
"Vana, don't cry! Reno memeluk Vana "Jaga Mommy dan Zidan. Daddy hanya tiga hari disana." mencium kening anak gadisnya.
Vana hanya mengangguk kecil dan mengusap sisa jejak airmatanya.
Reno dan Vano masuk kedalam mobil. Mobil berjalan keluar dari gerbang mansion menuju bandara internasional.
"Vano...."
Sepeda motor roda dua mengejar sedan yang di tumpangi Vano. Dari kaca spion Vano melihat Devan berada di belakang mobilnya.
"Pak berhenti!" perintah Vano.
"Ada apa Van?"
"Ada Devan di belakang mobil, kasih Vano waktu untuk bicara, Dad!"
Reno menoleh pada arloji dipergelangan tangannya "Oke hanya 10 menit."
Mobil menepi di jalur bebas parkir. Vano turun dari mobil, Devan menepikan motornya di belakang sedan hitam milik Vano. Mereka berjalan dan saling berangkulan.
"Aku menunggu mu sejak tadi. kenapa kau lama sekali datang, cuaca sedang tidak baik, jadi Daddy menyuruh ku cepat berangkat ke Jerman."
"Maaf Van, aku telat datang karena ada masalah dengan kelurga ku." Devan tersenyum, ia tidak ingin melihat sahabatnya bersedih dan mengetahui masalahnya.
"Benar? kau baik-baik saja? kapan kau akan menyusul aku ke Jerman dan sekolah di tempat yang sama."
"Aku harus bicarakan dulu pada Paman dan bibi, apalagi tinggal di Jerman butuh biaya besar, aku tak akan sanggup sekolah disana."
"Dasar bodoh! sejak kapan kau melupakan diriku? kau cukup membawa dirimu saja. Kau bisa tinggal bersamaku di rumah Grandma dan grandpah. Rumah mereka sangat besar. untuk biaya sekolah dan hidup di Jerman, khusus untuk mu gratis." Vano tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya yang putih dan rapih.
"Ap-apa? kau serius?" mata Devan terbelalak. Ada rasa senang dan gembira saat Vano menawarkan kebaikan untuknya, namun ia harus minta izin dulu pada Paman dan bibinya, Dev merasa pamannya telah berubah dan membenci dirinya.
"Baiklah akan aku pertimbangankan lagi, beri aku waktu beberapa hari untuk memikirkannya."
"Kesempatan tak datang dua kali bro!" Vano menepuk pundaknya seraya terkekeh.
"Vano!" seru Reno dari dalam mobil.
"Yes Dad!"
__ADS_1
"Oke aku harus pergi, kita masih bisa berkirim kabar lewat telpon. kabari aku secepatnya, biar Grandma urus sekolah mu di Jerman."
Mata Devan berkaca-kaca, ia sangat beruntung memiliki sahabat sebaik dan setulus Vano. Seorang anak konglomerat, namun tidak menampakkan kesombongan. Apalagi menunjukkan kekuasaannya sebagai orang nomor satu dan pembisnis terbesar di Asia.
"Terimakasih banyak Van, kau memang sahabat terbaik, aku pasti akan mengabarimu secepatnya." memeluk sahabatnya kembali.
"Oke aku berangkat dulu ya." vano mengurai pelukannya.
Vano membuka pintu mobil dan masuk kedalam. Devan menyalami Reno dan Vano.
"Hati-hati dijalan, semoga Om dan Vano selamat sampai tujuan."
"Terima kasih, sering mampir kerumah Om, bila Vano tidak ada, temani Vana."
"Siap Om.."
Mobil melaju dengan cepat meninggalkan Devan yang berdiri menatap kepergian sahabat karibnya.
