
"Mas mau pergi begitu saja? kau melupakan diriku sebelum pulang." mengerucutkan bibir.
Tommy menepuk jidatnya dan memutar balik berjalan kearah Siska yang masih setia berdiri. Menangkup kedua pipinya yang berwarna pink, lalu mencium pipi dan keningnya mesra.
Terakhir mendaratkan sebuah ciuman dibibir merah Siska, begitu ranum bak buah delima."
"I love you my honey" kata kata itu begitu indah terdengar, melelehkan hati Siska seketika.
"I love you to, Mas Tommy." tersenyum manis.
"Aku pulang ya, tidur yang nyenyak."
Mobil Tommy sudah pergi meninggalkan Mansion keluarga Mahesa dengan hati lega.
Keesokan harinya....
Pagi itu ada yang beda dari seorang Siska, ia sudah bangun pagi hari, hal yang jarang Siska lakukan. Mandi pagi lalu membereskan tempat tidurnya sendri. Biasanya ia seringkali bangun siang dan meningglkan tempat tidur yang berantakan. Apalagi kalau ada pekerjaan yang mengharuskan ia bangun pagi, Andini lah yang sering membangunkannya. Bila terlambat sedikit saja ia sudah pasti teriak teriak dan memaki para pelayan, membuat para pelayan ketakutan bila berurusan dengan Siska.
"Kamar harus bersih, pakaian ku di susun yang rapi, seprai tempat tidur harus di ganti dua hari sekali. Tempatkan semua sepatu ku di raknya. Tas ku branded semua, hati hati menaruh di lemari jangan sampai lecet!" Begitu lah Siska kalau lagi perintahkan pada semua pelayan. Mereka yang sudah terbiasa dengan sikap Siska hanya mengangguk pelan.
Kini Siska seolah sedang merubah sifat buruknya dimasa lalu. Tommy telah membuat hidup Siska lebih berwarna, tidak sejutek dan seangkuh dulu. Ia lebih sering banyak tersenyum dan tidak semau gue lagi.
Siska duduk manis dimeja makan lebih dulu, sangat anggun dan elegan. Selai kacang dan strawberry adalah menu favorit nya bila di makan bersama roti gandum.
"Wah tumben adik ku bangun lebih awal." goda Ramon, menarik kursi di depan Siska dan mendudukan tubuhnya.
"Kaka bisa tidak jangan menggodaku dulu, hari ini aku banyak kegiatan untuk acara pernikahan, jadi aku harus bangun lebih awal."
"Iya deh yang mau Merrid udah gak sabar ya." Ramon terkekeh.
"Kayanya ada taman bunga disini." timpal Fanny yang tiba-tiba datang dari belakang.
"Taman bunga, maksud mu fan." mengeryitkan keningnya.
"Emang Tante gak sadar, hati Tante itu banyak di penuhi taman bunga." Fanny terkekeh.
"Senang ya pagi pagi ngeledek Tante mu." cemberut, sambil memasukkan roti kedalam mulutnya.
"Kalian semua sudah kumpul." tangan Andini menarik kursi samping Ramon.
"Kak Dini hari ini aku mau kebutik kaka untuk fitting baju kebaya tradisional modern."
"Loh kenapa kau tidak pilih Gaun kebutik yang sudah punya nama seperti 'kwintang, banyak artis dan ibu ibu pejabat pesan Desain disana."
__ADS_1
"Tidak kak, aku ingin kembangkan karya desainer kaka. Siapa bilang butik kaka tidak terkenal, buktinya banyak ko ibu ibu sosialita datang ke butik kaka dan berlangganan disana.
Andini tersenyum sumringah "Ya sudah, jam berapa kau mau kesana. Nanti kaka suruh desainernya membuatkan model terbaru dan bahannya Kaka minta kirim dari Paris, kau fitting saja dulu. Itu hadiah dari Kaka."
"Huwaaa.... kaka ipar ku baik hati." beranjak dan mencium pipi Andini.
"Tante kalau ada maunya girangnya bukan main, udah kaya bocah." celetuk Fanny terkekeh.
"Keponakan comel." Siska menarik kuping fanny.
"Aaauuuuwww.. sakit Tante." seru fanny.
"Sudah, sudah. kalian kalau sudah bercanda udah seperti kucing garong." Ramon menimpali.
Siska kembali duduk di kursinya semula. "Siang aku dan Mas Tommy datang ke butik kaka yang berada di Mall Metropolitan."
"Cie.. cie.. cie.. Mas nih ye, sweet banget sih yang mau jadi pengantin." goda fanny lagi tertawa cekikikan.
Siska menatap sebel pada keponakannya yang sering jahil itu. "Awas ajah kalau kamu nikah, Tante kerjain kamu ya." nada mengancam.
