
Mereka mulai mulai berlarian dan kucar-kacir melihat teman-teman mereka di tebas pedang samurai, namun sayang, Gerakan tangan Ninja bayangan sangat cepat tebasan nya, bagaikan angin yang tidak terlihat.
Vano terkesima, detak jantungnya hampir saja berhenti melihat kejadian yang tak biasa di depannya.
"Dari mana ninja-ninja itu? Kenapa mereka menolongku??
Ninja berpakaian serba hitam itu dengan lihai bermain samurai sekali tebas dengan gerakan ringan memutar di udara.
"Seetttttt!
"Aaaakkkhhhh....! mereka berteriak ketakutan.
"Kabur semua... kabur! mereka bukan lawan kita! teriak si kepala plontos.
Tanpa Vano minta Ninja-ninja itu terus mengejar anak Genk motor dan anak-anak begal yang mulai kabur menggunakan sepeda motor, namun sayang, sebelum mereka sempat kabur, samurai itu sudah menebas leher dan pinggang mereka dari arah belakang. Suara jeritan dan teriakan histeris sangat memilukan malam itu. Lautan darah manusia ada di mana-mana, membuat Vano tercengang dan bergidik ngeri. Ia teringat Daddynya dan ingin memberitahu, namun, sekali lagi Vano tidak ingin Daddynya khawatir, apalagi Tommy dalam musibah ia takut disalahkan. Vano teringat akan Frans, dengan cepat ia menghubunginya.
"Hallo Vano...?
"Om Frans bisa temui aku disini? tolongin Om Tommy." terdengar suara Vano yang panik dan bergetar.
"Memangnya kau ada dimana? apa yang terjadi pada Tommy? tanya Frans gusar
"Om Tommy masuk kedalam tebing Om!" suara Vano tercekat menahan tangisan.
"Apa..?? kenapa bisa masuk kedalam tebing? terdengar suara keterkejutan frans dari ujung telpon.
"Cerita nya panjang Om, cepatlah datang ke lokasi, bantu Om Tommy."
"Baiklah, kirimkan lokasinya."
"Satu lagi Om, jangan beritahu Daddy, Vano tidak ingin Daddy dan Mommy khawatir, apalagi kandungan Mommy sangat lemah."
"Baiklah secepatnya Om akan menuju kesana."
Vano mengakhiri panggilan teleponnya dan mengirimkan lokasi tempat keberadaanya saat ini. Seketika keadaan langsung sunyi senyap. Tidak ada lagi suara orang berteriak dan menangis karena ketakutan. jalanan kampung yang entah berada dimana, sudah penuh dengan lautan manusia yang mati sia-sia, badan terpisah dari kepalanya, ada juga tebasan di pinggang menjadi dua bagian, sangat sadis dan mengerikan. Darah orang-orang pembegal dan Genk motor itu berhamburan di jalanan. Bau amis sangat menyengat membuat Vano pusing dan memuntahkan isi perutnya.
"Om Tommy... bertahanlah didalam sana! teriak Vano dengan suara parau.
"Jangan!!! jangan bunuh saya....! saya mohon tuan Ninja, ampuni saya!" Pria itu bersujud di depan seorang ninja yang siap mengacungkan samurainya.
Vano mendengar suara Pria plontos itu yang ternyata ketua Genk motor dan begal, ia sangat ketakutan dengan tubuh gemetar memohon ampunan dan bersimpuh didepan seorang Ninja yang sudah siap eksekusi mati.
Tunggu! seru Vano, membuat Ninja yang sudah mulai mengayunkan samurainya, menghentikan niatnya. "Biarkan aku bicara padanya dulu." pinta Vano pada Ninja yang tidak bicara sedikitpun. ia hanya mengangguk dan menarik kasar tubuh pria tambun itu dan melempar kehadapan Vano.
"BRUKK!
"Tuan muda ampun... Ma'afkan saya karena sudah meremehkan anda, kalau tau akan seperti ini jadinya saya tidak akan menerima tawaran itu! sungguh saya sangat menyesal." memeluk kaki Vano erat dengan tangisan ketakutan. "Tolong tuan muda jangan bunuh saya! ucapnya masih bersimpuh di kaki Vano.
