
"Bagaimana hasilnya! Robert berdiri dari duduknya.
"Ini hasilnya Tuan! pria itu memberikan amplop berisi lembaran kertas pada Robert.
"Terimakasih kasih!
Pria itu keluar dari ruangan Robert. Dengan hati berdebar Robert menyobek amplop itu dan mengeluarkan lembaran kertas.
Robert bergeming dan menatap setiap kata demi kata ketikan diatas kertas. Matanya terbelalak sempurna, jantungnya berdebar cepat bagai habis lari maraton. Wajahnya terlihat pias dan pucat.
Kinanti terlihat bingung dengan raut wajah Robert yang tiba-tiba suram "Apa hasil tes DNA nya!" tanya Kinan penasaran.
Menatap nanar wajah Kinanti dan menyodorkan kertas itu padanya. Ia membaca baris demi baris dan tertulis 95% kalau Sabrina Anastasia adalah darah daging Robert. Senyum terbit di bibir Kinanti, seketika wajahnya berbinar cerah.
"Aku tidak pernah berbohong padamu, kalau Sabrina adalah anak kandungmu hasil dari perbuatan kita di masa lalu."
Robert tersenyum pahit "Andai saja kau tidak menggodaku dengan masuk kedalam kamar, semua itu tidak akan pernah terjadi Kinan!"
"Jadi kau menyesal?!" Kinan berdecak kesal "Mengapa kau mengungkit semua itu, kau juga menikmatinya bukan?" jangan pernah sesali apa yang sudah terjadi."
"Baiklah, aku sudah berjanji akan bertanggung jawab pada Sabrina dan mencari Dokter terhebat untuk mengobatinya. Tapi aku pinta padamu, jangan terlalu banyak menuntut karena aku juga punya keluarga."
"Kau tidak bisa seperti itu! anak dan istrimu sudah bahagia selalu berada di sisimu! sementara Sabrina? sejak dulu tidak memiliki seorang Ayah, apa salahnya kau harus datang dan beri perhatian penuh!"
"Kau jangan egois Kinan! kau tak berhak mengatur hidupku apalagi urusan istri dan anakku!"
"Tapi Sabrina juga anakmu!" seru Kinanti tak mau kalah.
"Aku tahu itu!" bentak Robert dengan kilatan mata yang membara. "Arrgh!" kau selalu buat aku emosi, Kinan!"
"Tok, tok, tok....
Mereka berhenti setelah terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan.
"Masuk!"
"Sori Robert menganggu, ada hal penting yang harus aku sampaikan." pria itu berjalan dan menoleh pada Kinanti yang berdiri tak jauh dari Robert."
"Dokter Kinanti! pekik Pria yang baru datang itu. "Kau ada disini? tatapan matanya terlihat terkejut.
"Dokter Arman?" sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabar mu? tanyanya basa-basi.
"Ahh! aku sangat baik."
Melihat raut wajah Robert dan Kinan sedang ruwet, Arman membatalkan niatnya.
"Nanti saja aku kembali, sepertinya kalian sedang membahas sesuatu. Maaf mengganggu." Armand berbalik dan meninggalkan ruangan Robert.
Robert menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan kasar. ia mengacak rambutnya karena frustasi. Berjalan kearah jendela dan menatap bunga-bunga yang terawat di depan jendela.
"Robert! bisa kah kau adil untuk Sabrina." Kinan berjalan mendekat dan berbicara pelan.
"Apa lagi mau mu?" sudah ku bilang, aku akan bertanggung jawab atas kesalahan masa laluku dan juga istriku yang tidak sengaja menabrak Sabrin!"
"Tadi Kau bertanya apa mau ku?!"
Robert menatap dengan sorot mata suram.
"Aku ingin kau kembali padaku dan memberikan kebahagiaan untuk Sabrina, menjadikan orangtua utuh untuknya." memeluk pinggang Robert dari belakang dan bersandar di punggung lebarnya
"Jangan pernah menggodaku lagi Kinan! melepaskan tangan Kinanti dari pinggangnya dan berjalan menjauh "Aku tidak akan khianati Davina, jangan pernah masuk dalam kehidupan kelurga kecilku!"
