ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Lamaran (part satu)


__ADS_3

"Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut Mas Reno atau merusak rumah tangga ku." janji Delena menatap wajah Reno penuh kehangatan.


"Sayang, apa yang sedang kau pikirkan." Reno bertanya penuh kekhawatiran, mengelus lembut pipi istrinya.


"Tidak ada Mas." tersenyum tipis, sambil satu tangannya memasukkan sendok kedalam mulut suaminya.


"Aku harus mencaritahu tentang foto itu, siapa yang telah membuka luka lama hatiku!" gumam Delena dalam hati.


Selesai makan bersama Delena berjalan kearah Jendela. Melipat kedua tangannya sambil menatap hujan deras diluar. kaca sudah berembun akibat hujan besar diluar sana. Terdengar suara petir saling bersahutan.


"Sayang..." Reno berjalan kearah Delena berdiri dan memeluknya kembali, baru saja ia selesai menerima telpon dari pengacaranya.


Kepala Reno bersandar pada pundak istrinya manja "Sayang mas punya kejutan untuk mu." mencium pipi Delena.


"Kejutan apa Mas? suara Delena lemah seakan tak bersemangat.


Membalikkan tubuh Delena "Kau tau kabar apa yang akan mas berikan?' tersenyum sumringah. Delena menggeleng pelan. "Kabar apa Mas?!"


"Mansion Papa Darwin sudah kembali padamu, ibu Helena sudah bisa memilikinya." Mata Delena berbinar cerah "Kau tidak bohong kan Mas? menatap wajah Reno yang sedang tersenyum "Tentu saja tidak sayang." Delena memeluk tubuh suaminya erat, dan menangis haru. Reno mencium pucuk kepala istrinya.


"Sudah jangan bersedih lagi." mengusap lembut airmata Delena.


"Bagaimana bisa mas mendapatkan sertifikat itu dengan cepat, aku melihat sendiri bagaimana kak Davin sudah menjual mansion itu pada Handoko."


"Tidak semudah itu mereka menipu kita."


"Maksud Mas? Delena mengerutkan kedua alisnya.


Mereka telah memalsukan tanda tangan Davina, dan memberi surat kuasa itu kepada Handoko. Orang-orang ku bekerja keras untuk ini. dan sekarang sudah dialihkan kembali padamu, Sertifikat palsu itu sudah di serahkan ke notaris dan sertifikat yang ada padamu yang Asli.


"Lalu kemana Sonya dan Jane?'


Mereka berdua sempat kabur, tapi orang orang ku sudah menangkapnya dan sekarang mereka berada di penjara, tinggal menunggu Handoko datang kemari untuk pertanggung jawabkan perbuatannya karena sertifikat palsu itu."


"Kenapa mereka masih tidak jera juga mas, aku tidak habis pikir. dengan berani memalsukan kembali sertifikat itu kembali."


"Biarkan mereka membusuk dipenjara akibat dari keserakahan mereka." Reno tampak geram, menarik kedua pipi Delena mencium keningnya.


"Tapi aku masih belum puas Mas atas kematian Papa, hiks.. hukuman pemalsuan surat sertifikat hanya berapa tahun saja, tapi bila Handoko dan Sonya terbukti bersalah atas kematian Papa, aku harap selamanya ia mendekam dipenjara."


"Iya sayang."


"Yank sekarang masih hujan, pulangnya bareng Mas ajah ya, kebetulan kerjaan mas tidak menumpuk."


Delena tersenyum "Iya Mas, apapun katamu aku hanya bisa manut."


"Kau memang istri terbaik, termasuk bobo siang bersama mas." mengangkat tubuh Delena dan membawa masuk kedalam kamar pribadi Reno.


"Mas mau apa? Delena terbelalak saat Reno mengangkat dirinya.

__ADS_1


"Pakai tanya mau apa? ya manjain kamu yank." Reno terkekeh, dan menendang pintu dengan satu kakinya.


*****


Malam itu mobil Siska sudah berada di depan gerbang pintu, satpam penjaga membukakan pintu gerbang. Sebelum masuk kedalam Siska membuka kaca mobil dan memberikan sesuatu pada 4 orang penjaga.


"Pak ambil lah ini buat kalian, dan amplop ini bagi 4 untuk yang berjaga malam ini." senyuman Siska malam itu membuat sang penjaga girang dan mengucapkan terima kasih. Siska melanjutkan mobilnya masuk kedalam.


"Terima kasih banyak Nona." seru sang penjaga membungkuk.


"Wah Non Siska tumben ramah biasanya jarang tersenyum dan bicara dengan kita."


"Iya sejak kapan Nona mau menyapa kita yang hanya pegawai rendahan.


"Apa yang dia kasih?" tanya sang penjaga.


