
Tiba-tiba Delena masuk kedalam ruangan Reno, sebelum masuk ruangan suaminya, Delena sudah mendengarkan pembicaraan mereka di depan pintu.
"Sayang..." Reno terkejut dengan kedatangan istrinya tiba tiba dan lngsung menyetujui lamaran Aleta yang jelas-jelas wajahnya mirip Anjali.
"Silahkan kalian pergi, aku sudah menerima Nona Aleta menggantikan posisi sekretaris Anita.
"Terima kasih Nyonya, Tuan presdir, kami permisi dulu." kata kepala personalia.
"Terima kasih Nyonya dan juga Tuan, aku janji akan bekerja dengan baik." membungkuk.
Mereka pergi meninggalkan ruangan.
Reno tampak kesal ia berjalan ke jendela membelakangi istrinya.
Delena tersenyum jahat "Kita lihat saja nanti siapa dirimu Aleta."
Delena berjalan mendekat, kedua tangannya memeluk pinggang Reno dari belakang, menyadarkan kepalanya di bahu lebarnya.
"Mas, apa kau marah padaku?
"Kenapa kau buat keputusan sepihak! tanpa bertanya dulu padaku!"
"Kau tidak usah khawatir, Aku tidak akan marah kalau wanita pengganti Anita itu berwajah mirip dengan Anjali. Semua orang berhak untuk bekerja di perusahaan ini bukan ? apalagi dia memiliki wawasan sebagai seorang sekertaris."
Reno memutar tubuhnya, menatap Delena yang terus tersenyum padanya, tidak ada rasa cemburu atau amarah dari raut wajah istrinya. "Aku ingin membuang masalalu yang berhubungan dengan Anjali."
"Tapi wanita itu bukan Anjali mas, dia Arneta bukan?! Delena tersenyum penuh pengertian.
"Ahh! kau selalu saja membuat aku bingung. Memikirkan hal ini saja sudah membuatku pusing." menarik tubuh istrinya agar lebih mendekat "Kau seringkali membatah suamimu, aku akan beri kau hukuman."
Tinggi Delena hanya sedagu Reno. Reno memiringkan kepalanya dan meraup bibir istrinya, memberikan sentuhan sangat dalam pada ciumannya. Delena hanya bisa pasrah mengikuti kemauan suaminya.
Hammpppp....
Hingga ciuman itu turun keleher jenjang istrinya, gigitan kecil mendarat disana, dengan sopan Delena berbisik.
"Ingat sayang, ini dikantor."
Reno bagaikan vampir yang haus akan darah, ia tidak peduli peringatan istrinya, baginya hukuman untuk istrinya harus tetap diberikan tak peduli dikantor sekalipun.
Gigitan kecil itu terus diberikan untuk Delena,. sesekali Delena meringis menahan geli bercampur perih. posisi tubuh Delena sudah bersandar pada dinding, Reno terus melahap nya tanpa henti.
"Mas..." Delena terengah-engah.
"Kalau kau mau memberikan hukuman, dirumah saja!" tutur Delena sedikit kesal karena tingkah lakunya yang tak biasa bila dikantor.
Reno berhenti sejenak dengan nafas tak beraturan, menyentuh kedua pipinya "Kenapa kau selalu membuatku candu, bila aku marah dan kesal padamu hanya dengan cara ini aku melampiaskannya." suara Reno terdengar parau, Delena tidak bisa berkutik, sungguh ia takut kalau Reno marah, pasti akan melampias kan barang-barang didepannya, ia tau sifat Reno yang Arogan dan dingin pada siapapun, tapi tidak pada dirinya.
Reno meneruskan aksinya, menciumi bibir Delena kembali dengan lembut, memejamkan matanya adalah cara Reno mencintai istrinya.
krekk...
Suara pintu terbuka.
Frans terbelalak saat melihat pemandangan indah didepannya, buru buru ia menutup pintu itu kembali. jantungnya berdebar karena malu melihat adegan mesra suami istri itu.
"Aiis Tuan sama Nona kenapa juga harus bermesraan didalam kantor."
Saat kaki Frans ingin melangkah, suara Reno terdengar dari dalam.
"Masuklah Frans!"
__ADS_1
"Waduh, pasti si macan Asia mulai mengaum."
Frans mulai mengatur nafas dalam, dan ia membuka handle pintu.
"Siang Tuan."
Tersenyum semanis mungkin agar macan Asia di depannya tidak mengaum. Dengan percaya diri frans melangkah masuk kedalam. Menaruh berkas diatas meja. Reno menoleh sekilas dengan ekspresi dingin, membuka lembar demi lembar file didepannya.
"Lain kali ketuk pintu dulu!"
"Ma--af Tuan, tadi saya sudah mengetuknya." ujarnya tercekat.
"Kalau sekali lagi mengintip, ku potong gaji mu tiap bulan."
"Waduh jangan Tuan, aku masih punya cicilan bayar villa, itu juga buat adikmu juga." gumamnya dalam hati.
Menatap dalam wajah Frans "Makanya kawin sana!"
"Muehehehe.... akan saya lakukan, Tuan." Frans terkekeh.
