
Tommy menoleh, mata keduanya saling bersitatap "Apa aku tidak salah dengar?" Tommy meraih wajah cantik Siska dengan kedua tangannya. Menatapnya penuh cinta. "Coba kau katakan lagi sayang?"
"Aku mau menikah dengan mu." Siska tersenyum malu-malu.
"Terima kasih sayang." hati Tommy berbunga bunga, ia mengusap lembut airmata Siska. Mencium kening dan kedua pipinya.
Kening mereka saling menempel "Aku sangat mencintai mu Siska."
"Aku pun sama, sangat mencintai mu Tom. Jangan pernah khianati aku."
"Tidak akan sayang."
Mata keduanya saling bersitatap, getaran hati mereka masih terus berdetak kencang. Tommy tanpa ragu mendekatkan bibirnya dan tercipta lah ciuman hangat penuh cinta.
Getaran ponsel Tommy menghentikan kegiatan mereka berdua, ciuman hangat itu terlepas. Tommy merogoh kantongnya dan melihat panggilan video call masuk.
"Gilang!" serunya.
"Dasar pengganggu!" mendengus kesel, pada akhirnya iapun menerima panggilan itu.
"Hallo Tom.." terpampang wajah pria seumuran dirinya sedang duduk disebuah kursi kantor.
"Ada apalagi Lang?"
"Wahh presentasi mu hebat, nggak salah gue minta tolong sama sahabat gue."
"Maksud loe apa Lang?!" mengeryitkan keningnya, sementara Siska hanya memandang Tommy yang bingung.
"Kerjasama kita di setujui. Ibu Direktur memilih PT Angkasa Raya' karena perusahaan ku sangat kompeten di bidangnya." terlihat wajah cerah dari pria disebrang sana.
"Selamat Lang." Tommy menoleh pada Siska. "Tapi kenapa secepat itu keputusan Qinar?" Tommy tampak ragu.
"Itu dia, maksud ku proyek ini diserahkan untuk ku, asal kau yang mengurusi proyek kerjasama kita."
"Tidak bisa Lang! gue cuma bantu loe sampai sini, selanjutnya terserah loe sama Qinara. Jangan pernah libatkan gue lagi."
"Wath?! loe gila, klau loe gak ikut kerjasama di perusahaan ini, Qinara membatalkan kontrak kerjasamanya, dan keuntungan puluhan Milyar akan hilang begitu saja." ucap Gilang kesal.
"Sial Qinara memakai cara kotor untuk menjerat ku! gumam Tommy dalam hati.
"Gue udah janji bukan? akan kasih loe 30% dari keuntungan ini."
"Sorry Lang gue gak tertarik, uang gue udah banyak." tolak Tommy tergelak.
"Tom, pliss bantu gue." Gilang mengatupkan kedua tangannya memohon.
"Kini gue paham, persahabatan yang loe buat hanya sebatas materi. Apa tujuan loe mendekatkan gue dengan Qinara? sudah jelas gue gak akan kembali padanya."
"Loe gila Tom! Qinara itu seorang Direktur dan ia memiliki perusahaan besar, sama ajah loe buang berlian!" Gilang terlihat kesal.
__ADS_1
"Loe salah, gue sudah memiliki permata yang tidak ternilai harganya." meraih tangan Siska erat, Tommy arahkan ponsel itu kewajah Siska. "Inilah permata ku, sebentar lagi gue akan segera Merrid."
Gilang tercengang melihat wanita di samping Tommy, bukan hanya cantik Siska terlihat elegan dan berkelas.
"Si__apa dia Tom? Gilang menelan Salivanya.
"Loe gak perlu tau, gue takut loe pingsan?"
"Apa salahnya gue namanya."
Tommy tersenyum "Dia calon istriku Fransisca Mahesa."
"What?! Keluarga Mahesa? mata Gilang membulat sempurna, bibirnya menganga. Dalam dunia bisnis siapa yang tidak kenal Kelurga Mahesa' selain pembisnis hebat kelurga itu terkenal dermawan. Posisinya di Asia menjadi ancaman tersendiri bagi dunia pembisnisan, julukan sebagai Macan Asia pun tidak terbantahkan.
Setelah menutup telpon Gilang, Tommy kembali meraih tangan Siska dan menciumnya.
"Tom, apa hubungan mu dengan Direktur Qinara? menatap dalam wajah tampan Tommy. wajah itu tersorot sinar matahari siang menembus kaca jendela.
"Qinara adalah masalalu ku, dan kau adalah masa depan ku." menghela nafas "Semua orang memiliki masalalu bukan? dan kau pun demikian, jadi mulai sekarang jangan pernah menengok lagi kebelakng, kita akan menata masa depan bersama."
'Tommy kau begitu bijak." Siska memeluk tubuh Tommy, kecupan manis mendarat di kening Siska.
"Sekarang kita mau kemana?!
"Bukan kah kita akan ke kantor Tuan Ramon?
"Jangan di kantor Tom, lebih baik bicara di rumah."
