
"Dimana Vana...!!" tanya Delena dengan nafas tersengal.
Wanita yang berprofesi sebagai baby sitter itu tertunduk sambil menangis sesenggukan. "Non Vana masih di dalam, ada BOM di tubuhnya."
Seketika Delena syok dan terjatuh ke lantai, untung baby sitter itu cepat menarik Zidan sebelum Delena ambruk.
~Dua puluh menit sebelumnya~
Zidan yang terus merengek karena di tinggal Delena, terdiam saat Vana mengajak ke area permainan anak-anak. Mendudukkan tubuh gempal Zidan di atas sebuah kuda-kudaan yang terbuat dari bahan dasar karet. Ia tertawa kegirangan. Tak puas satu permainan, Zidan menunjuk sebuah perosotan yang di penuhi banyak bola warna-warni.
"Kak Pana aau ain icu.." (Kak Vana mau main itu) ucap Zidan cadel, dengan bibir mengerucut.
"Ohh Zidan mau main perosotan?" anak balita tampan itu mengangguk cepat. Vana mengangkat tubuh Zidan, bersamaan ponselnya berdering. "Mba, bawa Zidan ke perosotan itu ya, aku angkat telpon dulu." Vana memberikan Zidan pada baby sistter. Any nama baby sitter itu berjalan kearah perosotan, Zidan bermain bersama anak balita lainnya.
Sebelum Vana menerima panggilan telpon, tiba-tiba datang seorang pria berpakaian hoodie menutupi wajahn dengan masker. Tanpa di sangka pria itu berjalan mendekat kearah Vana dan memeluknya. Vana terkejut dan berontak. Namun, dengan cepat tangan pria misterius itu menaruh sesuatu di perut Vana dan merekatkan kuat ke belakang.
Vana menatap kearah perutnya dengan mulut menganga dan mata melebar. Pria itu mundur dan berlari meninggalkan Vana. Vana sangat paham apa yang di pasang orang itu ketubuh nya. Benda itu adalah BOM. kalau ia bergerak sedikit saja, sudah pasti bom itu akan meledak dan menghancurkan semua orang yang berada di dalam restoran.
"TOLONG...ADA BOM!!!!! teriak Vana spontan. suaranya menggema didalam ruangan.
Semua orang yang berada di dalam ruangan seketika terkejut dan menoleh kearah sumber teriakan itu. Mereka terpekik saat melihat rakitan bom berada di depan perut Vana. Orang-orang berhambur berlarian keluar restoran, karena panik dan takut bom meledak.
Any sang baby sitter mengendong erat Zidan dan menatap haru pada Nonanya yang sangat ketakutan, wajah Vana sangat pucat pasi dengan bibir gemetar. Any tidak lantas ikut lari keluar ruangan. ia masih terpaku karena syok.
"Pergi dari tempat ini Mba! bawa Zidan keluar, selamatkan adikku!" teriak Vana bersama deraian airmata yang sudah lolos.
"Mba Vana! hiks.. hiks...
Terlihat ruangan sudah agak sepi. Datang petugas keamanan berlarian masuk kedalam restoran. Semua orang yang masih berada di dalam ruangan sudah diamankan.
"Mba untuk apa disini, cepat keluar dari ruangan ini!" bentak seorang sekuriti.
Any menggeleng "Saya tidak bisa meninggalkan anak majikan saya Pak!"
"Keluarlah! ini sangat berbahaya!" bujuk petugas berpakaian biru-biru itu.
Salah satu dari keamanan Mall itu sudah mengubungi penjinak BOM.
Dari luar restoran terdengar suara teriakan seorang wanita yang tak lain adalah Delena.
"VANA...!!! anakku ada di dalam izinkan aku masuk." terdengar suara teriakan Delena saat berbicara dengan petugas Mall, diluar restoran.
"Mommy..." hiks... Vana tidak dapat berteriak lagi karena suaranya serak dan parau. Sekuriti yang bertugas di Mall terus menenangkan Vana. guncangan tubuh gadis remaja itu terus bergerak, disebabkan tangisan dan tekanan karena syok.
Baby sitter dan Zidan berhasil di bawa keluar restoran lewat pintu belakang, berkat bujukan satpam.
Sementara di perusahaan Mahesa Group. Reno tampak tak fokus mengadakan meeting bersama petinggi direksi. Ia keluar ruangan dan menyudahi meeting dengan perasaan gelisah.
"Kak! apa perlu obat?" Frans menawarkan saat mereka sudah berada didalam ruangan Reno. Frans mengambil kotak obat yang tersedia di dalam laci. "Kenapa hari ini kakak seperti tidak bersemangat? bahkan belum selesai meeting sudah meninggalkan ruangan."
"Entahlah, kenapa perasaanku jadi tidak enak, bahkan kepalaku cenat-cenut." ucap Reno seraya melepaskan dasi, yang membuatnya sesak. Mendudukkan bokongnya kasar ke kursi kebesarannya seraya memijit pangkal hidungnya.
Frans memberikan satu strip obat pereda nyeri, obat dari Dokter yang biasa Reno konsumsi bila dalam kondisi tertekan atau stres.
