
"Ada apa dengan Om Tommy? terlihat raut wajah Vano yang ketakutan. Tanpa memakai pakaian dulu, Vano berlari kearah ruangan rawat inap Tomy yang sudah di pindahkan.
JEDER
Pintu kamar terbuka lebar, ia melihat semua orang sedang menangis di depan tubuh Tommy yang terlihat kaku dan tak berdaya. Dengan nafas tersengal dan tubuh gemetar, Vano berjalan masuk kedalam kamar Tommy.
"Ada apa ini? kenapa semua menangis..?
"Tante Siska....."
"Vano....! hiks...
"Daddy...?
"Om Frans..?
"Mommy...?
"Tante fanny..?
"Zara, Aldo, Aldi, Vana...?
Kenapa kalian semua menangis? Vano tidak mendapatkan jawaban dari mereka, hanya suara tangisan yang terdengar pilu dan menyayat hati.
"Tante...! katakan ada apa ini...? tanya Vano mengguncang tangannya.
"Om mu..." Siska menunjuk tubuh kaku Tomy diatas ranjang dengan banyak alat-alat detak jantung yang menghubungkan ke mesin deteksi, juga selang infus dan selang oksigen.
"Ada apa dengan Om Tomy? dia baik-baik saja bukan? tadi aku sempat bicara di kamar mandi dengan Om Tom, dia segar bugar dan sehat.
Siska gelengkan kepala "Suamiku sudah pergi Vano....dia sudah tidak ada disini lagi!!! teriak Siska histeris.
"Tante sabar..." Reno memeluk Siska untuk memberikan ketenangan. "Semua akan baik-baik saja, Tante harus bisa ikhlas!"
"Tidak....!! aku tidak terima dengan semua ini! racau Siska terus berontak dalam pelukan Reno.
Vano menoleh pada wajah pucat itu "Om Tomy........!! seru Vano menubruk tubuh kaku itu.
"Om bangun! Om.....! Om tidak akan pergi kan? Om tidak akan meninggalkan Vano, Tante Siska, Zara, Aldo dan Aldi, bukan...? Om....!!! Hiks...
Vano terus menguncang-gucangkan tubuh dingin dan kaku itu. "Om... bangun Om....!!
"Vano...! sabar Nak, kita harus bisa menghiklaskan kepergian Om Tommy." tutur Delena dengan mata berkaca-kaca, memeluk anaknya dan memberikan kekuatan.
"Tidak Mom! semua ini kesalahan Vano! Vano yang tidak bisa menjaga Om Tom! Hiks..
"Huwaaaaa.... Papa jangan pergi....!! nanti Aldo Nggak bisa belajar sama Papa lagi."
"Papah! jangan tinggalkan Aldi Pah! nanti nggak ada yang bisa ajak Aldi main mobil-mobilan lagi, kak Aldo suka culang! huhuhu....
__ADS_1
Terdengar suara tangisan Aldo yang berusia sembilan tahun, dan Aldi yang baru berusia lima tahun, mereka merajuk saat Ayahnya tidak mau bicara dan tidak bergerak sama sekali.
"Papah bangun Pah! ayo ngomong jangan diam ajah..." seru Aldi yang masih belum mengerti.
"Papah! kenapa Papa jahat! secepat ini meninggalkan Zara! siapa yang akan mengantarkan Zara sekolah lagi...!" Hiks.. hiks..
Gadis berusia sebelas tahun itu menangis pilu didada kaku Ayahnya. Usia Zara anak pertama Tomy terpaut tiga tahun dengan Vano. Saat Tomy menikah dengan Siska, usia Vano dua tahun, dua bulan kemudian Siska hamil anak pertama yang diberi nama Zahra, dua tahun kemudian lahirlah Aldo anak kedua Tommy dan Siska, lalu lahirlah si bungsu Aldi yang berusia Lima tahun. Mereka masih butuh figur seorang Ayah, Tomy seorang suami dan Ayah yang baik bagi keluarganya, kehidupan rumah tangganya jauh dari pertengkaran. Kelurga Tomy dan Siska sangatlah Harmonis dan bahagia. Namun kebahagiaan itu harus berakhir.
