ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Aksi Vano di Depan Reno.


__ADS_3

"Mommy minta balikan serabi dan telur burung, Daddy harus mencarinya."


"Boleh Vano temani Daddy?! mata Vano mengisyaratkan permohonan, ia jarang sekali ngobrol dengan Daddynya yang super sibuk.


"Oke! came on son!


Vano tersenyum "Oke Dad!


Mereka berdua berjalan ke teras, masuk kedalam mobil sport yang terparkir di halaman. Mobil berjalan meninggalkan mansion.


Mobil Reno muter-muter mencari beberapa tempat, kebanyakan sudah tutup. ia bertanya di tukang bubur apa yang di carinya, telur burung yang di tusuk, tidak ada atau sudah habis. Sejam muter-muter tapi tidak juga di temukan apa yang sedang mereka cari.


"Van, sudah hampir satu jam muter-muter tapi tidak ditemukan apa yang Mommy mu minta, apakah kita pulang saja."


"Jangan Dad! kasihan Mommy pasti sudah nunggu lama ingin makan yang ia minta."


"Jadi bagaimana? kita sudah berusaha kan, ini sudah melewati cukup jauh lokasi rumah kita."


"Sabar ya Dad! pasti ketemu kok! apa boleh Vano yang bawa mobilnya?"


"Jangan! kau belum punya SIM, tunggu tiga tahun lagi boleh Daddy izinkan."


"Sepertinya malam ini aman Dad! Vano akan hati-hati, Daddy istirahat saja, oke?" bujuk Vano meyakinkan.


"Oke, tapi jangan melanggar hukum, pelan-pelan saja bawanya, jngan samakan saat kau menjadi pembalap di areal pertandingan."


"Siap Dad!


Kini Anak dan Ayah itu sudah berubah posisi, Vano mulai mengendarai mobil dengan perlahan, matanya tetap fokus ke samping, ia terus mencari di pinggiran jalan, siapa tahu masih ada yang buka. Vano bukan hanya cerdas dalam berbagai ilmu bela diri dan meretas perusahaan musuh Daddynya, tapi juga ia bisa berkuda diusia delapan tahun, bahkan menjadi pembalap mobil seusianya pada umur dua belas tahun, sejak usia sembilan tahun Vano sudah diajarkan membawa mobil. Vano yang kreatif dan punya kemauan tinggi selalu dituruti keinginannya oleh Reno. Permintaan anaknya yang berbakat dan menang dalam setiap perlombaan, tidak membuat Vano berpuas diri dan menjadikan nya sombong dan besar kepala. Vano anak yang baik dan penurut, cikal bakal penerus Perusahaan Reno ayahnya.


Didikan Reno yang keras, untuk mendidik Putra satu-satunya menjadi pria kuat, hebat dan berkualitas sudah berhasil, Walau belum cukup umur, Namun, sudah membuatnya bangga.


"Ciiitttttt! tiba-tiba Vano mengerem mendadak.


"What's wrong my child? Reno sedikit kaget.


"Maaf Dad! tadi aku melihat seorang anak kecil bersama ibunya sedang menjual serabi di pinggir jalan tadi, sudah terlewat."


Coba kau mundurkan mobilnya."


Vano mengikuti perintah Ayahnya, ia mundurkan mobilnya. Dan berhenti tepat di samping sebuah kedai kopi yang menjual serabi.


"Son! apa kau yakin ingin membeli serabi di tempat ini?!


"Tidak ada di tempat lain lagi Dad! daripada kita tidak dapat apa-apa?


"Oke, terserah kau saja."


"Daddy tunggu disini saja, biar aku yang turun."


Vano turun dari mobil dan memesan serabi pada penjual ibu-ibu.


"Bu pesan serabinya sepuluh ya."


"Mau serabi apa Dek? ada yang rasa duren, nangka, original, coklat dan keju.


"Original ajah bu, berpa semuanya."


"Satunya lima ribuan, kalau sepuluh jadi Lima puluh ribu dek!


"Vano mengeluarkan uang seratus ribuan, dan memberikannya pada penjual serabi. Sambil menunggu membuatkan serabi Vano bertanya pada si anak gadis berusia 12 tahunan.


"Dek, tahu nggak tempat membeli telur burung yang di tusuk kaya sate."

__ADS_1


"Ohhh itu kan telur puyuh terus ditusuk lidi, jadi kaya sate."


