
"Kak! seandainya kak Dena hamil, apa yang akan kakak lakukan?!
"Tidak Frans! pergilah dan tinggalkan aku sendiri! seru Reno kesal.
Frans tidak mengucapkan sepatah kata lagi, ia pergi meninggalkan Reno yang masih berdiri mematung.
"Tidak Dena! kau tidak boleh hamil! aku tidak ingin kehilanganmu! gumamnya lirih.
Untuk menghindari ketegangan pada istrinya, Reno sengaja pulang hingga larut malam, hari harinya ia sibukkan dengan bekerja di kantor. Reno pulang saat Delena sudah terlelap. ia masuk kedalam kamar hanya mengambil pakaian tidur dan keluar lagi dari kamar untuk tidur dikamar lain. Pagi-pagi sekali Reno bangun dan pergi meninggalkan mansion.
Delena terbagun dan menatap di sekeliling kamar, sudah tidak ada lagi sosok yang ia rindukan setiap hari, suami yang selalu bermanja dengannya, suami yang selalu menghangatkan tubuhnya, suami tempat curhat dan keluh kesah baginya. Delena rindu pelukan dan ciuman suami bucin-nya. Tidak ada lagi keromantisan dari sikap Reno. Berangkat pagi sekali dan pulang larut malam, sudah menjadi rutinitas Reno setiap hari.
"Mas Reno, kenapa sikap mu seperti ini padaku? di saat aku sedang hamil, disaat aku membutuhkan sosok pelindung, kau tidak ada di samping ku, bahkan aku menunggumu pulang setiap malam, hanya ingin bicara tentang kehamilan ku, tapi kau tidak pernah beri aku kesempatan untuk bicara." Airmata Delena sudah tumpah. ia mengambil ponsel di atas nakas dan menghubungi suaminya. Berulang kali Delena menelpon tidak juga Reno mengangkatnya.
"Mas, sebenci itukah kau padaku? kenapa telponku tidak kau angkat." hiks...
JGLEK
"Mom!
Vana masuk kedalam kamar dan membawa nampan berisi sarapan pagi dan susu, meletakkannya di atas nakas. Vana naik keatas ranjang dan melihat Mommy nya sedang mengusap airmata.
"Mommy menangis? kenapa Mom? apakah Mommy menangis karena Daddy?
"Tidak sayang, Mommy baik-baik saja, Mom sedang tidak ada masalah dengan Daddy." dusta nya, tersenyum terpaksa.
"Kalau bukan karena Daddy, kenapa menangis?
"Mommy senang akhirnya bisa memberikan mu seorang adik." tersenyum lebar.
"Iya Mom, Vana juga senang akhirnya punya adik, lalu bagaimana dengan Daddy? apa sudah tahu Mommy hamil?!
Delena terdiam, airmata yang sejak tadi ia tahan keluar lagi, hatinya begitu sakit, tubuhnya terguncang karena tangisan.
"Mommy, sudah jangan bersedih lagi, selama Ini Mommy selalu kuat, dan Vana menganggap Mommy wonder woman."
Delena menyunggingkan senyum "Iya sayang, demi kalian Mommy pasti kuat."
"Sudah sekarang Mommy makan dulu ya, sebentar lagi, Vana mau berangkat sekolah."
"Iya sayang, nanti Mommy makan."
"Kalau begitu Vana pamit dulu Mom." mencium punggung tangan Delena.
Setelah Vana pamitan, tak lama Vano masuk kedalam kamar Delena dan pamit untuk berangkat ke sekolah.
Didalam mobil, Vana tiba-tiba terisak. Vano yang sejak tadi fokus dengan ipad nya, menoleh pada suara kembarnya.
"Ada apa dek, Kenapa kau menangis?!
"Hiks... Mommy kak! hiks....
"Ada Apa dengan Mommy.'
Sepertinya Mommy ada masalah dengan Daddy, Vana nggak tega melihat kondisi Mommy yang seakan tertekan."
"Kau jangan bersedih, Mommy kita sangat tegar. Pasti mereka akan kembali baik lagi." ujar Vano memberi ketenangan pada adiknya dan mengusap lembut punggung Vana.
