
Robert terdiam, hatinya berdenyut pedih mendengar ucapan anaknya kalau Davina tak mau pulang dan Ingin tinggal bersama ibunya. "Apakah kau akan meninggalkan ku, Davin?" batinnya lirih, darahnya berdesir bila memikirkan sesuatu akan terjadi. "Apakah Davin akan menerima, kalau aku memiliki anak dari masa lalu? dan anak itu dalam kondisi memprihatinkan. Gadis yang ia tabrak malam itu karena rem mobilnya blong." Robert mendesah kasar, netral nya berkaca-kaca.
'Papi....!" ayo kita temui Mami." Chika menarik tangan Robert dan masuk kedalam mansion.
"Dimana Oma?" tanya Robert disela langkahnya masuk kedalam ruangan.
"Oma lagi di kamar, katanya lagi nggak enak badan."
"Mami dimana?"
"Pasti lagi di dapur, ayo Pih kita temui Mami." masih menarik tangan Robert menuju dapur.
"Mami.... ada Papi....!! seru Chika di belakang punggung Maminya. Davina yang sedang mengiris bawang terkejut.
"Auw! Pekik Davina, pisau tajam itu menyentuh jari tangannya. Darah menetes di talenan.
"Mami kenapa jarinya berdarah."
Robert yang melihat goresan luka di jari istrinya, menarik tangan Davin dan mengucurkan air kran ke jari manisnya hingga darah itu berhenti.
"Kenapa tidak hati-hati." ucap Robert pelan. Davin membisu tidak membalas ucapannya dengan wajah tertunduk malas.
"Mba tolong ambil prester dan Betadine." perintah Robert pada salah satu pelayan yang berada di dapur. Robert dan Davin duduk di kursi makan yang berada di dapur.
"Ini Pak." memberikan kotak P3k.
Robert dengan telaten mengobati luka goresan dengan Betadine dan lalu di prester. "Apa ini masih sakit?"
Seketika Davina menatap tajam wajah Robert yang masih mengobati tangannya.
"Tidak! ini tidak seberapa sakit di bandingkan batinku!"
Robert mengangkat wajahnya dan netra mereka saling bertemu. "Apa maksud mu Davin?"
"Apa kau tidak pernah menyadari? atau pura-pura tidak merasa bersalah?"
Robert mendesah pelan "Aku datang kemari bukan untuk berdebat. Aku ingin menengok anak Reno dan Delena, setelah itu kita pulang ke Bali."
Davin menarik tangannya kasar. "Untuk apa kau mengajakku pulang, kalau aku sendiri tidak pernah di anggap apalagi dihargai di rumah ku sendiri!" ucap Davin cetus.
"Itu hanya perasaan mu saja. Maaf, kalau aku akhir-akhir ini sibuk. Aku tetap perlakukan mu sewajarnya bukan?
"Kau bilang wajar! aku di perlakukan tidak adil olehmu, Mas! bahkan ibumu selalu menghina dan menyindir. Aku baik sekalipun tetap tidak pernah dianggap dimata ibumu!" dada Davin begitu sesak, ia berusaha tidak menangis didepan suaminya, Robert tahu Davin wanita yang tegar dan tidak mudah menyerah.
"Aku juga sudah berkali-kali menasehati, Ma'afkan ibuku. Tolong di maklumi sikap ibuku, pasti suatu saat ibu akan berubah."
"Berubah katamu, Mas? Dua belas tahun kita menikah tidak sedikitpun ibumu menunjukkan sikap baik padaku! ibumu selalu menganggap ku wanita kotor yang tak pantas berdampingan dengan anaknya yang suci tanpa dosa!" mata Davin berkaca-kaca seraya menahan emosi yang sudah tercipta. Bibirnya bergetar saat mengeluarkan isi hatinya.
"Glek! Robert menelan salivanya "Kau jangan punya pikiran seperti itu, biarkan saja mereka berpikir seperti itu. Yang terpenting aku selalu ada bersama mu, dan tidak akan pernah berubah. kita yang menjalani hidup bersama bukan mereka!"
