
Setelah minum satu gelas air putih, ia berjalan ke sofa, melihat Reno sudah tertidur." Mas Maafkan istrimu ini ya, udah banyak nyusahin. kau adalah suami terbaikku, good night sayang..." Mencium kening suaminya dan berjalan kearah ranjang. Merebahkan tubuhnya setelah padamkan lampu tidur di atas nakas.
Reno membuka matanya, ia hanya mendesah pelan. "Aku sudah tak sabar harus menunggu sampai besok, dan minta penjelasan dari Dokter Agung, setelah periksa istriku."
Setelah bergumam, Reno memejamkan matanya kembali.
Pagi hari Reno bangun karena mendengar suara gaduh di dalam kamar, padahal baru saja ia tertidur jam lima subuh. Reno mengucek matanya karena rasa kantuk masih menderu. Matanya sedikit berbayang melihat istrinya sedang membuang barang kedalam sebuah kardus. Reno paksakan tubuhnya bangun dan berjalan kearah meja rias dimana istrinya berdiri.
"Sayang, apa yang sedang kau lakukan? Reno mengeryitkan alisnya, menatap bingung pada sikap istrinya yang semakin menjadi.
"Kenapa kau buang semua parfum itu? tanya Reno tak suka.
"Mas, aku minta maaf. Aku sangat mual mencium bau wangi-wangian. pliss! mengertilah..."
"Ada apa sebenarnya dengan diri mu Dena! beberapa hari ini sikapmu sangat aneh dan membuatku semakin stress! suara Reno mulai meninggi.
Delena menoleh, menatap dalam wajah suaminya yang memerah karena amarah.
"Mas! kenapa suaramu semakin tinggi hanya karena aku ingin memindahkan semua parfum mu keruangan lain! seru Delena dengan mata berkaca-kaca.
"Itu karena kau sudah melewati batasannya Dena! kau selalu ingin menjauh dariku, akupun menuruti semua kemauan mu, bahkan kau sudah tidak pernah lagi mengurusi kebutuhan suamimu! Walau hal kecil sekalipun, Kau sudah jauh berbeda tidak seperti istriku yang aku kenal!"
"Mas! tolong mengerti diriku? aku juga tidak mengerti dengan keadaan ku ini! bersabarlah, semua pasti akan baik-baik saja."
"Baik apanya? sikapmu saja sudah berubah dan semakin tidak perduli denganku! apa kau sedang menyukai seseorang? jadi sikapmu semakin menjauh dan berubah padaku! teriak Reno dengan amarah meletup-letup.
"Mas! Delena membekap mulutnya karena kaget "Kau jahat menuduhku seperti itu! hiks.. jatuh sudah airmata Delena, Perasaannya seketika sakit dengan tuduhan suaminya.
Baru kali ini mereka ribut besar, selama bertahun-tahun mereka tidak pernah bertengkar, bahkan semua masalah bisa diatasi berdua. Namun, sekarang bom itu seakan baru meledak memuntahkan semua isinya. Reno yang terbiasa lembut dengan sikap istrinya, seakan telah berubah dan tidak selembut biasanya dalam menghadapi semua persoalan. Delena merasa Reno telah berubah, dan begitu sebaliknya Reno menganggap istrinya telah berubah.
"Bila kau tidak ingin aku berada di kamar ini, baiklah, mulai hari ini aku akan pindah di kamar lain, aku tidak akan menganggu tidurmu, biar pelayan yang akan memindahkan semua barang-barang ku!"
"Mas! ada apa dengan mu? aku tidak pernah mengusir mu dari kamar ini! kau jangan salah paham. Ma'afkan aku bila aku salah! Hiks... tubuh Delena bergetar menahan tangisannya yang semakin dalam.
Dada Reno yang bergemuruh terus ia tahan. agar amarahnya tidak semakin terbawa emosi, dan menghindari dari hal-hal yang tidak di inginkan, Reno berjalan kearah pintu dan memegang handle.
"Mas! kau mau kemana? hiks....
Reno tidak menghiraukan panggilan istrinya. Tangannya membuka gagang pintu. 'JGLEK' ia terkejut saat di depan pintu sudah berdiri Zevano dan Zevana. Reno menghela nafas panjang dan di hembuskannya perlahan.
