ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Mencari Bodyguard.


__ADS_3

"Kuning, hijau, merah, biru atau hitam! cepatlah waktu kita tinggal lima detik lagi!" seru Pria berkumis tipis itu.


"Tut! tut! tut!.. angkat terus berjalan mundur.


Vana tergagap dan bingung harus memutuskan warna apa. ia memejamkan mata sambil menutup kedua kupingnya dan berteriak "Merah!" Reno dengan cepat memeluk tubuh anaknya erat.


Dan.......


"Klik!


Reno menoleh pada pria yang masih berjongkok di depan Vana dengan ekspresi datar. Ditangannya ada kabel berwarna merah yang sudah terputus. Nafas lega terdengar kasar dari bibir Reno. Ia melepas dekapan tubuh anaknya.


"Zee, sudah tidak apa-apa. Buka matamu."


Tubuh dingin dengan wajah tegang itu membuka matanya perlahan. Vana menatap wajah Daddynya dan pria didepannya. Tiba-tiba pandangan nya memudar dan ia terjatuh lemas. Dengan cepat Reno menarik tubuh Vana sebelum jatuh kelantai. Karena syok Vana pingsan.


"Zee...?"


Frans dan beberapa orang kepolisian masuk kedalam restoran, setelah beberapa menit tidak terdengar suara ledakan.


"Kak! bagaimana keadaan Vana? syukurlah bom nya tidak meledak.


"Vana pingsan aku harus secepatnya bawa ke rumah sakit, aku takut dengan kejiwaannya."


"Kalau begitu Ayo kita kerumah sakit!"


Reno menggendong Zevana menuju pintu lift bersama Frans, dan beberapa orang polisi. Di dalam mobil sudah ada Delena dengan perasaan cemas.


"Mas! Delena terkejut melihat Reno dan Vana tidak apa-apa. "Alhamdulillah ya Allah.. akhirnya anak dan suamiku selamat." Delena menangis haru dan sujud sukur diarea parkiran.


Reno menaruh tubuh lemas Vana kedalam jok belakang.


"Mas bagaimana keadaan Vana? lalu siapa yang sudah menjinakkan bom? rasa penasaran mendorong Delena terus bertanya, dan berharap suaminya menjelaskan semuanya.


"Vana tidak apa-apa, tapi sepertinya Ia syok. aku akan membawa secepatnya ke rumah sakit."


Delena bernafas lega "Lalu siapa yang menjinakkan Bom itu, orang-orang Mas kah?" tanyanya lagi.


"Ya Tuhan, aku hampir saja melupakan si penyelamat itu, kemana dia Frans?" tanya Reno yang baru menyadari tidak ada pria itu. "Aku belum mengucapkan terima kasih padanya."


"Tadi akupun masih panik dengan kondisi Vana dan kak Reno. jadi tidak perhatikan Pria itu."


"Jadi ada yang menyelamatkan Vana..?"


"Iya sayang, dan di detik terakhir Pria itu datang sebagai penyelamat. karena Vana pingsan, aku melupakan dirinya."


"Bisa jadi, pria itu masih bersama polisi, didalam gedung, kak!"


"Ya sudah lebih baik kita urus Vana dulu. Nanti kita tanya pada polisi."


Frans mengangguk.


"Sayang, kau segeralah pulang dan istirahat. Biar anak buah Mas yang membawa mobilmu, kau tidak boleh pulang sendiri."


"Aku ingin ikut bersama mu Mas?"

__ADS_1


"Mengerti lah, aku tidak ingin Vana traumatis dengan kejadian yang mengancam jiwanya." Reno mengusap kepala istrinya dan di anggukan oleh Delena.


"Baiklah Mas, aku pulang sekarang."


Dua orang Bodyguard masuk kedalam mobil yang di tumpangi istri dan anaknya, lalu pergi meninggalkan Mall XX. Berikutnya mobil yang di kendarai Frans keluar dari Mall, melaju cepat meninggalkan lokasi kejadian yang baru saja Reno dan anaknya alami.


