ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Teringat masa lalu.


__ADS_3

Mobil sudah berhenti di pintu gerbang mansion, sebelum pintu gerbang terbuka, Siska sudah lebih dulu membuka pintu dan turun dari mobil.


"Nona Siska biar aku antar sampai dalam."


Siska tidak menghiraukan panggilan Tommy, di depan gerbang Siska menyuruh seorang satpam untuk mengambl kopernya. Ia berjalan begitu saja melewati pintu gerbang tanpa menghiraukan Tommy yang menatapnya.


Tommy menjalankan mobilnya dengan perasaan galau.


Didalam mobil Arneta tak henti hentinya bertanya "Kak apakah tadi rumah kaka tadi? wah besar sekali ya kak."


"Hmmm..."


"Kak, siapa pacar Kaka? apa sudah seusia segini kaka belum juga mendapatkan jodoh? Kak Gilang saja sudah menikah dan memiliki seorang anak yang imut," ucapan Arneta polos tanpa dosa, membuat Tommy sedikit canggung, ia pun mulai berfikir di usianya yang mendekati kepala 4 belum juga memiliki seorang kekasih apalagi menikah, benar benar memalukan, begitu kira kira isi hatinya.


"Emangnya kriteria cewek idaman Kaka seperti apa? selidik Artena, menunggu jawaban dari Tommy yang fokus dengan kemudinya.


"Kak!" apa kaka sariawan dari tadi tidak bicara." sindir Arneta lagi.


"Kau bisa diam tidak Neta! kaka sedang fokus menyetir!" Tommy mendesah kasar, sebenarnya apa yang dikatakan Arneta benar semua, seharusnya ia sudah menikah dan memiliki anak anak yang lucu dan imut. Tiba tiba bayangan 10 tahun yang lalu melintas didepannya. Qinara kekasihnya yang sudah di pacari selama hampir 4 tahun memutuskan pergi meninggalkannya karena Tommy belum siap menikahinya, padahal waktu itu usianya sudah menginjak 29 tahun, umur yang matang untuk menikah. Qinara pergi entah kemana membawa segudang kekecewaan yang teramat mendalam. Mengingat semua itu mata Tommy berkaca-kaca, bahkan ia belum sempat memberikan penjelasan pada Qinara wanita yang sangat ia cintai.


"Maafkan aku Qinara, pasti kau sudah menikah dan memiliki seorang anak." Tommy tersenyum getir.


"Kaka minta maaf pada siapa?" cetetuk Arneta, membuyarkan ingatan Tommy tentang kekasihnya.


"Ahh, bukan siapa-siapa."


Mobil Tommy berhenti disebuah restoran. "Arneta kau tunggu di mobil saja, makannya di apartemen, soalny kaka mau ada meeting jam 10 ini, waktu tinggal setengah jam lagi."


Arneta mengdengus kesal "Ya sudah terserah kaka saja."


Selesai membeli makanan mobil Tommy berjalan kembali menuju apartemen.


Tommy membawa kotak makanan menuju Apartemen miliknya, di ikuti Areta yang berjalan di belakang.


"Wah apartemen Kaka sangat bagus ya." Arneta berdecak kagum sambil menaruh tas ranselnya di kursi.


"Kau makanlah dulu, Kaka mau ganti baju." ucap Tommy meningglkan Arneta di meja makan.


"Wah kaka membeli makanan sangat banyak." Arneta menikmati makanan yang dibeli Tomy dari sebuah restoran.


"Arneta kaka terburu-buru tidak bisa makan bersama, jam sepuluh seharusnya sudah berada di kantor."


Arneta menatap kagum penampilan Tommy yang terlihat keren dan macho dengan setelan jas biru retro dan sepatu kulit. Arneta sampai menghentikan makannya dengan mulut menganga.


Tommy mengeryitkan keningnya, menatap aneh pada Arneta. "Anak gadis kalau lagi makan tidak boleh bengong." suara Tommy membuyarkan lamunan Arneta.


"Kau tunggu sampai kaka kembali, besok baru kaka carikan penginapan, kau beristirahat lah dikamar tamu."


Arneta mengangguk sambil menatap kepergian Tommy yang mengilang di balik pintu.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 lewat 25 menit, itu artinya Tommy sudah telat 25 menit, setelah memarkirkan mobil ia berjalan cepat menuju ruangan Reno.


"Apa Tuan Reno ada di ruangannya?" Tommy. bertanya dengan sopan pada sekertaris Anita.

__ADS_1


"Pagi Tuan Tommy" Anita membungkuk. "Presdir Reno sudah menuggu diruangannya"


"Terima kasih."


Tommy mengetuk pintu ruangan Reno, terdengar suara "Masuk."


"Siang presdir Reno, maaf terlambat"


"Silahkan duduk Tom."


"Bagaimana dengan laporan keuangan perusahaan istriku"


"Aku belum menyalinnya Tuan, masih berada di laptop ku, tadi pagi pagi sekali Nona Siska minta di jemput di bandara."


"Baiklah kau bisa lanjutkan, besok laporannya sudah ada dimeja kerja ku."


"Baik Tuan."


"Selepas jam makan siang kita adakan pertemuan dengan client, kau sudah siapkan materinya."


"Sudah Tuan."


Meeting di Perusahaan Mahesa Group'berjalan lancar, perusahaan milik Darwin yang sudah diambil alih oleh Delena, dibawah kendali Reno selama istrinya sakit, kini Reno berencana akan mengembalikan pada istrinya sebagai Direktur utama.


Mobil Tommy meningglkan perusahaan Reno, didalam perjalanan menuju apartemen, sebuah panggilan telpon masuk tapi tidak ada nama di kontak. Earphone Tommy pasang.


