
Hari terus berlalu, waktu kelahiran Delena tinggal seminggu lagi. Semua persiapan melahirkan telah disiapkan oleh pihak rumah sakit. Perlengkapan baju-baju dan pernak pernik bayi sudah tersusun rapih dikamar khusus.
Dua hari sebelum di operasi sesar, Delena sudah di bawa kerumah sakit, paviliun sengaja dibuat khusus untuk keluarga besar Mahesa. Paviliun yang nyaman seperti rumah besar pada umumnya dengan fasilitas lengkap didalamnya.
Semua kelurga sudah berkumpul, bahkan Ramon dan Andini datang dari Jerman untuk melihat kelahiran cucu ke empatnya.
Helena juga sudah datang bersama Vano dan Vana. Mereka berdua menjemput Omanya usai pulang sekolah.
Siska dan Tommy beserta ke-tiga anaknya turut hadir, apalagi kakak iparnya Ramon dan Andini datang dari Jerman, kedatangan mereka sangat rindukan keluarga.
Malamnya datang Frans, Fanny dan Calista. Mereka semua berkumpul dalam rangka menyambut kelahiran anak Delena dan Reno.
Paviliun terdiri dari ruangan keluarga, ruangan bermain, ruangan makan dan delapan pintu kamar yang cukup luas sengaja dibuat khusus untuk keluarga Mahesa. Bila ada Keluarga atau sanak famili yang sakit, bisa tidur di paviliun.
Mereka para orang tua asik mengobrol dan saling bertukar cerita. sementara anak-anak bersendau gurau di ruangan bermain. Malam itu momen yang sangat bahagia untuk semua keluarga yang berkumpul.
Terdengar suara dering telepon dari ponsel milik Delena. Reno yang tak pernah jauh dari istrinya, memberikan ponsel pada Delena yang berada di sampingnya.
"Siapa yang telepon Mas?
"Davina!"
"Dari kak Davin?" Delena menggeser tombol hijau
"Hallo kak!
"Dena, bagaimana keadaan mu?
"Alhamdulillah baik, kak."
"Ma'af ya Kaka nggak bisa datang, masih repot. Apalagi Mas Robert lembur terus."
"Tidak apa-apa kak, minta doa nya saja."
"Semoga persalinannya lancar dan selamat. insyaallah dua tiga hari lagi kakak ke Jakarta."
"Terima kasih doanya kak. Jangan di paksa kalau masih repot."
"Nggak ada yang ngerepotin, Chika juga kangen sama kakak kembarnya, setiap hari tanya terus kapan ke Jakarta."
"Salam sayang buat Chika ya kak."
"Iya Dena, salam kan buat ibu, Kak Reno, Vano dan Vana, juga Keluarga besar Mahesa."
"Disini semua kelurga kumpul kak, Mama dan Papa juga sudah datang dari Jerman."
"Ohya? Salam kan juga buat Mama dan Papanya Mas Reno. Bersyukur ya punya mertua baik dan penyayang."
"Iya kak, alhamdulillah."
"Ya sudah kalau begitu Kakak tutup telponnya ya, besok Kaka kabari lagi."
"Oke kak!"
Davina mengakhiri teleponnya.
"Davin!"
Davina menoleh "Iya Mah!"
"Kau ini bagaimana sih! Mama sudah menunggu dari tadi minta dibuatkan susu jahe, ini malah enak-enakan telpon."
"Aku menelpon saudara kembar ku yang mau melahirkan besok, Mama sabar donk pasti aku buatkan kok!
"Sabar, sabar! kamu kalau disuruh nggak pernah langsung di kerjain. Mama jauh-jauh datang dari Brazil hanya ingin ketemu anak dan cucu, tapi nyatanya di sepelekan sama mantu." wanita paruh baya itu melangkah pergi sambil berdecih.
"Huft! sabar, sabar... punya mertua cerewet dan egois banget!" Davina mengelus dadanya seraya berjalan kearah dapur.
Ia mulai menyalakan kompor dan menaruh dua gelas air putih, memasukan jahe yang sudah ia parut, gula merah dan susu kental manis. Setelah mendidih ia saring dan menaruh kedalam gelas besar.
"Ini Mah, susu jahenya." menaruh gelas di atas meja tamu. wanita yang sedang menonton Tv itu hanya diam tanpa menoleh, ekspresi wajahnya terlihat kesal.
"Mami!
"Ya sayang."
