ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 kepergian Zevano


__ADS_3

Semua orang yang mendengarkan tercengang dan gelengkan kepala. keadaan kembali memanas, kelurga Kinanti tidak terima dan meminta keadilan dengan penjara seumur hidup.


"Tok! tok! tok!


"Tenang semua! keputusan akhir akan saya bacakan!" ucap hakim ketua.


"Tuan Herman Paris, apa masih ada yang akan anda tanyakan pada terdakwa?" tanya penuntut umum.


Herman Paris menatap wajah Dokter Arman yang terlihat bersedih dan menitikkan airmata. Ada luka yang mendalam atas musibah yang sudah kejadian.


"Satu pertanyaan lagi."


"Dikabulkan."


"Dokter Arman, apa anda menyesal? setelah kejadian penabrakan itu memakan korban?"


"Lagi-lagi Wajah Arman tertunduk sedih "Tentu saja saya menyesal, karena semua kejadian itu diluar batas nalar sehat saya, tanpa adanya perencanaan."


"Baiklah, terima kasih atas jawaban anda, semoga semua perkataan anda benar tanpa rekayasa. Dan keputusan mutlak di tangan ketua Hakim dan jajarannya. Saya harap Anda ikhlas menerima keputusan pengadilan"


Dokter Arman hanya mengangguk tanpa mengangkat kepalanya.


Herman Paris beralih pandangan pada hakim ketua sebagai orang yang di hormati di persidangan. "Silakan yang mulia, saya sudah selesai bertanya."


"Baik, terima kasih, Tuan Paris."


Hakim ketua membetulkan kacamata minusnya yang merosot kebawah. Ia mulai membaca dakwaan untuk Dokter Herman dan supir nya. "Setelah kami mendengarkan cerita dan keluhan Dokter Arman. Kami menimbang kembali masa hukuman terdakwa. Nyonya Anna, istri dari Dokter Arman sudah kami mintai keterangan. Dan benar Nona Kinanti datang menemuinya, untuk menceritakan perselingkuhan masa lalunya bersama Dokter Arman suaminya."


Pembunuhan tidak dengan sengaja. Diatur dalam Pasal 359 KUHP: โ€œBarang siapa karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain, tanpa terencana. Diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. Bila terdakwa berkelakuan baik dan menjalani hukum dengan benar, masa tahanan bisa kurang dari lima tahun. Serta denda di bebankan oleh terdakwa."


Arman sedikit bernafas lega, istrinya telah membantu meringankan beban dari masa hukumannya dengan berbicara sebenarnya.


"Selanjutnya untuk Bapak Yoga, selaku supir pribadi Dokter Arman, walau tidak ada kesengajaan, namun, Bapak yoga berada dalam satu mobil. Masa hukuman kami berikan dua tahun penjara, berserta denda di bebankan oleh terdakwa.


Demikianlah keputusan yang kami berikan dengan pertimbangan matang dalam keadaan akal sehat tanpa tekanan dari pihak manapun.


"Tok! tok! tok!"


"Sidang kami tutup!"


"Saya tidak terima! teriakan itu terdengar dari keluarga Kinanti "ini tidak adil" kenapa dia yang membunuh anak saya, dan menabrakkan mobilnya hanya diberi hukuman lima tahun penjara, itupun masih bisa dikurangi masa hukumannya!!" wanita paruh baya itu berjalan ke depan persidangan sambil menjerit-jerit "kami meminta keadilan untuk anak saya pak hakim! teriak wanita paruh baya itu.


Polwan berbalut coklat, menenangkan wanita paruh baya itu, dan mengiringnya untuk keluar dari ruangan persidangan.


Dokter Arman langsung sujud syukur, karena masa hukumannya tidak begitu berat. ia maju kedepan persidangan dan bersalaman pada Bapak dan ibu penegak hukum yang sudah memutuskan masa hukumannya.


Sebelum polisi membawa Arman keluar dari persidangan. Ia meminta izin untuk menemui Dokter Robert, sahabat sekaligus orang kepercayaan nya sebelum kasusnya mencuat.


"Saya mohon Pak, izinkan saya berbicara sebentar dengan Dokter Robert."


"Baiklah, kami beri waktu sepuluh menit."


"Terima kasih Pak!"


Dokter Arman berjalan mendekat kearah Robert yang ingin meninggalkan ruangan sidang.


"Dokter Robert, tunggu!"


Robert menoleh, Dr Arman berjalan dan menjatuhkan dirinya di kaki Robert "Ma'afkan semua kesalahanku."


"Arman, jangan seperti ini." Robert menarik tubuh Arman dan memeluknya "Kau juga korban, aku tahu kau lakukan itu karena terdesak."


"Tapi aku sudah membunuh Kinanti. Demi Tuhan! tidak ada maksud sedikitpun untuk membunuhnya, semua terjadi begitu saja."


Robert melepas pelukannya. "itu sudah takdir Kinanti, hidup matinya seseorang hanya Tuhan yang tahu." ucapnya tulus, seraya menepuk pundak Arman.


"Anda tidak dendam dan marah pada saya dokter? ucapnya lirih, bersamaan jatuhnya tetesan airmata.