Davina beranjak dari duduknya "Mereka itu siapa Mas? yang kau bilang mereka adalah Ibu dan kakak mu Sarah! mereka selalu merendahkan ku! Apalagi akhir-akhir kau banyak berubah, kau selalu telat pulang dan banyak alasan seminar keluar kota! sudah cukup, aku lelah! akhiri saja rumah tangga kita! Selesai mengeluarkan unek-unek, Davina pergi meninggalkan Robert sambil mengusap airmatanya kasar.
__ADS_1
Robert terkejut, hatinya begitu sakit mendengar ucapan Davin yang ingin memutuskan pernikahan. "Davina! seru Robert berjalan menyusul "Apa maksudmu berkata begitu, aku datang kesini untuk menyelesaikan masalah kita, kau jangan sembarangan memutuskan sesuatu yang akan merugikan Chika!"
"BRAKK!"
Robert terpaku di depan pintu. "Davin, dengarkan aku dulu, ayo kita bicarakan baik-baik."
Tidak ada suara dari dalam kamar.
"Davina! tolong buka pintunya, ada hal yang harus kita bicarakan."
"Robert!"
Robert memutar tubuhnya "Ibu..?"
"Kapan datang Nak?"
"Baru satu jaman, bu." ujarnya seraya jalan mendekat dan mencium punggung tangan Helena. "Bagaimana kabar ibu? tanyanya dengan tatapan suram.
"Biasa penyakit orang tua rematik dan asam urat, tapi sudah mendingan." ucap Helena seraya duduk di Sofa di ikuti Robert duduk di sebelahnya.
"Oiya, keadaan ibu Rere apakah baik?"
"Iya bu, Mama baik-baik saja walau kadang suka mengeluh sakit kakinya."
"Sudah lama sekali ibu belum bertemu lagi, dulu waktu Chika melahirkan sama ulang tahun Chika yang pertama dan kedua kita bertemu." ujar Helena basa-basi.
Mereka berdua berbincang. Robert belum berani menceritakan kebenarannya tentang masa lalunya pada ibu Helena, ia takut ibu mertuamu shok dan menambah beban pikirannya. Ia harus berbicara pada orang yang tepat tentang permasalahannya dengan Davina.
"Sudah magrib, ibu mau sholat. kalau kau mau sholat ada musholla di lantai dua."
"Iya Bu, kalau begitu saya sholat dulu." Robert beranjak pergi menaiki anak tangga di lantai dua.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangga anakku Davin dan Robert? seperti Itukah ibu dan kakak Robert membenci Davina? padahal anakku sudah berubah." airmata Helena menetes, merasakan sakit mendengar pertengkaran anaknya dengan mantunya. "Kenapa Davin tidak pernah cerita padaku kalau rumah tangga nya sedang bermasalah, ia menutupi dan pendam sendiri masalah hidupnya. Ma'afkan ibu Nak, tidak tahu kalau kau sedang ada masalah." Helena mendesah pelan dan beranjak dari duduknya, berjalan masuk kedalam kamar.
Malam itu dua pelayan sudah menyiapkan hidangan di atas meja. Helena, Robert dan Chika sudah berada di ruangan makan.
"Chika panggil Mami untuk makan malam." perintah Helena pada cucunya.
"Biar saya saja Bu." pinta Robert.
"Jangan Nak, biar ibu saja." Helena berjalan kearah kamar Davina.
Tok, tok, tok...
"Davin! buka pintunya Nak. ayo kita malam bersama."
"Nanti saja Bu..."
"Kalau kau tidak mau makan, ibu juga tidak akan makan! terdengar suara Helena yang merajuk.
Ceklek, Ceklek...
__ADS_1
"Krekk..."
"Aku nanti saja tidak lapar, ibu duluan saja ya? kan ada Chika.'
