
"PRANKK!
Meraka berdua dikagetkan suara benda jatuh. Karena terkejut dan merasa ada yang mendengarkan obrolan mereka. Ratna dan Elsa berlari dan masuk kedalam ruangan. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat Devan berdiri mematung dengan tubuh kaku bersama jatuhnya tetesan airmata.
"De-va-n!" panggil Elsa terbata dengan suara bergetar.
Devan lebih terkejut saat melihat dua wanita yang sedang membicarakan rahasia masa lalunya berdiri tepat di depannya. Tak sengaja Dev menjatuhkan patung burung gagak yang terbuat dari keramik terjatuh saat ia ingin pergi meninggalkan tempat itu.
"Devan! apa kau mendengar semua pembicaraan kami?" tanya Ratna dan berjalan mendekat. Ia mengusap punggung Devan untuk memberikan ketenangan.
"De-van..? ak-aku ingin men-jeskan semuanya padamu. Aku harap kau bisa mengerti." Elsa berjalan perlahan dan berusaha memperbaiki keadaan yang sudah hancur.
Devan memundurkan langkahnya saat Elsa terus mendekat dan Ingin memeluknya. "Kenapa Nak? apa kau tidak ingin tahu siapa ibu kandungmu?"
Devan menggeleng "Ibu kandungku sudah lama mati! aku sudah tidak menginginkan nya."
"Dev! hiks.. hiks.. Ma'afkan aku. Keadaan yang membuat aku harus meninggalkan mu. Andai kau tahu kebenarannya, kau pasti akan mengerti. Biarkan aku menjelaskan nya."
"Maaf Bi.. sudah terlambat!"
"Hiks, hiks, hiks... tangisan Elsa semakin dalam, perasaannya semakin hancur saat ia dianggap sudah mati. "Ma'afkan aku Dev!"
"Bila kau tidak menginginkan kehadiran aku, Kenapa kau lahirkan aku ke dunia ini!"
"Dev! Aku tahu kau sangat terluka dan sakit hati padaku. Tolong maafkan ibumu, Ibu mengaku bersalah dan ingin menebus semua dosa-dosa ibu. Aku memang manusia egois, sungguh aku menyesal dan ingin menjelaskan semuanya sebelum kak Ratna datang menemui ibu."
Lelehan airmata Dev semakin deras "Kenapa kau tega meninggalkan aku bersama nenek! bahkan kau tidak pernah tahu penderitaan ku sejak kecil! teriak Devan. "Andai kau yang terlahir jadi diriku, apa kau masih bisa bertahan hidup sampai sekarang?! Sejak kecil aku di kecilkan oleh teman-teman sekolah ku, aku dianggap anak sial yang tidak memiliki Ayah dan ibu! Teman-teman ku memiliki orang tua lengkap, mereka selalu mengantar jemput anak-anaknya, sementara aku! Devan menunjuk dirinya sendiri "Hanya Nenek yang selalu ada disisi ku dan selalu menjaga ku dengan penuh kasih sayang!"
"Dev! ibu mohon!" Elsa jatuh terduduk di bawah kaki Devan, bersama isakan tangis pilu. "Ibu mengaku salah, ibu akan menebus semuanya, ma'afkan ibu yang telah buta mata dan hati."
__ADS_1
"Kenapa kau baru menyadarinya sekarang?! bahkan saat aku tinggal bersama mu selama tiga tahun, kau masih menganggapku sebagai keponakan, bukan anak kandungmu! Devan memundurkan langkahnya saat Elsa menyentuh kaki Dev. "Andai kau mau menghapus semua dosa-dosamu, Kenapa tidak kau lakukan tiga tahun yang lalu, saat aku datang dan menginjakkan kakiku di rumah ini!"
"Dev! tenangkan hatimu dulu, beri kesempatan ibumu untuk menjelaskannya." Ratna ikut berbicara dan menyentuh pundak Elsa untuk berdiri.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi Tante! bagaimana seandainya Tante berada di posisiku. Saat aku tinggal di sini saja tidak ada keadilan untukku, bahkan anak-anak Paman dan bibi ku, mereka hidup penuh kemewahan, kebahagiaan dan kasih sayang seorang ibu dan Ayah. Sementara aku hanya keponakan pungut yang diambil saat neneknya sudah meninggal!"
"Dev! Elsa memanggil dengan suara bergetar.
"kenapa aku harus hidup di tengah-tengah keluarga ini, yang penuh dengan tipu daya dan muslihat! Jujur aku iri melihat wanita ini! menuju kearah Elsa yang masih terisak "Dia begitu memanjakan ketiga anaknya dengan penuh kasih sayang, sementara aku! hanya melihat kebahagiaan mereka tanpa ada rasa adil untuk ku!" pantaskah dia disebut seorang ibu!" aku katakan sekali lagi pada kalian. Ibuku sudah mati sejak aku ditinggalkan bersama nenek!
Dev membuka kaca matanya dan mengusap kasar airmata yang terjun bebas begitu saja. "Aku tidak akan menyusahkan bibi dan paman lagi di sini, mulai saat ini aku akan pergi dari rumah ini!
"Tidak Dev! Ibu mohon, kau dengarkan alasan ibu dulu! menarik tangan Devan "Jangan pergi dari rumah ini, Ibu janji akan perjuangkan kau dan bicara pada Hendra Ayah tirimu."
Dev melepas kasar tangan Elsa. Setelah memakai kacamata minus itu kembali, ia memutar tubuhnya dan berjalan kearah kamar.