Didalam mobil, Reno merangkul tubuh anak gadis kesayangannya penuh kasih sayang. Vana belum juga sadarkan diri, membuat Reno khawatir. Ia terus bersyukur dalam hati, Allah itu maha baik, sudah menyelamatkan hidupnya dan anaknya. Netra itu sudah basah dengan airmata. Ya, Reno menangis untuk kedua kalinya. Dulu ia pernah rapuh dan menangisi istrinya Delena, saat terjatuhnya dari tangga dan melahirkan kedua anak kembarnya secara sesar. Vana dan Vano besar berkat pengasuh Mama dan ibu mertuanya selama satu tahun. Walau waktu itu Delena tidak bisa memberikannya ASI, Namun Delena begitu telaten mengurus si kembar usai ia tersadar dari koma dan amnesia selama satu tahun.


Kini anak yang ia sayangi sudah beranjak dewasa dan berada dalam pelukannya. Sungguh, ia melihat ketakutan di wajah anaknya saat di hadapkan dengan kematian. Bahkan Reno siap meregang nyawa demi anak kandungnya. Tidak peduli seberapa banyak Harta dalam genggaman tangannya. karena bagi Reno, prioritas utama adalah kebahagian dan perlindungan untuk keluarganya. Otak Reno masih merekam jelas kejadian tadi, di saat ia harus berkorban demi anaknya dan ikut meregang nyawa. Di detik terakhir datanglah sang penyelamat dan menjinakkan bom itu.


"FRANS! kau cari tahu dimana Pria penyematan itu! jangan lupa cctv restoran itu harus secepatnya kita selidiki, siapa yang sudah berani bermain-main dengan ku dengan cara mengancam nyawa anakku!" ucap Reno geram dengan rahang mengeras dan kilatan mata memerah.


"Orang-orang kita sedang mengurusnya kak! kota tunggu hasilnya."


"Mulai besok kau urus ke kantor polisi, dan bawa pengacara untuk menutup Mall XX, bila pihak manajemen menolak, tuntut 100 Milyar untuk Nyawa anakku!"


"Baik kak!"


Pandangan Reno beralih ke wajah anak gadisnya dengan tatapan teduh "Zee, ma'afkan Daddy sudah lalai menjagamu. Mulai sekarang Daddy akan mencari bodyguard pelindung untuk mu 1x24 jam." merapikan anak rambut yang menghalanginya sebagian pandangannya, dan mencium kening anaknya lembut.


Mobil sudah memasuki gerbang rumah sakit. Reno mengangkat tubuh Vana dan membaringkan diatas bangsal. Dokter Agung periksa secara intensif setelah mendapat keterangan dari Reno.


Tiga hari kemudian Vana sudah di perbolehkan pulang. selebihnya akan rawat jalan, guna menghilangkan trauma.


Didalam sebuah kamar berwana pink dan putih susu itu, berbaring gadis cantik seraya tangannya berselancar di dunia maya. Ia membuka Instragram yang sudah hampir satu minggu tidak dibuka. Ada banyak like setiap unggahan foto Vana. flower Vana sudah cukup banyak, karena ia gadis yang aktif di sekolah, termasuk idola kaum Adam dan terkenal dengan kecantikan dan kecerdasannya. Tentu Vana menutupi identitasnya sebagai seorang anak crazy rich dan memiliki perusahaan terbesar di Asia. Vana dan Vano bukankah anak konglomerat yang suka memarkan kekayaan orangtuanya. Mereka lebih suka hidup tanpa nama besar kelurganya.


"Akun siapa ini? bertuliskan penggemar rahasia?" Vana mengeryitkan keningnya dan melihat akun itu masih baru. "Belum banyak unggahan foto pribadinya, hanya ada tiga foto. itupun wajahnya di tutupi topi."


"Dasar aneh! umpatnya dan melempar asal ponsel itu kearah ranjang.


Diruangan keluarga, tampak Reno dan Delena sedang menerima video call dari Vano.


"Hay Mom!


"Vano? bagaimana kabar mu, Nak?


"Alhamdulillah Vano sangat baik."


"Syukurlah kalau kau baik, Grandma dan grandpa apakah sehat nak?" tanya Delena lagi.


