ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3. Persalinan Delena


__ADS_3

"Sekarang minum susu dulu, terus kita bersih-bersih dan tidur." Reno membantu istrinya duduk dan memberikan gelas berisi susu yang ia buat tadi.


Selesai menghabisi susu hamil, Reno membawa istrinya kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dengan air hangat, dan menggosok gigi sebelum tidur. Delena tertidur pulas dalam pelukan hangat suaminya.


Matahari mulai menampakan sinarnya dengan malu-malu, cahaya kuning keemasan masuk melalui celah jendela. Jam empat subuh, seperti biasanya Delena bangun lebih awal. Menyibak gorden kamar dan membuka jendela lebar-lebar. udara segar masuk melalui jendela yang terbuka.


Selesai membersihkan diri Delena menjalankan ibadah sholat. Lalu membangunkan suaminya untuk sholat, mandi dan bersiap-siap ke kantor.


"Mas! bangun sudah jam setengah lima" mengusap lembut pucuk kepala suaminya. "Sholat dulu Mas."


Reno menggeliat dan membuka matanya perlahan, terlihat senyum terbit di bibir istrinya. Reno menarik Delena kedalam pelukannya. kini Kepala Delena bersandar didada bidangnya. Dengan penuh kasih sayang Reno mengusap kepala istrinya dan satu tangannya mengusap perut buncitnya.


"Sayang, kau melupakan sesuatu."


"Apa itu Mas?" Delena menautkan kedua alisnya, ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah bantal suaminya yang masih terlihat tampan, meskipun usianya tidak muda lagi.


"Heum.. My honey Kiss morning nya mana?


"Oohh itu..?" Delena terkekeh.


Delena mendekatkan wajahnya tepat di depan suaminya. Mencium kening dan kedua pipinya. kini gantian Reno menciumi kening dan bibir isterinya. Begitulah cinta, semua terasa indah seakan dunia milik berdua. Mereka berdua selalu menjaga keharmonisan dan cinta hingga saat ini, krikil-krikil tajam sudah mereka lalui bersama, Delena dan Reno berharap kebahagiaan yang mereka ciptakan sampai ke anak cucunya kelak.


Setelah mendapat transfer energi dari sang istri, Reno masuk kedalam kamar mandi. Menyiapkan pakaian kantor untuk suaminya adalah rutinitasnya setiap hari, yang ia taruh diatas ranjang.


Delena meninggalkan kamar menuju lantai satu untuk membangun kedua anaknya.


"Sayang." membuka pintu kamar Vano. Ia tersenyum saat Vano selesai menjalankan ibadah subuh.


"Mommy?" Panggil vano di sela ia melipat sejadah.


"Mommy bangga padamu, kau tidak pernah meninggalkan ibadah. Lakukan ini dimanapun kau berada."


"Insyaallah Mom, pasti Vano selalu mendengar nasihat Mommy." Vano tersenyum lebar.


"Ya sudah mommy tunggu di meja makan."


"Oke Mom!"


Delena Keluar kamar dan membuka handle pintu kamar Vana, posisi kamar bersebelahan dengan kamar Vano.


"Sayang..."


"Mommy?"


"Kau sudah sholat Nak?"


"Tentu saja sudah donk Mah, kan disekolah di wajibkan. Sekolah Al-Azhar adalah sekolah favorit dengan fasilitas lengkap dan memiliki kwalitas agama yang terbaik, bahkan sudah bertaraf internasional." ucap Vana bangga.


"Delena tersenyum "Tidak sia-sia Mommy sekolahkan kalian disana. Ya sudah bersiaplah Mommy tunggu di meja makan."


"Oke, Mom!"

__ADS_1


Delena menutup pintu kamar Vana dan berjalan kedapur. Mba Sari dan Bi Amy sudah selesai menyiapkan sarapan pagi hari dan menyusun diatas meja makan.


"Sudah selesai semua?" tanya Delena, melihat dapur sudah bersih.


"Sudah semua Nyah!"


"Jangan lupa susu coklat untuk Vano dan Vana. kopi capuccino untuk suamiku dan susu hamil untuk ku."