"Kerja bagus, kau salin laporan kerjasama kita, aku tidak ingin dimasa depan ada kesalahan."
"Baik Tuan."
"Frans kapan kau akan ke Korea."
"Mungkin bulan depan Tuan, tunggu rampung proyek kita yang di Hambalan."
"Baik keluarlah, aku masih ada urusan dengan istriku!"
Frans membungkuk, dan melangkah dengan cepat.
"Yank hukuman mu masih berlanjut."
"Apa...? Delena mengerutkan keningnya.
"Hukumannya lanjut dirumah saja, sekarang waktunya suapin suamimu makan."
Delena bernafas lega, Ia membuka tutup makanan dan mulai menaruh nasi dan lauknya keatas piring. Seperti biasa kesibukan Delena menyuapin makan suaminya. Bagaimana Reno tidak bucin dan jatuh cinta pada istrinya, Delena wanita yang baik, setia, penyayang keluarga dan penurut, bahkan ia bisa menaklukkan hati Reno yang sekeras batu karang.
Selesai dengan aktifitasnya Delena membereskan kotak makannya
"Mas aku mau keswalayan untuk membeli susu formula Vano dan vana."
"Yank, Mas sudah berapa kali bilng, langsung saja beli susu di pabriknya. Jadi kia punya stok banyak untuk si kembar. Nggak perlu lagi membeli di swalayan."
"Mas, kalau kita beli di pabrik, pasti banyak terbuang karena semua bahan kemasan ada expired nya."
"Ya sudah bagaimna baiknya saja, tapi ingat jangan pergi kemanapun. Langsung pulang kerumah."
"Iya Mas." menarik tangan Reno dan mencium punggung tangannya.
"Cup! mencium kening istrinya "Ingat hukuman mu sisanya dirumah, dandan yang cantik." Reno tersenyum licik.
"Cihh, dasar macan gak ada puasnya!" gerutu Delena dalam hati.
"Iya Mas, aku pulang dulu."
Setelah kepergian Delena, Reno menghubungi seseorang.
"Istriku mampir ke swalayan, kalian terus pantau dari jauh seperti biasa, ingat' jaga terus keselamatan istriku."
__ADS_1
"Baik Tuan!'
"Hah! Reno menghela nafas panjang, mendudukkan tubuhnya dikursi Presdir, ia masih terus berfikir tentang Anjali, membuka map coklat dan kembali membaca biodata Arneta Arora.
"Hah sial, kemiripannya hampir 99%, tapi setau aku Anjali bukan lulusan Universitas Oxford di Inggris, tapi dia seorang Desainer dan Model di Perancis."
Reno mengetuk ngetuk jemarinya diatas meja, ia masih terus berfikir.
"Robert! ahh sial, kenapa aku baru mengingat nama itu, aku akan menghubunginya dan minta penjelasan padanya, apa benar Anjali masih berada di rumah sakit Bali?"
"Bila tidak ada....
Tangan Reno mulai mencari nama Robert dalam kontrak ponselnya, ia mulai menghubunginya, tapi sayang bekali kali telpon tidak diangkat.
"Kemana saja kau Robert! saat aku penting, teleponmu tidak diangkat!
Reno begitu kesal, tak lama bunyi suara ponsel terdengar nyaring, Vc terhubung.
"Haii Bro, apa kabar? tumben Kau baru menghubungi ku?!" terlihat wajah Robert dari sebrang sana.
"Dimana Anjali?!
"Haii, kenapa telpon lngsung cari Anjali? apa kau tidak kangen padaku?!"
"Ciih! apa untungnya kangen padamu!"
"Sifat galak mu masih saja tidak berubah! tapi kau masih terlihat tampan." goda Robert tergelak.
"Cepat katakan dimana Anjali! wajah Reno terlihat dingin
"Tentu saja Anjali baik-baik saja bukan, aku pernah mengatakannya padamu, kalau dia masih amnesia karena tabrakan itu mengakibatkan memorinya tidak bisa bekerja dengan baik."
"Tapi Anjali ada disini! bahkan ia datang ke kantor ku untuk melamar pekerjaan menjadi seorang sekretaris!"
"Apa? tidak mungkin, ia masih selalu dalam pengawasan ku?'
Kau pikir aku berbohong? lihat ini! Reno menunjukkan identitas Arneta.
"Mungkin itu hanya kebetulan saja bro! di dunia ini banyak wajah yang mirip ko."
"Sekarang di mana dia! Aku ingin melihat wujudnya, bila tidak ada disana berarti benar Anjali datang kemari untuk merusak keluargaku!"
"Baiklah, baik, aku akan menemui Anjali."
Robert meninggalkan ruangannya, ia terus berjalan kesuatu tempat sambil memegang ponsel ditangannya, terlihat sebuah taman luas. Ada seorang gadis ditemani dua orang suster duduk di bangku kayu.
"Ini Anjali.." Robert mengarahkan ponselnya pada wajah Anjali, seketika mata Reno terbelalak sempurna, ia terlihat syok melihat Anjali masih di Bali.
'
'
'
'
'
'
Bersambung...........
__ADS_1