
Delena membaringkan tubuhnya dengan perasaan canggung, Reno tidur disamping istrinya dan memiringkan tubuhnya menghadap Delena
"Yank,, miringkan tubuh mu, tidak sopan tidur seperti mayat" gerutu Reno, karena tidak mau berdebat Delena memiringkan tubuhnya berhadapan dengan Reno, kita kedua saling bersitatap, Reno menaruh saru tangan nya ke pinggang Delena.
"Mas kangen bnget yank, setahun mas tidur sendiri tanpa kamu di sisi mas"
"Maafkan aku mas,,,," ucap delena merasa bersalah.
"Kau tidak salah yank" Reno mencium kening istrinya dan___
"Mas,, jangan sekarang ya, beri aku waktu"
Reno tersenyum "Ya sudah tidurlah"
Delena memejamkan matanya perlahan, Reno menatap wajah istrinya, dan mengelus kepala nya penuh kasih sayang, hingga akhirnya ia pun tertidur pulas bersama Delena.
Delena menggeliat, semua persendian nya terasa sakit bekas jatuh tadi, suhu badannya mulai menghangat, ia baru saja tersadar sebuah tangan kekar masih berada di pinggangnya, tidak bergeser sedikit pun, Delena membuka matanya menatap lekat wajah tampan suaminya penuh cinta, ia begitu terharu dengan cerita Reno tadi, "Mas,, kau begitu setia menunggu ku sampai aku terbangun dari koma, setahun lama nya kau menunggu ku" butiran bening sudah berjatuhan, Delena mengelus lembut pipi Reno dengan punggung tangannya, "Kau begitu setia dan tidak mencari wanita lain mas,, begitu berarti kah diriku bagi mu" tangisan Delena semakin dalam "Maafkan aku mas telah meninggalkan mu karena keadaan ku saat itu" Delena memainkan bulu alis nya yang lebat dan hitam dengan jari telunjuk, "Kau masih tampan seperti dulu mas, tidak berubah sedikit pun, hanya tubuh mu sedikit kurus tidak sekekar dulu, tapi percayalah aku masih sangat mencintaimu, apapun perubahan mu mas" dari alis turun ke hidung, Delena menoel noel ujung hidung mancung suaminya dengan telunjuk, ia tertawa kecil, ada kebahagiaan dalam dirinya, kini ia benar-benar sudah berada di dunia nyata dan berdampingan dengan orang orang yang ia cintai, "Mas,, ini nyatakan? aku tidak bermimpi kan,,,? gumaman kecil Delena terdengar lirih, hingga jari itu berhenti di bibir Reno yang bervolume dan tiba-tiba.
"Aaaaaaaakkhhh"
"Ada apa sayang,,,?! kenapa kau berteriak? Reno tiba tiba terbangun dari tidurnya dan terduduk.
"Kau mengigit jari ku mas" Delena mengibas ngibas kan tangannya
"Mana yang sakit,,?! Reno menarik tangan Delena dan melihat ujung jarinya dan ia masuk kan kedalam mulutnya, jari itu di emutnya.
"Mau apalagi mas"
"Sudah tidak sakit kan,,?!
"Mas ngapain siih gigit telunjuk aku"
"Telunjuk nya yang nakal yank, dari tadi mainin alis dan hidung mas, terus bibir ini menggigit karena gemes"
"Ja__jadi mas dengar semua ucapan ku tadi? tanya Delena gugup, sambil menelan salivanya
"Tentu saja sayang, mas mendengar suara mu, bahkan kau ragu ini nyata atau mimpi, makanya mas gigit biar kau percaya ini dunia nyata dan bukan halusinasi"
Reno mencium kening istrinya "Kenapa kau menangis?! mengusap lembut airmata Delena "Aku mendengar semua ucapan mu sayang, kau benar, aku ini suami setia yang tidak akan pernah berpaling darimu, karena aku sangat mencintai istriku, forever honey"
"Mas,, hiks,, hiks,, hiks,,," Delena masuk kedalam pelukannya suaminya dan menangis terisak "Terimakasih atas kesetiaan mu selama satu tahun ini mas" hiks,, hiks,, hiks
"Kau tadi bilang apa,,? aku tampan,,? ya,, ya,, tentu saja, suamimu ini memang sudah tampan sejak lahir, tidak usah diragukan lagi honey,,," puji Reno pada diri sendiri,
"ish dasar kepedean,,' Delena mencubit perut suaminya, Reno malah tergelak
"Aku sangat bahagia dan terus bersyukur atas keajaiban yang Allah berikan, kini aku tidak tidur sendiri lagi, hari hari ku akan dipenuhi tawa serta canda anak dan istriku, bahkan aku tidak kesepian lagi dengan suara manja mu, bercerita dan bersendau gurau bersama" Reno tersenyum sumringah.
