
Aku percaya pada takdir Tuhan, jodoh tidak akan pernah lari kemana, semakin di kejar ia akan menghindar, semakin kita ikhlas dan pasrah, jodoh akan datang dengan sendirinya. karena cinta hadir, tanpa di minta."
Frans terus memberi fanny semangat dan motivasi agar terus percaya diri untuk menghadapi Ayahnya.
Satu jam lebih perjalanan, Mobil mereka sudah memasuki pintu gerbang mansion Ramon.
Fanny bersama Frans turun dari mobil, mereka berjalan menuju ruangan tamu, Melihat kedatangan Fanny dan frans, Andini tersenyum sumringah.
"Sayang, akhirnya kau mau kembali pulang."
"Mah! Fanny berjalan mendekat dan memeluk Andini dengan penuh kasih sayang. Andini mengusap lembut punggung anak gadisnya.
"Nyonya? sapa Frans lembut.
'Frans? Luka mu sudah baikan? tanya Andini mengurai pelukan fanny.
"Alhamdulillah sudah, Nyah."
"Jangan panggil aku nyonya, panggil Mama." tersungging senyuman lembut di bibir Andini.
Frans mencium punggung tangan Andini.
"Mah! dimana Papah? Fanny bertanya seraya mengedarkan pandangannya.
"Ada diruangan kerjanya. sudah hampir seminggu Papah tidak masuk kantor, ia banyak melamun dan tidak nafsu makan, berat badannya semakin menurun."
"Apa yang sedang Papah pikirkan, Mah?!"
"Setelah Papah mu tahu, Justin dan pacar gelapnya menculik mu dan Frans, Papah mu syok Nak." Airmata Andini sudah berderai "Sejak saat itu nafsu makannya berkurang, Saat mendengar kau diculik, Papah mu sering melamun dan menangis, susah untuk tidur, ia selalu gelisah. Bahkan sudah tidak bersemangat lagi untuk ke kantor. Seringkali Papah mengurang diri di ruangan kerjanya berhari-hari. Kalau migrain nya sudah kambuh, pasti papah berteriak, dibarengi keluar keringat jagung dan nafas sesak. Mama sudah nggak tega melihat kondisi Papah yang stres."
"Apa kak Reno tahu kondisi Papah, Mah?!
Andini menggeleng "Papah tidak ingin kakak mu tahu, sudah banyak masalah yang dialami Reno, ia tidak ingin menambah beban Reno."
Fanny terisak "Semua ini karena fanny Mah! tidak bisa jadi anak yang baik. Ma'afkan fanny Mah! hiks...
Frans mengusap punggung fanny "Yang sabar ya fan, pasti ada hikmahnya dibalik semua ini."
"Tapi Papah belum pernah seperti ini sebelumnya, Frans! aku begitu khawatir dengan Papah."
"Mah! kenapa Papah tidak dibawa kerumah sakit, buat apa Papah punya rumah sakit sendri, tapi tidak mau berobat."
"Dokter Iskandar kontrol kesehatan Papah dua hari sekali."
__ADS_1
"Kalau begitu Fanny ingin bertemu Papah!
Andini menatap lekat wajah fanny yang sudah sembab dengan airmata.
"Apa kau yakin ingin bertemu Papah?
Fanny menggenggam tangan frans kuat "kami berdua ingin menemui Papah, aku yakin Mah! Fanny dan Frans saling bersitatap. Sebuah anggukan kepala dari Frans.
"Baiklah! tapi.." Andini terdiam sejenak "Papah mu sudah sulit di ajak bicara, semoga dengan kedatanganmu, Papamu bisa semngat lagi."
"Oiya Mah! bagaimana dengan Om Brian, Ayahnya Justin?"
Andini mendesah pelan "Ayah Justin masuk rumah sakit kena serangan jantung, sekarang ia masih koma. Sementara yang Mama tahu Justin dan pacar gelapnya masuk penjara."
"Kasihan Om Brian dan Tante Anna, padahal mereka berdua orang baik, tapi kelakuan anaknya tidak sebaik orangtuanya."
"Ya sudah ayo kita temui Papah!
Frans dan Fanny mengikuti langkah Andini menuju ruangan kerja Ramon. Saat sudah berada di depan pintu, Andini memutar handle pintu.
"Klek.. klek.. klek.. "Pintunya terkunci!
"Pah! tok, tok, tok... buka pintunya! Ada fanny ingin bicara." ujar Andini terus memanggil.
"Pah! izinkan aku masuk untuk menemui Papah. Fanny sangat rindu dengan Papah! suara fanny terdengar parau, ia sudah meneteskan airmata.
"Mah! apa lebih baik kita dobrak aja pintunya! aku takut Papa kenapa-napa, didalam."
"Kau benar Fan, kita harus dobrak pintu ini! ujar Andini yang terlihat gusar.
"Frans! cepat dobrak pintu ini! pinta fanny tak sabar dan semakin panik.
"Mundur lah, aku akan mendobrak nya."
