ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Suami dan Ayah posesif


__ADS_3

Devan mencium punggung tangan Ratna "Aku berangkat dulu Tante."


Supir pribadi milik keluarga Vano, membukakan pintu mobil belakang. Devan masuk kedalam mobil dan melambaikan tangan seiring mobil berjalan pergi.


Ratna menatap kepergian Devan dengan perasaan haru.


Tiba-tiba berhenti sebuah sedan di depan Ratna dan keluar seorang wanita cantik dan berkelas.


"Devanto tunggu!!!


"Elsa..."


Elsa sudah melihat Devan dari kejauhan masuk kedalam mobil sedan hitam dan ia berlari mengejar mobil yang belum jauh dari rumah Ratna.


"Mas, ada wanita mengejar dan meneriaki nama anda." kata supir masih fokus menyetir.


Devan yang sedang fokus membuat pesan pada Vano menoleh ke belakang.


"Ibu..." ucapnya lirih.


"Gimana Mas, berhenti dulu atau lanjut." ujar supir memelankan lajunya.


Devan berfikir sejenak, bagaimana pun juga Elsa yang awalnya mengaku bibi nya, ternyata ibu yang melahirkannya. Mungkin ini terakhir kalinya Devan akan bertemu dengan ibunya. ia tak pungkiri selama tiga tahun tinggal bersamanya, Elsa sangat baik dan perhatian. Walau kasih sayangnya kepada ketiga anaknya tak sebanding padanya. Andai saja ibunya jujur sejak ia bertemu saat menginjakkan kakinya di rumahnya. Mungkin Dev masih bisa memaafkan dan memakluminya. Tapi nyatanya ia tidak pernah mengakuinya sebagai anak dan terus di anggap keponakan.


Hari ini Elsa merasakan kesediaan dan penyesalan atas kepergian anaknya. Ia mengetahui dari Ratna akan kepergian Devan ke Jerman. setelah mendapat kabar tadi pagi Elsa langsung pergi kerumah Ratna.


"Tepi kan mobilnya pak!"


Pak supir yang paham, menepikan mobil di tempat bebas parkir. Elsa berlari lebih cepat dan berhenti di samping mobil Devan sambil mengetuk kaca.


"Tok! tok! tok!


Dev, ibu mohon. izinkan ibu bicara."


Devan membuka pintu mobil, dan membiarkan Elsa untuk masuk dan duduk.


"Pak bisa tinggalkan kami berdua."


"Iya, baiklah."


Devan menggeser duduknya ke ujung pintu.


"Bicaralah waktu ku tak banyak, aku harus pergi." ucapnya tanpa menoleh pada Elsa.


"Dev, benarkah kau akan pergi ke Jerman?"


Devan hanya mengangguk dengan tatapan lurus kedepan.


"Dev, ma'afkan ibu. Entah sudah berapa banyak ibu meminta maaf, itu tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku. Ibu menyadari kesalahan terbesar ibu meninggalkan mu bersama nenek mu. Tapi di lubuk hatiku, sangat menyayangi kalian berdua." Elsa memberanikan diri menyentuh tangan Devan "Harus dengan apa ibu membayar dosa-dosa ibu agar termaafkan oleh mu."

__ADS_1


Pada akhirnya Devan menoleh kearah Elsa "Minta maaflah pada nenek, dan datangi kuburannya untuk memohon ampun. Hanya ma'af dari nenek agar bisa terlepas dari rasa bersalah bibi! ucap Dev seraya melepaskan tangan Elsa.


"Baiklah bila itu permintaan mu, ibu akan ziarah ke makam nenek mu." Elsa mengusap airmatanya dan membuka sebuah tas kecil. ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan memberikannya pada Devan "kotak ini berisi liontin batu permata Rubi biru pemberian Ayah mu yang tersisa, kau berhak memilikinya. Batu Ruby ini hanya ada beberapa di dunia, hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Simpan batu ini agar kau di pertemukan Ayah kandung mu, yang entah di mana keberadaan nya."