Devan naik keatas motor dan melaju menuju rumah Paman dan Bibinya. Rumah yang ia tinggali selama tiga tahun terakhir. Dulu ia tinggal di kampung berdua bersama neneknya yang hidup pas-pasan. Neneknya meninggal tepat di usia Devan 12 tahun, saat ia lulus Sekolah Dasar. Devan pun tidak pernah tahu dimana keberadaan ibu dan Ayah kandungnya, bahkan ibunya berpisah dengan ayahnya saat ia masih dalam kandungan. Di usia Devan baru dua bulan dia sudah di titipkan pada neneknya, karena ibunya merantau dan bekerja di Jakarta. Devan masih ingat semua cerita neneknya, kadang ia benci dengan keadaannya yang di tinggalkan ibu dan Ayahnya yang tidak bertanggung jawab. Bahkan sampai hari inipun ia tidak pernah mengenal wajah atau melihat sosok Ayah dan ibunya, hanya foto-foto jadul Ayah dan ibunya yang hampir hilang gambarnya terkena air hujan.
Hari ini Devan bertekad akan bicarakan pada Bibi dan Pamannya, untuk sekolah di Jerman dan menyusul Vano, ia tidak ingin membebani Keluarga Bibinya lagi. Bibinya bernama Elsa, anak dari neneknya yang tinggal di Jakarta. Setelah kepergian neneknya, Devan di jemput bibinya untuk tinggal dan sekolah di Jakarta. Seringkali Dev bertanya pada bibinya dimana ibunya selama ini, Namun hanya gelengan kepala yang diberikan bibinya. Bibinya baik dan juga perhatian pada Dev, berbeda dengan Paman nya yang seorang lawyer, sangat tegas dan disiplin. Kerap kali Dev mendapat cacian dan makian bila ia berbuat salah, bahkan pernah mendapat pukulan bertubi-tubi mendarat di tubuhnya hanya gara-gara hal sepele. Dev merasa hanya bibinya yang baik dan tidak kasar, jauh berbeda dengan Paman dan ketiga anaknya.
"Mba! dimana Bibi Elsa? aku cari di kamarnya tidak ada." tanya Dev pada salah seorang ART.
"Nyonya berada di balkon bersama tamunya. Tadi bilang sama Mba, jangan ada yang boleh ganggu."
"Ohhh... ya udah Mba, makasih ya."
"Sama-sama Mas Dev, Mba terusin beres-beres dulu ya."
Devan mengangguk sambil terus berpikir. "Ada apa dengan bibi? kenapa ia tidak ingin di ganggu? aku harus tahu kebenarannya, ada masalah apa dengan Bibi?"
Dev menaiki anak tangga. Saat sudah sampai di tangga terakhir, ia berniat menuju kamarnya. Namun rasa penasaran yang mendorongnya untuk berjalan kearah balkon.
"Kau seharusnya jujur pada suamimu El, sebelum ia mengetahui kebenarannya kalau Devan adalah anak kandungmu!"
"Deg! Devan yang tak sengaja mendengar percakapan dua orang wanita di balkon, sangat terkejut. Tubuhnya seakan kaku ditempat, lidahnya kelu dan seluruh tubuhnya seakan lemas tak bertulang.
"Aku ingin sekali mengakuinya pada Mas Hendra, kalau Devan adalah anak kandungku. Hiks.. "Tapi aku takut dia marah dan menceraikan aku? aku tidak ingin berpisah dengan Mas Hendra."
__ADS_1
"Sampai kapan kau akan merahasiakan identitas Devan! bertahun-tahun ia bertanya dimana ibu dan Ayahnya? kalau memang ada kuburannya di mana tempatnya? seperti itu Devan selalu bertanya padaku?" kasihan Devan, terlahir tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Dia hanya mendapat kasih sayang dari ibumu. Kau pun tega, seakan membuang anak dan ibumu sendiri!"
"Demi Tuhan Ratna, aku sangat menyayangi ibu dan anakku, akupun mengirimi uang pada ibu untuk kebutuhan mereka berdua. Aku tidak membuang mereka, hanya tidak ingin jejak kelurga ku di ketahui Mas Hendra!"