"Tapi beberapa hari ini kita jarang bertemu Daddy lagi, setiap pagi Daddy tidak pernah ada di meja makan. Selalu berangkat pagi-pagi dan pulang larut malam, kak!
Terdengar ******* halus dari bibir Vano, ia seakan merasakan kesedihan adiknya. "Ya sudah dek, nanti kakak akan bicara baik-baik dengan Daddy."
"Apa kakak yakin? ingin bicarakan masalah Mommy dengan Daddy?"
__ADS_1
"Akan kakak coba ya?!
Mobil berhenti di depan sekolahan. Vano dan Vana bergegas keluar dari mobil dan masuk kedalam kelas.
"Isabell...? kau sudah masuk? tanya Vana mendudukkan tubuhnya di samping Isabella yang terlihat murung. "Kemana saja kau seminggu ini tidak masuk?" tanya Vana lagi, Namun, tidak ada jawaban dari bibir Isabella.
Vana menghela nafas dalam dan mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tasnya. Pelajaran di mulai, semua murid duduk manis dan mendengarkan guru menerangkan di depan kelas. Bunyi bel mengisyaratkan jam waktu istirahat. Anak-anak murid bergegas keluar dari ruangan kelas menuju kantin.
Devan dan Vano sudah berjalan kearah kantin, kedua sahabat itu sangat kompak seperti ipin dan upin kemana-mana selalu bersama.
"Bell, kau tidak mau ke kantin." tanya Vana sudah berdiri.
Wajah Isabella yang sejak tadi menunduk, mendongakkan kepalanya dan menatap nanar wajah Vana, hanya sebuah gelengan kepala.
Tiba-tiba mata Vana melihat sesuatu dari pipi dan bibir Isabella.
"Beli, kenapa dengan wajah mu? Vana duduk kembali dan menyentuh pipinya yang memar.
"Aaachhh... Isabella terpekik.
"Siapa yang melakukan ini Bel..? tanya Vana yang terlihat cemas. "Katakan bel!?! Vana mengguncang bahunya untuk bicara. Isabella menggelengkan kepala dengan wajah tertunduk, airmatanya sudah tumpah.
"Bell, Aku ini sahabatmu, kau bisa ceritakan semuanya padaku, Sebisa mungkin aku akan membantumu."
"Hiks,, hiks,,, "Vana! Isabella memeluk sahabatnya dan menangis terisak di bahunya. "Aku sangat menderita Van, aku sangat takut Van."
"Takut dengan siapa? mengusap lembut punggung Isabella "Katakan Beli, apa yang kau takutkan."
Mereka mengurai pelukannya, Vana mengusap lembut airmata Isabell "Siapa yang melakukan ini? menatap lekat wajah cantik Isabell.
"Kakak Tiri ku, anak dari Ayah sambung ku, dia laki-laki sikopat, sering mengikat ku di gudang, semalam memukuli ku! hanya kesalahan yang tidak aku sengaja." hiks...
Tanpa mereka sadari Vano dan Dev mendengar percakapan mereka berdua dari belakang punggung Isabella.
"Jadi itu bukan Ayah kandung mu?
"Apa ibumu tahu perbuatan kakak tiri mu?
"Tidak! Ayah dan ibu ku sering tugas keluar kota. kedua kakak ku awalnya baik, tapi itu hanya di depan ibuku saja, setelah ibu dan Ayah pergi, mereka sering menganiaya aku."
Vana membekap mulutnya "Kedua kakak tirimu berusia berapa tahun? tanyanya penuh selidik.
"Yang pertama cowok, kelas 3 SMA, dan yang kedua perempuan kelas 3 SMP, beda setahun denganku."
"Yang sabar ya Bell," mengusap punggungnya untuk memberitahu ketenangan "Kenapa Kau tidak ceritakan semua pada ibumu?
"Mereka mengancam akan membunuhku!"
"Astaga jahat sekali kakak tirimu itu! gerutu Vana geram.
Vano yang ikut mendengarkan obrolan mereka sejak tadi, mengepalkan tangannya.
"Lalu kemana kau saat tidak masuk sekolah, Bell?'
"Aku kabur dari rumah dan tak ingin kembali lagi, tapi ibu marah dan membawa aku pulang kembali."