"Ded! apa yang terjadi? tanya Vana, menatap nanar mata ayahnya.
Reno meredam emosinya didepan kedua anak kembarmu, wajah merahnya mulai memudar, tersungging senyuman lembut yang biasa Reno berikan pada istri dan anaknya.
"Vano, Vana? kenapa kalian belum berangkat sekolah?!
"Vana ingin menemui Mommy, sebelum berangkat sekolah." ucapnya dan masuk kedalam kamar melewati Reno.
"Im sorry son! ini tidak seperti yang kau bayangkan, jangan berpikiran negatif pada Daddy, biarkan Daddy tenangkan pikiran dulu." menepuk pundak Vano.
"Oke Ded! semoga semua baik-baik saja."
Reno mengangguk pelan.dan melangkah pergi meninggalkan Vano yang menatap kepergian nya.
__ADS_1
Vano berjalan masuk kedalam kamar dan mendapati Mommy nya sedang menangis, terduduk di tepi ranjang. Vana mengelus lembut punggung Mommy nya.
"Mom are you okay? tanya Vano, seraya duduk di samping Delena, meraih tangannya dan mengusap lembut.
Delena yang tertunduk mengangkat wajahnya dan menatap haru wajah Vano. "Ma'afkan Mommy sudah buat keributan pagi ini, pasti Daddy sedang kesal dengan Mommy, karena sikap Mommy yang jarang memperhatikan Daddy akhir-akhir ini" ujar Delena merasa bersalah.
"No, Mom! Mommy tidak salah, Daddy pun tidak bersalah. Hanya kurang adanya komunikasi saja, ma'afkan sikap Daddy Mom. Daddy juga sedang ada masalah di perusahaan, kebakaran di gudang mempengaruhi kondisinya walau Daddy tidak cerita pada Mommy. Apalagi melihat kondisi Mommy yang sedang tidak sehat, Daddy tidak ingin Mom bersedih." ucap Vano menasehati, ia harus netral pada kedua orang tuanya, tidak boleh pihak sebelah. Sebab Vano tahu mereka saling mencintai, pertengkaran hanya krikil dalam rumah tangga.
"Terima kasih Vano, dan kau Vana. kalian adalah anak-anak Mommy yang terbaik, sudah memberikan kehangatan dan kedamaian di rumah ini. Delena menarik kedua anaknya dalam pelukan. Mereka bertiga berpelukan, Vano dan Vana telah meredakan suasana hati Mommy nya yang sedang tidak Baik.
Tok, tok, tok..
"Maaf, Nyonya ada Dokter Agung."
"Dokter Agung? siapa yang memanggil ia ke mansion?! Delena menautkan kedua alisnya.
"Daddy Mom! sambar Vano.
Delena menghela nafas dan berkata "Dimana Dokter Agung?'
"Ada sedang menunggu di bawah."
"Baik Mba sari, bawa naik keatas."
"Vano! panggilkan Daddy mu di kamar tamu"
"Maaf, Nyah. tuan sudah berangkat baru saja, tadi juga sempat ngobrol sebentar dengan Dokter Agung."
"Apa suamiku pakai baju kantor?
"Tidak usah di pindahkan, biarkan saja Mba, panggil Dr. Agung kemari."
"Baik Nyah!"
"Vana, Vano kalian temani Mommy ya, nggak pantas Mommy berdua dengan Dr Agung di kamar, soalnya Daddy tidak ada."
"Oke Mom!
Vana menarik tangan kakaknya "Kak, lebih baik kita izin untuk hari ini. kasihan Mommy sedang tidak baik hari ini."
"Ya sudah, aku telepon Dev dulu."
Dokter Agung sudah berdiri di ambang pintu, setelah mengetuk daun pintu yang terbuka lebar. Delena mempersilahkan untuk masuk.
"Pagi Nyonya." sapa Dr agung ramah, seraya membungkuk memberi hormat. "Bisa kita lakukan pemeriksaan sekarang."
"Silakan Dok."
