
Tiba-tiba sebuah sedan melintas di depan Vano. Dan seseorang berteriak dari dalam mobil.
"Vano....!!''
Vano terkejut saat seseorang memanggil namanya.
"Tolong Mami...Vano..." menggedor-gedor kaca mobil, Vano melihat jelas wajah Davin saat kaca mobil belum tertutup sempurna.
"Mami Davina..!!
Vano terkejut dan bingung. "Itu tadi Mami Davin, apa yang terjadi padanya? dan mobil siapa itu? gumamnya "Daddy kenapa lama sekali, bagaimana ini, disaat seperti ini Daddy tidak ada, sebaiknya aku kejar sedan hitam itu sebelum menjauh."
Vano memakai helm dan melajukan motor balap RC213V. Motor terus melaju dengan cepat melintasi jalanan raya ibu kota di malam hari.
Reno memasuki sebuah Bar, mata liarnya terus mencari keberadaan Robert. Ia melihat ada kumpulan orang-orang di sudut ruangan. Reno berjalan kearah sana dan menerobos masuk pada orang-orang yang menghalangi jalannya. Alangkah terkejutnya Reno, melihat sahabatnya terkapar tak berdaya di bawah lantai dengan darah mengucur dari kepalanya. Tiga orang pria bertubuh kekar itu, menjadikan Robert bulan-bulanan dengan menginjak dadanya pakai sepatu. Satu temannya menyiramkan air kewajah Robert yang sedang mengerang kesakitan. Melihat semua itu membuat otak iblis Reno keluar, darahnya mendidih dan bergejolak. Kedua tangannya mengepal kuat, Reno menghantam tiga pria itu bergantian.
"BAGK!"
"BUGK!"
Reno terus memberikan tonjokan dan bogeman kewajah pria-pria itu. tendangan mautnya ia arahkan ke perut lawan, hingga mereka terpental kebelakang.
"Siapa kau berani menyerang di wilayah kami!" bentak salah satu dari mereka.
"Beraninya kalian melawan orang yang sudah tidak berdaya!" hardik Reno menatap dingin tiga orang didepannya, aura membunuh sudah terasa di dalam ruangan itu
"Itu salah dia yang sudah membuat onar di Bar ini!" ucap salah satu pria seraya bangkit dari tempatnya jatuh.
Reno membungkuk dan mendudukkan tubuh Robert bersandar pada dinding. kepalanya masih berlumuran darah, untungnya Robert masih sadar. "Kau tenang saja, aku yang akan membalas mereka semua, mereka tidak akan ku beri ampun." janji Reno pada sahabat sekaligus kakak iparnya. Ia membetulkan duduk Robert yang terlihat lemas.
"To-tolong da-vin Ren..." ucap Robert dengan suara lemah dan tercekat.
"Pasti! kau tenang saja dulu, aku akan membereskan mereka!"
Reno bangkit dan berdiri di depan mereka dengan gagah dan tangan masih terkepal "Ingat kata pepatah, mata di bayar mata, gigi di bayar gigi! tapi kali ini aku ingin nyawa kalian!" menunjuk satu-satu wajah mereka.
" Hahahaha...." Mereka bertiga terbahak, menganggap Reno main-main. Sungguh mereka tidak tahu lawan yang sedang mereka hadapi. Sebab wajah Reno tertutup masker, topi menutupi sebagian rambutnya. Bola mata Reno terlihat tajam dan memancar kilatan.
"Tertawa lah sepuas kalian sebelum ajal menjemput!"
"Lelucon apa yang sedang kau buat, Hah! disini tidak ada satu orang pun berani mengumpat apalagi menantang kami!"
