ungkit kembali."
"Hah!! Joshua mendesah kasar "Baiklah bila itu keputusan mu, lakukan yang menurutmu baik."
"Titip Mama dan Alisa. Aku akan sangat merindukan kalian." Nathan dan Joshua saling berpelukan. "Jaga dirimu baik-baik disana. Papa akan menjaga Kelurga kita dan juga perusahaan mu."
"Thanks for Ded! you are the best dad who is always there for me. Kau adalah Ayah terbaik yang selalu ada untukku."
Joshua tersenyum dan mengacak-ngacak rambut pria tampan bermata biru itu. Nathan masuk kedalam mobil dan meninggalkan mansion bersama hembusan angin malam.
"Papa...!" Joshua menoleh arah sumber suara itu. "Kenapa kau belum tidur?" Joshua berjalan mendekati Diana yang berdiri di depan pintu.
"Ayo kita masuk sayang, angin diluar sangat kencang." Joshua merangkul pundak istrinya.
"Anak keras kepala itu pergi juga?"
"Kita bisa apa? Nathan sudah tumbuh semakin besar dan dewasa, kita harus menghormati keputusannya."
"Tidak bisa Pah! sampai kapan pun aku tidak akan merestuinya. Apalagi menjadi besan pembunuh ayah kandungnya sendiri!
"Kita sebagai orang tua harus bisa bicara baik-baik tanpa harus di tekan, lambat laun Nathan akan mengerti."
"Tapi Nathan ini beda Pah! sifat keras kepala dan arogan nya sama persis seperti Thomas. walau anakku jauh lebih baik daripada Thomas."
"Ingat Mah! Aku ayah sambungnya, sejak Nathan berusia 10 tahun aku sudah deket dengannya, dua tahun kemudian kita menikah. Jadi aku tahu sifat Nathan seperti apa?"
"Terserah lah Pah! kenapa kau selalu saja bela anak itu! aku tidak akan biarkan Nathan bersatu dengan anak Reno, aku harus tunjukkan cctv pembunuhan Ayahnya, agar anak keras kepala itu terbuka pikirannya!"
"Ya sudah Mah, ayo kita masuk."
Mereka berdua masuk kedalam mansion dan menutup pintu.
*
*
Pagi yang cerah. Suara kicauan burung terdengar merdu. Vana membuka matanya dan tersenyum saat seorang gadis cantik duduk di tepi ranjang.
"Selamat pagi kak!
"Selamat pagi Savira.."
"Aku buatkan Kakak susu Milo."
"Wah, anak baik. Terima kasih ya sayang udah repotin buat susu." Vana menerima cangkir susu dan mengusap lembut kepala gadis cantik itu. sungguh ia sangat menyayangi Savira yang sudah yatim-piatu dan menjadikan nya adik angkat.
__ADS_1
"Sini Kakak kepang rambut mu."
"Nanti saja, kakak mandi ajah dulu, nanti kesiangan ke sekolah."
Vana tersenyum "Senengnya punya adik cewek. ya sudah kakak mandi dulu ya." Vana turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi.
Selesai mandi dan berpakaian Vana keluar dari kamar menuju ruangan makan.
"Hey Mom, good morning.." Vana mencium pipi Delena yang sedang berdiri sambil mengatur makanan diatas meja.
"Mom! kok tumben diam ajah? Daddy mana? terus Savira dan Zidane di mana?
Delena menghela nafas panjang "Vana! temuin Daddy mu dulu di ruangan kelurga."
"Sekarang Mom?"
Delena mengangguk.
Kaki Vana melangkah menuju ruangan kelurga. perasaannya sudah tak tenang "Apa Daddy tahu semalam aku pergi ya? seandainya ia tahu, aku hanya bisa pasrah." gumamnya.
Vana melihat Reno membaca surat kabar dengan satu kaki menyilang.
"Good morning Daddy." sapa Vana ramah dan masuk kedalam ruangan.
Reno melipat koran dan mengangguk. "Duduklah disini." Reno menepuk dudukan di sampingnya.
"Ada apa Ded? tumben biasanya Daddy sudah duduk di meja makan."
Reno menarik nafas dalam "Zee, jujur pada Daddy. Semalam kau kemana? menatap manik coklat bening itu. Vana menunduk kan wajahnya dengan perasaan bersalah, ia tak berani menatap wajah Daddynya.
"Ma'afkan Vana Dad! semalam Vana di hubungi seorang teman dan dia dalam masalah, terpaksa Vana menyusulnya."
"Tapi kenapa kau tidak izin Daddy dan Mommy dulu, kalau memang teman mu ada masalah dan perlu pertolongan, pasti Daddy suruh bodyguard temani mu. Bukan kau pergi sendiri, Daddy pasti khawatir, bukan Daddy tak percaya kemampuan mu Nak."
"Ma'afkan Vana Dad! Vana hanya tak mau menyusahkan Daddy dan Mommy. Vana lakukan itu untuk melawan rasa takut dan trauma setelah kejadian bom di Mall itu, Vana dapat belajar semua itu dari kak Vano yang selalu support Vana agar menghilangkan rasa takut dengan banyak aktivitas."
