
"Mas! Delena memegangi perutnya "Selamatkan anak ku! ucapnya lirih menahan sakit, sudut matanya sudah keluar cairan bening.
"Apa..? Reno terkejut.
"A-n-ak?? ucapnya tercekat
"Iya Mas, aku mengandung anak mu." tiba-tiba mata Delena gelap dan ia tidak sadarkan diri.
"Delena...! Delena.....
Reno sangat panik dan ketakutan melihat kondisi Delena yang pingsan, apalagi ia melihat darah mengalir melewati betis istrinya.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan mu sayang. Delena.." Reno sudah tidak bisa menahan tangisannya, ia mengangkat tubuh istrinya dan keluar kamar menuju lift.
"Dad! ada apa dengan Mommy? terdengar suara Vano yang terkejut mendapati Ayahnya membawa ibunya, dengan keadaan pingsan dalam gendongan, ala bridal style.
"Mommy mu pingsan, Daddy harus bawa ke rumah sakit, cepat kau telpon Dokter Agung."
"Baik Dad! dengan cepat Vano masuk kedalam kamar dan mengambil ponsel, ia mulai menghubungi Dr Agung.
"Malam tuan muda." sapa si penerima telpon dari ujung sana
"Dokter, sekarang berada dimana?!
"Saya berada di rumah, hari ini jadwal saya pulang sore."
"Siapa yang jaga malam di rumah sakit?
"Ada beberapa Dokter jaga malam hari. Sebenarnya ada apa tuan Vano?
"Daddy membawa Mommy kerumah sakit, Mommy pingsan."
"Apa yang terjadi dengan Nyonya Delena?" terdengar suara Dr Agung yang panik.
"Entahlah aku juga tidak tahu, Daddy membawa Mommy dari kamar dalam keadaan pingsan."
"Baiklah kalau begitu, aku akan menuju ke rumah sakit sekarang."
"Oke Dokter!
Vano berlari menyusul Daddy nya yang sudah berada di depan teras.
Pak Yanto berlari saat melihat tuan nya membawa istrinya menuju mobil. Membukakan pintu untuk Reno masuk kedalam mobil.
"Kita kemana Tuan." kata pak Yanto sudah duduk di depan kemudi.
"Rumah sakit, cepat!
"Dad! vano ikut!" vano membuka pintu mobil belakang dan duduk di samping Mommy nya.
Mobil melesat dengan kecepatan tinggi, sebab Delena mengalami pendarahan.
"Dad! lihat betis Mommy ada darah! seru Vano terkejut.
Reno sudah tidak dapat berkata-kata lagi, hatinya diliputi kesedihan yang teramat dalam, terdengar nafasnya kasar dan tersengal. Tak terasa butiran bening menetes begitu saja. Reno terus mendekap erat tubuh Delena. Dadanya begitu sesak.
__ADS_1
"Delena, ma'afkan aku, jangan tinggalkan aku sayang." menciumi kening dan pipinya.
"Dad! Don't cry.."
"Daddy yang salah, Daddy egois telah membuat Mommy mu terluka."
"Penyesalan selalu datang terlambat Dad! ucap Vano tegas. Vano mengerti keadaan kedua orang tuanya yang sedang berseteru. Tapi Vano selalu mengikuti keinginan ibunya untuk tidak ikut campur dalam urusan kedua orang tuanya. walau ia sudah tahu permasalahan Ayah dan ibunya. Namun, vano tetap menghormati keputusan ibunya.
"Seharusnya Daddy lebih percaya pada Mommy daripada pada diri Daddy sendiri! sindir Vano seraya membuang pandangan keluar jendela.
Reno tercengang dengan perkataan anak lelakinya, sorot matanya menatap kesedihan pada Vano dan permohonan maaf.
"Ma'afkan Daddy, Nak! imbuh Reno merasa bersalah.
Seketika didalam mobil hening. Mobil sudah masuk kedalam pekarangan rumah sakit. Dokter Agung dan beberapa tim sudah menunggu di depan lobby. Reno keluar dari mobil dan menaruh Delena di ranjang sorong.
Mereka membawa Delena di ruangan UGD.
"Agung! panggil Reno sebelum masuk kedalam ruangan UGD
"Iya Tuan!
Menarik kerah baju Agung "Kau sebenarnya sudah tahu kalau istriku sedang mengandung, kenapa kau tidak bilang padaku, Hah! seru Reno.
BUG!
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Dokter Agung, hingga kacamata minus nya terlempar ke lantai. Dr Agung mengusap darah di ujung pelipisnya.
"BUG!
"Tuan, sudah cukup tuan!" dua orang rekan Dokter menarik tangan Reno untuk menjauh dari Dr Agung.
"Lepaskan! teriak Reno, menghentak kan kedua tangannya pada kedua Dokter itu.
Saat Reno Ingin memukul kembali, tangannya sudah ditahan oleh Vano.
"Jangan Ded! Dokter Agung tidak bersalah. Mommy yang meminta untuk merahasiakan kehamilannya." Vano menjelaskan dan menenangkan Ayahnya yang sudah terbakar emosi.
Tiba-tiba seorang suster membuka pintu dan berseru "Dokter! bagaimana dengan pasien Nyonya Delena, ia masih mengalami pendarahan." wajah suster itu terlihat Panik dan tegang
"Baik akan kami tangani." Dokter Agung dan kedua rekannya berjalan kearah ruangan UGD.
Reno menarik kembali jas putih Dokter Agung dan berkata "Ku peringatkan padamu! selamatkan Istri dan anakku, atau ku lempar kau ke penjara! hentak Reno seraya melepaskan jas putihnya.