Andai masker itu bisa dibuka, mereka akan takut melihat seringai licik dibibir Reno yang menakutkan. Reno mengagkat telunjuk dan menggerakkannya seakan memberi kode untuk maju terlebih dahulu.
ketiga pria itu saling bersitatap dan maju serempak, serangan tak terelakan lagi. Saling pukul dan tendang, Namun mereka hanya memukul angin, dengan gerakan cepat Reno menghindar tanpa tersentuh pukulan mereka, justru mereka salah sasaran saling menonjok sesama teman hingga wajah mereka memar.
"Bodoh! kenapa kau malah menonjok ku!" teriak temannya sambil memegangi wajahnya.
__ADS_1
"Kau yang bodoh, dia menunduk saat kita menyerang bersamaan."
"Hanya segitu kemampuan kalian!" seru Reno, melipat kedua tangan didada sambil terbahak.
Kini posisi Reno berada di tengah-tengah, mereka bertiga memutari Reno, sungguh ini tontonan yang sangat menarik bagi mereka yang melihat langsung perkelahian satu lawan tiga. Mereka seperti menonton film big office layar lebar. Orang-orang mengabadikan ponsel mereka masing-masing dan mulai merekam.
Mereka bertiga menyerang bersama, Reno mematahkan serangan mereka bersamaan.
"BUGK! BUGK! BUGK!
Secepat kilat Reno memukul dada mereka satu persatu dengan kedua tangan yang terkepal kuat, di tambah tendangan salto dan memutar layaknya kungfu. Perpaduan silat dan kungfu sudah Reno kuasai, bahkan tenaga dalam Reno tidak dapat di pungkiri. Sangat dahsyat dan langsung mematikan lawan, bisa mengenai otak dan pembuluh darah pecah. Seketika mereka memuntahkan darah merah kental bersamaan.
Semburan darah memenuhi lantai. Mereka memegangi dadanya yang terasa perih dan bahkan tersayat-sayat silet tajam. Suara jeritan menggema di dalam bar, mereka ambruk satu persatu di lantai dengan bibir menganga dan mata melorot.
Semua pengunjung yang menyaksikan itu semua, bergidik ngeri melihat dengan mata kepala sendiri. Mereka masih penasaran dengan sosok Pria bertubuh atletis dan tegap itu, ponsel mereka terus di abadikan kearah Reno. Ingin melihat Reno dari dekat, namun mereka malah mundur dan sangat takut. Ada yang beranggapan Pria itu pembunuh berdarah dingin.
"Apa kalian ingin seperti mereka! bentak Reno menunjuk kearah tiga pria yang sudah tak bernyawa. "Cepat hapus semua Vidio Kalian, bila tidak! Jangan harap bisa keluar dari bar ini sebelum kalian menghapus kejadian malam ini!"
Reno mengambil ponsel dari saku celananya dan menghubungi anak buahnya yang sebenarnya sudah berada di area Bar. Sekelompok orang datang dan mendekat pada Reno.
"Kalian rahasia kan siapa aku! pastikan jangan ada yang mengetahui kejadian ini! Ambil ponsel mereka dan hapus semua!
"Dan kau! menunjuk diantara anak buahnya "Bawa tiga orang yang sudah tak bernyawa itu pergi, kuburkan dengan layak. Cari kelurga mereka dan beri santunan."
"Baik Bos, laksanakan!"
"Bawa saudara ku ke mobil, secepatnya akan aku bawa ke rumah sakit."
Robert di rebahkan kedalam jok belakang. Reno mulai mencari keberadaan anaknya "Kemana Vano pergi? bukankah dia menunggu di lobby."
Sejak tadi di dalam, aku tidak melihat Davina. Lalu Robert berkelahi karena masalah apa?" begitu banyak pertanyaan dalam benak Reno. "Nanti saja aku bertanya dengannya. yang terpenting membawa Robert ke rumah sakit. Masalah Vano, biarlah dia sudah remaja, Apapun yang di lakukan pasti positif." gumamnya seraya menstarter mobil. Reno begitu percaya pada anak lelakinya dan tidak terlalu mengkhawatirkan Vano.
