ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Vano siap siaga


__ADS_3

"Ya Tuhan Vano, Ayo masuk. Pasti kau lelah kan? sudah istirahat dulu, Mommy buatkan minum."


"Ded!


"Vano! duduk lah disini."


Vano mencium punggung tangan ayahnya dan duduk disamping Reno. Dua pria hebat itu sedang berbincang serius.


Delena datang dari dapur membawa dua cangkir gelas berisi kopi untuk suaminya dan susu putih untuk anaknya.


"Ayo Van minum dulu susunya, kau pasti haus bukan."


"Vano mau minum air putih dingin Mom, haus sehabis lari maraton dengan anjing helder." Vano berlari ke dapur untuk mengambil air dingin dan meneguk nya hingga habis.


Reno mengagkat cangkir kopi dan menyeruputnya perlahan.


"Mas, aku siapkan air hangat untuk mu."


Reno mengagguk dan menyerahkan tas kerja pada Delena, saat Delena baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba kepalanya seperti berputar, tas ditangan nya terjatuh. Reno yang melihat istrinya hampir terjatuh dengan cepat merangkul pundaknya.


"Sayang, kau kenapa?


"Nggak tau Mas, tiba-tiba kepala ku pusing dan perut ku seperti di aduk-aduk."


"Mungkin kau kecapean, ayo kita ke kamar." mengangkat tubuh istrinya menuju lift, Saat melihat Vano masuk kedalam kamar, Delena berseru.


"Vano cepat habiskan susunya."


"Oke Mom!


Delena menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya. Melihat kemesraan Mommy dan Daddy itu, sudah biasa bagi Vano dan Vana, justru mereka bangga bisa melihat kedua orangtuanya rukun dan tidak pernah melihat bertengkar, mereka saling menyayangi dan setiap hari terlihat romantis, Vano dan Vana akan terus belajar dari kedua orang tuanya, agar kelak dewasa dan menikah bisa menjadi sosok seperti kedua orang tuanya yang ia banggakan. Banyak anak-anak seusia Vano yang orang tuanya bercerai dan menjadikan anak broken home, hingga mereka kurang mendapatkan kasih sayang. Vano dan Vana sangat bersyukur dan bangga di lahirlah dari rahim seorang ibu yang baik dan penyayang, dan seorang Ayah yang tulus mencintai istri dan anak-anaknya.


Didalam kamar, Reno membaringkan tubuh Delena diatas ranjang, menaruh bantal menjadi dua tumpak dan meletakkan kepalanya Delena, agar istrinya nyaman.


"Apa masih pusing? tanya Reno lembut, menggeser anak rambutnya yang tertutup mata, dahi Delena berkeringat, menahan rasa pusing yang menderu, Reno mengusap pelan keringat istrinya.


"Obat apa yang biasa untuk pusing?!


"Aku jarang pusing Mas, biasa minum obat tablet, tapi sebentar juga hilang."


"Ya sudah aku mandi dulu ya, kau istirahat saja." Reno menyelimuti tubuh istrinya dan mencium kening. setelah melepas pakaian ia masuk kedalam kamar mandi.


Reno sudah selesai mandi dan memakai kimono. Melihat Delena sudah tertidur, ia naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping istrinya seraya memeluk tubuh Delena yang tidur menyamping.


Malam semakin larut, Vana yang sejak tadi berada di dalam kamar, ternyata sudah tertidur dari sore, tiba-tiba ia terbangun dengan keringat di sekujur tubuhnya, ia tadi sempat mengecilkan volume AC. Vana beranjak dari ranjang dan berjalan keluar kamar, membuka pintu kamar Vano.


"Kak! sudah tidur kah?!


"Ada apa Dek!


Vana berjalan mendekat dan duduk diatas ranjang. "Aku tidak bisa tidur kak!


"Kenapa memang?!


"Aku mimpi buruk!"


"Mimpi apa Dek." ucapnya sambil terus main game tanpa menoleh pada adiknya.


"Mommy ada yang jahatin, juga anak bayinya"


"Hah? maksudnya anak bayi yang mana? yang kau maksud kita berdua? sudah lah Dek, gak usah dipikirin kan hanya bunga tidur."


"Bukan kita kak, aku melihat Mommy membawa bayi dalam gendongan nya, terus ada yang mengejar-ngejarnya, gitu!" gerutu Vana, karena yang di ajak bicara masih sibuk dengan iPad ditangannya.

__ADS_1


"Itu kan hanya mimpi Dek, sudah jangan dipikirkan ya, makanya sebelum tidur baca doa dulu." terang Vano.


"Aku takut kak, aku tidur disini ajah ya."


"Ya sudah tidur saja."


Vana membaringkan tubuhnya di samping vano, tempat tidur itu memang luas, bisa untuk tiga orang.


Tiba-tiba ponsel Vano berdering. "Siapa yang menelpon malam-malam begini?! vano yang masih asyik main game mengabaikan panggilan itu. Telpon berdering untuk kesekian kalinya.


"Kak! angkat teleponya dulu, siapa tau penting!


"Paling si mata empat, sering ganggu kakak dia, sudah abaikan saja."


Vana yang kesal beranjak dari ranjang dan berjalan kemeja belajar, mengambil ponsel dan melihat nama si penelpon."


"Om Frans yang menelpon?


"Hah? Om Frans? Vano mengambil ponsel dari tangan Vana dan menggeser tombol warna hijau.


"Hallo, Om ada apa?!


"Van, apa Daddy sudah tidur?! terdengar suara Panik dan tercekat dari ujung telpon.


"Sepertinya sudah Om, biasanya Daddy dan Mommy suka turun dan masuk kedalam kamar, tapi ini tidak turun. Ada apa Om?!