"Iya Nyah, masih menunggu airnya mendidih dulu."


"Ya sudah, antarkan ke meja makan."


"Baik Nyah."


Di meja makan Vano dan Vana sudah berkumpul. Reno berjalan mendekat dan menciumi kening dan pipi kedua anak kembarnya satu persatu.


Reno menarik satu kursi di samping istrinya dan meneguk air putih hangat.


"Biar aku ambilkan Mas." Delena menaruh nasi dan rawon keatas piring, lalu menaruhnya di depan Reno.


"Sayang, jam berapa kau akan periksa kandungan."


"Jam delapan aku sudah janjian pada Dokter Hanna, nanti biar diantar supir saja."


"Benar kan Dokter Hanna? bukan Dokter Agung atau Dokter Fadli?" tanya Reno menepis kecurigaan pada istrinya.


"Mas?" masih curiga saja, Dokter Agung hanya sekali periksa aku saat mengetahui kalau aku hamil, Dokter Fadly hanya menggantikan sementara Dokter Hanna yang sedang bertugas keluar kota." Delena mencabik kesal pada suaminya yang posesif.


"Mas hanya nggak mau kamu di sentuh Dokter laki-laki, ingat itu! menatap dalam istrinya.


"Huft!" Reno mendengus kesel "Baiklah kalau Mommy tidak mau dengar Daddy, tapi jangan salahkan Daddy kalau kedua Dokter itu tidak akan ada lagi di rumah sakit kita."


Delena membulatkan matanya "Mas! kau ngancam nya gitu sih. Jangan karena cemburu buta bisa merugikan orang lain, seenaknya Dokter Agung dan Dr Fadly mau di pecat!"


Vano dan Vana saling bersitatap melihat kedua orangtuanya berdebat hanya hal sepele. Vana menggeleng pelan tanda tak mau ikut campur.


Dad! Mom! ma'af karena Vano ikut bicara. Plis turunkan ego Daddy, Mommy kan hanya ingin periksa kandungan. Tadi kan Mommy sudah bilang, Dokter Hanna yang akan periksa. Bila Daddy tidak percaya dan takut Mommy berdusta, lebih baik Daddy yang menemani Mommy biar tidak ada kesalahpahaman." tutur vano bijak di sela ia mengigit sandwich dan mengunyahnya.


Delena melirik suaminya dengan ekspresi kesal. karena di skak langsung oleh anaknya. "Bagaimana Mas, apa bisa mengantarkan aku ke rumah sakit, biar Mas nggak curiga lagi."


Reno menoleh pada Arloji ditangannya "Baiklah Daddy yang akan mengantarkan Mommy dulu kerumah sakit. Meeting biar di mundur siang nanti, setelah mengantar Mommy."


"Vano, Vana, habiskan dulu susunya sebelum berangkat sekolah." ujar Delena di sela ia menyeruput susu hamilnya.


"Mom, Ded, Vano berangkat sekolah dulu." mencium punggung tangan Delena dan Reno, selesai meminum susu dan sandwich. Di ikuti Vana yang juga sudah selesai sarapan.


Jam setengah delapan Delena sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit bersama suami bucin-nya, Delena terlihat sangat cantik dengan hijab motif kembang dan dress panjang yang membalut tubuhnya. Mereka masuk kedalam mobil, Reno kemudikan sendiri mobil dengan kecepatan sedang. Setengah jam kemudian mobil sampai di rumah sakit 'Harapan' milik Vano yang sudah di serahkan kakeknya Ramon.


Reno merangkul mesra pinggang istrinya, seakan berkata dia adalah wanitaku. Tatapan orang-orang di sekitar terlihat kagum dan iri melihat pria tampan berjas hitam dan wanita cantik berjalan begitu mesra. Beberapa suster dan Dokter yang berpapasan selalu membungkuk dan menyapa dengan sopan.


"Yank, Mas ambilkan kursi roda ya.'

__ADS_1


"Tidak usah Mas, ruangan Dokter Hanna tidak terlalu jauh."


"Pasti kau capek, kandungan mu sudah besar juga kan?"