Delena berbaring di ranjang, di temani Vana duduk di sampingnya. Vano berdiri seraya mengamati Dr Agung periksa kondisi ibunya. Setelah pemeriksaan tensi darah, ia mulai memakai alat Stetoskop di telinganya, periksa detak jantung dan perutnya, ada getaran dan denyut di bagian perut, melalui Stetoskop.
"Apa yang nyonya rasakan selama ini?
"Aku tidak enak makan, sering mual, dan tidak mau melihat matahari, bisa pusing kepalaku. Apalagi kalau suami pakai parfum, lngsung muntah-muntah dan bawaannya kesal saja sama Mas Reno." ungkap Delena jujur tidak ada yang di tutupin.
__ADS_1
"Sudah berapa lama kondisi seperti ini? tanya Dr Agung lagi dengan tenang.
"Sampai hari ini, sudah seminggu."
"Baiklah, Pemeriksaan nya sudah selesai."
Delena duduk kembali. Dr Agung membereskan peralatan Dokternya kedalam tasnya. Mengatur nafasnya dan membetulkan posisi duduknya agar terasa nyaman.
"Jadi bagaimana Dok, kenapa dengan kondisi saya seminggu ini?!
"Saya harap Nyonya jangan kaget atau syok, saya akan jelaskan kondisi Nyonya."
"Ia aku kenapa, Dok?! tanya Delena lagi tak sabar, ia merasa tidak tenang, satu tangannya menggenggam Vana yang terasa dingin dan berkeringat.
"Nyonya sedang mengandung enam minggu."
"Apa..? Delena menarik nafasnya dan hampir tak bisa bernafas karena sesak.
"Mommy tidak apa-apa, Kan? tanya Vana khawatir.
Dokter Agung mengerutkan keningnya "Bukankah itu berita gembira, kenapa Nyonya terkejut."
Airmata Delena sudah menetes karena haru. Vana yang masih duduk di sebelahnya mengusap lembut airmata ibunya. "Mommy Jangan bersedih, nanti Dede bayi nya ikut sedih loh! ucap Vana menghibur.
"Dok, tolong jangan dulu bilang ke suamiku kalau aku sedang mengandung, biar aku yang bicara sendiri sama Mas Reno."
"Apapun keinginan Nyonya akan saya penuhi, saya berhak menjaga privasi pasien."
"Mom! kenapa Daddy tidak boleh tahu? tanya Vano tak mengerti dengan pikiran Mommy nya.
"Iya kenapa Nyonya? mungkin saya bisa bantu. tapi bila Nyonya keberatan, saya tidak akan memaksa."
Delena mengigit bibir bawahnya, ragu untuk mengatakan didepan kedua anak kembarnya.
"Iya Mom, katakan saja. jangan dipendam sendiri." bujuk Vana meyakinkan.
Delena mendesah pelan dan bercerita "Sebenarnya Mas Reno tidak ingin aku hamil lagi."
Vana dan Vano saling bersitatap.
'Anak adalah anugrah, jangan di sia-siakan, banyak orang yang menginginkan sebuah keturunan, tapi nggak bisa." terang Dr Agung.
"Bukan masalah Mas Reno menolak anaknya, tapi Mas Reno sangat trauma dengan kejadian aku terjatuh dari tangga, dan mengalami koma. Aku melahirkan Zevano dan Zevana di usia kandungan ku tujuh bulan. Dulu ada tim Dokter yang menyelamatkan ku, termasuk Dokter Iskandar ayahmu dan Dokter Sarah yang ikut membantu operasi sesar. cerita Mas Reno padaku. Sejak kejadian itu Mas Reno menolak untuk aku hamil lagi.
Vano dan Vana yang baru tahu masa lalu Mommy nya, seorang ibu yang telah banyak berkorban demi melahirkan mereka berdua. Vano mendekati Delena dan memeluknya erat sambil terisak, begitu pula dengan Vana ikut menangis di pelukan Mommy nya.
💜
💜
💜
@Bersambung.......
__ADS_1
Author up setiap hari dan bab nya panjang. Mana dukungan kalian 🙄 jangan lupa untuk: LIKE, VOTE, GIFT, RATE BINTANG 5.🤗