"Berdoa saja tuan, kami tim dokter akan terus berusaha untuk keselamatan Nyonya Delena dan kandungan nya. permisi! Dengan cepat Dokter Agung berjalan masuk kedalam ruangan UGD menyusul kedua rekannya.
Reno terduduk di ruangan tunggu bersama Zevano. Tidak ada pembicaraan dari mereka berdua, pikiran mereka masih terus tertuju pada sosok wanita yang mereka cintai. Terlihat wajah Reno yang memerah dan tegang, raut wajahnya terlihat tertekan dan ketakutan.
Vano beranjak dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Reno. Tak lama kemudian, Vano kembali lagi dengan membawa botol minuman. Menyodorkan botol kemasan berisi air mineral itu pada Ayahnya.
"Minumlah Dad! agar tidak tegang dan sedikit bisa menenangkan."
Reno yang sedang duduk dengan wajah tertunduk, mengangkat wajahnya. Menatap sayu wajah Vano yang berdiri di depannya. Reno menerima botol air yang diberikan Vano. Membuka tutup botol dan meneguk nya separuh.
"Vano duduklah! perintah Reno menepuk kursi di samping nya. Vano menurut dan duduk.
__ADS_1
"Van! Reno menarik nafas dalam, dan menoleh wajah anaknya "Ma'afkan Daddy, sudah menyakiti dan kecewakan kalian semua. Apakah Daddy pantas mendapat maaf kalian? yang sudah pergi dari mansion karena keegoisan Daddy sendiri." wajah Reno tertunduk sedih, yang ada tinggal penyesalan. "Apakah kau, Vana dan Mommy masih mau memaafkan kesalahan Daddy? Daddy mengaku salah, karena udah jadi Ayah yang tidak baik dan tidak berguna!" sesalnya.
"Dad! kenapa Daddy meminta maaf? Vano sebenarnya sudah tahu masalah Daddy dengan Mommy, Namun, Vano tidak pantas ikut campur urusan kedua orang tua. Sebagai seorang anak hanya bisa bantu mendoakan yang terbaik. Tidak ada seorang anak yang tidak memaafkan orang tuanya sendiri." imbuh Vano bijak.
Mata Reno sudah berembun, ia menatap dalam wajah anaknya yang mulai beranjak dewasa. Netra keduanya saling bersitatap dan mereka berpelukan penuh haru.
"Dad! jangan pernah tinggalkan mansion dalam keadaan apapun. Mommy sangat mencintai Daddy." tetesan airmata Vano jatuh di jas hitam Reno. ia jarang menangis, tapi bila menyangkut ibunya, Vano akan menjadi pria cengeng.
"Iya, Daddy janji, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tembak mati saja Daddy bila mengingkarinya." ucap Reno dengan suara tercekat menahan airmatanya jatuh.
"No, Ded! jangan bicara seperti itu, Vano percaya Daddy tidak akan mengingkari nya." pelukan Vano semakin erat, ia begitu sangat menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya.
"Semua hanya salah paham, Daddy dan Momy jangan pernah berpisah lagi, Vano dan Vana sangat menyayangi Mom dan Dad! sakit rasanya bila melihat kalian berpisah. Apalagi ada adik Vano dalam rahim Mommy."
"Iya sayang, Daddy berjanji tidak akan pernah pergi dan meninggalkan kalian lagi."
Mereka mengurai pelukannya. Mata keduanya sudah sembab dengan airmata.
"Kenapa kau tidak cerita ke Daddy, Kalau Mommy sedang mengandung."
"Mommy yang meminta, pasti Mommy punya alasan sendiri, kenapa aku, Om frans dan Dokter Agung tidak boleh cerita."
"Frans?! jadi dia sudah tahu kalau Mommy mu mengandung? brengsek kau Frans! bisanya menutupi dariku!"
"Om Frans dan Dokter Agung tidak salah, Dad! mereka ingin menjelaskan pada Daddy. namun, Mommy tidak mengizinkan mereka bicara."
"Delena...! kenapa kau lakukan ini padaku? kenapa Mommy tidak berterus-terang pada Daddy? ini yang Daddy takutkan, bukanya tidak ingin memiliki anak lagi, tapi Daddy takut kehilangan Mommy. Daddy masih trauma dengan kelahiran kau dan Vana, Daddy bingung!" Reno membekap wajahnya dengan kedua tangan kekarnya, ia terlihat frustasi.
"Dad! Vano mengusap lembut punggung Reno, memberikan ketenangan. "Jangan takut, semua akan baik-baik saja, oke?" Vano tersenyum.
KREKK...
Suara pintu terbuka lebar, keluar Dokter Agung dari ruangan UGD. Reno dan vano beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat.
"Bagaimana keadaan istriku..?! tanya Reno tak sabar.
Terlihat wajah Dr Agung menegang, dengan wajah pucat dan keringat jagung keluar dari pori-pori kulitnya.
๐๐๐
@Pasti banyak reader yang sudah menebak, kalau Reno akan menyesal dan meminta Ma'af. Disini kita bisa ambil hikmahnya. Emosi dan Amarah akan merugikan diri sendiri, tanpa mau mendengarkan dan mencari kebenaran dulu. Sikap ego Seperti ini banyak terjadi di dunia nyata dan banyak terjadinya pertengkaran.
Saling memaafkan adalah sifat terpuji yang di cintai Allah.
Ayo terus dukung Author dengan cara:
๐Like
๐Vote
๐Gift
๐Komen
Bersambung....๐ค
__ADS_1