"Tidak adakah sedikit hati nurani mu untukku dan Sabrina! dia membutuhkan sosok pelindung dan seorang Ayah!"
"Huft! Robert meniup kuat "Harus berapa kali aku bilang, aku tetap bertanggung jawab sebagai ayah biologis nya, tapi tidak mungkin untuk hidup bersama kalian! kau adalah masa lalu ku Kinan! aku sudah memiliki keluarga!"
"Aku tidak meminta kau ceraikan Davina! tapi jadikan aku yang ke-dua dan kami bisa hidup berdampingan."
Robert gelengkan kepala kuat "Tidak semudah itu membangun dua kelurga, pasti ada yang tersakiti dan menuntut. Aku manusia biasa belum tentu busa adil!' ucap Robert disela ia membereskan berkas pasien diatas meja.
"Kurasa cukup sampai disini dulu pembicaraan kita, masih banyak urusan yang harus aku kerjakan. Aku harus mengadakan seminar!" Robert melangkah pergi meninggalkan ruangan.
"Robert tunggu!
Robert terus berjalan tanpa berhenti. Kinanti menyusul dan berjalan beriringan "Apa yang harus aku katakan pada Sabrina, bila kau benar ayah kandungnya?"
"Jelaskan saja, bukanlah dia juga sudah tahu, sekalipun dia bukan darah daging ku, aku tetap menganggapnya anak." berjalan lurus tanpa menoleh.
"Kalau begitu Ayo kita pulang dan bicarakan langsung pada Sabrina. Pasti ia akan bahagia! menarik paksa tangan Robert.
Robert menepisnya "Sudah ku bilang, aku sedang sibuk! aku akan tetap mengunjunginya. Tapi kau jangan menuntut ku setiap hari, Kinan! ucapan Robert penuh penekanan. Tatapan sinis nya membuat Kinan terdiam. ia mengalahkan kembali kakinya lebih cepat.
"JEGLEK!"
"Delena..."
"Kak Davin.."
Davina berjalan mendekat dan cipika-cipiki pada Delena yang masih berbaring diatas ranjang.
"Wah cakep nya keponakan Tante." Davina menatap nanar bayi mungil di samping Delena, ia mengangkatnya seraya menciumi pipi bayi imut itu.
"Mami Chika mau cium! Davina mendekatkan bayi yang baru lahir itu ke bibir Chika.
"Mami adiknya boleh bawa pulang?" tanya Chika polos.
"Ehh, nanti Mas Vano sama Mbak Vana nya marah dedek nya kita bawa pulang."
__ADS_1
Delena terkekeh.
"Dimana kak Robert? apa dia tidak ikut?"
Davina mendesah pelan. "Dia masih sibuk, banyak seminar keluar kota, dia juga mengucapkan selamat atas kelahiran anakmu yang ketiga."
"Iya tidak apa-apa kak! yang penting do'a nya sudah sampai."
"Dimana yang lain, kok sepi?"
"Mas Reno, ibu dan Vana sedang ke cafe untuk makan siang. Frans, fany, Tante Siska dan kak Tommy sudah pulang. Mama dan papa sedang istirahat di paviliun. Vano tadi ada, lagi ke kantin sebentar beli kopi katanya."
"Baby mu cowok atau cewek, Den?
"Laki-laki kak!"
"Wah pantes ganteng. Vana ditengah-tengah diapit dua laki-laki hebat."
"Owek ... owek ... owek...
Tiba-tiba bayi dalam gendongan Davina menjerit.
"Cep, cep, cep... ci ganteng nangis, haus ya? Davin yang sedang menggendong baby Delena terlihat panik, karena suara tangisannya sangat keras.
"Kau udah bisa miring untuk menyusui?"
"Belum kak! baru tadi pagi sesar nya."
"Ya sudah sebentar aku panggil suster dulu."
"Tekan tombol di kepala ranjang kak, nanti suster akan datang."
"Kacian dedeknya haus ya." suster menggoda bayi imut itu.
"Biar aku susui dulu Bu? pinta suster pada Davina. Ia memberikannya.