"Saya tidak butuh penjilat! menghempaskan tangan pria plontos itu. "kau tadikan yang sudah menjatuhkan Om Tommy ke ketebing! teriak Vano kesal.
"Saya mohon.. maafkan saya. hiks.. jangan bunuh saya. Saya janji akan bertobat, asal jangan bunuh saya! pintanya masih terus merengek.
"Siapa yang sudah menyuruhmu untuk membunuh ku dan Om ku!
__ADS_1
"Sa-ya...." suaranya tercekat.
"Ayo katakan! atau kau ingin mati ditangan para Ninja itu! bentak Vano.
"Ba-ik, tapi kau harus berjanji, kalau aku tidak akan mati setelah memberitahu siapa yang sudah menyuruhku untuk membunuh kau dan pamanmu!
"Cepat katakan sebelum aku berubah pikiran! bentak Vano lagi dengan sorot mata tajam.
"Tuan Bram yang menyuruh saya menghabisi anda tuan muda dan paman anda tuan Tommy, karena tuan Bram dendam anaknya masuk kedalam penjara dan Perusahaannya sudah pindah tangan."
"Sudah ku duga sejak awal, pasti ini perbuatan tuan Bram!" seru Vano kesal dengan nafas tersengal.
"Kalau begitu biarkan saya pergi tuan muda."
Tak semudah itu kau ingin pergi dari tempat ini! ingatlah seperti kata pepatah! mata dibayar mata, gigi dibayar gigi! kau telah mendorong tubuh Om ku masuk ke dalam tebing, dan dengan bangganya kau terbahak, kini kaupun akan merasakan jatuh kebawah tebing!"
"Tidak, jangan tuan muda! aku mohon...! bersujud di depan Vano.
Mata Vano menatap liar pada para Ninja di depannya yang berpakaian serba hitam, hampir saja mereka tidak terlihat karena gelapnya malam tanpa cahaya lampu. Di perkirakan jumlah mereka cukup banyak dan hanya diam mematung seakan menunggu perintah dari Vano.
"Aku tidak pernah mengenal kalian dan siapa kalian? dengan berpakaian Ninja seperti ini?. Namun, aku sangat berterima kasih pada kalian yang sudah membantuku, kalian telah menghabisi para pendosa, sekarang aku serahkan penjahat ini pada kalian! ucap vano seraya membalikkan tubuhnya kearah tebing dan masih menatap pilu dengan kehilangan Pamannya.
"Tudakkkk... jangan.....!!
"Seeettttt! sekali tebas pria itu tidak tidak bersuara lagi. Vano melihat tubuh Pria itu di lemparkan ke bawah tebing dengan Ninja itu.
"Tsugi no go chūmon o omachi shite orimasu.(kami menunggu perintah tuan selanjutnya) ucap salah satu seorang Ninja
"Kimitachi wa Nihon kara chokusetsu kita no?(apa kalian datang langsung dari Jepang)
"Watashitachi wa watashitachi no shujin no meirei ni yotte kimashita ( kami datang atas perintah tuan kami)
"Anata no masutā wa daredesuka? ( siapa tuan kalian)
"Vano!
Belum sempat mereka menjawab, tiba-tiba terdengar suara Frans memanggil dari kejauhan.
"Om Frans aku disini! teriak Vano.
Tak lama frans datang dengan keterkejutan, ia melihat puluhan manusia mati terkapar dengan tubuh dan kepala bergelimpangan di jalanan.
"Astaga, apa yang sudah terjadi disini? Kenapa banyak manusia mati dengan tubuh mengenaskan. Apakah ini perbuatan Vano? tidak! tidak mungkin! Frans terus berjalan kearah Vano sambil menutup hidungnya, karena bau amis yang menyengat. Keterkejutan Frans tidak sampai disitu, setelah semakin deket dengan Vano, ia melihat banyak Ninja bayangan masih membungkuk pada Vano.
Koko de nani o shite iru no? ( Apa yang sudah kalian lakukan di sini) tanya Frans seperti sudah mengenal mereka.
Masutā no meirei de masutā o hogo suru Tommy (melindungi tuan kami, atas perintah tuan Tommy) ucapnya seraya membungkuk memberi hormat.