"Iya dimana belinya?


"Ada di tempat angkringan, biasnya jual telur burung."


"Dimana tempatnya Dek?


"Itu yang arah mau ke pasar, nanti ada disisi kanan, dia ada di teras toko sepatu."


"Terima kasih Ya Dek!"


"iya kak!


"Bu kopi nya dua, sama serabinya dua juga." ucap bapak-bapak memakai jaket."


"Delapan belas ribu semuanya, Pak."


Bapak itu memberikan uang pada si ibu. Masih ada sekolompok anak remaja tanggung yang nongkrong di warung serabi merangkap jual kopi dan gorengan.


"Jam berapa biasanya warung ini di tutup bu?


"Biasanya jam dua belas Dek, kebetulan hari ini rame, ini sebentar lagi juga mau nutup, udah jam dua."


"Iya Bu, kalau bisa jangan malam-malam, kasihan anaknya sepertinya sudah mengantuk, ini sudah waktunya istirahat."


"Ibu juga takut sama anak-anak berandal itu, mereka pada mabok di situ." imbuh ibu itu setengah berbisik pada Vano, agar suaranya tidak terdengar.


Vano menoleh lima orang anak remaja yang sedang nongkrong, dengan celoteh kata-kata kotor pada sesama temannya


"Ya sudah bu, hati-hati saja. langsung ditutup saja kedainya, nggak usah di layani kalau ada yang tanya lagi."


"Iya, ini adek yang terakhir."


"Nggak usah anak ganteng, ada suami ibu yang biasa bantuin nutup. Ini ya serabinya." menyerahkan kantong plastik ketangan Vano. "Ini Dek, kembaliannya." menyerahkan uang lima puluh ribuan.


"Tidak usah, buat ibu saja kembaliannya."


"Terima kasih ya Dek. ya Allah..udah ganteng pisan, baik pula." seloroh ibu itu seraya membereskan dagangannya.


Vano hanya tersenyum dan berjalan kearah mobil yang berjarak sekitar tujuh meter dari tempat penjual serabi.


Baru melangkah dua meter, dua orang dari remaja yang nongkrong tadi menghadang Vano.


"Hey! mana dompet luh! gue mau minta duit." bentak dua remaja itu sedikit sempoyongan.


"Kalau mau minta duit baik-baik mintanya ya bang." Vano yang sudah paham orang-orang seperti mereka, hanya bersikap tenang. ia mengambil dompet dari saku celananya dan mengeluarkan lembaran warna merah.


"Ini ambil lah! menyerahkan uang seratus ribuan.


"Gue mau sama dompet luh! sini nggak berikan dompet luh, atau mau gue tusuk! bentak pria itu mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya.


"Bang caranya bukan begitu, jangan di kasih hati minta jantung! seru Vano nggak mau kalah.


"Banyak bacot luh! Pria itu menyerang Vano dengan cepat Vano ngeles ke samping, pisau itu bagai menerjang angin, tidak bisa menyentuh tubuh Vano yang hanya menghindar ke kanan dan kiri, membuat pria itu kelelahan dengan gocekan Vano.


"Dasar goblok! lawan anak ingusan ajah nggak becus! teriak teman-temannya dan terbahak.


"Cepet serang, ambil dompetnya buat beli obat goblok! teriak temannya yang lain.


Salah satu temannya ikut menyerang, satu lawan tiga, Vano tetap tenang dengan ekspresi datarnya. ia sempat bingung kenapa dari tadi Daddynya tidak keluar dari mobil.


Saat mereka menyerang bersama, Vano memberikan tendangan maut dengan gaya memutarkan badan. Ketiga tubuh kurus itu terjungkal ke aspal. Malam itu keadaan sangat sepi, hanya beberapa kendaraan yang masih melintasi jalanan beraspal itu.

__ADS_1


Aaagghh! mereka mengerang dan mengaduh.


Ada dua orang lagi teman berlari kearah mobil, Vano sangat kaget melihat dua pria itu menusuk ban mobil dan menggoreskan benda tajam ke body mobil Vano.


Vano berlari kearah mobil, pria yang terjatuh tadi bangkit lagi dan menyerang lagi. Vano benar-benar marah, dengan membabi-buta ia menghantam kedua pria itu bertubi-tubi. tonjokan di dada memuntahkan darah segar dari Pria itu. yang satu langsung ambruk tak sadarkan diri, dan satunya lagi merangkak memohon ampun pada Vano saat Vano akan menonjok wajahnya.