"Loh! ibu sama Nyonya Delena kembar ya? mirip banget nggak ada bedanya." tanya Suster bingung, melihat mereka berdua bergantian.
"Iya, saya kakaknya Delena, cuma selisih tujuh menit kata ibuku."
"Oohh..."
"Nyonya Delena, apa masih belum bisa gerak?
"Belum sus..."
"kalau sudah 24 jam, bisa di coba miring ke kiri dan ke kanan. Ada yang dua hari sudah bisa duduk dan tiga hari bisa berjalan. Namun itu tergantung kondisi si pasien."
"Iya sus, akan saya coba."
"Tapi jangan di paksa ya, takut jahitan belum kering benar."
Delena mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi, Nyonya. kalau ada apa-apa bisa kabari kami."
Suster membawa baby Delena untuk diberikan susu formula khusus bayi. Bersama dengan keluarnya suster, Vano datang.
__ADS_1
"Tante! Chika..!'
'Kak Vano..." Chika berlari dan memeluk sepupunya "Chika kangen kakak!
"Kak Vano juga kangen Chika." mengusap kepala gadis imut yang terpaut lima tahun itu.
"Tante.." Vano dan Davina saling berpelukan layaknya seperti anak kandung sendiri.
"Wah lama tidak bertemu, kamu sudah tumbuh besar dan ganteng. Akhirnya bisa bertemu jagoan Tante." Davina mengusap airmatanya yang sudah menetes.
"Tante kenapa menangis? Vano mengusap punggung Davina.
"Tidak apa-apa, hanya bila melihatmu. Membuat Tante merasa bersalah." hiks... tangisan Davina semakin dalam. Vano merasa iba, ia membawa Tante nya duduk di sofa dan memberikan gelas berisi air putih.
"Minumlah dulu, supaya Tante tenang."
Terimakasih Van! meneguk air pemberian vano.
"Kak! jangan pernah mengingat kembali masa lalu, semuanya sudah terjadi dan ambil hikmah dari setiap kejadian itu. Sekarang Kaka sudah jadi seorang istri yang baik untuk kak Robert dan ibu yang terbaik buat Chika."
Mendengar nasihat adiknya, Davin menangis terisak dan semakin dalam tangisannya. Delena jadi bingung dan merasa bersalah. "Kak ma'afkan Dena, bila menyinggung kakak."
"Tidak Dena kamu tidak bersalah, yang kamu katakan benar. kakak hanya lagi sensitif, ma'af ya." ucapnya dengan suara bergetar.
"Tante istirahat di paviliun ya, pasti Tante lelah." Vano menyarankan.
"Ceklek!"
Masuk Reno, Vana dan Helena. Melihat ibunya datang Davina beranjak dari duduknya.
"Ibu..."
"Davina.."
Davina langsung memeluk ibunya, ia masih menangis terisak. Merasakan pelukan hangat seorang ibu, bisa menenangkan hati Davin yang tidak baik. kondisi rumah tangganya sedang di terpa ujian, Davin hanya ingin mendapat ketenangan dari orang-orang terdekat yang menyayanginya.
Helena mengusap lembut punggung anaknya. "Ayo kita duduk dulu?" Helena mengurai pelukannya dan duduk di sofa bersama Davin.
"Chika salam sama Oma dulu." perintah Davin.
Chika mendekat dan mencium punggung tangan Helena. Dengan kasih sayang Helena mencium kening dan kedua pipi cucunya.
"Dimana Robert...? Helena bertanya seraya mencari sosok mantunya itu.
๐๐๐
@Adanya Pelakor itu tergantung dari sikap seorang pria, bila imannya kuat berbagai cobaan yang datang mendekat, ia tidak akan mudah tergoda dan mempertahankan rumah tangganya. Tolong ya reader ini hanya Novel, jngan terlalu tanggapi berlebihan. Semua orang juga memiliki masa lalu dan kita harus bisa belajar dari masa lalu agar lebih baik di masa depan ๐ค
@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat ๐ช nulis๐
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
๐like
๐vote
๐gift
๐komen
__ADS_1
@bersambung.....