Siksa yang masih berdiri melepas pelukannya dari tubuh Reno, Ia berjalan mendekat kearah ranjang Tomy. menduduki tubuhnya di samping suaminya, menatap dalam wajah pias itu, meraih jemari tangannya dan menggenggam nya erat. Menciumi jemari yang sudah dingin.
"Mas mana janjimu padaku? bukan kah dulu kau pernah berjanji padaku, akan membesarkan anak-anak kita bersama? sekarang mana janjimu..? kau malah pergi meninggalkan ku dan anak-anak kita yang masih membutuhkan kasih sayang mu..? adil kah ini Mas...!! kau jahat Mas, kau tinggalkan aku dalam keadaan seperti ini...!! kau tega Mas, telah mengingkari janji...!!
"Tante Siska.." sudah kak, mungkin ini sudah takdir kak Tomy..." Hiks... imbuh fanny merangkul pundak Siska yang terus terguncang.
"Tante, yang sabar.. aku hanya bisa berdoa untuk kebaikan kak Tommy, aku sebagai ibu dari Vano, mohon maaf yang sebesar-besarnya bila Vano banyak membuat kak Tomy susah dan terus merepotkan." tutur Delena lembut mengusap punggung Siska.
"Mah! kenapa Papa tidak belgelak, Papa nggak mau ngomong sama Aldi, Papa malah ya cama Aldi..?"
"Hiks.. hiks... tidak sayang, Papa bukan tidak mau ngomong, papa sedang tidur, Papa butuh istirahat dulu." Siska menarik tubuh kecil Aldi, menggendongnya dalam pangkuan dan menciuminya.
"Frans, tolong bawa anak-anak Tomy keluar dari ruangan ini, beri pengertian padanya, aku tidak tega melihat anak-anak Tante ku yang harus kehilangan Ayahnya di kala mereka masih membutuhkan figur seorang Ayah." ucap Reno seraya mengusap airmatanya yang sudah menetes di kedua pipinya.
"Baik kak!
Frans berjalan mendekat dan membujuk kedua anak Tommy. "Aldo, Aldi ikut Om frans yuk, kita beli es krim."
"Nggak mau Om, Aldi mau dicini ajah, nungguin Papa.." ucap bocah tanpa dosa itu. ia masih belum mengerti apa yang sudah terjadi.
"Papa lagi Bobo dulu, sekarang Aldo dan Aldi ikut Om frans dulu ya, nanti balik lagi." bujuk Frans meyakinkan dua bocah itu.
"Akhir mereka berdua mengangguk. Frans mengendong Aldi, satu tangannya menuntun Aldo untuk pergi ke kantin mencari es krim.
"Hiks...hiks... Vano yang sedang bersandar pada dinding, tubuhnya jatuh merosot ke lantai. Ia menangis sesenggukan dan tubuhnya terguncang hebat, Vano merasa bersalah dan menyesal.
Delena dan Fanny terus menenangkan Siska yang terus menerus menangis, Vana memeluk Zara yang sejak tadi syok dan tidak berhenti menangis.
Reno memanggil beberapa Dokter untuk membantu menyembuhkan Tomy, ia terlihat marah dengan para Dokter yang dianggapnya tidak becus.
"Kami tim Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu pemulihan kondisi Tuan Tommy, namun...kita pasrahkan semuanya pada Tuhan."
"Aku paling tidak suka bila Kalian hanya bilang pasrah dan sabar! berusahalah terus agar Tomy bisa kembali siuman, bukannya aku menentang Tuhan, tapi paling tidak yakin pada diri sendiri kalau kalian mampu membuat Tomy kembali."
"Saat kami periksa denyut jantungnya sangat samar nyaris tak terdengar, semoga dengan alat bantu yang terpasang di tubuh tuan Tomy, bisa menyadarkan tuan Tomy kembali."
Reno mendesah kasar "Baiklah, aku percaya pada keahlian kalian sebagai seorang Dokter, semoga suami tanteku dapat kembali sehat."
Sementara di ruangan rawat inap Tomy, semua keluarga sedang berduka. Siska masih menatap sedih wajah suaminya. Fanny memberikan air putih hangat pada Siska agar bisa sedikit tenang.
"Tante minum lah dulu, sejak tadi Tante belum minum dan makan apapun." ujar fanny memberikan gelas berisi air putih. Siska hanya meneguknya sedikit air, Delena memberikan roti sobek dan ditolak oleh Siska.