"Wooiii.. kabur dia bukan lawan kita! teriak temannya.


Dua Pria yang sudah merusak mobil dan ban Vano tidak luput dari kemarahan Vano. Saat mau lari Vano berhasil menarik kerah bajunya dari belakang dan melempar dengan keras ke aspal.


BRUKK!


Aaaaaaaaa... Pria itu berteriak histeris.


Mendengar keributan di luar, Reno yang sejak tadi tertidur di dalam mobil terbagun. Reno memang tadi di rumah tidurnya nanggung, Delena membangunkan saat mata masih mengantuk, Demi istri tercinta ia rela bangun mencari keinginan istrinya.


Reno keluar dari mobil dan tercengang melihat Reno berkelahi.


Vano menarik satu pria remaja itu, yang sudah menusukkan ban mobilnya dengan pisau. Dengan kekuatan yang masih ada, pria yang memegang pisau di tangannya. Mencoba menusukkan pisau ke perut Vano, Namun, lagi dan lagi hanya menusuk angin. Dengan ilmu karate yang Vano miliki, hanya satu gerakan cepat Vano berhasil mematahkan tangan pria itu, bersamaan pisau terjatuh.


"krekk! seperti mematahkan ranting.


"Huwaaaaa... sakiiiiiiittttt! Ampuunn....


Teriak nya sambil memegangi tangannya yang sudah patah, seraya berguling-guling di pinggir trotoar. tiga temanya yang lain malah kabur, yang satu masih pingsan karena muntah darah.


Reno yang baru kali ini melihat sendiri keberingasan anak kandungnya, hanya menelan salivanya. ia sungguh tak menyangka Vano bisa sekejam itu. Dulu saat melawan perampokan di rumah mertuanya. Reno hanya melihat dari cctv dan menganggap Vano melakukan itu karena refleks dan terpaksa untuk membela diri. Tapi anak remaja tongkrongan itu bukanlah lawannya. sudah di pastikan mereka akan lumpuh dengan ilmu bela diri yang Vano miliki.


"Vano sudah cukup! mereka bukan lawan mu! ucap Reno yang sudah berdiri di sampingnya.


Dada Vano yang tersengal-sengal mulai mereda. amarahnya mulai redam.


"Tapi mereka yang sudah memulai duluan Ded! vano sudah cukup bersabar untuk tidak melawan mereka, tapi mereka terus menyerang dan membuat keributan! lihat mereka menggoreskan body mobil dan menusukkan ban mobil."


Reno tidak ingin menyalahkan anaknya yang masih labil di seusianya, Vano masih belum bisa menurunkan egonya.


"Sekarang kita harus menolong dua anak itu, kasihan yang satunya pingsan, banyak darah di bajunya. Yang satunya masih menjerit kesakitan.


Reno masih mau bertanggung jawab karena rasa iba. ia berjalan kearah warung dan berbicara pada seorang bapak pemilik kedai, Ia juga menyaksikan perkelahian itu.


"Kalau yang saya lihat tadi, anak bapak tidak salah, anak tongkrongan itu yang maksa minta uang. Sudah dikasih uang, malah minta sama dompetnya, terus malah menyerang adik itu." cerita bapak itu yang di iya kan oleh istrinya.


Saya minta tolong, bisa bapak antar kedua anak itu kerumah sakit." Reno mengambil dompet dari saku celananya dan mengambil uang merah dari dalam dompet.


"Ini ada uang lima juta, tolong di urus dua anak itu, bila ada sisanya ambil saja buat bapak."


Bapak pemilik warung itu terbelalak "Terima kasih banyak pak, pasti akan saya urus mereka, memang setiap hari mereka suka nongkrong di warung saya, pada mabok."


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu."


"Vano ayo kita pulang." merangkul bahu anaknya "Biar Daddy saja yang bawa mobil." Vano tidak membantah lagi, ia berjalan masuk kedalam mobil.


"Kau tenang saja, ban mobil kita sangat kuat." ujar Reno seakan tidak mempermasalahkan kerusakan pada mobil mewahnya.


💜


💜


💜


BERSAMBUNG....


AYO.. VOTE, LIKE, GIFT... SUPAYA AUTHOR LEBIH SEMANGAT UP NYA. EPISODE LEBIH PANJANG.🤗

__ADS_1


__ADS_2