ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Terbebas


__ADS_3

"ku hitung sampai tiga, bila kau tidak keluar dari dalam akan tendang pintu ini!"


"Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka, tapi Delena tidak keluar, membuat pria itu heran.


"Haaiii.. kau berada dimana? kenapa kau tidak keluar! jangan coba coba kabur! karena penasaran pria itu masuk kedalam dan tiba-tiba.....


"Bukk!


"Bukk!


"Aaahhkkkk!


Delena berhasil menghantam kepala pria itu dari belakang bertubi tubi, setelah ia jatuh ke lantai buru-buru Delena pergi dari tempat itu untuk menyusul Anjali.


"Satu orang sudah ku bereskan, tinggal membereskan semua orang yang berada di atas."


Delena berjalan penuh hati-hati, ia mulai berpikir bagaimana caranya untuk menghabisi mereka satu persatu.


"Aku ada Ide!" mata Delena melihat pecahan batu bata yang berserakan dilantai, ia mengambilnya dan berjalan menaiki anak tangga, ia melempar pecahan batu bata itu keatas dan mengenai pintu.


"Pletak!


"Haiii siapa yang melempar batu! teriak pria yang berjaga diatas


"Pletak!


Timpukan itu semakin keras.


"Siapa yang sudah berani menimpuk kesini!


"Lebih baik kau turun kebawah, kenapa si boy dan wanita itu belum juga kembali!"


"Baiklah aku yang akan turun, Kau jaga wanita ini jangan biarkan dia kabur!"


Pria itu menuruni anak tangga, Delena mengumpat disamping tangga, saat pria itu sudah berada di bawah tangga dengan cepat Delena menghantam punggungnya berkali-kali, sadar ia mendapat serangan, ia mulai melawan dan balik menyerang Delena, sebelum serangan itu mengenai tubuh Delena, dengan cepat Delena menendang perutnya dengan telak, hingga ia jatuh tersungkur. Delena seakan ilang kesadarannya ia terus memukuli pria itu dengan pipa besi sampai membabi buta, pria itu meregang nyawa dengan mata, hidung dan bibirnya keluar darah segar. Delena langsung tersadar.


"Ya Tuhan aku telah membunuh orang?


Ia memundurkan langkahnya sambil membekap mulutnya, darah Delena berdesir jantungnya berdebar tak karuan, seumur hidupnya baru kali ini ia membunuh orang.


"'Tidak! aku tidak boleh lemah, aku harus secepatnya keluar dari tempat ini, aku harus menyelamatkan Anjali."


Delena menaiki anak tangga penuh hati hati, ia menaruh pipa besi dibelakang punggungnya, saat sudah berada diatas pria itu menatap curiga pada Delena.


"Haii.. kenapa kau sendiri di mana temanku!


Teman-temanmu sudah tidak ada lagi, lebih baik kau menyerahlah! atau kau ingin menyusul mereka!


"Brengsek Kau, berani padaku!"


Saat tangan pria itu ingin memukul, Delena sudah lebih dulu menghantam kepala pria itu dengan pipa besi secara brutal. tak ayal lagi pria itu roboh ke lantai.


"Aaaakkkhhhh.


Delena menarik nafas dalam-dalam, ia begitu lega sudah menghabisi lawannya satu persatu. Ia mencari kunci unuk membuka pintu. setelah menemukan kunci itu, Delena membukakan pintu dengan terburu-buru.


"Delena, terima kasih." Anjali memeluk Delena.


"Ayo cepat kita harus pergi dari sini sebelum mereka mengejar kita."


Mereka berdua menuruni anak tangga, tiga susun anak tangga harus mereka lewati. saat di bawah tangga Anjali terpekik, ia melihat pria penjaga pintu terkapar dengan keluar darah dari wajahnya.


"Ayo cepet Anjali, kita harus keluar dari tempat ini!

__ADS_1


"Arah pintu keluar lewat mana?! tanya delena


"Masih tiga tangga turun ke bawah."


Saat mereka menuruni anak tangga ke bawah, mereka mendengar langkah sepatu berlari cepat ke arahnya.


"Sepertinya ada orang yang naik keatas cepat kita kembali ke lantai tadi, disana ada pintu darurat."


Tiga orang pria bertubuh kekar datang dan mereka terkejut mendapati anak buahnya mati terkapar.


"Brengsek! rupanya ada yang membunuh anak buah kita, cepat kalian naik keatas lihat dua wanita itu masih ada tau tidak!


Dua orang pria naik keatas tak lama mereka turun kembali.


"Bos! ruangannya kosong dua wanita itu telah kabur!'


"Apa mereka kabur! siapa yang sudah melakukan ini! cepat kalian berpencar kejar dua wanita itu!"


Sementara Delena dan Anjali sudah menemukan jalan keluar.


"Lewat pintu ini, seperti ini tangga darurat!"