"Kalau begitu kita makan siang berdua untuk merayakan hari jadian kita."
"Boleh juga." Siska tersenyum senang "Tapi mobil mu masih disini."
"Aku akan menyuruh orang mengambilnya."
'Oke kalau begitu kita berangkat."
Siska melajukan mobilnya meningglkan gedung perkantoran milik Qinara.
****
Siang itu seperti biasa Delena selalu membawakan suami kesayangannya makan siang. Mobil sudah berhenti didepan perkantoran milik Reno. Delena keluar dari mobil sambil membawa rantang makanan tupper ware menuju ruangan suaminya. Satpam penjaga pintu membungkuk memberi hormat, Delena tersenyum saat karyawan memberi hormat dan menyapa dengan sopan. Bisik bisik para karyawan pun mulai terdengar, mereka sangat kagum dengan sosok Delena yang ramah dan setia pada presdir muda yang dingin dan pendiam itu bila di depan karyawannya. Siapa sangka di balik sifat dingin dan terkenal kejam itu pada lawan bisnisnya bisa takluk di depan istrinya.
Delena sudah berada di lantai atas, asisten Anita membungkuk dan menyambut kedatangan Nona muda itu.
"Siang Nyonya."
"Siang Anita." tersenyum ramah.
"Suamiku ada?"
__ADS_1
"Tuan sedang berada diluar dengan asisten Frans. tapi kata Tuan kalau ada Nyonya tunggu ajah."
"Ohh, ok maksih Anita."
Delena sudah berada didalam ruangan Reno, menaruh rantang diatas meja, dan duduk di kursi presdir. Mengambil majalah bisnis di rak buku untuk mengusir kesepiannya, membulak balikan majalah itu. Tanpa sengaja Delena menjatuhkan sesuatu dari dalam selipan majalah dan terjatuh tepat di depan kakinya.
"Apa itu? Delena menundukan wajahnya ke bawah "Ada foto?" gumamnya. "Foto siapa ya?" Delena mengambil foto yang terbalik dibawah kakinya, ia membungkuk. Saat sudah berada di tangannya ia membalikan foto itu, alangkah terkejutnya Delena melihat foto mesra Reno dengan kekasih lamanya.
"Anjali? gumam Delena, bola matanya meredup Siapa yang menaruh foto ini di dalam majalah?" Delena terus berfikir, tapi kenapa hatinya begitu sakit? Apa mungkin mas Reno yang menaruhnya? tidak! tidak mungkin Mas Reno, tapi siapa? foto ini ya Tuhan." Delena menatap foto itu kembali, mesti sebenarnya ia tak sanggup. Matanya sudah basah dengan airmata. Reno sedang mendekap tubuh Anjali sambil mencium mesra pipinya. Delena tak berhenti menangis, rasanya sangat sulit untuk menghentikan airmatanya.
"Ceklek!
Pintu ruangan terbuka, Delena beranjak dari kursi presdir, ia membalikan tubuhnya menghadap jendela kaca didepannya. Memasukan foto itu kedalam kantung saku androk panjangnya. Dengan cepat Delena mengusap kasar airmata itu.
"Sayang.. kau sudah datang." Reno berjalan mendekat kearah jendela kaca di mana Delena berdiri. Delena tidak bergeming.
"Sayang..." memeluk tubuh istrinya dari belakang, menyandarkan kepalanya di bahu Delena.
"Sayang, kenapa diam? membalikkan tubuh istrinya untuk menghadap dirinya. "Heiii.. kenapa menangis? menatap lekat wajah istrinya yang tertunduk.
Delena menggeleng "Aku tidak apa-apa, mataku tadi kelilipan mas." dusta Delena tersenyum canggung.
"Apa aku panggilkan Dokter?
"Tidak usah Mas, nanti juga baik sendri."
Mencium kening istrinya "Ya sudah ayo kita makan. Tadi client mengajak makan yank, tapi Mas tolak karena istri mas selalu masak setiap hari." tersenyum bahagia.
Delena berjalan ke sofa bersama Reno. membuka makanan diatas meja, menuangkan nasi dan daging asap kesukaan suaminya diatas piring.
"Yank kenapa kau dari tadi murung? tidak secerah biasanya." Reno membuyarkan lamunan Delena yang menatap kebawah dengan pandangan kosong. "Apa kau sakit?" menaruh punggung tangannya di kening istrinya.
"Tidak apa-apa ko Mas, mungkin aku hanya sedikit lelah." tersnyum terpaksa.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut Mas Reno atau merusak rumah tangga ku." janji Delena menatap wajah Reno penuh kehangatan.
"Sayang, apa yang sedang kau pikirkan." Reno bertanya penuh kekhawatiran, mengelus lembut pipi istrinya.
"Tidak ada Mas." tersenyum tipis, sambil satu tangannya memasukkan senfok kedalam mulut suaminya.
"Aku harus mencaritahu tentang foto itu, siapa yang telah membuka luka lama hatiku!" gumam Delena dalam hati.
'
'
'
'
__ADS_1
'