
Dengan kesal Robert mematikan ponselnya. Davina hanya terdiam kaku di tempat duduknya dengan pandangan kosong kedepan, tanpa mengeluarkan suara sepatah pun.
Robert meraih tangan istrinya. "Sayang dengarkan aku? tidak ada hubungan apapun aku dengannya, dia adalah wanita masa laluku."
Delena menepis tangan suaminya. Dan beranjak dari duduknya, ia melangkah pergi dengan tatapan kosong.
"Davina!!"
Helena bangkit dari duduknya, memanggil nama anaknya sedikit keras. "Kau jangan malah menghindar, tapi hadapi masalah kelurga mu. ibu sudah dengar semuanya dan ini tidak sepenuhnya salah Robert. Justru suamimu melindungi mu, Saat Robert ingin menjelaskan tadi, telpon wanita itu masuk. Seharusnya kau juga harus menyadari, semua orang punya masalalu. Selama ini Robert sudah sangat baik dan mau menerima masalalu mu." Helena berjalan semakin dekat dan merangkulnya "Ibu paham apa yang kau rasakan, kalau saja Robert tidak menahan wanita itu, dia sudah membawa kasus kecelakaan itu ke ranah hukum. Robert sudah ceritakan semuanya pada ibu.
Netra Delena berkaca-kaca, menatap nanar wajah wanita paruh baya yang sudah melahirkannya ke dunia. "Ibu...!" Davina memeluk ibunya erat. "Apakah ini yang dinamakan hukum karma? hiks.. hiks.. Isak tangisannya terdengar lirih.
["Dulu aku wanita kotor dan selalu menggoda Pria hidung belang untuk mencari kepuasan dan uang. walau sebenarnya aku hanyalah pancingan dan bukan aku yang melayani mereka diatas ranjang. Menjerat kaum Adam dengan tubuh molek dan rayuan mautku adalah pekerjaanku, bahkan aku menghabiskan uang mereka untuk kekayaan ku. Para istri si hidung belang menghujat dan mencela diriku sebagai seorang pelakor murahan. Banyak sudah pundi-pundi uang yang kudapatkan, Harta ku semakin banyak. Saham ku bertebaran dimana-mana, mansion, mobil bermerk berjejer di garasi. Aku miliki segalanya dan tinggal di Amerika bersama Erland, pria yang selalu mencintaiku. Harta telah merubah gaya hidupku. Aku bergelimang harta dan tidak pernah kekurangan uang, membuatku lupa segalanya. Namun, semua harta itu tidaklah membuat ku hidup bahagia. Aku yang sudah banyak berkorban harus mendapat penghianatan dari kekasihku Erland. Aku kecewa dan tinggalkan semuanya karena penghianatan. Kini saat mendengar suamiku memiliki anak dari mantan kekasihnya, membuat jiwaku berontak dan begitu sakit. Lucu bukan? tapi seperti itulah hatiku. Egois kah diriku? iya.. aku wanita yang egois, tidak ingin berbagi cinta pada wanita lain, padahal aku sendiri seorang penggoda."]
Davina mengurai pelukannya "Aku teramat mencintai suamiku Bu? aku tidak bisa berbagi suami dengan wanita lain. Walau suamiku menolak, namun ada darah yang mengalir dari anak wanita itu, apakah aku sanggup melihat suamiku kelak berbagi kasih sayang pada anaknya yang lain?"
"Sayang... percaya padaku. Aku akan selalu menyayangi Chika dan tidak akan pernah berpaling darimu." ucap Robert disela langkahnya berjalan mendekati ibu dan anak itu.
"Apa kau tidak dengar Mas? ancaman wanita itu yang ingin menjebloskan aku ke penjara? sungguh aku tidak tahu kalau anak itu mengalami lumpuh, kau yang sudah menutupi nya dariku Mas!" seru Davina menatap lekat manik mata suaminya.
"Aku bukan menutupinya, tapi itu aku lakukan demi mu, agar kau tidak dituntut! meraih tangan Davina. "Aku bersumpah tidak akan membiarkan istriku masuk kadalam penjara. kita akan menghadapinya bersama-sama."
"Wanita itu pasti akan terus mengejar mu, Mas! dan tidak akan puas sebelum aku masuk penjara!"
"Aku akan mencari pengecara hebat sekelas Herman Paris. Atau kita membuat kesepakatan, memberikan satu rumah sakit untuk kehidupan Sabrina, asal Kinan tidak menuntut kecelakaan itu lagi. Apa kau setuju?"
Davina mengusap kristal bening yang terus menetes, menatap sendu wajah lelah suaminya. sebuah anggukan kepala sebagai tanda persetujuan.
Robert menarik Davina dalam pelukannya "Terima kasih sayang, kini kita sama-sama berjuang untuk mempertahankan rumah tangga kita. Aku tetap akan bertanggung jawab untuk kesembuhan kaki Sabrina. Gadis itu terlahir dari kesalahanku di masa lalu. Kini dengan hadirnya dirimu dan Chika adalah pelengkap hidupku. kalian berdua anugrah terindahku yang sampai kapanpun akan aku jaga."
Helena bernafas lega, mengusap lembut kedua kepala anak mantunya.
"Ibu sangat bahagia, akhirnya kalian bisa menyelesaikan masalah rumah tangga kalian berdua. kini ibu lega."
"Terima kasih Bu, atas nasehat ibu." mereka bertiga saling berangkulan.
****
__ADS_1
Pagi itu Davina, Robert dan Chika sudah bersiap akan pulang ke Bali, namun sebelum pulang, Davina berencana untuk datang menjenguk Merry di lapas. Davin sendiri masih penasaran kenapa Merry tega ingin membunuh dirinya."