__ADS_1


"Dendam?" untuk apa. Aku tidak pernah dendam pada siapapun. ini adalah takdir yang harus kita jalani, Man! dendam hanya akan merusak batin kita. Mintalah ampun pada Allah, sebagai bentuk permohonan maaf mu pada Kinanti, kirimkan dia do'a agar tenang di alam sana."


"Iya Dok, terima kasih banyak. Akan saya ingin pesan Anda. Lalu bagaimana dengan Sabrina? Ma'afkan saya sudah merubah surat DNA itu."


"kau tidak usah khawatir tentang Sabrina. Aku tetap akan mengurusnya sampai sembuh. Karena istriku juga bersalah. Aku dan istriku tetap akan menganggap Sabrina anak kami. Selesaikan masa hukuman mu, lalu kau bisa menemui Sabrina."


"Sekali lagi terima kasih. Tolong jaga Sabrina, suatu saat saya akan datang dan menjemputnya."


"Tentu, Sabrina sudah bagian dalam hidup kelurga kami."


"Saudara Arman, waktu anda sudah habis. Silakan ikut kami." seorang polisi memperingati.


Arman mengangguk dan berjalan pergi bersama petugas kepolisian.


"Ayo kita pulang!" tekan Reno dan berjalan keluar dari persidangan, di Ikuti Robert, Davina, Vano dan tim pengacara.


"Tuan Herman Paris Terima kasih banyak atas bantuannya." ujar Reno dan berjabat tangan.


"Sama-sama Tuan Reno, senang bisa bekerjasama dengan Anda."


"Pembayaran sudah ditransfer oleh asisten saya. Bisa dicek, kalau ada apa-apa hubungin saya." ucap Reno di sela langkahnya masuk ke dalam mobil.


"Siap Tuan!"


Mobil melaju meninggalkan kantor persidangan.


Hari-hari Robert dan David berjalan dengan harmonis. Kini mereka kini hidup bersama Chika dan Sabrina. Davina dengan tulus mengurus Sabrina seperti anak kandungnya sendiri. Kini hubungan Robert dan Davina semakin harmonis, tidak ada lagi orang ketiga dalam rumah tangganya.


Sebulan kemudian, Amelia ibu kandung Robert meninggal dunia, ia terjatuh dari tangga saat akan turun kelantai bawah. Sarah merasa bersalah telah meninggalkan ibunya saat terjatuh. Hari ini Robert akan membawa Sabrina keluar negeri untuk mengobati kakinya.




Di tempat lain, Vano merasa bersedih harus meninggalkan keluarganya. Dua koper sudah ia masukkan kedalam bagasi.




Makan yang banyak Vano. Mommy yang masak ini semua."



"Aku pasti akan merindukan masakan Mommy."



"kalau Zidan sudah berusia dua tahun, mommy yang akan mengunjungi mu."



"Iya Mom!



Selesai makan, mereka berjalan keteras.



"Mommy ma'afkan Vano, bila selama ini banyak salah dan belum bisa jadi anak berbakti."



Delena membingkai wajah Vano "Tidak Nak, kau anak yang baik dan berbakti, jaga dirimu baik-baik disana, jauhi pergaulan bebas, jangan salah memilih teman. Dan beri perhatian pada Grandma dan Grandpa, mereka sudah tua."


__ADS_1


"Oke Mom! Delena memeluk erat anak lelakinya yang sudah beranjak dewasa.



Setelah melepas rindu pada sang ibu, Vano mendekati saudara kembarnya yang sejak tadi sudah menangis "Vana!" mengusap airmata adiknya "Hey, aku hanya pergi ke rumah Oma dan Opa, kau bisa menyusul, bukan?"



"Hiks.. hiks.. Vana berhambur memeluk kakaknya. "Tidak ada teman yang akan jahilin aku lagi, nggak ada tempat curhat dan berbagi keluh-kesah."



"Hey, kau sudah dewasa, belajarlah selesaikan masalahmu sendiri. Kakak akan menjaga mu dari jauh, dan selalu ada untukmu. Bila kangen, bisa Vidio call kakak. Ok!" Vano mengurai pelukannya dan mengusap lembut kepala adiknya.



"Jaga dede Zidan" Vana mengangguk.



"Mas berangkat dulu yank." Reno mencium kening istrinya.



"Mas, salamkan buat Mama dan Papa, ingin sekali aku ikut kalian, tapi Zidane masih kecil."



"Kain kali saja kita bersama-sama pulang ke Jerman menemui Papa dan Mama, Zidane dan Vana bisa ikut serta."



"Iya Mas!"



Reno menoleh kearah Vano, yang masih menenangkan adiknya. "Hey son, cepatlah waktu kita tak banyak."



"Oke Dad!



"Vana, don't cry! Reno memeluk Vana "Jaga Mommy dan Zidan. Daddy hanya tiga hari disana." mencium kening anak gadisnya.



Vana hanya mengangguk kecil dan mengusap sisa jejak airmatanya.



Reno dan Vano masuk kedalam mobil. Mobil berjalan keluar dari gerbang mansion menuju bandara internasional.



๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ



@Maaf tidak bisa update setiap hari, karena sibuk di real buat kue๐Ÿคญ


Alhamdulillah kita sudah berada di penghujung bulan suci Ramadhan, semoga puasa dan amalan kita di terima Allah SWT.



๐Ÿ’œ Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2