
"Apa..? hiks... Davina menatap nanar wajah suaminya "Tidak Mas! kau tidak boleh mengatakan itu! aku yang bersalah, aku yang berniat ingin menabraknya walau bukan aku yang menabrak kan mobil Kinan! kau tidak boleh mengaku Mas... hiks.. hiks..."Kau tidak bersalah, kenapa Ingin mengakui nya."
"Karena aku sangat mencintaimu dan Chika. Aku takkan sanggup melihat mu dalam jeruji besi, biar aku saja yang menjalankannya."
"Tidak Mas...! Tidak...
"Pergilah, sebelum polisi datang..."
Davina menatap nanar wajah suaminya dan tak rela ia harus menanggung beban. Robert merangkul pundak istrinya dan membawa masuk kedalam mobil yang di kemudikan Pak Basir.
"Tidak Mas aku tidak mau pergi. Aku akan tetap disini bersama mu."
"Aku akan baik-baik saja, kasihan Chika menunggu mu dirumah, pulanglah." Robert mencium kening istrinya dan menutup pintu mobil.
"Jaga istriku, dan rahasiakan tentang kecelakaan ini, kalau istriku yang mengejar Kinan, aku yang akan menghadapi polisi."
"Apa tuan baik-baik saja?
Robert mengangguk pelan dan menepuk pundak Pak Basir "Berangkatlah!"
Baik Tuan!"
Pak Basir masuk ke dalam mobil dan mulai berjalan meninggalkan lokasi itu. Rasanya sakit harus pergi meninggalkan suaminya dalam keadaan tertekan. Dari kaca mobil Davina menatap wajah suaminya bersama tetesan air mata. Saat mobilnya melewati mobil Kinanti, Davin melihat tubuh Kinan yang terjepit badan mobil dan wajahnya sudah di penuhi darah.
"Ma'afkan aku Kinan, Ma'afkan. Aku berjanji akan menjaga anakmu dan menjaganya seperti anakku sendiri." ucap Davin getir di sela isak tangisan.
Saat mobil melintasi jalanan yang mulai ramai, mobil ambulans bersama mobil patroli datang ketempat lokasi. Davina melihat dari kejauhan Robert sedang berbicara dengan polisi. Hatinya berdenyut perih dan terluka, kenapa semua harus terjadi dalam hidup dan kelurga kecilnya. Rentetan masa lalu harus terulang lagi, ingatannya kembali terusik. Mungkinkah ini adalah karma atas perbuatannya di masa lalu. Davina hanya bisa pasrah dan ikhlas menghadapi kenyataan dalam hidupnya, ia terus berusaha memperbaiki diri atas kesalahan dan dosa-dosanya di masa lalu.
Jenazah Kinanti di keluarkan dari mobil oleh beberapa petugas kepolisian dan dimasukkan kedalam mobil ambulans. Separuh tubuhnya hancur, Robert merasakan kepedihan yang mendalam, tak menyangka hidup Kinan akan berakhir tragis. Andai saja Kinanti bisa bersabar dan tak berbuat nekad, mungkin saja tragedi ini tidak terjadi. Bola mata Robert mulai berembun dan tetesan airmata mulai berjatuhan.
"Ma'afkan aku Kinan. Aku berjanji akan menjaga anak kita dan mengurusnya hingga dewasa. Semoga kau tenang di alam sana." batinnya lirih.
"Siang Tuan! apa mobil sedan ini milik anda?" tanya pria berbaju seragam coklat.
"Benar Pak itu mobil saya." ucap Robert tenang.
"Apa anda mengenal korban? tanya petugas polisi lagi.
"Iya, saya sangat mengenalnya."
"Baiklah, untuk keterangan lebih lanjut, anda akan kami bawa ke kantor polisi.'
Robert hanya mengangguk dan mengikuti langkah polisi masuk kedalam mobil patroli.
~Tujuh bulan kemudian~
Delena menghadiri Kelulusan sekolah Zevano dan Zevana pagi itu di sebuah gedung. Sebagai tamu kehormatan yang sudah menjadi donatur di sekolah favorit kedua anak kembarnya, Delena berpenampilan menarik dengan memakai dress brokat panjang berwarna hijau, serasi dengan hijab dan sepatu heelsnya. Acara perpisahan sekolah sangatlah meriah, hingga menjelang sore. Zevano mendapat nilai terbaik dan juara kelas. Delena merasa bangga dengan kecerdasan putra-putrinya, walau Zevana masuk dalam peringkat ketiga, sementara posisi kedua di raih oleh Devan, pria bermata empat sahabat Vano.
__ADS_1
Selesai menghadiri acara perpisahan sekolah. Malamnya, Vano, Vana, Delena dan Reno berkumpul di ruangan keluarga sehabis makan malam.
"Bagaimana persiapan mu untuk berangkat ke Jerman." tanya Reno sambil menggendong baby Zidan yang sudah berusia tujuh bulan.
"Sudah 90% Dad! sebelum berangkat Vano akan menemui mami ke Bali dan menghadiri sidang papi."
"Baiklah, masih ada waktu untuk berangkat ke Jerman, Grandma sudah memasukkan mu ke sekolah negeri favorit di Jerman."
"Apa kakak yakin Ingin sekolah di Jerman? aku pasti akan kesepian kak!"
"Kita bisa telpon dan Vidio call, sekarang jaman canggih, untuk apa bingung? setiap tahun pas liburan kakak akan pulang."
