
"Jelas saja aku ingin mengejar wanita itu!"
"Jangan nekad! nanti kita bicarakan baik-baik!" bujuk Robert, terus menenangkan Istrinya yang sudah terbakar emosi.
Davina yang keras kepala tidak menghiraukan panggilan suaminya. Dengan amarah yang meletup-letup ia mengejar sedan putih yang di tumpangi Kinanti.
"Tidak akan aku biarkan kau menang dan merampas suamiku!" teriak Davina pada dirinya seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Robert terlihat panik dan gusar ia berlari mencari supir pribadi yang biasa mengantarkan Chika sekolah.
"Tuan, maaf saya tadi berada di belakang."
"Cepat kita kejar istriku sebelum ia nekad!" teriak Robert seraya masuk kedalam kamar.
"Baik Tuan!"
"Robert!" teriak Amelia dan berlari mendekat.
"Biarkan saja istrimu tidak usah kau kejar!"
"Sudahlah Bu, tidak usah ikut campur urusan keluarga ku! seandainya ibu tidak memihak Kinanti, Istriku tidak akan semarah ini!"
"Kau tinggalkan saja wanita keras kepala itu! kau tidak akan pernah hidup bahagia bila terus bersamanya!"
"Ibu tega bicara seperti itu! Davina ibunya Chika, apa ibu mau Chika menderita seumur hidupnya, karena harus kehilangan sosok ibu dan ayahnya! aku tidak akan sanggup bila harus kehilangan keluarga ku!" Robert mencabik kesal.
"Jalan pak!" perintah Robert pada supir yang berada di depan kemudi.
"Baik tuan!" mobil berjalan cepat meninggalkan kediaman Robert.
Mobil sedan putih terus berjalan melintasi Jalan Danau Batur Raya Desa Jimbaran, Kuta Selatan. jalanan tampak lengang dan sepi.
"Aku akan menuju kantor polisi untuk memasukkan laporan wanita j4l4ng itu!"
Kinan semakin cepat melajukan mobilnya.
"TIINN! TIINN! TIINN!!!.....
Suara klakson mobil terdengar nyaring di belakang mobil Kinan, ia melihat dari kaca spion luar.
"Sialan! wanita itu mengejar ku! kau akan mendekam selamanya dipenjara Davin! akan ku pisahkan kau dengan Robert! setelah itu, aku dan Sabrina yang akan menggantikan posisimu di hati Robert, dan mengambil yang seharusnya menjadi hak anakku!" teriak Kinan bersama suara bahakan yang menggema didalam mobil. Kinan terus melajukan mobil sport putih dengan kecepatan tinggi.
Davina terus membunyikan klakson agar Kinanti berhenti. Namun, Kinanti tidak juga mau mengindahkan permintaannya untuk berhenti.
"TIINN! TIINN!....
"Baiklah Kinan, bila itu permintaanmu, kau memilih aku nekad untuk menghancurkan mobilmu daripada kita membuat kesepakatan!
Mobil sedan merah milik Davin terus melaju mengimbangi kecepatannya. ia sudah mulai mensejajarkan mobilnya dan membuka kaca mobil.
__ADS_1
"Kinan berhenti! aku ingin bicarakan baik-baik!" teriak Davina sambil terus mengimbangi laju mobil Kinanti. Namun sayang, Kinan yang egois tidak mau mendengarkan dan memberi kesempatan Davin untuk bicara.
"Apa dia bilang? ingin bicara baik-baik?" sudah terlambat Davina! andai saja dari awal kau mengalah padaku dan pergi meninggalkan kehidupan Robert untukku, sudah pasti aku akan membebaskan mu! tapi kau angkuh dan sombong, malah berani menantang ku, begini lah akibatnya, nasibmu ada di tangan ku, Davina!" hahahaha....
Kinanti semakin gas mobil lebih cepat dan mendahului mobil Davina. Mobil Davin terus mengejarnya dan tak mau menyerah. Melihat mobil Davin terus menyamainya Kinan membanting setir ke kiri dan..
"BRAKK!
Kinan menghantam mobil Davina dari arah samping. "Mampus kau Davin! wanita j4l4ng perebut kekasih orang!"
Kinan terus terbahak dan merasa puas melihat mobil Davin yang berada di pinggir jurang, akibat ia tabrakan dari samping. "Mati saja kau Davin! dan menghilanglah dari muka bumi ini! biarkan aku hidup bahagia bersama Sabrina dan Robert!" hahahaha...
"Sial! wanita itu menghantam mobilku. Kau sudah menyulut amarahku Kinan!"
Davina menstsrter mobilnya dan berhati-hati memundurkan mobil ke belakang, sebab bemper mobil depannya hampir masuk jurang, sedikit saja ia salah rem, sudah dipastikan mobil itu akan terbang jatuh ke jurang.
"Berhasil! akhirnya mobilku keluar dari zona mengerikan." Davina bernafas lega dan menghirup udara banyaknya "Baiklah Kinan! pembalasan akan segera di mulai, bersiaplah melawan ku! teriak Davina dan melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi. Davin yang mahir dalam menyetir mobil-mobil mewah sanggup mengejar ketinggalan mobil Kinanti.
"Sial! sial! sial!" Kinan memukul setir karena murka "Lagi-lagi wanita j4l4ng itu bisa mengejar ku dan terbebas dari maut! andai saja mobilnya masuk jurang, sudah dipastikan itu adalah korban kecelakaan bukan kesengajaan.
"BRAKK!!
"BRAKK!!
Tiba-tiba dari belakang mobil Kinan terdengar suara dentuman dan hantaman keras. "Brengsek! Davina berhasil membalas dengan menghantamkan mobil sedan ku! detik berikutnya...