"Dev, dengarkan ibu dulu! Elsa mengejar Devan menuju kamar dan terus membujuknya.
Devan menutup pintu penuh amarah. Di dalam kamar ia mulai mengambil tas ransel dan memasukkan dengan cepat semua pakaiannya. Tidak lupa ijasah dan surat penting ia masukkan kedalam tas ransel itu. Devan bertekad untuk pergi meninggalkan rumah itu, dan akan ikut menyusul Vano ke Jerman. Itu lebih baik dan berusaha hidup mandiri, daripada harus tertekan tinggal bersama Ayah tiri yang baru ia tahu hari ini.
"Ceklek!
"Dev! kau akan pergi kemana Nak? ingat kau tidak punya siapa-siapa lagi di Jakarta selain Ibu dan Tante mu!" Elsa terus membujuk Devan dan menarik tangannya "Dengarkan ibu sekali ini ajah!"
Devan menatap lekat wajah Elsa, terlihat raut wajah penyesalan "Ibu sangat menyayangimu, ibu meninggal mu dan menitipkan kau pada nenek mu karena terpaksa! ibu hanya tinggal berdua bersama nenekmu di rumah peninggalan Ayah ku. Di usia 17 tahun ibu di jodohkan oleh kakek mu, awalnya Ibu menolak, Namun Kakek mu bersikeras agar ibu menikah dengan ayahmu Parjo. Akhirnya kami menikah dan hamil lah kau, saat usia kandungan ibu tujuh bulan, datang beberapa polisi mencari Ayahmu, yang ternyata ia seorang buronan polisi, Ayahmu terlibat pembunuhan masal di kota B, dan menjarah Emas batangan yang berada didalam peti. Setelah kedatangan polisi kerumah, Ayah mu tidak pernah kembali lagi sampai kau lahir ke dunia ini! Parjo menghilang bagai ditelan bumi. Entah ayahmu masih hidup atau sudah mati ibu tidak tahu. Tak lama kakek mu meninggal karena tertekan dan terserang jantung. Ibu dan nenek mu sudah tidak memiliki uang lagi untuk biaya hidup sehari-hari. Sawah peninggalan kakek mu sudah habis terjual. Akhirnya ibu memutuskan kerja di Jakarta, dan di bawa oleh tetangga dekat rumah, untuk bekerja di rumah makan. Hingga ibu bertemu seorang duda beranak dua dan kami menikah, lalu lahirlah Azka adikmu."
Devan mendesah kasar "Kenapa kau tidak pernah menemui aku dan nenek di kampung? bahkan tidak mengakui aku sebagai anakmu! Apakah karena Ayahku seorang penjahat, sampai kau membuang bayi yang tak berdosa! siapa yang salah disini? aku tidak pernah minta di lahirlah ke dunia ini!!!" teriak Devan.
"Ibu sudah menceritakan semua masa lalu ibu padamu. Apa kau tidak punya rasa kasihan atau pintu maaf buat ibu, walau cuma sedikit saja, agar rasa bersalah ibu berkurang."
__ADS_1
Sekali lagi Devan melepas tangan Elsa "Biarkan aku menentukan jalan hidup dan takdir ku, sampai aku bisa menerima dan mengakui Bibi sebagai ibuku!" ucap Dev lirih, seraya berjalan menuruni anak tangga.
"Dev! kau akan pergi ke mana? ibu mohon kau jangan nekad! kau baru saja lulus sekolah ibu akan sekolahkan kau di tempat favorit." ucapnya di sela langkahnya menuruni anak tangga, dan terus menghalangi Devan untuk pergi. Retna mengikuti langkah Elsa menuju lantai bawah.
"Elsa tenangkan dulu hatimu. kasih kesempatan Devan untuk berpikir."
"Tidak kak! Aku tidak ingin kehilangan anakku dan merasa bersalah seumur hidupku, Devan salah sangka padaku, ia pikir aku sudah menelantarkan nya."
"Aku tidak melarangmu untuk kembali merebut hati Devan! terlalu banyak lukanya yang kau torehkan padanya!"
"Iya aku mengerti kak! paling tidak Devan harus mengakui aku ibu yang melahirkannya."
Retna mendesah pelan "Tebuslah kesalahan mu sekarang, dan sembuhkan luka Devan!"
Elsa mengangguk dan mengejar Devan yang sudah berada di depan teras.
"Devan jangan tinggalkan ibu Nak! Elsa memeluk tubuh anaknya kuat.
"Apa-apaan kau Elsa! apa kau sudah tidak waras menganggap Devan anakmu!" tiba-tiba suara teriakan di belakang punggungnya.
Elsa mengurai pelukannya dan menoleh kebelakang. "Mas Hendra.."
πππ
Alhamdulillah, satu bulan penuh kita menjalankan ibadah puasa π. Kini kita merayakan hari kemenangan. Di hari yang Fitri ini, Saya BUNDA ENNY mengucapkan
MINAL AIDZIN WALFA'IDZIN. MOHON MAAF LAHIR & BATHIN π
Maaf bila ada kata-kata Bunda yang kurang berkenan dalam memberikan komentar atau ketikan yang berasal dari dalam hati. Semoga di hari yang Fitri ini kita saling memaafkanππ Aamiin ya rabbal Aalamin π€²
__ADS_1
@Maaf, beberapa hari ini tidak Up, pasti kalian tau kan kita sama-sama sibuk di real, insyallah nanti akan up seperti biasanya.
@BERSAMBUNG......