"Fanny sudah cukup! jangan bercanda terus." Ramon memperingati "Urus saja dirimu, dua minggu lagi Justin dan Ayahnya akan datang kemari."
"What?! mata fanny terbelalak. "Untuk apa mereka datang Pah." nada kekecewaan.
"Ohhh... syukurlah cuma bisnis." gumam Fanny pelan.
"Setelah Pernikahan Siska dan Tommy, kau dan Justin akan bertunangan." Ramon melanjutkan.
Fanny membulatkan matanya, menoleh pada Ramon yang sedang memotong stik "Maksud Papa... ingin menjodohkan aku dengan Justin?"
"Kau kan sudah tau, dan pada saat Papa tanya, kau sudah menyetujuinya." memasukan stik kedalam mulutnya.
Fanny menelan salivanya "Tapi pah, maksud fanny bukan begitu, Aku__"
"Ya Tuhan bagaimna aku menjelaskannya pada Papa, kalau aku hanya mencintai frans." gumamnya dalam hati.
"Fanny! kenapa kau melamun?" suara Andini membuyarkan lamunannya.
Fanny tersenyum tipis, ia memberanikan dirinya untuk bicara "Pah, bagaimna kalau fanny membatalkan pertunangan itu."
"Prankk!
Ramon menjatuhkan pisau untuk mengiris stik ke piring. Membuat tiga wanita itu kaget dan menatap kearah Ramon. Aura amarah sudah terlihat jelas dari rahangnya yang mengeras.
__ADS_1
"Kau ingin permalukan Papamu, hah?! asal kau tau, sebelum Papa menyetujui pertunangan mu dengan Justin, itu sudah dibuat oleh kakek mu. Bagaimana bisa kau ingin membatalkan sepihak! tidak mungkin Papa menentang kakek mu sendiri!"
"Tapi pah, aku tidak mengenal Justine dan aku tidak menyukainya?" suara fanny bergetar, airmata sudah membasahi pipinya.
"Sampai kapan kau ingin terus menyakiti kami fan! Kau ingat apa yang kau lakukan di masa lalu? kau hancurkan hidup mu sendiri karena ingin menikahi Arnold! tapi apa yang sudah ia lakukan padamu! kluarga Mahesa hampir di permalukan karena foto foto yang tidak bermoral itu, bahkan perusahaan mu kau berikan pada bajingan Arnold!
"Brakkk! tangan Ramon mengepal kuat dan menonjok meja makan itu.
"Mas! Andini terkejut, la mengelus punggung suaminya. untuk memberikan ketenangan.
"Dulu aku dijebak pah! itu bukan foto foto ku! kenapa masa yang sudah lewat harus Papa ungkit lagi!" seru fanny, mengusap kasar airmatanya.
"Sudah diam!" Menatap tajam wajah Fanny. "Masih saja kau membantah! menunjuk wajah Fanny "Berkacalah pada kaka mu Reno, ia tidak membatah saat Kakek Mahesa menjodohkan nya dengan Davina, dan sekarang kakak mu berakhir bahagia bersama Delena!"
Saat Fanny ingin menjawab Andini berjalan mendekat dan berkata "Fanny cukup! jangan pernah membantah orangtua. Kami sayang padamu, ingin memberikan yang terbaik untuk anak perempuan Mama dan Papa satu satunya." mengelus kepala fanny. Mata Andini mulai berembun "Jadikan masa lalu pelajaran yang berharga buat mu, jangan kau ulangi lagi kesalahan yang sama."
Fanny menatap wajah Andini yang sudah meneteskan airmata "Maafkan Fanny Mah, Pah! sudah mengecewakan kalian selama ini." tertunduk sedih "Kalian benar aku adalah anak pembangkang dan tak tau diri, bahkan satu perusahaan hilang karena ke egoisan ku. aku tidak akan bisa membayar budi baik kalian! menangis terisak, dadanya begitu sesak. Fanny berlari meninggalkan ruangan makan.
Andini masih mematung, Siska berjalan mendekat, mengelus punggung Andini "Kak yang sabar ya, nanti aku akan bicara baik baik dengan Fanny."
Praankk! melempar gelas didepannya "Kau urus saja anak mu itu! jangan membuat ku tambah sakit kepala!" hunus Ramon, berjalan pergi meninggalkan Andini yang menangis.
"Kak!
Andini lngsung memeluk Siska, dadanya begitu sesak, tangisannya semakin dalam. Disinilah peran Andini sebagai seorang ibu harus bisa memberi pengertian pada anaknya. Disisi lain ia harus berperan sebagai seorang istri yang baik dan patuh pada perintah suaminya.
'
'
'
'
'
'
Bersambung........
*Pemberitahuan*
@Ada yang bertanya nama si kembar, kan sudah Author jelaskan kalau nama si kembar balik ke asal, Zevano dan Zavana. karena ada beberapa Readers yang komplin.
__ADS_1