"Vano! frans berjalan maju dan memeluk keponakannya dengan tubuh vano yang gemetar dan kaku karena syok.
"Sudah jangan takut ada Om disini, kita akan bereskan semuanya."
"Siapa Ninja-ninja itu Om!
__ADS_1
"Mereka anak buah Daddy mu. Daddy mu yang membawa dan pelihara mereka disini. Keberadaan mereka ilegal, tidak ada orang yang tahu, makanya sangat di rahasiakan, mereka akan mengabdikan hidupnya pada keluarga Mahesa sampai anak cucunya kelak, karena begitulah isi perjanjiannya."
"Lalu bagaimana dengan kehidupan keluarganya di Jepang? kalau mereka mengabdikan hidupnya pada keluarga kita?
"Tentunya kehidupan mereka sangat layak dan berkecukupan untuk semua keluarganya di Jepang, Daddy mu sangat menjaga semua keturunan Mahesa dari tangan musuh-musuhnya. karena uang bukanlah segalanya, tapi keutuhan keluarga yang terpenting. kau mengerti sekarang?"
Vano mengangguk dengan wajah sendu.
"Om... tolong Om Tommy, dia terjatuh kedalam jurang." hiks... hiks...
"Ya Tuhan Tommy..."
Frans langsung berbicara dengan para Ninja itu untuk segera turun kebawah tebing dan mencari Tommy. Dengan satu perintah sebagian dari Ninja itu turun kebawah tebing, ia turun dengan sangat cepat dan tubuhnya terlihat ringan.
Anata-tachi wa korera no shitai o katadzukemasu, keisatsu ni sore o kaga senaide kudasai ( kalian bereskan mayat-mayat ini, jangan sampai tercium aparat polisi) perintah Frans pada sebagian Ninja lainnya.
Wakarimashita, go chūmon uketamawarimasu ( baik tuan, kami terima perintah tuan)
Mereka berlari dan berkelebat dengan cepat, melempar satu persatu mayat-mayat itu kedalam tebing.
Vano terkulai lemas dan terduduk di tanah kering dengan airmata berlinang.
"Sabar Van! frans menepuk pundak Vano "Om Tommy pasti selamat."
Bagaimana Vano tidak sedih dan menangis pilu, bagi Vano, Tommy adalah Ayah keduanya setelah Daddynya. Tommy selalu ada untuknya dan mengikuti semua perintahnya tanpa pernah menolak kemauan Vano, bahkan demi Vano ia rela datang kapanpun dan di manapun.
"Om Tommy.... jangan tinggalkan Vano!! hiks.... Vano terus berteriak-teriak memanggil Tommy sambil merangkak dan membawa tubuhnya di bibir tebing
"Vano jangan lakukan ini, nanti kau juga terjatuh ke bawah! seru frans merangkul tubuhnya dan menarik Vano menjauh dari tebing.
"Bagaimana kalau Om Tommy terbawa arus!" teriak Vano dengan airmata berderai dan tubuh yang terguncang "Vano tidak akan bisa ma'afkan diri Vano sendiri, bagaimana nasib Tante Siska dan ketiga anaknya." teriak vano menangis sesenggukan dengan dada sesak.
Baru sekali ini frans melihat Vano menangis histeris dan takut kehilangan Tommy. Frans ikut meneteskan airmata merasakan kesedihan apa yang dirasakan vano. Iapun sangat sedih bila harus kehilangan Tommy. Nanti apa yang akan ia katakan pada Siska dan ketiga anaknya bila Tommy menghilang. Frans menarik Vano dalam pelukan untuk memberikan ketenangan.
"Sabar Vano, percayakan pada para Ninja itu, ia tidak akan mengecewakan kita. Yakinlah Om Tommy pasti selamat." ucap Frans, mengusap punggung Vano yang masih sesenggukan.
💜❣️💜❣️💜
@Masih penasaran kan dengan kisah Tommy selamat atau tidak?? Kalau hari ini banyak bertaburan bunga dan kasih bunda kopi, nanti sore Bunda Up lagi deh.. deal ya😄😘😘
@ kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat 💪 nulis😘
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
💜like
💜vote
💜gift
💜komen
@bersambung......💃💃💃
__ADS_1