ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Anak Macan Asia


__ADS_3

Hari berganti bulan, tak terasa enam bulan sudah Zevano dan Zevana menjadi murid di kelas 7 SMP favorit berbasis internasional. Sekolah ternama yang memiliki fasilitas lengkap telah membuat Vana dan Vano nyaman.


Sejak peristiwa kejadian dirumah Omanya, Vano tidak pernah lagi mendapatkan teror atau sekelompok orang mencari flashdisk itu. Sepertinya masalah flashdisk itu sudah terlupakan, polisi telah menutup kasusnya. walau sebenarnya Reno sangat murka dengan kejadian yang dialami Mertua dan anak kandungnya. Ia ingin pelakunya mendapatkan ganjaran dan memberitahu siapa dalang di balik peristiwa perampokan itu. Tapi kenyataan tiga perampok itu sudah membunuh dirinya sendiri sebelum keterangan itu di dapatkan.


Didalam kelas Vano dan Vana duduk terpisah. Vano yang dingin tak banyak bicara hanya akrab dengan beberapa orang saja. Vano duduk sebangku dengan Pria bermata empat bernama Devan. Vano biasa memanggilnya Nobita karena Devan memakai kaca mata besar mirip Nobita. Mereka berdua sangat akur dan akrab.


Vano yang cerdas dan tampan banyak di sukai kaum hawa dan jadi idola di sekolah favorit. Tapi Vano yang dingin dan cuek tidak pernah peduli pada gadis-gadis yang terus mengejar dan suka kirim coklat dan surat cinta melalui Devan.


Sementara Vana duduk sebangku dengan gadis cantik blasteran Polandia bernama Isabella. Sama halnya dengan vano, Vana juga sangat akrab dengan Isabella, tak jarang Bella sering belajar kelompok di rumah Vana selesai pulang sekolah dan diantar kembali oleh supir pribadi Vana dan Vano pak Yanto.


Singkat cerita, mereka sudah duduk di bangku kelas delapan ( SMP kelas 2) Vano dan Vana menjalani hari-hari nya penuh keceriaan dan kegembiraan apalagi kedua orang tuanya tidak pernah memaksakan keinginan nya, ia membebaskan pilihan dan keinginan kedua anaknya selama itu dalam batas kewajaran.


Setiap Sabtu dan minggu, Vano dan Vana terus mendapatkan pelatihan fisik dan mental dengan ilmu beladiri, karate, menembak, bahkan di tambah kan dengan latihan anggar khusus yang di datangkan guru ke mansion. Reno selalu tegas pada kedua anaknya bila menyangkut pendidikan ilmu bela diri yang nantinya akan bermanfaat buat mereka berdua.


Anggar adalah ilmu beladiri menggunakan senjata yang berkembang menjadi seni budaya olahraga ketangkasan dengan senjata yang menekankan pada teknik kemampuan seperti memotong, menusuk atau menangkis senjata lawan dengan menggunakan keterampilan dalam memanfaatkan kelincahan tangan.


Siang itu di mansion, mereka semua berkumpul di lantai lima sedang latihan Anggar. Delena datang membawa minuman dingin dan cemilan.


"Vano, tangkap ini!" Reno melempar 'Floret' sebutan pedang anggar pada anaknya, setelah memakai baju khusus dengan wajah tertutup tudung. kedua pria hebat, Father and son itu bertarung dengan sengit tanpa ada yang kalah, Vana yang di pihak kakak nya bersorak gembira, Delena tentu saja di pihak suaminya, mereka berdua saling kasih semngat pada dua lelaki hebatnya.


"Kak Vano... semngat! teriak Vana.


"Daddy... Ayo semangat! teriak Delena


Gaya memutar dengan pedang ditangan membuat Reno kalah telak dengan anaknya sendiri. dan saat Reno ingin menyerah, dengan sengaja ia menyerang kembali, dengan cepat vano menjatuhkan pedang anggar ayahnya hingga terpental jauh.


PLOK.. PLOK...PLOK..


Tepukan tangan Delena, Vana dan seorang pelatih.


"Vano, tidak diragukan lagi. Kamu sangat berbakat dan bisa ikut perlombaan atlet Anggar Nasional." puji pelatih anggar, menepuk pundak Vano bangga.


"No, only for myself.." ucap Vano.


"My son, very good." Reno memeluk bangga anak lelakinya.


"Dengan usia Vano yang masih muda, ia sangat berbakat, semua ilmu bela diri bisa di kuasai dengan baik, ini jarang terjadi dengan anak seusianya. Saya pribadi salut pada Vano, tidak semua anak Indonesia bisa seperti dia." sambar Pelatih terus memuji.