"Bukan hanya uang yang mereka butuhkan! tapi kasih sayang mu, Elsa! aku sebagai sepupu mu seringkali kesal dan muak melihat tingkah mu yang melupakan keluargamu di kampung. Aku kasihan pada Dev dan Bibi, Untungnya Devan anak yang baik dan penyayang pada neneknya. kehadiran Devan, bisa mengobati luka ibumu!"
"Tapi aku sudah menebusnya dengan membawa Devan hidup bersama ku!" hiks.. hiks..
"Tapi bukan sebagai anak! melainkan sebagai keponakan! Di mana hati nurani mu Elsa!" bentak Ratna yang tak terima dengan perlakuan sepupu nya pada anaknya sendiri yang sudah ia tinggalkan dari bayi merah.
Elsa terdiam, airmata tak hentinya menetes deras. kini hanya tinggal penyesalan yang tak berujung.
'Kau harus berani mengatakan sejujurnya pada suamimu, kau lihat bagaimana perlakuan suamimu pada Devan! ia dipukuli dan di tuduh mencuri oleh anakmu hasil dari Hendra!" Bapak dan anak sama jahatnya!"
"Jadi Dev mengadu dan cerita itu padamu?"
"Hanya aku keluarganya yang terdekat, Dev bukan anak pengaduan. Tapi saat ia berkunjung kerumah ku, dan memberikan undangan pernikahan kalian, Aku melihat luka di tangannya. karena penasaran aku angkat baju Dev. Aku terkejut banyak luka seperti cambukan gesper di tubuh Devan. Aku bertanya, darimana ia mendapat cambukan itu, awalnya dia tidak mau cerita, tapi aku terus mendesaknya. Sungguh kau buka seorang ibu yang baik, menelantarkan anak kandungmu sendiri, bahkan diam saja saat anakmu di aniaya."
"Aku sudah menolong Dev, saat kejadian itu! suamiku memang tegas pada siapapun, yang bersalah pasti akan di hukumnya."
"Jadi selama ini kau takut berterus-terang dan ketahuan pada suamimu? kau takut di cambuk seperti yang Dev rasakan! Apa kau tahu? rasa sakit seorang anak saat kehilangan ibu yang telah melahirkannya? ia dekat dan tinggal satu atap bersama ibu kandungnya, Namun tidak mendapatkan kasih sayang dan sentuhan seorang Ibu!
"Hiks.. hiks... tangisan Elsa semakin dalam, perasaan bersalah membuat ia lemah dan terjatuh dilantai. Elsa harus memilih, mengakui kebenaran tentang Dev dan resikonya di hukum suaminya, dan bahkan akan diceraikan, atau menutupi semuanya tentang Dev, tapi hidupnya tidak akan tenang.
"Kau melihat Dev hanya dari kehidupannya sekarang. Seorang anak yang tak berdaya dan menumpang hidup pada ayah tiri dan ibu kandungnya. Tapi lihat lah nanti, Suatu saat ia akan jadi orang besar dan sukses, lebih sukses dari kehidupan anak-anak manja mu! suara Ratna menunjukkan kekesalan pada Elsa, ia sangat menyayangkan sikap dan tindakan Elsa yang takut pada suaminya dan tidak mau mengakui Devan anak kandungnya.
"PRANKK!
Meraka berdua dikagetkan suara benda jatuh. Karena terkejut dan merasa ada yang mendengarkan obrolan mereka. Ratna dan Elsa berlari dan masuk kedalam ruangan. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat Devan berdiri mematung dengan tubuh kaku bersama jatuhnya tetesan airmata.
"De-va-n!" panggil Elsa terbata dengan suara bergetar.
💜💜💜
@Mencerikan kisah Devanto sedikit ya All, sebab Sosok Devan akan banyak menemani kisah Vano nantinya, dan adik tirinya akan jadi penghalang kesuksesan dan percintaan Devan. Banyak intrik, kelicikan, percintaan segi tiga dan Action dalam kisah Devanto dan Zevano. Dua sahabat yang kuat dan saling mendukung.
@Ikuti keseruan kisah mereka ya All...😍
@Masih bersambung.....💜💜
__ADS_1