"Apa Vana mau tinggal sama Grandma di Jerman, biar kak Vano tidak kesepian." Reno memberi saran pada anak gadisnya.
"Enggak lah Dad! Vana kasihan sama Mommy dan Dede Zidan. Pasti akan kesepian kalau aku tinggal di Jerman."
"Ya sudah Kakak saja tinggal di Jerman, kasihan juga sama grandma dan grandpa mereka hanya berdua saja disana." timpal Vana
"Iya kasihan Oma dan Opa, kalau Tante fanny cuma punya Calista, nggak mungkin Calista tinggal di Jerman, anak Daddy ada tiga. Tugas Vano temenin mereka sampai Vano lulus kuliah.'
Reno tersenyum terbit "Kau adalah kebanggaan Daddy, terima kasih mau temani mereka berdua dan memberikan kebahagiaan."
"Mas, Apa aku boleh ikut ke Bali untuk melihat sidang keputusan kak Robert."
"Tidak usah, kau tetap di rumah. Mas yang akan datang ke persidangan untuk membawa bukti akurat."
"Baiklah, akan Mas ajak ibu serta ke Bali."
"Kasihan Kak Robert, dia tidak salah dan harus menanggung kesalahan yang tidak kak Robert perbuat. Jadi Herman Paris akan datang bersama pengacara lainnya untuk membantu kasus kak Robert?"
"Tentu saja, Mas harus membela Robert dan memenangkan persidangan."
"Sayang nya di jalan raya itu tidak ada kamera cctv, jadi pelaku penabrakan belum di ketahui dan masih abu-abu."
"Sudah tujuh bulan, aku sudah menemukan titik terangnya. anak buahku selalu bekerja keras untuk mencari siapa pelaku penabrakan itu."
Sebenarnya Kak Davin tidak menabrak, tapi posisi dia berada disana, sedang mengejar mobil Kinan. Seharusnya Kak Davin yang berada di posisi Kak Robert. Namun, Demi cinta dan sayangnya pada keluarga, kak Robert rela berkorban untuk kak Davin dan Chika."
"Mas juga salut, akan ketegaran hati robet yang mau menggantikan posisi istrinya, walau kita sudah dengar cerita Davina, kalau sebenarnya bukan Robert yang mengendarai mobil merah itu, tapi dirinya.
Dua hari kemudian Reno, Vano, Helena dan beberapa pengacara berangkat ke Bali menggunakan pesawat pribadi milik Reno. Dua jam kemudian pesawat sampai di Bandara Gusti Ngurah Rai.
Reno dan Vano, langsung menuju kediaman Robert. Sementara Enam pengacara menginap di hotel. Mobil Reno dan Vano membelah jalanan raya kota kute. Satu jam menempuh perjalanan mereka sampai tujuan.
"Oma..." teriak Chika saat melihat Helena turun dari mobil. Davina ikut berjalan mendekat dan memeluk ibunya.
"Syukurlah akhirnya ibu bisa berkunjung kerumah ku."
__ADS_1
"Ibu sangat khawatir dengan keadaan Robert, Chika dan juga kamu."
"Ayo Bu kita masuk."
"Reno, Vano ayo masuk." ajak Davina dan berakhir di ruangan tamu.
"Dimana mertua mu? tanya Helena, seraya menghempas bokongnya di sofa.
"Ibu Amel mendapatkan serangan stroke setelah mendengar Mas Robert masuk lapas. sekarang beliau tinggal bersama anaknya Sarah, kakak mas Robert."
Mata Helena menangkap seorang gadis diatas sepatu roda. "Lalu siapa gadis di kursi roda itu?
"Dia.." mata Davina berkaca-kaca, dia berjalan kearah gadis cantik diatas kursi roda dan mendorongnya mendekat pada ibunya.
"Dia bernama Sabrina, anak dari Kinanti. Sekarang Sabrina tinggal bersama ku dan Chika."
"Oohhh..., gadis cantik." Helena tersenyum dan mengusap kepala Sabrina, gadis itu mencium punggung tangan Helena.
"Sabrina, ayo kenalan dulu sama kak Vano dan Om Reno." Davina mendorong kursi Sabrina dan mendekatkan pada vano dan Reno.
Setelah berbincang-bincang, Reno dan Vano berserta Davina pergi ke pengadilan untuk menghadiri sidang putusan.
"Bu, aku titip Chika dan Sabrina, ada Mba Ika yang mengurus Sabrina dan Mba Yuni bantu-bantu di rumah."
"Berangkat lah Nak, semoga kalian berhasil dan bisa membawa Robert pulang."
Mobil berjalan menuju kantor persidangan. Panas teriak matahari tidak mematahkan semangat Davina untuk bertemu suaminya. Mereka bertemu kembali dengan Herman Paris berserta rekannya di depan kantor.
Setelah menunggu beberapa saat, mereka semua di persilahkan masuk kedalam ruangan persidangan. Semua harap-harap cemas menunggu kedatangan Robert yang masih belum masuk kedalam persidangan.
๐๐๐
@Besok part terakhir kisah Davina dan Robert.
@Bunda udah update setiap hari loh! mana kopinya? sekalian bunga setaman Yee...
Yuk terus dukung bunda dengan cara...
๐like
๐vote
๐gift
๐komen
@bersambung
__ADS_1