__ADS_1
"Makanlah tante walau sedikit."
"Aku tidak ingin makan, bahkan untuk menelan makanan saja terasa menelan krikil."
"Tapi tante, ini demi kesehatan Tante, sejak Tante datang kesini, aku lihat tante belum makan apapun." masih menyodorkan roti pada Siska.
"Aku bilang tidak ya tidak...! teriakkan Siska membuat Delena terkejut, ia menatap tajam wajah Delena seakan ingin mengeluarkan semua uneg-uneg nya.
"Semua ini gara-gara anakmu Vano! andai saja Mas Tomy tidak mengurusi semua masalah Vano, tidak mungkin akan terjadi seperti ini! teriak Siska lagi, bola matanya membesar dibarengi airmata berlinang "Kau tahu? Mas Tomy lebih sayang dan peduli pada Vano di bandingkan aku dan anak-anak ku! seru Siska lagi.
Delena mengusap dadanya yang terasa perih "Tante, itu tidak benar. Kak Tomy sangat sayang pada Tante dan anak-anaknya, ma'afkan Vano bila selama ini selalu merepotkan kak Tomy." Delena mengusap air matanya yang sudah jatuh.
"Tante pliss! jangan marah sama Mommy, Mommy tidak tahu apa-apa, Vano lah yang bersalah! marahlah pada Vano...tapi jangan sakiti hati mommy, apalagi sampai membentak nya, kondisi Mommy juga masih belum stabil." ucap Vano sedih, ia merangkul pundak ibunya.
"Vano... Mommy tidak apa-apa, wajar saja kalau Tante marah, ia sedang sedih. Sekali lagi Ma'afkan Vano, mungkin aku kurang baik mendidik vano, aku akan terus menasehati Vano agar kelak jadi anak mandiri dan jangan menyusahkan keluarga."
"Sudah terlambat, Dena! semuanya sudah terjadi! coba kau ingat, berapa kali suamiku selalu menuruti semua perintah anakmu, itu! Bahkan pada malam hari saat Vano meminta bantuan, Mas Tomy langsung pergi dan meninggalkan rumah tanpa peduli perasaanku dan anak-anak ku! entah apa yang membuat suamiku patuh pada Vano! aku sangat kecewa pada anak mu Delena! Hiks....
"Tante ma'afkan Vano, jangan salahkan Mommy.." jatuh sudah airmata Vano, ia menjatuhkan tubuhnya di depan Siska yang terduduk di tepi ranjang, wajah Vano tertunduk sedih "Apa yang bisa membuat Tante tenang dan tidak sakit hati lagi padaku, Vano akan membayar semua kesalahan vano pada keluarga tante terutama Om Tommy."
"Sudahlah Vano, lebih baik kau pergilah dari ruangan ini, semakin melihat wajah mu, hatiku semakin sakit." ujar Siska tanpa basa-basi, seraya membuang wajahnya kesamping
"Tante jangan seperti ini? Vano tidak bersalah, ini adalah takdir, kita jangan saling menyalahkan." ujar Fanny, menarik tubuh Vano untuk berdiri.
__________________
Readers VS Author ( Dialog receh)
Readers: Thor loe emang rese ya, bikin jantungan readers ajah!
Otor the best: Lah emang ngapah siih tong, pake marah-marah🙄
Readers: Otor tega banget sih, mau bikin reader nangis guling-guling? emang bener Om Tommy mati? nih jantung udah loncat-loncat kaya naik Rollercoaster🥴
Otor the best: Ya nama juga usaha biar tambah seru😄 lagian kontrak si Tomy udah abis peran nye😂 ðŸ¤
"Readers: Eleh gak lucu, Thor! Udah pake acara mewek, bikin jantung deg-degan serr, kepala cenat-cenut!
Otor the best: Ya udah jangan ambekan, besok Otor tambahin 2 Bab, tapi... kalau loe pada kasih BUNDA bunga setaman sama kopi buat sesajen yee.. kwkwkw 🤣🤣
@ kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat 💪 nulis😘
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
💜like
💜vote
💜gift
__ADS_1
💜komen
@bersambung......💃💃💃