"Papi sudah pulang! itu lihat mobilnya ada di depan teras." Calista menunjuk sedan putih itu.
Davina berjalan keluar ruangan dan menuju teras, saat sudah di samping mobil Davin melihat suaminya sedang menelpon.
"Sabar ya, aku pasti datang kerumah mu!"
"Tidak bisa sekarang. Aku baru sampai rumah, hari ini banyak operasi pasien."
Robert kaget saat Davina sudah berdiri di samping mobilnya.
"Sudah dulu ya, Nanti aku sambung lagi."
Robert mengakhiri obrolannya dan membuka pintu mobil. "Sayang, tumben kau sudah ada disini?"
"Memangnya kenapa kalau aku ada disini? ucap Davin dengan tangan melipat di dada.
__ADS_1
"Loh ko ngomong nya gitu sayang."
"Siapa yang kau telpon Mas? sepertinya mesra sekali." menatap tajam netra Robert
"Hey, kau jangan curiga begitu. Aku tidak akan pernah berpaling darimu." Cup! mencium kening Davina "Kau istriku yang paling cantik, aku sangat menyayangimu."
"Alaah, nggak usah gombal Mas, ingat ya! jangan sampai kau menduakan aku! kalau itu sampai terjadi, akan aku hancurkan reputasi mu!" ancam Davina dan melangkah pergi meninggalkan suaminya.
"Sayang tunggu! menarik tangan Davina "kau jangan salah paham begitu donk."
"Aku punya telinga untuk mendengar Mas! akhir-akhir ini kau sering pulang telat dengan alasan banyak operasi! memangnya di rumah sakit itu cuma kamu sendiri, Dokternya!"
"Mih, aku kan sering mengadakan seminar di luar kota, dan penyuluhan untuk Dokter baru."
"Kau seharusnya sebagai istri jangan culas! suami baru pulang di ajak bertengkar! istri macam apa kau!" umpat ibu mertuanya menatap sinis Davina.
"Mah! tolong diam!" Robert menghentikan Mamanya untuk bicara.
"Chika! masuk kamar, sudah waktunya tidur! perintah Davina, ia tak ingin pertengkarannya di dengar Chika.
"Iya Mih! Chika masuk kedalam kamar.
Davina menatap kesal pada suaminya dan berjalan masuk kedalam kamar.
"Brakk! Suara pintu dibanting.
"Seperti itu kelakuan istrimu! wanita itu mencibir. "Ingat Bert masih banyak wanita cantik diluar sana yang bisa kau jadikan Istri!"
"Mah, sudah cukup! plis, jangan tambah beban ku semakin banyak." Robert melangkah pergi dan masuk kedalam kamar.
"Sayang..." Robert menaruh tas kerja nya diatas sofa dan berjalan mendekati Davina.
Helaan nafas dalam terdengar lirih. "Ma'afkan aku ya, yang tidak ada waktu untuk mu dan Chika. Beberapa bulan ini rumah sakit kita semakin pesat dan berkembang maju setelah pemerintah kota mengadakan kerjasama dengan mengunakan kartu BPJS. Dan rumah sakit kita yang di tunjuk, mana mungkin aku menolaknya."
Kini mereka berdiri berhadapan "Kau tahu? menyentuh pipi Davin "Aku sangat mencintaimu, kau jangan ragukan kesetiaan ku."
Davina menepis tangan suaminya "Lidah itu tidak bertulang Mas! disini kau bilang cinta padaku, tapi di tempat lain kau obral cintamu. Apalagi kau banyak berhubungan dengan masyarakat diluar sana!"
Davina berjalan kearah lemari dan mengambil beberapa pakaian.
"Aku seorang Dokter Mih! seharusnya Mami paham itu! sudah pasti aku berhubungan dengan banyak orang!"
"Dua belas tahun aku menikah dengan mu, dua tahun kemudian lahir Chika. Aku sangat tahu betul kau seorang Dokter, bahkan tahu semua sifat keluargamu!" seru Davin di sela ia melipat pakaian dan mengambil koper dari dalam lemari.
"Kau mau pergi kemana, Mih!"
"Apa kau lupa? jangan kan kau ingat kelurgaku, bahkan sahabatmu Reno saja kau lupakan!"
"Apa maksud mu, Mih!
'Huft!" Robert meniup kuat "Maafkan aku, Mih! Aku melupakan hal itu, memang aku jarang berkomunikasi dengan Reno, karena kami sibuk urusan masing-masing."