Mobil berjalan dengan cepat menuju rumah sakit "Bertahan lah Bert, aku akan membawamu secepatnya untuk ditangani lukamu!"
Sementara Vano masih terus mengikuti sedan hitam itu dari belakang.
"Bos! seperti ada yang mengikuti mobil kita!" ujar seorang supir yang membawa Erland dan Davin.
"Kau recoki dia, mobil sports ini bisa melaju dengan kecepatan tinggi, langsung masuk kedalam tol, motor itu tidak akan bisa masuk!"
"Baik Bos!"
"Lepaskan aku Erland! untuk apa kau melukai dirimu sendiri dengan membawa ku pergi! kelurga ku tidak akan tinggal diam, pasti mereka akan mencarimu!"
"Kau pikir aku takut dengan ancaman mu Davin! Aku memiliki pengawal yang bisa menjagaku, dan melawan siapa saja yang menyakitiku!"
"Erland! aku sudah berkeluarga dan memiliki seorang putri. kasihan, pasti dia mencariku. plis! lepaskan aku!" aku juga harus melihat keadaan suamiku sekarang!"
__ADS_1
Erland menatap tajam wajah Davina dengan aura amarah "Kau bilang apa tadi?' kau memiliki seorang anak dari pria itu!"
"Iya! makanya lepaskan aku! kau dan Mery sudah bersekongkol membawa aku ke Bar!
"Kalaupun iya, memang nya kenapa, Hah!"
"Plakk!"
Davina melayangkan tamparan pada Erlan. "Kalian berdua memang berengsek! padahal Mery sahabatku, bisa-bisanya dia berkhianat padaku!"
Erland menjambak kasar rambut Davina "Tadi kau bilang memiliki seorang putri! kalau kau menginginkan seorang anak, kenapa dulu kau bunuh anakku sialan!"
"Aakkhhh! lepaskan Erland..." Davina mencoba menarik tangan Erland untuk melepaskan tangannya dari rambutnya.
"Tidak akan kau biarkan kau hidup tenang Davin! kau sudah buat hatiku hancur dan membunuh anak kandungku dengan mengugurkan tanpa seizin ku!"
"Itu karena kau seorang sikopat! kau cemburu aku dekat dengan pria manapun, padahal semua itu kau yang ciptakan, menjadikan aku umpan untuk bos-bos berduit! Tapi di belakang ku, Kau menyimpan wanita j4l4ng!"
"Aagrrh!
Erland terpekik saat Davina menggigit tangannya, dan jambakan itu terlepas.
"Dasar wanita sialan! berani kau mengigit ku! teriak Erland dengan kilatan mata memerah "Lebih baik kau mati ditangan ku! Saat tangan Erland ingin menyentuh leher jenjang Davina dengan cepat Davina menodongkan pistol ke wajah Erland.
"Jangan mendekat! apa kau ingin peluru ini menembus otak kepalamu, bodoh!" Dengan nafas tersengal dan tangan gemetar Davin terus mengarahkan pistol itu. "Menjauh dari ku! teriak Davin "Kau tahu bukan? aku ahli dalam menembak!"
Erland menelan salivanya dengan susah payah dan memundurkan duduknya hingga di ujung pintu. wajahnya terlihat tegang dan pias.
"Davin, jagan kau lakukan itu! Erland mengagkat kedua tangannya "Aku sangat mencintaimu."
"Tutup mulutmu b4jing4n!"
"Bersiaplah untuk menjemput ajal mu!"
"Klik!
๐๐๐
@Mana nih kopi dan bunga setaman nya, kasih BUNDA semngat biar Up terus ya, dan terus dukung Bunda dengan cara...
Sad banget, padahal naskah ini sudah di up jam lima sore kemaren. Terkadang Mt lamban untuk update nya.
๐like
๐vote
๐gift
__ADS_1
๐komen
@bersambung.....