"Iya Daddy ngerti, Daddy hanya takut dan khawatir apalagi kau pergi malam-malam, lain kali jangan kau ulangi lagi, Oke..."
Vana mengangguk "Iya Dad, Vana akan izin dulu seandainya akan pergi malam-malam."
Reno merangkul tubuh anak kesayangan nya itu "Daddy sangat sayang padamu dan takut kehilanganmu. Hari ini Nathan kembali, semalam sudah telpon Daddy."
"Benarkah Dad..? wajah cantik Vana bersinar cerah, ternyata Vana juga mengharapkan kedatangan Nathan, entahlah kadang ia sempat kepikiran ada yang hilang dari sosok bodyguard nya yang selalu perhatian.
*
*
Waktu terus berjalan, hari berganti bulan. Vana mulai naik ke kelas 12. Reyhan yang sudah lulus masih sering datang ke sekolahan Vana, hanya untuk sekedar makan atau jalan-jalan ke Mall. Bahkan mereka di juluki couple goals. Nathan yang selalu setia dan berada dekat Vana hanya bisa pasrah dan tidak pernah menyerah. Ia yakin suatu saat kemenangan akan berpihak padanya, bahkan sikap Vana semakin manis didepannya, itupun sudah membuat hati Nathan senang. Nathan tidak dapat memaksa Vana untuk mencintainya, biarkan sang waktu yang akan menentukan takdirnya.
"Kak! nanti malam acara party adiknya Reyhan, yang akan diadakan di hotel Prodeo."
"Apa Daddy mu mengizinkan?
__ADS_1
"Tentu saja, Daddy merasa aman bila kakak ada bersama ku."
Nathan tersenyum "Aku akan selalu menjagamu, aku pastikan kau pasti akan aman bila berada di dekat ku."
Malam itu Vana memakai dress selutut warna navy, tidak lupa memakai perhiasan Emas putih miliknya hadiah dari Mommy nya saat ulang tahun tahun ke-16 tahun lalu. Rambut pirang itu tergerai indah, makeup tipis terlihat cantik di wajah putih Vana. High heels warna senada dengan tas branded tangannya.
Vana berpamitan pada Reno dan Delena saat berada di ruangan keluarga bersama Savira dan Zidan.
Nathan berdecak kagum saat melihat kecantikan gadis nya. "Tante, Om, saya berangkat dulu." pamit Nathan, terlihat serasi dengan gaun pesta yang Vana pakai.
"Hati-hati di jalan ya Nak. ingat Nathan jaga Vana, maklum di hotel pasti banyak kerumunan, takut Vana trauma."
"Mommy! jangan menganggap Vana anak balita terus donk. Vana sekarang baik-baik ajah kok!" imbuhnya dengan bibir mengerucut.
"Bukan begitu sayang... Mommy hanya khawatir saja, kadang filing seorang ibu itu selalu benar."
"Do'akan yang terbaik untuk Zee, sayang.. ada Nathan yang selalu menjaga Zee, anak kita."
Delena mengangguk dan melambaikan tangan sampai mobil pergi menjauh.
45 menit kemudian, Mobil sampai didepan Hotel Prodeo. Setelah mobil terparkir sempurna. Nathan dan Vana memasuki Ballroom hotel. Di depan pintu masuk room Reyhan sudah menunggu sang kekasih. Nathan yang berstatus bodyguard Vana, hanya menghela nafas panjang melihat kemesraan mereka walau hanya bergandengan tangan.
Mereka duduk di salah satu meja yang sudah disiapkan. Sementara Nathan duduk tidak terlalu jauh dari mereka berdua.
Acara sudah di mulai, karena acara party adiknya yang ke-17 tahun, dibuat semeriah mungkin. Apalagi Reyhan sudah jadi seorang pablik figur terkenal, ia bukan hanya jadi foto model dan banyak wara-wiri di cover majalah dewasa, Namun ia sudah merambah ke televisi ikut syuting sinetron.
Walau sudah jadi orang terkenal, Reyhan tidak pernah berpaling dari Vana, ia begitu mencintai Vana dan Ingin mewujudkan mimpinya menikahi seorang Zevana Alea.
Di tempat lain seorang wanita cantik sudah menaruh dua butir obat kedalam minuman nya. ia melambaikan tangan pada seseorang Pria berpakaian hitam putih dan berdasi kupu-kupu. pria berprofesi sebagai waiters itu berjalan mendekat.
"Kau berikan minuman ini untuk Pria berjas hitam disana dan lakukan dengan baik!"
"Untuk wanita itu?"
"Kau berikan syrup biasa yang mirip dengan wine ini, ingat! jangan sampai tertukar, target ku Pria itu!" ucapnya seraya memasukkan amplop coklat kedalam saku celananya.
"Baik Nona! saya permisi.." waiters itu berjalan kearah meja yang menjadi targetnya.
"Malam ini akan aku tunjukkan siapa kau sebenarnya!" wanita itu tertawa kecil seraya menyesapi wine di tangannya.
πππ
@Terus dukung Bunda dengan cara!
πLike
π Gift/ Vote
π Komen
πRate bintang lima
π follow IG Bunda @bunda.eny_76
__ADS_1
@Lihat di IG, curahan hati Vana dan di akhir cerita akan terkuak.
@Bersambung....