ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Penyusup


__ADS_3

Vano hanya nggak tega melihat kondisi Mami, Vano menangis bukan berarti lemah Dad! tapi ikut merasakan sakit dan sedih melihat orang yang Vano sayangi terluka."


"Daddy mengerti, kau mudah tersentuh. Sekarang kau istirahat dulu, sepertinya anak Daddy shok!' ujar Reno memberi ketenangan dan membawa Vano kesebuah kerungan.


Vano duduk di sebuah sofa, Reno menyodorkan botol air mineral. "Minumlah, Nak!


"Dimana Papi Robert? tanya Vano selepas meneguk air minum.


"Sudah berada di ruangan rawat inap. Ada beberapa pecahan beling yang menempel di kulit kepalanya."


"Bagaimana kondisi Papi?


"Sudah diadakan operasi kecil, untuk mencabut beling-beling itu."


"Ya Tuhan! begitu berat ujian Mami dan Papi Robert." vano tertunduk sedih.Reno merangkul pundak Vano "Van, semua orang hidup pasti diberi ujian. Semoga ini semua pelajaran berharga buat Papi Robert dan mami Davina."


Suara ketukan dari luar pintu. Reno mempersilahkan untuk masuk, berdiri Dokter Agung dan memberi hormat.


"Malam tuan?" Nyonya Davina sudah selesai kami tangani, akan di pindahkan kerungan mana?"


"Mami sudah selesai di obati? apakah kondisi Mami baik-baik saja? Vano berdiri.


"Nyonya Davin masih belum sadarkan diri, namun tangan kirinya kami gif, beliau mengalami pergeseran tulang. kami sudah balutkan Biocrepe untuk patah tulang."


Vano terlihat muram dengan mata berkaca-kaca


"Satukan ruangan rawat inap Davina dengan suaminya."


"Baik Tuan!"


"Ayo Dad! kita temui mami dan papi!" pinta Vano tak sabar.


"Sebentar Mommy mu telpon, Daddy angkat dulu."


"Hallo sayang...."


"Mas! kau berada di mana sekarang? dan vano tadi mencari keberadaan mu, sampai sekarang pun dia belum kembali aku sangat khawatir dengan kalian berdua." terdengar suara khawatir Delena dari ujung telepon.


Reno mendesah pelan "Mommy tidak usah khawatir, Vano ada disini bersama Daddy."


"Kalian berdua ada dimana? lantas Kak Davin sudah ketemu belum? Chika rewel menanyakan Mami dan papi nya. Kak Robert kenapa tidak bisa di hubungi? sejak tadi ibu gelisah dan ingin bicara dengan Kak Robert." Delena memberikan banyak pertanyaan, Reno menggaruk alisnya dan memikirkan semua pertanyaan istrinya.


"Lebih baik tidak usah ceritakan dulu keadaan Robert dan Davina. Aku takut ibu mertua dan istriku syok, nanti saja bila sampai rumah aku akan menjelaskannya." batin Reno lirih.


"Mas! kenapa diam? protes Delena yang sejak tadi menunggu jawaban suaminya.


"Mereka semua baik-baik saja, ya sudah Mas masih ada urusan sebentar. Bilang pada ibu tidak usah khawatir."


"Ya sudah Mas, hati-hati di jalan."

__ADS_1


"Iya sayang..." ucap Reno, di sela mengakhiri panggilan telepon.


"Ceklek!


Reno dan Vano masuk kedalam ruangan rawat inap Robert dan Davina. Ranjang sorong berukuran 120x100 meter, sudah berada di samping ranjang Robert dan hanya tertutup kain gorden hijau.


Vano berdiri di sisi ranjang, menatap haru wajah Davina yang di penuhi perban. Hatinya terasa teriris melihat wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya, berbaring lemah tak berdaya. ujian kelurganya tak hentinya di terpa ujian bertubi-tubi.


Bukankah Tuhan maha Rahman dan Rahim. Dimana ada kesulitan di situ pasti ada kemudahan. Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan umatnya. Hanya orang-orang yang bertakwa dan menerima musibah dengan ikhlas, sebagai pembelajaran bagi dirinya. Bahwasanya Tuhan maha melihat kelalaian umatnya.


Terdengar suara raungan yang menyayat, Vano terkesima saat melihat Ayahnya membuka gorden diikuti Robert mendekat ke ranjang istrinya.


"Sayang.. kenapa kau harus mengalami musibah seperti ini? dosa apa yang sudah aku perbuat di masa lalu sehingga kau mendapat musibah ini." Robert menggenggam tangan kanan istrinya yang tidak di gift. "Maafkan aku, tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu." kristal bening sudah membasahi pipinya.


"Bersabarlah, dan terima semua ini dengan lapang" ujar Reno menepuk pundak Robert, memberi pengertian dan menyatakan kalau aku selalu ada bersama mu.


"Papi, apa kondisi papi sudah lebih baik?" tanya Vano getir, menahan perih melihat kondisi Robert yang memprihatinkan dengan balutan perban di kepalanya.


Robert menoleh pada Vano, ia tersenyum getir dan berusaha menenangkan pria remaja yang berdiri di sampingnya dengan mata berembun.


"Papi baik-baik saja, terimakasih Vano sudah ikut membantu mengikuti Mami Davin."


Vano tak kuasa menahan tangisannya ia memeluk Robert sebagai bentuk rasa sayangnya pada kedua orang tua Chika. Robert mengusap punggung Vano "Papi baik-baik saja, do'akan mami semoga cepat sadar." bisiknya lembut.