"Kau kabur kerumah siapa?
"Tante ku!"
Bel berbunyi, tanda jam istirahat sudah usai. semua murid masuk kedalam kelas dan belajar mengajar berjalan dengan tertib. Jam sudah menunjukkan pukul 12,15 wib. tanda jam pulang sekolah. Seperti biasa mereka berebut untuk keluar kelas.
"Bell, kau mau aku antar pulang? tawar Vana sebelum keluar dari kelas.
__ADS_1
"Terima kasih Van, aku menunggu jemputan saja."
"Ya sudah, aku duluan ya."
Isabella mengangguk.
Seperti biasa Dev berjalan ke parkiran, dan menstsrter motor bebeknya "Jalan dulu ya, bro, sampai besok." sapa Dev pada Vano yang sudah berdiri di depan gerbang.
"Oke, Dev!"
Pak Yanto menelpon Vano, kalau terlambat menjemput, karena sedang ganti ban yang bocor ditepi jalan.
Sebuah sedan merah berhenti di depan pintu gerbang, tak lama keluar seorang pria memakai pakaian seragam sekolah putih abu-abu. Dari kejauhan Isabella setengah berlari dan mendekati sebuah mobil merah itu. Vano dan Vana yang duduk di kursi teras sekolah sambil menunggu Pak Yanto, menatap kearah Isabella.
"Ngapain saja kau! lama sekali, memangnya kau tuan putri! bukan tunggu di depan pintu gerbang, dasar bodoh! teriak Pria itu. Isabella terdiam dan tertunduk "Mau aku pukul lagi kau! hah! nyusahin saja!" bentak pria itu dan menarik kasar tangan Isabella
"Lepaskan tangan Bella!" teriakan suara Vano mengagetkan Isabella dan Pria itu. isabella memutar tubuhnya.
"Vano...."
"Siapa kau? berani teriak padaku!" bentak Pria berseragam SMA itu.
Untung semua murid sudah pulang, hanya ada berapa yang masih berada di sekitar sekolahan, namun, tidak seramai tadi.
"Aku temannya Isabella, kau jangan pernah kasar dengan perempuan." gertak Vano.
"Hey, apa urusanmu! kau tak berhak melarang ku! terserah aku mau apakan gadis ini!
"Lepaskan, kak! tanganku sakit! pekik Isabell.
"Lepaskan Bella! Vano dengan nekad melepaskan genggaman tangan pria itu yang ternyata jeratannya sangat kuat. Pria itu ingin mendang perut Vano, dengan cepat Vano menghindar. Tangan Vano melintir satu tangannya ke belakang, reflek tangan Isabella terlepas.
"Aaacchhh... lepaskan, berengsek! teriak Pria yang ternyata kakak tiri Isabella.
"Bella! panggil Vana yang sudah berdiri di depannya. "Vana..." Isabell berhambur memeluk Vana dan menangis dalam pelukannya.
Mobil Pak Yanto sudah datang dan berhenti di depan gerbang. "Bella, kau harus ikut pulang denganku, kita kerumah ku ya?
"Tapi Van! Bella tampak ragu
"Sudah Ayo ikut! itu kah yang kau bilang kakak tiri mu? tanya Vana
Isabella mengangguk cepat.
"Aku khawatir kau akan di pukuli lagi."
Vana menarik Isabella masuk kedalam mobil.
"Kak! cepat pulang! teriak Vana yang melihat dua orang pria sedang berdebat.
Seorang pria berseragam SMA, ikut turun dari mobil dan membantu temannya, saat ingin memukul tubuh Vano, dengan santai Vano menendang telak kakinya dan ia langsung tersungkur ke aspal, pria itu terpekik. Tak mau meladeni mereka, Vano meninggalkan dua orang Pria yang sedang kesakitan itu, kakak tiri Isabella yang tangannya di pelintir kebelakang oleh vano, menjerit kesakitan. Satu temannya kena tendang kakinya yang juga meringis.
Vano masuk kedalam mobil, Pak Yanto melajukan mobilnya meninggalkan sekolahan favorit itu.
๐๐
Jangan lupa untuk
๐Like!
๐Vote!
๐Gift!
__ADS_1
๐komen!
@BERSAMBUNG......