Mengambil satu butir obat dan memasukkan kedalam mulutnya bersama segelas air putih pemberian Frans. Reno Menyandarkan kepalanya kebelakang, merilekskan otaknya yang beku. Akhir-akhir ini tekanan darah Reno sangat tinggi dan asupan makan kurang teratur, disebabkan banyaknya beban dan pekerjaan kantor yang banyak menguras tenaga dan pikiran. Reno berharap secepatnya anak-anak mereka tumbuh dewasa, dan menggantikan posisinya sebagai CEO, agar ia bisa istirahat total bersama sang istri. Sejak remaja Reno sudah dibiasakan memegang kendali perusahaan oleh kakeknya. pria gila kerja itu sudah terbiasa bertarung melawan musuh-musuhnya di dunia bisnis dan mafia. Sejak dulu Reno sudah memporsir tenaga dan energinya dalam memajukan perusahaan dan menjadi kokoh tak tertandingi hingga sekarang.
Suara dering telepon membuyarkan pikiran Reno, baru saja ia memejamkan mata karena reaksi obat yang ia minum dan membuatnya mengantuk. Reno membiarkan ponsel itu berdering tanpa mau mengangkatnya.
"Kak! kenapa tidak diangkat? siapa tahu penting."
__ADS_1
"Kau angkat saja, kepalaku sangat pusing. Bilang aku tidak ingin di ganggu, kau handel semua pekerjaan ku Frans!"
Frans mengangkat ponsel yang tergeletak di atas meja, tidak ada nama si penelpon, ia tampak ragu untuk mengangkat panggilan telpon itu, Namun, hatinya berkata untuk menerima panggilan itu. Frans menggeser tombol hijau.
"Hallo...."
"Bisa bicara dengan Bapak Reno?"
"Anda siapa..?
"Dari Mall XX, istri Bapak Reno pingsan dan anak gadisnya ada yang menaruhkan bom ditubuhnya.
"Ap-apa..?! Frans terpekik dengan mata membulat sempurna "Kau siapa? jangan bermain-main dengan kami! teriak Frans.
"Kami tidak main-main Pak! kami sekuriti dari pihak Mall XX."
Reno yang mendengar pekikan Frans, membuka matanya. "Ada apa Frans...?"
"Kak! apakah kak Dena dan Vana sedang berada di mall XX..?
"Iya, kenapa memang, apa Delena telpon?"
Reno dibuat bingung dengan sikap adik iparnya "Frans ada apa?! Reno beranjak dari duduknya dan menarik ponsel ditangan Frans.
"Hallo ini Siapa...?!
"Mas Re-no..." terdengar suara parau dan tangisan dari ujung telepon.
"Delena ada apa..?" Reno juga ikut panik
"Vana, Mas!!! jerit Delena.
"Ia ada apa dengan Vana!" tanyanya masih penasaran.
"Ada yang menaruh BOM di tubuh anak kita! teriak Delena bersamaan tangisannya semakin pecah, membuat jantung Reno hampir berhenti.
'WHAT!!!!
__ADS_1
"Kak! Frans memegangi tubuh Reno yang hampir ambruk karena syok.
"Hello...!" Frans mengambil alih telpon yang Reno pegang. Namun, sambungan terputus.
"VANA....!!! siapa yang berani ingin menyakiti keturunan ku! anakku adalah nyawa ku, akan aku habisi sampai tujuh turunan. Reno mengepalkan tangan dan meninju dinding dengan kuat.
"BUGH!
"Sudah kak, jangan menyakiti diri sendiri. Ayo secepatnya kita ke Mall!"
Rahang Reno mengeras, tubuhnya kaku karena amarah, bersama nafas kasar yang memburu.
"Hubungi semua tim penjinak Bom terbaik yang kita punya!" teriak Reno.
"Baik kak! Dengan cepat frans menghubungi orang-orangnya untuk datang ke Mall XX.
Reno menarik jas yang ia sematkan di punggung kursi dan memakainya, seraya berjalan cepat meninggalkan ruangan, diikuti frans yang berjalan dengan langkah panjang menuju lift. Sorot mata tajam itu menyiratkan amarah yang terpendam dengan ekspresi dingin. Aura membunuh sudah terasa.
Frans melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Mall XX. Reno masih terdiam tanpa bersuara sedikitpun, hanya terdengar suara nafas kasar dan memburu. Diamnya Reno adalah bencana, sesuatu yang menakutkan akan terjadi. Frans sangat paham dan tahu betul sifat kakak iparnya. Diamnya adalah pertanda kematian untuk seseorang.
Sosok Reno adalah pelindung keluarga. Jangan pernah berurusan dengan Pria dengan julukan Macan Asia ini. Sosoknya yang tenang, berwibawa dan dingin. Bisa merubah seekor macan jinak menjadi pemangsa yang haus akan darah.
Sejak dulu Delena dan anak-anaknya, meminta pada Reno, tidak ingin ada pengawalan khusus untuk mereka kemanapun mereka pergi, cukup di pantau dari jauh. Karena mereka tidak ingin terlihat mencolok dari keluarga crazy rich. Vana, Vano ingin bebas seperti orang biasa dengan menutupi identitasnya. Tanpa di sangka kejadian tak terduga harus terjadi di keluarga Reno. Sanggup kah Reno menemukan pelakunya...???
Benar kata pepatah. Jangan pernah membangunkan singa tidur. Diamnya adalah kematian.
๐๐๐
@Masih bersambut ALL....
@Bunda udah update setiap hari loh! mana kopinya? sekalian bunga setaman Yee...
Yuk terus dukung bunda dengan cara...
๐like
๐vote
๐gift
__ADS_1
๐komen