Devan menatap ragu kotak ditangan Elsa. "Ayo Nak, ambillah. Ini peninggalan Ayah mu." Elsa menarik tangan Devan dan menaruh kotak itu di telapak tangannya "Ingat! batu Ruby ini bernilai harga tinggi, bila suatu saat kau menjualnya, ini akan menjadikan mu seorang jutawan. Namun ibu tak mau kau menjualnya, ibu takut pemberian Ayahmu hasil jarahan dan kau akan mendapatkan masalah besar. ibu memberikan ini agar kau mengetahui siapa Ayah kandung mu."


Devan menatap kotak Ruby itu tanpa mau membuka isinya.


"Terimalah dan cari ayah mu."


Devan masih terdiam.


Tiba-tiba Pak supir masuk kedalam mobil. "Maaf Mas, kita sudah tidak ada waktu lagi, secepatnya harus sampai bandara sebelum Take off. apalagi jalanan banyak macet."


"Maaf Pak, kalau saya mengganggu. Saya akan pergi sekarang." Elsa menatap nanar wajah Devan "Dev, jaga dirimu baik-baik di Jerman. Ibu akan selalu mendoakan keberhasilan mu, jangan pernah lupakan keberadaan ibu." Elsa mengusap lembut kepala anaknya dan keluar dari dalam mobil.


Elsa menatap haru kepergian mobil yang membawa anaknya pergi. Untuk terakhir kalinya Devan membalikkan tubuhnya dan melihat wajah ibu yang melahirkan sambil melambaikan tangan kearahnya. Tangisan Devan seketika pecah, ia sebenarnya sangat menyayangi Elsa yang ia anggap bibinya. Namun, ia harus menelan pil pahit kekecewaan, Elsa ternyata ibu kandungnya.


"Ma'afkan aku bu.." batinnya. ia membalikkan tubuhnya dan duduk seperti biasa, mengusap sisa cairan bening itu sudah meleleh, Dev menyandarkan punggungnya sambil membuka kotak beludru merah itu. Devan terkejut, batu Ruby itu berkilauan hingga sinarnya menerpa kacamata minusnya. ia menutupnya kembali dan memasukkan kedalam ransel.


Jam sudah menunjukkan pukul 10.15 menit. Pesawat yang di tumpangi Devan sudah Take off. 13 jam menempuh perjalanan untuk sampai ke Jerman. Tepat pukul 12 siang pesawat landing di Bandara Internasional Brandenburg.


Zevano melambaikan tangan saat melihat sosok bermata empat sedang mencarinya.


"Hey, Dev! aku disini..."


Devan tersenyum sumringah dan berjalan kearah Vano lebih cepat. Mereka saling berpelukan saat sudah mendekat.


"Ini adalah takdir Tuhan!" Devan tersenyum


"Okey, ayo kita pulang." Vano merangkul pundak sahabatnya dan berjalan kearah parkiran.


Seperti janji Vano, Oma nya Andini menyekolahkan Devan satu kelas dengan Vano di sekolah favorit dan elite. Devan terus bersyukur dan tak lepas berdoa, karena selalu di kasih kemudahan. jangankan untuk sekolah di Jerman, bermimpi saja tidak pernah. Anak kampung yang pada akhirnya mendapat keberuntungan. Hari-hari mereka lalui bersama.


๐ŸƒDua tahun kemudian....


Vana sudah duduk di bangku kelas dua SMA. Gadis manja yang beranjak remaja itu, sudah terlihat cantik dengan fostur tinggi semampai. Hari ini ia akan pergi berbelanja di Mall bersama Mommy dan adiknya Zidan yang berusia tiga tahun enam bulan.


"Mommy... cepatlah!" seru Vana dari bawah tangga.


"Iya sebentar sayang." meski keberadaan mereka jauh, tapi suara mereka masih terdengar dan menggema.