Di depan mansion. Helena, Delena, Reno, Vano dan Vana melepas kepergian keluarga Robert. Mereka sangat terharu dan saling berpelukan melepas rindu.
"Vano, Vana. Jangan lupa datang kerumah mami di Bali. Mami sangat merindukan kalian." mencium kening si kembar bergantian.
"Iya Mih! ucap keduanya kompak
"Delena terima kasih banyak, kau sudah sangat membantuku dan memberikan Perusahaan Papa untukku. Semoga aku bisa mengelolanya." ujar David seraya mengusap lembut kepala Zidan dan mencium keningnya.
"Iya kak! jaga diri kakak dan Chika."
"Ibu! mereka saling berpelukan "Aku Aku sangat merindukan ibu. Jaga diri ibu baik-baik dan sempatkan datang ke Bali."
"InsyaAllah, ibu akan berkunjung ke Bali."
"Bro makasih banyak ya! Robert bersalaman dengan Reno, dan dua orang sahabat itu saling berangkulan.
Mobil mereka pergi meninggalkan mansion menuju lapas.
***
Suara pintu terbuka, masuk seorang wanita dengan raut wajah kusut. Tubuhnya berbalut baju oranye dan bertuliskan 'tahanan' Wanita itu menelisik tajam kearah Davina yang terduduk santai di kursi kayu.
"Ingat! waktu kalian hanya tiga puluh menit!" ujar polwan. Setelah berbicara wanita berseragam coklat itu menutup pintu.
"Untuk apa kau menemuiku?! ucapnya dingin tanpa menoleh.
"Tentu saja ingin mengetahui rencana busuk dalam otakmu! Sungguh, aku tidak menyangka ternyata kau adalah musuh dalam selimut. orang yang kukira baik ternyata menusuk ku dari belakang!"
"Heh! Merry tergeletak, sudut bibirnya terangkat. "kupikir kau sudah berada di alam baka, ternyata nyawamu banyak juga ya!"
Kenapa kau Ingin menuntut kematianku Merry? Apa untungnya bagimu Ingin membunuh ku! padahal aku selalu percaya padamu, Merry! apapun yang kau minta selalu aku berikan!"
Tapi kau tidak memberikan Erland padakul Pria yang selama ini aku cintai!"
"Deg! jantung Davin berdebar hebat.
__ADS_1
"Jadi selama ini kau mencintai Erland? kedua alisnya menaut.
"Iya! bahkan aku sudah melahirkan anaknya! kau lihat anak lelaki berusia tujuh tahun. itu adalah anak Erland! Merry menatap tajam kearah Davina, seakan ada dendam mendalam di sorot matanya. "Hidup ku tidak pernah tenang dan bahagia. Erland masih terus mencintai dan mencarimu! kau adalah penghalang bagiku!" cerca Merry. "Seharusnya kau tidak datang kembali dan selamanya pergi dari kehidupan ku dan Erland!"
"Dasar wanita egois! apa hak mu melarang aku datang ke Jakarta, Disini masih ada ibu dan adikku! kalau memang kau mencintai Erland, Kenapa kau pertemukan dan menjebak aku di Bar!!"
"Aku terpaksa! Orang-orang Erland sudah memberikan info kalau kau berada di Jakarta! Bahkan saat kau datang kerumah ku, Erland sudah mengetahuinya, aku harus membawamu ke Bar atas perintahnya."
"Pasti kau melakukan itu demi uang! aku sangat tahu sifat aslimu seperti apa? wanita gila harta!"
"Cukup ocehan mu! Kau pikir kau siapa? wanita j4l4ng yang menjual harga dirinya, demi uang!"
"PLAKK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Merry. "Seharusnya sejak dari dulu aku tidak pernah mengenalmu! Aku tidak pernah menyesal meninggalkan pria busuk seperti Erland! Kini hidupku sudah bahagia bersama anak dan suami yang mencintaiku! tapi kau?" menunjuk dada Merry "Masih terus mengejar cinta Erland dan hartanya. Sungguh memuakkan kelakuan mu, menjeratnya dengan melahirkan anak haram! padahal Erland tidak pernah mencintaimu! kau hanya pemuas nafsunya!" Davina terbahak seakan menertawakan nasib Mary.
"Brengsek kau! Merry menarik rambut Davina "Seharusnya aku saja yang membunuhmu malam itu dengan tanganku sendiri!"
Davina tak mau kalah, iapun menjambak kuat rambut Merry. Mereka saling jambak dan memaki.
"Berhenti! teriak dua orang polwan, mereka masuk kedalam ruangan dan melerai pertikaian dua wanita itu.
"Disini bukan tempat untuk berkelahi! apa kalian tidak malu terlihat di layar monitor!" bentak wanita berseragam coklat itu.
"Maaf Bu! Davina mendesah pelan.
"Jam kunjungan sudah selesai, silakan anda keluar." pinta polwan pada Davina.
Sebelum pergi Davina menelisik wajah Merry "Sekarang Erland sudah tidak memiliki kaki! kejarlah dia bila kau mencintainya. Tapi sayangnya dia juga harus masuk bui, karena perbuatannya padaku!"
Merry mencabik kesal, seraya menatap kepergian Davina.
💜💜💜
@Berssmbung.....
@Sad banget membaca komentar kalian yang tidak sabar untuk penyelesaian cerita Davin dan Robert. Budayakan jangan suka menyudutkan penulis, penulis juga manusia biasa. BUNDA hanya ingin menghibur kalian dengan tulisan dan ide-ide Bunda.
__ADS_1
@Selamat Menjalankan Ibadah puasa 🙏