"Lihat ada Martabak, nasi kotak, rokok, minuman kaleng, Roti dan uang di amplop ini sangat banyak, mari kita nikmati makanan ini." mereka tampak senang karena Siska yang angkuh sudah menjadi wanita ramah dan murah senyum.


Setelah mobil terparkir Siska masuk kedalam, masih dengan senyuman dibibirnya.


"Siska Kenapa jam segini baru pulang." sapa Andini yang sedang duduk di ruangan tamu bersama Ramon.


"Kakak!" Siska memeluk tubuh Andini dan mencium pipi Ramon. Membuat suami istri itu bingung dibuatnya, karena sikap siska yang tak biasa.


"Ada kabar apa nih, tumben pulang lngsung senyum senyum sendiri." goda Ramon terkekeh.


"Kak, ada berita yang membuat Kaka senang hari ini."


"Kalau memenangkan proyek bagi ku sudah biasa kak, tapi kalau memenangkan hatiku dia berarti pria terhebat yang sudah menaklukkan hatiku." Siska tergelak, sambil mengigit kursi bantal karena gemes.


"Maksud mu?" Ramon mengeryitkan keningnya. Mengambil kopi hitam diatas meja dan menyerumputnya.


"Tommy akan melamar ku kak?"


"Apa?! keduanya sontak kaget, mereka saling bersitatap.


"Ko bisa barengan gitu?" kwkwkw.. Siska tergelak melihat kedua kakanya kaget dan tak percaya.


"Apa Kaka tidak salah dengar Sis? mengulang pertanyaan siska.


"Tidak kak, Mas Tommy akan datang bertemu kakak akhir pekan ini, berarti tinggal lima hari lagi bukan?!" Siska tertawa senang dan menutup wajahnya dengan bantal sofa.


"Kenapa tingkahnya jadi seperti anak kecil sih? Andini memijit keningnya sambil senyum senyum melihat tingkah Siska.


"Ya namanya juga lagi jatuh cinta mah, pasti senang lah. Mama juga dulu gitukan senang bnget pas Papa mau lamar."


"Iya, tapi gak begini juga kali pah." geleng geleng kepala.


"Siska kau sudah yakin ingin hidup bersama Tommy?!" Ramon bertanya untuk meyakinkan hati Siska.

__ADS_1


"Tentu saja Kak, 100% yakin. cepatlah kak nikahin aku dengan mas Tommy." tergelak lagi, mengigit bantal sofa untuk pelampiasan, membuat Andini dan Ramon ikut tertawa.


"Baiklah kaka tunggu kedatangan calon adik ipar ku, dan secepatnya kaka nikahkan kalian."


"Huwaaaa.. Makasih kaka ku sayang." Siska berhambur memeluk Siska dan Ramon.


"Aku kedalam dulu kak, mau mandi."


"Ahh! Ramon bernafas lega "Akhirnya aku berhasil menjodohkan Tommy dengan adik jutek ku itu. Semoga Tommy bisa membimbing Siska agar tidak boros lagi."


Ramon merangkul pundak Andini, mereka berdua tertawa bersama.


***


Di Apartemen Tommy sudah siap dengan lamaran nya, ia tersenyum puas didepan cermin. Setelan jas biru retro yang sudah ia pesan disebuah butik ternama sangat pas melekat di tubuh kekarnya. Senyuman lebar tersungging dibibir tipis Tommy. Sentuhan terakhir memakai pomade di rambutnya menambah pesona seorang Tomy, Tampan dan elegan meskipun usianya sudah tak lagi muda, tapi masih terlihat gagah dan energik. Saat mau beranjak ia mengambil parfum kesukaannya dan menyemprotkan keseluruh tubuhnya.


"Sempurna." tersenyum puas.


Tommy menuruni anak tangga, mengambil Bucket bunga mawar merah diatas meja.


"Apa ibu Helena sudah berangkat dari Mansion? gumamnya melirik arloji ditangan nya.


Tiga hari sebelum lamaran. Tommy sudah datang meminta restu pada Helena, karena Tommy adalah anak angkat dari suaminya Darwin. Tommy sudah dianggap keluarga oleh Helena, bahkan ia masih setia mengurus perusahaan suaminya sampai saat ini, membuat Helena terharu dan mau membantu Tommy untuk melamar Siska.


Suara dering telepon berbunyi, Tommy merogoh saku celananya, tertera nama Nona Delena, ia pun mengangkatnya.


"Malam Nona."


"Kau sudah berada dimana kak Tom?"


"Masih di apartemen, tapi sudah selesai tinggal berangkat."


"Kalau begitu cepat lah, aku dan ibu sudah dalam perjalanan, mas Reno akan menyusul setelah pulang kantor."


"Baik Nona, terima kasih."


"Tunggu aku sayang, tidak lama lagi." tersenyum sumringah, mencium bunga mawar ditangannya.Tommy berjalan cepat meningglkan apartemen. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


'


'


'


'


'


'

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2