Menggunakan bahunya yang sebelah kanan, frans mendorong tubuhnya ke pintu berulang kali. kebetulan satu tangan Frans tidak terluka. hanya sebelah kiri yang terkena gigitan.
Dengan sekuat tenaga Frans mendorong pintu itu, dalam dorongan ketiga pintu berhasil di dobrak.
"JEDAR.....!
Mereka masuk kedalam ruangan kerja Ramon perlahan, mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan. Ramon sedang berdiri mematung seraya memandang keluar jendela.
"Pah!...
__ADS_1
Fanny berjalan mendekat, terlihat tubuh Ramon yang mulai menyusut. Tubuh gagah dan kuat itu seakan sudah hilang dimakan usia, walau Ramon sudah tidak muda lagi, tapi stamina tubuhnya masih kuat, Olahraga dan senam yoga setiap hari membuat kesehatannya stabil dan tidak rapuh. Tapi hari ini fanny melihat bukan seperti sosok ayahnya yang tegar dan gagah.
"Papah...! fanny berhambur memeluk tubuh Ramon dari belakang, bersandar di punggung Ayahnya. Airmata itu terus menetes membasahi baju Ramon. "Ma'afkan fanny pah! belum bisa patuh dan jadi anak yang baik buat Papah! fanny mohon! papah jngan pernah membenci fanny dan Frans. kami datang untuk meminta restu, Papah! hiks... hiks...
Dari belakang terlihat tangan Ramon mengusap airmata dengan punggung tangannya.
Fanny jatuh dan bersimpuh di kaki Ramon. Ramon terperanjat, ia memutar tubuhnya dan membangunkan tubuh fanny untuk berdiri. Ayah dan anak itu saling bersitatap dan Fanny berhambur memeluk erat tubuh Ramon. Air mata Ramon terus menetes, ia sangat merindukan anak gadisnya. wajahnya yang sembab dengan airmata sudah tidak mampu lagi untuk bicara, suaranya tercekat dan parau.
Frans dan Andini yang menyaksikan Ayah dan anak itu berpelukan, ikut meneteskan air mata haru.
"Fa-nny." kau sehat kah! mengendurkan pelukannya, menangkap kedua pipinya "Kau tidak apa-apa kan? tidak ada yang terluka denganmu kan? Ramon terus bertanya dengan suara terbata. Ekspresinya terlihat gusar dan ketakutan. Ramon sangat mengkhawatirkan anak kesayangannya, saat mendengar fanny hilang, Ia terus menutup diri karena merasa bersalah.
"Fa-nny, Maafkan Papah mu, yang sudah egois," memeluk fanny kembali. Beberapa detik Ramon mengurai pelukannya, dan menatap kearah Frans yang berdiri mematung.
"Frans! kemarilah Nak...
Ramon memanggil dengan lembut, Frans berjalan mendekat, sebuah pelukan hangat Ramon berikan pada Frans "Maafkan Papah Fanny, yang sudah membuat mu terluka dan sakit hati atas penghinaan ku!
"Tidak, Tuan! Aku tidak pernah sakit hati, aku yang harusnya minta maaf karena telah mencintai fanny anak Tuan."
Ramon mengurai pelukannya "Tidak Frans! kau tidak pernah salah, aku sudah dibutakan oleh kebodohan ku sendiri, tidak bisa melihat Berlian didepan ku!
"Pah, aku dan Frans Ingin minta Restu." sela fanny sambil terisak.
"Papah merestui kalian berdua. Hiks...
Ramon menarik Frans dan Fanny dalam pelukannya. Mereka bertiga saling berpelukan. Andini tersenyum bahagia, mendekati mereka bertiga dan mengusap punggung suaminya.
"Frans, terimakasih sudah menyadarkan aku. Saat mendengar kalian berdua diculik aku begitu terpukul, mungkin ini adalah teguran dari Tuhan! Aku selalu memanjakan fanny dari kecil, semua keinginan nya tidak pernah tak terpenuhi, fanny gadis kecil ku yang imut, ia sangat manja padaku, aku tidak bisa kehilangan dia. Aku memang posesif padanya, karena tidak ingin fanny menderita dimasa depan. Mungkin cara ku yang salah, menjodohkan dengan anak sahabatku, kupikir bisa bahagia seperti Reno dan Delena. Tapi kini aku sadar setiap manusia tidak memiliki keberuntungan yang sama. Justin bukan lah jodoh fanny tapi malapetaka buat hidup fanny."
Ramon mengusap airmata berkali-kali, merasakan sesak atas kebodohannya sendiri.
"Frans! aku serahkan fanny padamu. Nikahi anak kesayangan ku secepatnya, jangan di tunda lagi, kalian berhak bahagia."
"Iya Tuan, terimakasih atas restunya."
"Jangan pernah panggil aku, Tuan! panggil aku Papah! karena kau sudah jadi anak ku, mantu kesayangan ku." menepuk bahu Frans.
Wajah Frans dan Fanny berbinar cerah, senyuman mengembang terukir di bibir dua calon pengantin itu.
🌺
🌺
__ADS_1
🌺
@Bersambung........