"BRAKK!!!!!
"Aaaaaaaaaa......!!!"
π’"BRAAKK!!π₯π₯π₯
karena tidak ada keseimbangan akibat tabrakan dari arah belakang bertubi-tubi. Mobil Kinan oleng dan menabrak pembatas jalanan. Ia berusaha untuk mengerem laju mobil, Namun dari arah belakang ada yang menabrak kembali hingga mobil terdorong dan terguling hingga tiga ratus meter. Mobil ringsek dan berakhir menabrak pohon besar yang berada di sisi jalur kanan.
Davina yang mengemudikan mobil sedan merah, masih terus berada di belakang mobil Kinan, hingga tabrakan itu tak dapat terelakkan lagi. Davina melihat dengan jelas tragedi tabrakan itu. Ia sangat syok melihat kejadian di depan matanya. Ia bingung dan serba salah. Dadanya berdegup kencang, oksigen dalam tubuhnya seakan habis, ia tidak bisa bernafas karena sesak.
Berapa menit terdiam tiba-tiba ada suara kaca mobil di ketuk.
"Tok! tok! tok! Davina buka pintunya!" teriak seseorang seraya mengetuk kaca mobil.
Davina terkejut dan syok, dengan nafas tersengal ia menoleh kesamping, suaminya sedang membungkuk sambil mengetuk kaca mobil dan menatap wajah istrinya
"Mas Robert!" ucapnya lirih dengan wajah pucat. Dulu Davina seorang wanita tangguh, pemberani dan tidak pernah takut pada siapapun, bahkan ia bisa menghadapi musuh-musuhnya sendiri. Banyak kaum Adam yang tergila-gila dan Igin melindungi dirinya, hingga tidak ada rasa takut sedikitpun pada siapapun. Tapi hari ini ia merasakan ketakutan luar biasa dan perasaan bersalah bergelayut dalam hatinya.
"Ceklek!
Tubuh Davina gemetar dan lemas, Robert langsung menangkap tubuh istrinya yang hampir limbung dan memeluknya erat.
"Sayang, kenapa kau nekad begini? Robert merasakan tubuh istrinya terguncang bersama isak tangisannya.
__ADS_1
"Mas mo-bil ki-nan.." ucapnya terbata, dengan nafas tersenga, Keluar keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuhnya.
"Davin, tenangkan dulu dirimu, Pak Heru sedang melihat keadaan mobil Kinanti yang terbalik di depan pohon besar itu.
Keadaan semakin tak kondusif, jalanan raya yang tampak sepi, kini mulai banyak kendaraan roda dua dan roda empat berhenti untuk melihat tragedi naas itu.
"Tuan! pak Heru berlari kearahnya dengan nafas tersengal.
"Bagaimanakah dan Kinan? apa dua masih hidup?"
Pak Heru terdiam sejenak. Ia mengamati wajah kedua majikannya bergantian sambil terus mengatur nafas.
"Pak Heru!' Robert menepuk pundaknya.
"Pak Heru menggelengkan kepala "Sudah tidak tertolong lagi, wajahnya hancur dan tubuhnya kejepit badan mobil."
"Ap-apa..?! Davina membekap mulutnya tak percaya, airmata bertambah deras menetes. "Hiks.. Mas, bukan aku yang membunuhnya, ada mobil lain yang lebih dulu menabraknya dari belakang." Davina masih terus merapatkan tubuhnya pada Robert.
"Tapi, tidak ada jejak mobil lain yang menabrak mobil Kinanti, hanya mobil kau yang berada tepat di belakang mobil Kinanti. Dan lihat, bemper depan mobil mu hancur, terlihat juga bagian belakang mobil Kinan ringsek, bekas tabrakan keras.
"Aku awalnya ingin menabrak mobil Kinan, karena ia tidak ingin mendengarkan aku. Aku memintanya untuk berhenti dan bicara baik-baik. Namun, ia semakin mempercepat lajunya. Tiba-tiba sebuah mobil Pajero menyalip dan menabrak mobil Kinan berulang kali. Aku terkejut dan malah menabrak mobil Pajero itu. Sialnya mobil itu malah kabur.
Robert terdiam seraya berpikir "Pak Heru, tolong bawa istriku pulang. Dan Tolong rahasiakan pada siapapun kalau istriku berada di tempat kejadian."
"Mas? apa maksud mu?" Davina menatap nanar wajah suaminya.
"Pulang lah, biar semua ini aku yang urus." Robert memeluk tubuh Davina dan mencium keningnya, ia membingkai wajah istrinya "Bila polisi bertanya, jangan pernah mengakui kalau kau yang mengendarai mobil merah itu. Kau harus katakan aku yang membawa mobil itu.'
"Apa..? hiks... Davina menatap nanar wajah suaminya "Tidak Mas! kau tidak boleh mengatakan itu! aku yang bersalah, aku yang berniat ingin menabraknya walau bukan aku yang menabrak kan mobil Kinan! kau tidak boleh mengaku Mas... hiks.. hiks..."Kau tidak bersalah, kenapa Ingin mengakui nya."
"Karena aku sangat mencintaimu dan Chika. Aku takkan sanggup melihat mu dalam jeruji besi, biar aku saja yang menjalankannya."
"Tidak Mas...! Tidak...
"Pergilah, sebelum polisi datang..."
πππ
@Bunda udah update setiap hari loh! mana kopinya? sekalian bunga setaman Yee...
Yuk terus dukung bunda dengan cara...
πlike
πvote
πgift
πkomen
__ADS_1
@bersambung