"Sudah donk Mas, nanti Vana lama menunggu."


"Sebentar lagi sayang." Reno masih saja manja dan tak hentinya menggoda Istrinya dengan menciumi punggungnya dan memeluk dari belakang. Membuat gigitan kecil disana. Delena meringis karena ulah suaminya. Ia yang sedang menabur bedak ke wajahnya dan lipstik tipis ke bibirnya jadi tak fokus.


"Mas! kesal Delena, tak hentinya menggoda.


"Iya sayang. Jangan ngambek donk, ntar cantiknya hilang loh! membalikkan tubuh istrinya dan mencium bibirnya dengan cepat. Delena membelalakkan matanya dan memukuli dada bidang suaminya yang tak pernah puas padanya.

__ADS_1


"Tok! tok! tok!


"Mommy cepet, ini sudah keburu siang. Sore nanti ada acara party di rumah teman." panggil Vana di depan pintu kamar sang Mommy


Reno melepaskan tautan bibirnya dan tersenyum lebar. "Kau ini, Mas! bagaimana kalau Vana masuk dan melihat otak mesum kamu."


"Iya sayang, Mommy sebentar lagi turun."


Reno mengusap bibir isterinya yang berantakan dengan jari telunjuk. "Entah kenapa kau adalah candu buatku. Banyak teman-teman bisnis Mas, yang berpaling dari Istrinya dan mencari kepuasan diluar, padahal sudah jelas isteri-isteri mereka berkelas dan cantik. Namun mas tidak mau seperti itu, walau sudah datang masa pubertas."


Delena melolot "Jadi Mas sudah berniat kearah sana?"


"Tentu saja tidak! kau tidak ada bandingannya. Kau sangat sempurna di mata Mas. untuk apa mencari yang lain, bila didepan Mas sudah ada bidadari cantik. walau usiamu tak muda lagi, tapi masih terlihat cantik, seksi dan bugar."


"Sudah ahh mas, gombalnya. Aku harus buru-buru, kasihan Vana tungguin."


"Ingat, jangan lama-lama ke Mall. cepetlah pulang kalau sudah membeli yang kau cari."


"Iya Mas!"


"Aku pulang agak malam, kau tidak usah nungguin Mas." mencium kening istrinya.


Delena sudah memakaikan dasi suami. Mereka berdua turun kebawah dan bergabung dengan Vana di meja makan.


"Hey Dad! Vana beranjak dari duduknya dan mencium pipi Daddy dan Mommy nya. seperti itulah kelurga kecil yang mereka lakukan. Kehangatan dan kenyamanan.


"Cepatlah pulang Van, jangan keluyuran kemana-mana, Daddy tidak mau kau salah pergaulan."


"Kan Vana perginya sama Mommy dan Zidan."


"Kebiasan Wanita kalau sudah belanja suka lupa diri! celetuk Reno, menyindir dua wanita di depannya.


"Ish! Daddy ini terlalu posesif. Mana mungkin Vana macam-macam. Lagian kan perginya sama Mommy dan Zidan."


"Jangan membantah! kalian tetap dalam pengawasan Daddy!" ucapnya seraya menggigit sandwich di tangannya.


Delena melirik anak gadisnya agar diam dan menurut kata-kata Daddynya, daripada tidak di izinkan keluar rumah dan berbelanja di Mall. Tujuan ibu dan anak itu ingin bermanja-manja di salon dan membeli apa saja yang mereka sukai. Senangnya memiliki suami sultan yang kebutuhan hidupnya selalu terpenuhi.๐Ÿค—


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


@Cerita ini akan di buat step by step... biar kisahnya tidak terburu-buru dan alurnya mengena.


@yuk terus ikuti kisah selanjutnya dan terus dukung bunda dengan cara...


๐Ÿ’œlike


๐Ÿ’œvote


๐Ÿ’œgift

__ADS_1


๐Ÿ’œkomen


@bersambung.....


__ADS_2