Helena melihat wajah Davin sudah sembab dengan airmata, terlihat hidung dan sudut matanya memerah sisa menangis. "Kau ingin menyiksa ibu? baiklah kalau kau ingin menghindar dari Robert karena tidak ingin satu meja dengannya, beri ibu alasan kenapa kau tadi bertengkar dengan Robert."
"Ak-aku..." suara Davina tercekat.
"IBu sudah mendengar semuanya! kenapa ada masalah begini kau malah menghindar, bukan menghadapi dengan lapang dada!"
Davina terdiam dengan wajah tertunduk.
"Ayo kita makan bersama, kasih kesempatan Robert untuk menjelaskannya."
"Aku hanya tidak ingin ibu kecewa dan bersedih dengan masalah yang ku hadapi."
"Ibu akan bersedih bila malalah ini akan berlarut-larut, dan korbannya adalah Chika, ibu sudah pernah bilangkan? jadikan masa lalu kita pembelajaran untuk masa depan. Jangan pernah mencontoh kegagalan ibu dan Ayahmu. Cukup kau dan Delena yang merasakan sakit dari perceraian ini. Berpisah dengan orang yang kita cintai sangat menyakitkan, ibu berpisah dengan Ayahmu sedang sayang-sayangnya dan kebahagiaan berubah jadi bencana setelah kedatangan Sonya wanita Pelakor yang merebut Ayahmu! Air mata Helena sudah menganak sungai. "Davin! pertahankan rumah tanggamu! menyentuh kedua pundaknya "Ibu sangat sakit hati dulu harus berpisah dengan mu! do'a seorang ibu untuk kebaikan anaknya akan terus ia panjatkan tanpa putus! pada akhirnya Tuhan mendengar doa-doa ibu. kau kembali kepelukan ibu dan menikah dengan pria sebaik Robert."
"Ibu..." hiks.. hiks... Davina memeluk ibunya dan menangis di pundaknya.
"Ma'afkan Davin bu... selalu membuat ibu menderita, Davin sudah berusaha untuk bertahan dan mempertahankan pernikahan ini."
Helena mengurai pelukannya "Semua orang hidup pasti diberi ujian, kau harus bisa melewati ujian ini, karena setiap ujian datangnya dari mana saja, entah itu dari ibu mertua, kakak ipar, adik kandung, atau dari suami. Hadapi lah, jngan pernah menyerah. Dan jalan hidup setiap orang berbeda-beda. Ada yang di uji dengan kebahagiaan, penyakit, tahta, wanita dan pangkat. Semua itu tergantung dari diri kita bagaimana menyikapi dan menyelesaikan satu permasalahan."
"Sungguh ibu wanita yang hebat, tegar, tegas dan kuat. Kenapa dulu Ayah malah meninggalkan ibu yang berhati malaikat."
Helena tersenyum "Ayahmu tidak kuat godaan, mungkin salah ibu dulu terlalu terlena dan pelihara ular di rumah ibu sendiri." Helena menepuk pundak anaknya "Tapi sudah lah, itu semua sudah berakhir dan jadikan semua pembelajaran." mengusap jejak airmata Davina.
Davina mengangguk.
"Ayo kita makan malam, kasihan Chika dan Robert sudah menunggu."
Dari kejauhan Robert menyaksikan dua wanita sedang berbincang.
"Sungguh ibu mertua ku sangat baik, ia tidak pernah menyalahkan aku dari bicaranya menasehati istriku. sungguh seorang ibu yang bijak. Sesakit itukah masa lalu ibu mertua ku, suaminya di ambil Pelakor? ibu aku berjanji, akan pertahankan rumah tangga ku, Aku tidak akan biarkan wanita manapun masuk kedalam kehidupan rumah tangga ku dan Davin, karena cintaku begitu besar pada anak dan istriku."
Robert berjalan kembali kerungan meja makan. Tak lama Davina datang bersama Helena dan menarik kursi makan. Mereka mulai menikmati makan malam bersama walau ada kecanggungan di antar Davin dan Robert.
๐๐๐
@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat ๐ช nulis๐
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
๐like
๐vote
๐gift
๐komen
__ADS_1
@bersambung.....