"Ruangan ini sangat gelap, apa tidak bisa lewat jalan lain lagi?


"Ini satu satunya jalan menuju kebawah, kita bisa meraba tembok sampai bisa turun kebawah, kau pegang pundak ku saja." ujar Delena meyakinkan Anjali.


"Delena pelan-pelan aku pakai high heels, aku takut jatuh!


"kalau begitu kau lepas saja high heelsnya agar kau tidak terjatuh, aku juga sudah melepaskan nya agar gerak kita cepat.


"Baiklah!


Tiba-tiba ada cahaya dari atas kepala mereka.


"Itu mereka lewati pintu ini! teriak pria itu.


Delena mempercepat langkahnya, saat sudah berada dibawah tangga ia membuka pintu.


"Ahh! akhirnya kita bisa keluar juga! Delena bernafas lega.


"Aku tutup pintu ini dulu dari luar, agar mereka tidak bisa mengejar kita."


Mata Delena melihat sebuah tong bundar berukuran besar, yang ternyata berisi air.


"Anjali ayo cepat bantu aku mendorong tong ini!


"Iya!


Delena dan Anjali mendorong tong itu untuk menutup pintu itu.


"Ayo Anjali kita lari yang kenceng!


"Delena bagaimana aku bisa berlari kencang, kalau rok span ku ajah ketat begini"


"Anjali sebisa kau saja berlari, kau jangan pernah pedulikan rok span mu itu!


"Ayo cepat, kita sudah tidak ada waktu lagi!


Delena dan Anjali terus berlari tanpa menghiraukan kakinya yang tersandung batu dan kerikil, karena mereka tidak menggunakan alas kaki. malam semakin larut dan jalanan sangatlah gelap.


"Tunggu! berhenti sebentar aku lelah! Anjali menarik nafas dalam-dalam dengan nafas tersengal sengal.


"kita berada di daerah mana Anjali!


"Aku juga kurang paham sepertinya ini sudah lewat batas luar kota."

__ADS_1


"kau benar Anjali, begitu banyak pepohonan rindang sebelah kanan dan kiri, hanya ada beberapa rumah yang berada di sekitar sini berarti gedung tua itu berada didalam rumah penduduk.


"kita harus tinggalkan tempat ini, dan menemukan jalan raya agar bisa bertemu kendaraan."


"Jam berapa sekarang!"


Delena menoleh pada Arlojinya "Sudah jam Dua belas lewat tiga puluh menit.


"Berhenti! atau kalian akan aku tembak." terdengar suara teriakan dari kejauhan.


"Cepat Anjali lari mereka mengejar kita!


Delena menarik tangan Anjali dan mereka terus berlari.


"Doorr....


Terdengar suara tembakan.


"Aakkkkkhhh! Bruk!


Anjali terjatuh ketanah bebatuan.


"Anjali....! ya Tuhan kakimu tertembak."


Delena terlihat panik dan tegang, ia berjongkok ingin membantu mengagkat Anjali.


"Tidak Delena Kau pergi saja!


"Apa maksudmu Anjali?"


"Tinggalkan aku sendiri, aku tidak akan mampu lagi berlari!


"Tapi kau akan mati ditangan mereka?"


"Mungkin ini sudah takdirku, aku akan menebus semua dosa-dosa dan kesalahanku dimasa lalu. cepatlah pergi Delena! ini kesempatan mu untuk lari dari orang-orang Davina! bila kau tertangkap semua perjuanganmu akan sia-sia!


"Tapi Anjali aku tidak tega meninggalkanmu sendiri dalam keadaan parah begini." luluh sudah air mata Delena.


"Hidup mu masih panjang Delena, kau masih memiliki suami yang mencintaimu, dua anak kembar dan ibu kandung."


"Itu Mereka! cepat tangkap!"


"Cepat lari dan pergi dari sini Delena!" teriakan Anjali membuat Delena tersadar dari kesedihan nya.


"Maafkan aku Anjali, semoga kau baik-baik saja dan mereka tidak membunuh mu." hiks....


"Cepat kau bongkar kedok dan kebusukan Davina, Delena!"


Delena mengangguk dan memutar tubuhnya, ia berlari lagi sekuat yang ia bisa, Delena berlari sambil mengusap air matanya. hatinya begitu sedih meninggalkan Anjali yang jatuh terduduk tak berdaya.


'


'


'


'


'


'


'


@Bersambung.....

__ADS_1


Terima kasih banyak atas doa semua reader untuk kesembuhan dan kesehatan Author/Bunda, saya anak dari Bunda yang mengetik tapi tetap idenya bunda.( karena saya juga penulis) semoga doa kalian dapat menyembuhkan bunda dan doa terbaik juga buat kalian. Terima kasih 🙏


@Jangan pernah bosan untuk terus dukung karya Bunda ya, karena setiap novel pasti ada konfliknya.


__ADS_2