ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Merasa Kehilangan


__ADS_3

Reno merangkul pundak fanny yang menangis dalam dekapan nya, mereka berjalan menuju ruangan Reno.


"Anita, buat kan teh manis hangat untuk fanny"


"Baik tuan"


Ceklek! mereka masuk kedalam Ruangan Reno


"Duduk lah,,"


"Kakak,, hiks,, hiks,,hiks,," fanny masih menangis dalam pelukan Reno, dada Reno sebagai tempat tangisan fanny yang semakin dalam.


"Sudah fanny,," Reno mengusap airmata fanny "Biarkan Frans tenang dulu, kau masih terbawa emosi, jangan biarkan tangisan mu semakin membuat mu terpuruk, kaka tidak ingin kau lemah, Kaka ingin terlihat kau kuat dan mampu dalam menghadapi masalah"


"Sebenarnya ada apa dengan Frans kak,,?"


"Tuan,, ini teh manis nya"


"Taruh di meja"


"Ayo fan,, duduk dulu"


Fanny duduk di Sofa, Reno duduk disamping nya sambil terus merangkul adiknya memberi keterangan.


"Kak,, tolong beri kejelasan apa yang sebenarnya terjadi pada Frans"


Hah! Reno menghela nafas kasar, seakan beban nya bertambah lagi, baru saja ia bahagia bertemu frans kembali, tapi kini adiknya harus sedih kehilngn sosok frans, Reno sebagai kaka harus bijak dan memberikan keterangan pada adiknya, sekrang tugasnya hrus memberi keterangan pada fanny masalah frans, tapi ia bingung, sebenarnya tak tega membohongi adiknya sendiri, tapi karena sudah berjanji pada frans, dan ia harus melakukan nya


Reno memegangi bibirnya yang bervolume, seakan sedang berpikir "Hemm,, begini fan, frans saat ini sedang dalam kondisi yang memprihatinkan, lebih baik kau tidak usah menemuinya dulu"


"Apa maksud kakak,,? Fanny memiring kan kepalanya menatap wajah Reno, mencari kebenaran dari ucapan kakaknya.


"Fanny,, kaka tidak ingin kau merasa terbebani masalah frans, lebih baik kau urus kuliah mu, karena sebentar Lagi kau akan ujian"


"Kaka jangan mengalihkan pertanyaan ku? sebenarnya ada masalah pada dengan frans, mengapa semudah itu dia melupaukan dirikan?! ucap Fanny setengah berteriak "kalau kakak tidak mau menjelaskannya, aku sendiri yang akan meminta penjelasan dari Frans sampai ia mau berbicara! Fanny lngsung berdiri


"Fanny dengar Kaka! Frans itu sedang Amnesia, ia pasti melupakan dirimu!"

__ADS_1


"Apa,,, Amnesia?! apa aku tidak salah dengar Kak?? Bagaimana mungkin Frans bisa amnesia sementara ia ingat kakak dan pekerjaannya di dalam kantor ini, sandiwara apa yang sedang Kakak dan Frans mainkan!"


"fanny,, fanny,, apa kau tau? ada orang amnesia yang tidak lupa ingatannya semua, ada sebagian memorinya yang masih ingat dan ada sebagian nomornya yang sudah hilang, dan bagian memori frans saat masih bekerjasama di perusahaan kaka, ia masih mengingatnya, Karena kantor ini sudah melekat dihatinya, sementara hubungan mu dengan frans baru saja dimulai dan ia tidak bisa mengingat nya lagi, yang ia tau kau itu bukan kekasihnya, tapi kau adikku anak dari pemilik perusahaan ini"


Fany terdiam saat Reno menjelaskan, hatinya begitu sakit saat tau frans melupakan dirinya karena Amnesia, fanny lngsung terduduk lemah dengan pandangan kosong.


"Maafkan kaka mu ini fan, sebenarnya kaka gak tega melihat kau bersedih, tapi mau bagaimana lagi? Frans tidak ingin kau kecewa dengan melihat keadaanya, kaka juga tidak ingin kau merendahkan frans saat tau fisiknya, karena Kaka tau, kau wanita yang sangat protektif, biarlah frans sembuh dulu, baru Frans akan datang padamu" Reno membatin.


"Fanny,, minum lah dulu, agar kau tidak tegang, Kaka tidak mau kau banyak pikiran" Reno menyodorkan cangkir teh manis hangat pada fanny, sambil mengusap airmatanya fanny menerima cangkir itu dan meminumnya.


"Kak,, aku pamit pulang dulu"


"Fan,, kaka antar pulang ya,,"


"Tidak usah kak, aku bawa mobil sendiri"


"Tapi kau sedang sedih, kaka tidak ingin kau kenapa napa di jalan, biar nanti supir yang bawa mobil mu pulang"


Fanny mengangguk pelan, Reno dan fanny keluar ruangan menuju lift, saat sedang berjalan kluar fanny masih menatap ruangan kerja frans, hatinya begitu sakit mendapati kenyataan frans telah melupakan dirinya karena hilang ingatan.