"Tetap saja kau tidak akan bisa datang!" cetus Davin.
"Bukan begitu, Mih! jadwal ku sangat padat."
"Sepadat-padatnya pekerjaan pasti masih ada waktu untuk bisa ambil cuti, apalagi rumah sakit itu juga milik Reno!"
Robert terdiam, pandangannya menerawang kedepan dinding bercat putih.
"Bahkan kedua orangtua Reno datang dari Jerman hanya untuk menunggui kelahiran mantu kesayangannya. kadang aku iri pada adikku yang hidupnya selalu beruntung dan memilki mertua yang begitu baik dan sayang!"
Sindiran itu membuat Robert menoleh pada Istrinya "Ma'afkan sikap Mama ku padamu, tolong di maklumi. Sebenarnya Mama sayang padamu."
"Sayang padaku? heh' sejak kau memutuskan untuk menikahi ku, Mama mu tidak pernah setuju! kau yang selalu yakini aku, kelak Mama mu akan berubah. Tapi nyatanya ia selalu menyindir aku dan berkata pedas!"
"Tapi kan Mama tidak selamanya tinggal disini, kalau sudah bosan ia akan kembali lagi ke Brazil."
Davin menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan kasar "Terserah padamu, besok pagi aku dan Chika akan pulang ke Jakarta!" selesai bicara Davin mendorong kopernya dan berjalan keluar kamar, lalu masuk kedalam kamar Chika.
Pagi ini jadwal Delena untuk operasi sesar. Ia dibawa kedalam ruangan untuk di pasang selang infus, selang oksigen dan selang kencing. Reno selalu berada di sampingnya untuk menguatkan istrinya.
Reno menggenggam tangan Delena "Sayang, aku sangat mencintai dan menyayangimu, bertahan dan berjuanglah demi anak kita." menciumi punggung tangan istrinya
"Iya Mas, doakan aku lahir dengan selamat, akupun sangat menyayangi dan mencintaimu, juga Vano dan Vana." mata Delena sudah berkaca-kaca
"Hal yang paling aku takutkan saat kau berada di meja operasi, aku berusaha tegar dan tenang walau rasa trauma itu masih ada." Airmata Delena meleleh. Reno mengusap genangan airmata istrinya. Menciumi dan memeluk istrinya yang sedang berbaring. Airmatanya ikut menetes manakala melihat istrinya untuk berjuang antara hidup dan mati di ruangan operasi.
"Mommy!
__ADS_1
Reno melepas pelukannya dan melihat kedua anak kembarnya berdiri didepan pintu.
"Kemarilah Nak! perintah Reno.
Vano dan Vana berjalan mendekat.
"Peluk Mommy sayang, kalian adalah sumber kekuatan Mommy."
Vano dan Vana berhambur dan memeluk wanita yang sudah berjuang melahirkannya, bahkan mempertaruhkan nyawa dan koma selama setahun.
Vana terisak didada ibunya, Vano terlihat lebih tegar dan hanya berkaca-kaca. Reno mengusap punggung Vana untuk memberi ketenangan.
"Mommy harus kuat dan selamat, kami semua sangat membutuhkan Mommy." hiks...
"Iya sayang, do'akan Mommy lahir dengan selamat." menciumi kening Vano dan Vana bergantian.
Tak lama masuk Andini, Ramon, Frans, fanny, Siska dan Tomy. Mereka semua memberikan ucapan selamat dan semngat untuk Delena.
Para petugas medis memasuki ruangan.
"Tuan Reno, apa Anda tidak ingin melihat proses kelahiran Nyonya Delena." tanya Dokter Hanna.
"Tidak! aku tidak tega melihat istriku di belek di depan mataku. Cukup aku menjaganya di depan pintu."
"Baiklah! kalau begitu kami akan membawa Nyonya Delena keruangan operasi."
Perawat mulai mendorong ranjang sorong dan membawa Delena kerungan operasi sesar. Genggaman tangan istrinya tidak Reno lepas, sampai didepan pintu operasi ia menciumi kening dan pipi istrinya.
"Ingat sayang, banyak berdo'a. Aku sangat mencintaimu."
Delena tersenyum dan mengangguk pelan. Hingga tubuhnya masuk kedalam ruangan operasi.
๐๐๐
@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat ๐ช nulis๐
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
๐like
๐vote
๐gift
๐komen
__ADS_1
@bersambung......๐๐๐