"Nggak apa-apa kok Mas, sekalian olahraga." jawab Delena kemudian, dan memberikan pengertian pada suaminya kalau dirinya baik-baik saja.


"Ck." Reno hanya gelengkan kepala dan terus berjalan melewati koridor, langkah mereka berhenti di salah satu ruangan. Dokter Hanna menyambut kedatangan Delena dan tidak melayani pasien yang lain, hari itu khusus untuk Istri pemilik rumah sakit yang ia tangani.


Delena tidur diatas ranjang, Dr Hanna menaruh gel diatas permukaan perut istri Presdir. Alat transducer terus menyusuri letak posisi bayi.


"Letak posisi bayinya bagus dan tidak ada kendala. Jenis kelaminnya sudah kelihatan dengan jelas."


"Apa jenis kelamin nya?" Reno begitu antusias ingin mengetahui jenis kelamin anak ketiganya.


"Tidak usah diberitahu sekarang Dok, biar kejutan buat anak-anak dan suamiku." Delena tersenyum geli sambil menatap suaminya yang terlihat kesal.


"Hurt!" Reno meniup kuat, ia hanya bisa pasrah dan tidak ingin berdebat dengan istrinya di depan Dokter.


"Persalinan akan di lakukan enam minggu lagi, kami tim Dokter akan persiapkan semuanya demi kelancaran Nyonya Delena."


"Usahakan tim Dokter wanita semua Dok, kalau perlu cari Dokter ahli sesar dari luar rumah sakit ini!" Reno menegaskan.


"Tapi Tuan, sudah di jadwalkan dari jauh hari, kalau Professor Dokter Anton akan ikut bergabung untuk membantu persalinan Nyonya Delena." ucap Dr Hanna yang terlihat gugup.


"Tadi saya sudah tegaskan bukan? tidak ada satupun Dokter pria yang membantu persalinan istri saya! ucapan Reno terlihat marah dan kesal, Delena tidak enak hati pada Dokter Hanna.


"Mas! Delena merangkul pergelangan tangannya "Tidak perlu emosi, kan bisa di jelaskan dengan baik-baik." ucapnya pelan, Delena menarik nafas dalam "Dokter Hanna!" Delena menoleh kearahnya "Tolong pertimbangkan kembali keinginan suami saya."


"Apa di rumah sakit ini kekurangan Dokter kandungan wanita!" sela Reno, mendengus kesel.


"Tidak Tuan, di rumah sakit ini sudah cukup banyak Dokter kandungan wanita." Dokter Hanna tersenyum "Baiklah akan saya bicarakan kembali di rapat forum Dokter besok."


Reno berdiri dari duduknya dan berpamitan. Delena ikut berdiri dan mengucapkan terima kasih pada Dokter Hanna.


"Ya Tuhan, segitu takutnya Nyonya Delena di sentuh Dokter, padahal profesor Dr Anton sudah berusia 60 tahun, dan ia Dokter senior." Dokter Hanna geleng-geleng kepala melihat amarah Tuan nya tadi.


Semua sangat lega setelah frans dan Vano sudah berkunjung kerumah Ferdy dan mendapatkan kesepakatan. Ferdy tetap tinggal di rumah keluarganya, kebetulan Nenek, kakek dan adik Anita masih ada dan akan mengurus Ferdy. Semua biaya hidup sehari-hari dan sekolahnya sampai perguruan tinggi di tanggung oleh Reno. Setiap Sabtu dan minggu Ferdy di jemput oleh Vano untuk menginap di rumahnya dan kadang di rumah Frans.


Hari terus berlalu, waktu kelahiran Delena tinggal seminggu lagi. Semua persiapan melahirkan telah disiapkan oleh pihak rumah sakit. Perlengkapan baju-baju dan pernak pernik bayi sudah tersusun rapih dikamar khusus.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat πŸ’ͺ nulis😘


@yuk terus dukung bunda dengan cara...


πŸ’œlike


πŸ’œvote


πŸ’œgift

__ADS_1


πŸ’œkomen


@bersambung......πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


__ADS_2