"Hiks,, hiks,, hiks,, aku tidak pernah menangis untuk siapapun bahkan aku tertembak tiga peluru sekalipun aku tidak menangis, saat bom di Itali hampir merenggut nyawa ku dan akhirnya aku cacat, aku tidak menangis, tapi kau Fanny alasan aku menangis, aku tidak ingin kehilngan mu, tapi aku tidak bisa, kau butuh laki laki normal untuk melindungi dan menjaga mu, aku tidak ingin mengecewakan mu fan, selamat tinggal fanny"


@@@


Sore itu hujan sangat deras, Tommy terus melajukan mobilnya menuju sebuah villa, dua jam setengah perjalanan, Akhirnya mobil sampai di tempat tujuan, sebuah gerbang kayu terbuka lebar, ia terus masuk kedalam hingga mobil berhenti di depan sebuah villa, Tommy mengambl payung hitam di belakang bagasi, setelh membuka payung itu ia berjalan terus menuju villa, angin kencang di barengin hujan deras, tapi tak menghentikan langkah Tommy untuk terus menaiki anak tangga untuk menuju sebuah villa yang berada diatas puncak, baju dan sepatu pantofel sudah basah oleh air hujan yang semakin deras.


"Tommy hati hati tangga nya sangat licin, pelan pelan saja" teriak siska yang sedang menunggu di teras villa bersama teman temannya, hingga akhirnya tommy sampai di depan teras, dengan cepat siska menyuruh tommy masuk kedalam, sebuah kopi panas dan beberapa cemilan tersusun diatas meja tamu.


"Silahkan di minum kopinya mumpung hangat mas tomy" sapa pemilik rumah ramah


"Terima kasih bu,," tomy mngambil kopi didepan nya dan menyeruputnya perlahan.


"Bagaimana Non siska, kita pulang sekarang?


"Masih hujan di luar tunggulah sebentar lagi, kau baru saja datang lebih baik nikmatin dulu makanan yang sudah disiapkan oleh temanku"


Tommy tersenyum sambil menikmati cemilan diatas meja, mereka mengobrol sambil menunggu hujan reda, hujan pun mulai berhenti dan mereka pamitan pada pemilik villa, tak ingin siska sakit, Tomy membuka payung untuk payungi Siska karena hujan masih rintik rintik, mereka berdua menuruni anak tangga karena licin dan takut terjatuh siska berpegang pada tangan Tommy.

__ADS_1


"Nona lebih baik kau ku gendong, aku takut kau terjatuh, karena tangga ini sangat licik, apalagi kau memakai high heels"


"Aku takut kau terjatuh bila menggendong ku sampai bawah tom, kaupun pake pantofel pasti licin dan beban ku berat"


"Aku akan buka sepatu ku, kau yang pegang payung, biar sepatu ku tinggalkan disini dulu, setelh kau sudah sampai mobil aku kembali lagi ambil sepatu"


"Tidak usah Tom, itu akan merepotkan mu, aku bisa jalan pelan pelan ko"


"Ahh,, sial, hujan nya mulai deras lagi" saat Siska ingin menuruni anak tangga tiba tiba kakinya hampir kepeleset "Hati hati Nona, awas itu licin" dengan cepat tangan Tommy merangkul tubuh siska agar tidak terjatuh, Siska terpekik dan kaget.


"Kan sudah aku bilang, sepatu mu itu ujung nya runcing sangat berbahaya siska"


"Terserah kau saja Tom, tapi hati hati ya"


"Pegang dulu payung nya, aku buka sepatu dulu"


Siska mengambil alih payung itu, Tommy membuka sepatu nya "Aku saja bawa sepatu mu, jadi kau tidak perlu bulak balik ke mari lagi"


"Apa tidak merepotkan Nona?


"Tidak apa-apa Tom, satu tangan ku pegang payung, satu nya lagi pegang sepatu"


Tommy mengangguk setuju, sepatunya ia berikan pada Siska, setelh menggulung celana panjang nya, Tommy mengangkat tubuh siska, dan mulai berjalan perlahan, sambil memegang payung, siska menyandar kan kepalanya di pundak Tommy, hingga mereka berdua sampai di depan mobil dengan selamat, setelh masuk kedalam mobil, mobil berjalan meninggalkan villa itu.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


'


'


BERSAMBUNG


'


'


'@jangan lupa terus ikuti kelanjutan nya, dan LiKE setelh membaca, kasih Author hadiah VOTE/,Gifh, Rate bintang 5, sertakan komentar positif nya.

__ADS_1


__ADS_2