"Sama Mom, sehat semua. Oiya Mom, Dad! bagaimana dengan kondisi Vana? andai sedang tidak ujian, Vano sudah pasti pulang."


"Tadi siang sudah pulang, sekarang kondisinya mulai membaik. Tapi untuk masuk kedalam Mall, ia masih trauma."


"Andai Vano ada disana, sudah pasti Vano hancurkan orang itu! berani ia ingin mengambil nyawa adikku!" hentak Vano emosi bersama amarah meletup-letup.


"Semua sudah Daddy tangani. pihak kepolisian sedang menyelidiki cctv pria yang menaruh BOM ke tubuh adikmu, tidak akan Daddy beri ampun bila berhadapan dengannya nanti!' tangan Reno terkepal dan ancaman keluar dari bibirnya.


"Dimana Vana...?


"Ada dikamar nya, Ia sedang istirahat."


"Baiklah Dad, Mom! nanti Vano telpon Vana. Oiya.. dimana Zidan, Vano kangen banget dan tidak bisa main bersama lagi."


"Sudah tidur, Zidan semakin aktif dan gemesin. Tahun depan kau bisa pulang dulu kesini, sebelum berangkat kuliah ke Inggris."

__ADS_1


"Iya Mom, tahun depan Vano pulang dulu. Ya sudah Vano tutup dulu ya. Masih banyak tugas, besok di sambung lagi."


"Iya sayang, jaga dirimu baik-baik."


"Hah! Reno mendesah pelan. "Memiliki anak kembar insting nya sangat kuat. Saat Vana berada di zona mencekam dan akan merenggut nyawanya. Vano cerita pada Daddy kemaren, tiga hari yang lalu, ia mengalami mimpi buruk, di kejar seseorang yang ingin membom dirinya di keramaian. Ternyata, siangnya Vana mendapat musibah pemboman."


"Karena Vano sangat menyayangi adiknya. Saudara kembar itu, satu hati dan sejiwa. kontak batinnya sangat kuat, karena ari-ari mereka menyatu."


"Kau benar sayang. Ya sudah kita istirahat dan tidur, ini sudah malam."


Delena mengangguk. Mereka berdua masuk kedalam kamar di lantai dua. Sementara Zidan sudah tidak tidur bersama kedua orangtuanya. Balita berusia tiga tahun enam bulan itu, sudah mandiri, dan di temani baby sistter.


***


Di perusahaan Mahesa Group. Reno masih berkutat di depan laptop. Ia sedang membuat petisi untuk bodyguard anak gadisnya, dan berani bertaruh demi nyawanya. Jumlah uang yang ditawarkan tidak lah main-main mencapai puluhan juta setiap bulannya. Bagi Reno nyawa anaknya lebih penting dari apapun.


Sudah banyak si pelamar ingin menjadi bodyguard Vana. Namun, banyak yang gagal, sebab yang Reno butuhkan bukan hanya piawai bertarung tapi attitude nya juga diperlukan.


"Sudah berapa pelamar yang datang, Frans?"


"Lebih dari tiga puluh orang, kak! apa belum diputuskan siapa pria terbaik itu?"


"Aku belum sreg pada mereka. kita tunggu sehari lagi, siapa tau mendapatkan orang yang tepat untuk menjaga Vana."


Esoknya...


Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Suara ketukan pintu menghentikan aktivitas Reno sejenak.


"Masuk..."


"Ceklek!"


"Pagi Tuan.." sekertaris Rika membungkuk.


"Ada apa..?"


"Ada yang mencari Tuan?


"Siapa...?" Reno menautkan kedua alisnya


"Seorang pria tampan, berkumis tipis." ucap Rika tersenyum sumringah. Entah apa yang terjadi pada sekertaris baru Reno, ia terlihat mengagumi sosok Pria berkumis tipis itu.


"Suruh dia masuk..."


"Baik Tuan!" Rika berjalan keluar ruangan.


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


Terus dukung Bunda dengan cara...


๐Ÿ’œlike


๐Ÿ’œvote


๐Ÿ’œgift

__ADS_1


๐Ÿ’œkomen


@Bersambung.....


__ADS_2