"Begitu tegarnya papi, di saat terluka pun masih bisa tersenyum." puji Vano seraya melepaskan pelukannya.


JEGLEK!"


Pintu terbuka lebar, masuk tiga orang berseragam coklat,di temani dokter Agung.


"Selamat malam Tuan Reno." ketiga polisi itu berjabat tangan dengan Reno, Robert dan Vano. "Kami dari pihak kepolisian ingin meninjau dan menindaklanjuti kecelakaan di jalan tol Jagorawi tadi sore."


"Silakan pak! Reno memberi izin.


"Apa Nona Davina Sudah sadar? kami akan memberikan pertanyaan seputar tragedi jalan tol tadi, ada satu korban tewas ditempat yaitu seorang supir. dan satu orang pria mengalami luka serius dan kelumpuhan. Bila belum sadar, Kami akan menunggunya sampai ia siuman.


"kondisinya masih belum stabil pak, biarkan korban istirahat dulu, bila sudah baikan bisa di tanya-tanya." ucap Dokter Agung yang menangani perawatan Davina.


Baiklah saya akan menunggu sampai Nyonya Davina bisa memberi keterangan. kalau begitu kami permisi dulu." tiga orang berpakaian coklat dengan atribut lengkap pergi meninggalkan rawat inap Davina.


"Dok! saya harus kembali pulang, tolong kau rawat kedua kakak saya dengan baik."


"Pasti Tuan! saya dan perawat yang akan menjaganya 24 jam."


"Dad! Vano tidak pulang ingin menemani mami dan papi di sini."


"kau yakin ingin menginap di sini? Bagaimana dengan sekolah mu besok?"


"Vano sendiri yang akan minta izin pada guru wali kelas, walaupun kadang Vano tidak masuk karena ada urusan keluarga, tapi Vano bisa mengejar pelajaran yang tertinggal."

__ADS_1


"Oke, Daddy percaya dengan kualitas sekolah mu, Daddy pulang dulu, bantu jaga Om dan Tante mu." Vano mengangguk


"Aku pulang dulu Bro, Jaga dirimu baik-baik. Semoga istrimu cepat pulih. Besok aku kembali lagi!'


"Terima kasih banyak Ren, tolong jaga Chika. jangan sampai ia tahu papi dan maminya berada di rumah sakit, beri alasan yang tepat agar Chika mengerti. Aku belum berani memberitahu tentang kondisiku dan ibunya.


Reno mendesah pelan "Baiklah kau tidak usah khawatir, masalah Chika biar aku yang mengurus." ucap Reno seraya melangkahkan kakinya berjalan keluar ruangan.


"Vano kau juga harus beristirahat, pasti lelah."


"Iya Pih! vano tidur di sofa saja. sambil menunggu mami David bangun."


"Kira-kira kapan istriku tersadar, Dok?"


"Tunggu obat bius nya hilang, Nyonya akan kembali sadar. Tolong kalau sudah bangun jangan banyak bertanya dulu, pasti akan akan mengalami traumatis."


"Empat bulan yang lalu, saat di Bali istriku pernah kecelakaan, kepalanya terbentur batu karang, sempat koma dua hari."


"Jadi ada riwayat kecelakaan juga ya, takut benturan nya mengalami pendarahan, harus di periksa ulang Tuan."


"Baiklah setelah istriku tersadar, tolong periksa ulang bagian kepalanya."


"Siap Tuan! kalau begitu saya permisi dulu masih ada pasien yang saya urus, panggil saya atau suster bila ada perlu."


"Terima kasih Dok!


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Namun Davin belum juga sadar, Dokter Agung dan Dokter jaga sudah dua kali datang untuk pemeriksaan ke ruangan Davin. Setelah Vano dan Robert berbincang, Mereka memutuskan untuk istirahat. Robert tidur di ranjang dekat kaca besar yang menghadap ke jalanan raya. Sementara Vano tertidur di Sofa sambil membekap dadanya.


Koridor rumah sakit tampak lengang dan sepi, ruangan rawat inap Davina dan Robert berada di ruangan VIP, tempat yang jarang di lewati atau di tempati Pasien, karena tempat khusus itu termasuk mahal, hanya ada beberapa Dokter yang berjaga malam dan suster sesekali datang untuk adakan periksaan.


KREKK!


Bunyi decitan pintu ruangan rawat inap Davina dan Robert sangat pelan di buka. Masuk dua orang pria memakai almamater putih-putih dengan wajah tertutup masker. Ia berjalan kearah ranjang Davina dengan perlahan. Menutup gorden hijau yang terbuka lebar. Vano yang sedang tertidur pulas, tiba-tiba terjaga. Dua orang pria yang berprofesi sebagai Dokter itu terlihat mencurigakan. Vano terbangun dan berjalan perlahan tanpa suara kearah gorden yang tertutup. Terdengar suara nafas yang megap-megap, karena penasaran Vano membuka gorden itu dan ia terkejut satu pria memegangi kaki Davina satunya lagi menutup wajahnya dengan bantal.


"Siapa kalian! teriak Vano. Dua orang pria itu terkejut dan menerjang tubuh Vano.


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


@yuk terus dukung bunda dengan cara...


๐Ÿ’œlike


๐Ÿ’œvote


๐Ÿ’œgift


๐Ÿ’œkomen


@bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2