"Iya mas,, aku tidak ingin berpisah lagi darimu"
__ADS_1
"Tidak lagi sayang, semoga kita di beri umur panjang sampai Devano dan Denisa tumbuh dewasa, dan kita menua bersama"
"Mas, aku sangat bahagia memiliki mu, cinta mu yang telah membangun kan aku dari tidur panjang ku, terima kasih mas" Delena mencium bibir Reno.
"Cup,,!
"Istriku sudah mulai menggoda"
"Kecupan manis untuk suamiku yang sudah sabar menunggu ku" bibir Delena tersenyum merekah.
Saat Reno Ingin mencium bibir istrinya, telunjuk Delena mendarat dibibir Reno.
"Jangan sekarang mas, aku sedang datang bulan, lagi juga badan ku sedang tidak fit"
Reno membelalakan matanya "Kenapa harus sekarang sih yank? kapan selesainya?
"Baru kemaren tamunya datang, tunggu lima hari lagi baru aku beres" Delena tertawa kecil.
"Tega kau yank" ucap Reno datar dengan ekspresi datar.
"Sabar donk mas,, akan indah pada waktunya"
Reno hanya bisa menghela nafas panjang "Yank, sudah sore,, yuk kita jalan jalan ke danau, bersama si kembar"
"Mas,, aku kurang enak badan, tadi saat terjatuh dari tangga semua badan ku ngilu"
"Nggak usah Mas, biar nanti aku minta tolong sama ibu, dari dulu juga kalau aku sakit, selalu ibu yang mengurut aku, kalau aku sering kecapean dan pegel linu"
"Ya sudah nanti aku yang bilang sama ibu, kalau kau tidak enak badan, ya sudah besok saja ke danaunya, kau tidak usah mandi"
"Aku akan mandi sebentar dengan air hangat Mas"
Dret,, dret,, dret,,"
Suara ponsel Reno bergetar, ia melihat panggilan masuk dari Andini.
"Hallo mah,,,?
"Reno,, Mama dan papa ada di bawah"
"Apa,,,?! mama ada disini,,?!
"Iya, mama di telpon Ny Helena tadi, kalau Delena sudah sadar, cepat turun lah, mama sudah tak sabar ingin bertemu Delena"
"Iya mah, aku akan turun bersama Delena"
"Mas,, mama datang ke sini?!
"IYa Yank, Mama dan Papa ada di bawah, sedang menunggu kita"
__ADS_1
"kalau begitu aku mau mandi dulu sebentar, baru kita tahun kebawah"
"Ya sudah mandilah dulu, mas tunggu ya, ingat jangan terlalu lama kau sedang tidak enak badan, pakai air hangat ya"
"IYa Mas,,," Delena beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi, lima belas menit kemudian ia kluar dari kamar mandi, berjalan menuju ruangan ganti, ia membuka lemari, dan masih banyak pakaian Delena yang tersimpan dengan rapih.
"Mas,, kau masih menyimpan semua pakaian ku?!
"Tentu saja sayang"
Delena mengambil salah satu pakaian, setelh ia memakai baju kesayangn nya, Delena menatap dirinya di depan cermin dengan mata berkaca kaca, melihat istrinya hanya terdiam di depan cermin, Reno mnghampiri dan memeluk pinggang Delena dari belakang.
"Kenapa sayang,,,? Reno memiringkan kepalanya "Haiii,, kenapa kau menangis"
"Mas,, lihat, tubuh ku mulai kurus, bahkan baju ini kelonggaran, dan pipiku terlihat tirus"
Reno membalikkan tubuh istrinya "Sayang, kau tidak usah khawatir ya, kalau kau banyak makan pasti akan berisi lagi tubuhmu"
"Aku takut mas tidak suka melihat aku kurus, nanti mas akan melirik wanita lain diluar sana yang lebih cantik dan seksi"
"Delena, ucapan macam apa itu? apa kau tidak percaya dengan suami mu? aku sudah bilang berkali-kali apapun dirimu, bagaimna pun keadaan mu, aku tetap mencintai mu, bagiku kau sangat sempurna dimata ku, kau adalah bagian dalam hidupku"
Reno menarik Delena dalam pelukan nya, "Jangan pernah berkata itu lagi, kau baru saja sembuh, aku tidak ingin kau sakit lagi, jangan banyak pikiran yank, sudah saatnya kita hidup bahagia bersama kedua anak kita"
Delena mengangguk sambil terisak.
"Ya sudah, ayo kita turun kebawah, mama dan papa sudah menunggu, jangan menangis lagi" Reno mengusap lembut airmata Delena dan mereka berdua berjalan keluar kamar.
'
'
'
'
'
'
'
@BERSAMBUNG
@jangan lupa untuk
LIKE, VOTE/GIFT, RATE BINTANG 5, DAN KOMENTAR POSITIFNYA
@Happy Reading 😍
__ADS_1