"Hallo..."


"Haii Tom, ini aku Gilang."


"Sori ganggu bro, tapi ada sesuatu yang harus gue bicarakan."


"Katakanlah."


"Bro tolong bantu gue, dua hari lagi ada pertemuan dengan clien di Jakarta, dan gue gak bisa kesana karena ada urusan yang mendesak, bisakah loe wakilkan perusahaan gue?"


"Hadeu gimana Lang, gue juga lagi repot sama pekerjaan gue."


"Tolonglah Tom, pliss sekali ini lagi bantu gue."


Tommy menghela nafas dalam, Gilang adalah sahabatnya sewaktu di SMP dulu, mereka bersahabat sejak kecil. karena Tommy dari keluarga kurang mampu akhirnya ia memutuskan merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib, ia menjalani hidup di Jakarta dan tinggal bersama bibinya. Tommy berjualan koran dan majalah untuk membantu kebutuhan keluarganya di kampung. Tanpa sengaja Tomy menolong Darwin dari para merampok yang ingin mencuri uangnya, karena jasanya Darwin mengangkat Tommy sebagai anak angkat dan membiayai sekolahnya smpai perguruan tinggi, Tommy telah berjanji akan mengabdikan hidupnya pada keluarga Darwin hingga sekarang.


"Oke Lang, kali ini gue bantu."


"Wah makasih Tom, gue kasih kompensasi buat loe 30%, nanti artikel dan data perusahaan gue kirim melalui email."


"Gue harus temui siapa disana?"


"Direktur utamanya. Dia seorang wanita cantik, elegan dan berkelas."


"Haii apa maksud loe bicara begitu?" Tommy mengeryitkan keningnya.


"Gue berharap Direktur itu tertarik dan jatuh cinta sama loe." Gilang tergelak.

__ADS_1


kata kata Gilang adalah tantangan untuknya, dengan senyum masam Tommy berkata "Gue masih mampu mencari jodoh yang baik dan elegan."


"Oke bro good luck."


****


Di Mansion sudah berkumpul Andini, Ramon dan Siska, selesai makan malam bersama mereka mengobrol di ruangan keluarga, seperti biasa Ramon selalu memberi lampu hijau pada Tommy dan Siksa, sejak melihat tommy seorang pekerja keras dan setia, seringkali Ramon menjodohkan Siska dengan Tommy.


"Siska, kapan kau akan membuka diri untuk laki laki, tak baik hidup sendiri di usia senja."


ucapan Ramon sangat menohok hati Siska, begitu sakit tapi tak berdarah, ia tau kata kata kakanya adalah rasa sayang padanya agar ia tidak terlambat untuk menikah.


"Bukan kah kaka ingin menjodohkan fanny dengan Justin?! aku rasa setelah fanny aku akan menikah." Siska mencoba mengulur waktu agar kakanya tidak terus mendesak dirinya.


”Tidak! kau yang harus lebih dulu menikah, fanny lebih baik bertunangan dulu, Papamu sendiri yang menginginkan itu, kaka tidak bisa bantah keinginan Papa yang keras."


"Kau ingat bukan? bagaimna dulu Reno harus menikah dengan Davina karena perjodohan Papa Mahesa, awalnya Reno menolak, papa murka dan ingin mencoret Reno dari daftar warisan, siapa sangka pertukaran saudara kembar membawa Reno dalam kebahagiaan sekarang." Andini tersenyum sumringah.


Mengingat jodoh membuat Siska bersedih, sebenarnya ia berharap menikah dengan orang yang mencintainya dengan tulus, bukan karena harta seperti kekasihnya Jhon yang telah mengkhianatinya. "Tommy apakah dia benar benar mencintai ku? kalau ia Kenapa Tommy tidak pernah mengungkapkan perasaannya?" hati Siska semakin bingung dengan perasaan nya sendiri.


"Siska?!"


"Iya kak? Siska tercekat.


"Besok kau bisa mewakili Kaka kesebuah perusahaan untuk meeting, ada 4 perusahaan untuk bekerjasama dengan Direktur Qinara, semoga perusahaan kita bisa terpilih dan bekerjasama dengannya."


"Perusahaan apa itu kak?


"Perindustrian, dari PT Qinara Pratama dan pemiliknya Nona Qinara sendri."


"Kenapa kaka memilih aku sebagai perwakilannya."


"Karena kau juga seorang pembisnis, kau harus bisa menjalani perusahaan ini."


"Apa kaka masih percaya padaku? padahal aku sudah menghilangkan perhotelan di Bali, sampai saat ini aset ku belum bisa kembali karena di kuasai Mr Black sialan itu!"


"Kaka ingin kau belajar dari sebuah kesalahan, kaka yakin kali ini kau tidak akan salah lagi."


Wajah Siska berbinar cerah, ia sungguh tak percaya kakanya masih mempercayai dirinya untuk memegang perusahaan. "Benarkah kak? Ramon mengangguk kuat, sebuah pelukan Siksa berikan untuk kakanya.


"Terima kasih kak."


'


'


'


'


'


'

__ADS_1


BERSAMBUNG 😍


@karya "ISTRI PENGGANTI CEO" season satu, sudah 2x di plagiat, tolong para Readers bantu Author bila kalian membaca karya Author yang sudah di plagiat, saya pribadi akan menindaklanjuti si plagiat yang cuma bisanya mencuri karya orang, tanpa mau berusaha. terima kasih juga pada Readers yang sudah memberi info ini sehingga kami bisa langsung laporkan si plagiat.🙏🥰


__ADS_2