__ADS_1


Reno tersenyum bangga, tidak sia-sia dia melatih Vano sejak usia enam tahun, kini di usia Vano 14 tahun bisa memiliki berbagai ilmu bela diri dengan fisik yang kuat. Keuletan, kegigihan serta ketegasan Reno dalam memberi pelajaran khusus untuk anaknya, sudah membuahkan hasil.


Vana pun tetap di didik untuk bisa ilmu bela diri, taekwondo, silat, menembak dan membidik lawan. Tapi tidak sekeras dan seekstrim Vano memberikan pelajaran. Tetap Reno ingin Vana memiliki sisi lembut seperti istrinya Delena. Garang dalam menghadapi lawan dan lembut pada keluarganya.


"Sayang... ayo minum es jeruk dulu, biar kalian segar." Delena mendekat pada suami dan anaknya, seraya membawa nampan berisi minuman dingin. Menyodorkan pada Reno, Vano dan pelatih.


"Kakak hebat! Vana mengangkat jempolnya "Bolehkah aku bertarung dengan kak Vano."


"Jangan Dek nanti kamu kalah, pasti ujungnya mewek dan minta Daddy yang membalasnya." sindiran Vano membuat Vana mengerucutkan bibirnya.


"Apaan sih kakak! gerutu Vana kesal


"Emang iya kan? Muehehehe....


"Sudah-sudah, latihannya sampai disini dulu, kita istirahat dan makan siang." perintah ibu negara, yang tak bisa dibantah.


"Tapi Mom! Vana belum latihan Anggar."


"Masih ada lain waktu, sayang..."


Delena yang tau kekompakan suami dan anaknya itu, membidik mata tajam pada Reno Seakan perintahnya tidak ingin di bantah.


"Vana kita harus makan dulu, tidak baik latihan dengan perut kosong, nanti kau sakit, nak? Daddy, Vano dan Pak Abdy perlu makan dan istirahat." bujuk Delena yang melihat anak gadisnya merajuk.


"Vana, ayo kita makan dulu, nanti habis makan kita latihan lagi." Reno merangkul pundak Vana "Kau tau bukan? perintah ibu negara tidak bisa di bantah, Daddy tidak sanggup bila harus tidur diluar." selorohnya seraya terkekeh.


Delena yang mendengar celotehan suaminya, mencubit tangan Reno. Vana akhirnya setuju walau hatinya masih jengkel. Mereka berlima menuju pintu lift untuk mengakhiri aktivitas siang itu.


****


Pagi itu matahari bersinar dengan cerah, sinar cahaya keemasan nya terpancar indah di depan teras mansion Keluarga bahagia itu.


Vana dan Vano sudah bersiap untuk berangkat sekolah, mereka tidak ingin telat masuk, sebab hari Senin ada upacara bendera. Vana ditugaskan sebagai pembawa bendera dan Vano membacakan proklamasi.


"Vano, Vana... ini bekal kalian." menyodorkan dua kotak makan untuk putra dan putrinya. "Ayo sarapan dulu, hari ini upacara. jangan sampai kalian kelaparan.


"Mom! buatkan satu kotak lagi untuk Devan, dia jarang bawa bekal."

__ADS_1


"Iya sayang."


Delena menyuruh Mba sari untuk membuat bekal satu kotak lagi.


"Pasti buat si mata empat itu! celetuk Vana seraya mengigit roti gandum yang sudah ia olesi staubery.


"Kau ini kenapa? Devan itu sudah tidak memiliki ibu, jadi tidak ada yang membuatkan bekal."


"Wah, kasian sekali. kenapa Kaka selalu membela Devan, bahkan uang jajan juga kakak yang berikan, padahal sekolah kita kan orang elite semua."


"Kau tidak pernah tahukan, kisah Dev yang menyedihkan. Dia sekolah di sana bukan atas kemauannya sendiri, Dev tinggal dengan Pamannya yang orang kaya dan sekolahnya pun di biayai, Bibinya jarang memberinya uang."


"Oohh... seperti itu ceritanya, padahal Dev itu sama cerdasnya seperti kakak, cuma penampilan nya yang cu'lun dan penakut."


"Vano, Vana, sudah jangan ngobrol terus. Sekarang berangkat sekolah nanti terlambat."


"Oke Mom!


"Mas Vano, ini bekal yang buat temannya." Mba sari memberikan kotak makanan itu.


"Makasih mbak! ucap Vano sopan.


"Mommy dimana Daddy? Vana mencari sosok ayahnya yang tidak ikut sarapan.


"Masih tidur, katanya kurang enak badan, setelah habis latihan kemaren, maklum fisik Daddy mulai menurun karena urusan kantor juga."


"Salam kan pada Daddy, Vana berangkat dulu." imbuhnya seraya mencium punggung tangan Delena, di ikuti dengan Vano.


Delena mengantarkan kedua anaknya sampai depan teras. Setelah mobil hilang dari pandangan nya, ia masuk kedalam rumah.


💘


💘


💘


@BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2