"Ada perlu banget sama Daddy. Ponselnya tidak aktif."


"Sama Vano saja Om, nanti Vano sampaikan."


"Tadi om dapat info dari perusahaan anak cabang, gudang onderdil pembuatan kapal pesiar terbakar."


"Apa...?! Vano terkejut.


"Sepertinya ada yang merusak sistem perusahaan, hingga ada sebagian orang yang mencari keuntungan dengan terbakarnya gudang."


Didalam kamar, Delena terbagun dari tidurnya dan merasakan mual di tenggorokannya. ia menoleh kesamping dan melepaskan tangan kekar suaminya. Tapi tangan Reno kembali mengerat di perut Delena.


"Mas lepaskanlah, aku eneg bau tubuhmu! perut ku mual terasa di aduk-aduk." gerutunya tidak ingin di peluk laki-laki yang sudah memberikan anak kembar.


Dengan kesal Delena melepas tangan Reno dan berlari ke kamar mandi, menumpahkan isi perutnya.


"Huek,, huek,, huek,,


Menyalakan kran air dan mencuci wajahnya.


"Sayang, kau kenapa? Reno sudah berdiri di belakang punggung Delena.


"Entahlah Mas, tiba-tiba aku mual, karena pusing sejak sore tadi masih masih terasa."


"Apa kau sakit? Reno menaruh punggung tangannya di dahi Delena. "Tidak panas. atau mungkin kau makan pedas, jadi lambung mu sakit."


"Aku tidak makan pedas kok Mas."


"kalau begitu kita periksa ke dokter ya, Mas sangat khawatir."


"Tidak usah Mas, setelah isi perut dimuntahkan semua, Sudah agak mendingan, tidak mual lagi."


Terdengar suara ketukan di depan pintu "Siapa yang mengetuk pintu malam-malam? siapa di luar pintu Mas?


"Ya sudah Mas bukakan dulu."


Mereka keluar dari kamar mandi, Reno membuka pintu.

__ADS_1


JGLEK


"Daddy!


"Vano ada apa?! Reno mengeryitkan dahinya melihat wajah Vano Panik.


'Om Frans baru saja telepon, katanya gudang cabang onderdil kapal pesiar terbakar."


"Apa...? Reno mengambil ponsel diatas nakas, mengaktifkan ponsel dan menghubungi Frans.


"Vano, kau belum tidur?


"Iya Mom, tadi Om Frans telpon. Mom! wajah mommy terlihat pucat, apa Mommy sakit?


"Tidak apa-apa, hanya tadi sedikit mual. Adikmu sudah tidur?!


"Ada di kamar ku! tadi ia terbangun katanya mimpi buruk."


"Anak itu terlalu banyak menghayal."


Terdengar suara Reno yang meninggi, entah siapa yang sedang ia telpon, wajahnya terlihat merah dan gusar, rahangnya mengeras seperti menahan kekesalan.


"Kalau begitu, kalian tunggu aku disana! Frans sudah lebih dulu kearah gudang."


Telpon terputus, Reno menghela nafas kasar.


"Sayang, aku harus pergi sekarang! Reno masuk kedalam ruangan ganti, untuk menukar baju.


"Dad! are you okay..? Vano merasa prihatin.


"Daddy selalu baik-baik saja, kalian tidak usah khawatir."


"Boleh aku ikut Daddy?!


"No! ini bukan urusan anak kecil, kau jaga Mommy, Okey? Mommy sedang tidak baik."


"Okeh Dad!"


"Sayang, aku pergi dulu." mencium kening dan pipi istrinya "Jaga dirimu baik-baik."


"Kabari aku kalau ada apa-apa, agar aku tidak khawatir, Mas!"


"Iya! aku berangkat dulu ya."


"Mom! tidak apa-apa bukan, aku tinggal sendiri? Vano ingin tidur."


"Tidurlah sayang, ini sudah jam satu."


Vano dan Reno turun kelantai bawah. Di depan teras sudah ada beberapa anak buah Reno sudah menunggu, Mobil mereka sudah pergi meninggalkan mansion


Setelah menutup pintu, Vano berlari kedalam kamar dan mengambil laptopnya. Ia membuka situs dan mencari kata sandi untuk membuka data perusahaan pribadi Daddy nya, setelah mengakses. Vano terkejut ternyata ada yang ingin meretas perusahaan "Mahesa group' padahal Vano sudah menutupnya. namun, ada yang membobol pertahanan yang pernah ia buat, beruntung Vano mengetahuinya sebelum terlambat.


"Kalian ingin menantang ku! baiklah akan aku ladenin, jangan pernah tampak kan wajah kalian di depan Zevano Mahesa! ucapnya sinis, ada seringai di wajah dinginnya, tersungging senyuman mengejek.


Vano terus mengirimkan dan menyerang balik virus-virus yang mematikan, pada seseorang yang telah meretas perusahaan Daddy nya, Pria remaja yang terlahir dari keluarga jenius, bisa melakukan apa saja termasuk menyerang dan membuat virus. kecerdasan Vano otodidak dalam menggunakan IT. Tanpa Reno sadari, anak kandungnya sendiri yang telah membantu menjaga perusahaan nya.


Serangan demi serangan Vano berikan, tangan dan otaknya terus bekerja dan terus mengirimi virus sampah.


"Mati kau! seru Vano. dan benar saja orang yang meretas perusahaan Reno berhenti tidak berani mengirimi virus lagi, mereka tidak bisa meretas dan menjebol pertahanan yang Vano buat.


*


*

__ADS_1


*


@Bersambung.....


__ADS_2