
"Davina, apakah kau akan pergi untuk selamanya..? adikmu terpaksa melakukan ini semua karena kau sudah melukai Zevano cucu ibu.. hiks.. hiks...
Sementara didalam mobil Delena terus menangis pilu, saat ia mengusap kepala Zevano, Reno terperanjat kaget melihat noda darah di tangan istrinya.
"Delena! ditanganmu darah siapa?
Delena baru tersadar dan ia melihat kedua telapak tangannya banyak noda darah yang sudah mengering.
"Hiks.. hiks.. hiks... Aku sudah membunuh Davina, kakakku sendiri!
"Apa...?! mata Reno terbelalak sempurna, ia sangat terkejut dan menatap tak percaya pada istrinya yang menangis sesenggukan.
"Sudah tenangkan pikiran mu dulu Dena, jangan panik semua akan baik-baik saja." ujar Tommy menasehati.
"Tapi apa mungkin Davina meninggal di tangan mu yank?"
"Aku tidak tahu Mas"... hiks.. hiks..
"Sudah sekarang fokus dulu sama Zevano."
"Tom, kau sudah telpon Dokter Iskandar?
"Sudah, tim Dokter sedang menunggu."
Mobil sudah sampai di rumah sakit, Reno dengan cepat berlari masuk kedalam sambil menggendong Zevano diikuti Delena dan Tommy, tim Dokter sudah datang menunggu, mereka masuk keruangan perawatan anak emergency, Zevano dengan cepat langsung ditangani.
"Maaf Tuan dan Nyonya bisa menunggu di luar, Zevano sudah ada tim Dokter yang periksa."
"Baiklah Dok.."
Delena dan Reno keluar dari ruangan dan menunggu didepan ruangan, Delena terlihat tidak tenang dan mundar mandir didepan pintu.
"Mas bagaimana keadaan Zevano, kenapa aku tidak boleh ikut masuk kedalam."
"Sayang tenang ya, sudah ada Dr Iskandar yang menangani Zevano, kita tidak di izinkan masuk supaya tidak syok melihat vano."
"Tapi aku ibunya! aku berhak tau kondisi anakku! hiks... hiks...
Reno memeluk tubuh istrinya memberikan ketenangan "Sudah kita berdoa saja untuk kebaikan Zevano."
Memberikan ruang untuk Delena duduk dan merangkul istrinya dalam pelukan, Delena terus menangis terisak di bahu Reno.
"Sayang... aku sangat merindukanmu." mengusap lembut kepala Delena "Aku sangat takut kehilanganmu dan ternyata kau pulang kerumah dalam keadaan seperti ini, bertengkar dengan Davina dan terjadilah musibah ini."
"Maafkan aku Mas, tidak bisa jadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anakku." hiks...
"Ssstttttt... kau jangan bilang begitu." mengusap lembut airmata Delena "Kau sudah melakukan yang terbaik untuk ku dan anak anak kita, kau adalah mother yang istri yang terbaik di dunia ini, sungguh aku sangat sakit saat kau minta berpisah dari ku karena menuruti kemauan Davina."
"Aku terpaksa Mas.. hiks.. hiks... karena aku sudah tak tau harus apa? pikiran ku benar benar buntu, saat itu yang aku pikirkan keselamatan Zevano, aku lelah Mas.. sangat lelah.." ucapan Delena semakin lemah dan tak berdaya.
Melihat keadaan istrinya yang benar-benar syok Reno ikut terharu dan meneteskan airmata dari sudut matanya, "Maafkan Mas sayang.. sudah membuat mu menderita." mencium kening istrinya. "Percayalah padaku semuanya sudah berakhir, Mr Black sudah aku tangkap dan Davina sudah membayar semua perbuatannya."
"Aku telah membunuhnya, aku begitu kesal dan sakit hati saat anak ku jatuh kebawah, aku melakukan semua itu dibawah kesadaran ku hingga akhirnya Davina...hiks..hiks...
Reno mendekapnya semakin erat "Tidak sayang, kau tidak salah.. kau sudah melakukan dengan benar, aku akan melindungimu, kau tenang saja ya..,"
__ADS_1
Tommy datang membawakan minuman, memberikan pada Delena dan Reno.
"Minumlah dulu biar kau lebih tenang Dena."
Ceklek!
Dr Iskandar keluar dari ruangan dengan ekspresi sedih.
Delena dan Reno beranjak dari duduknya dan mendekat pada Dr Iskandar.
"Bagaimana keadaan vino Dok..?"
"Kondisi nya sangat memprihatikan, ada benturan keras mengenai kepalanya, kami akan meronsen bagian kepala Zevano apabila ada pendarahan harus segera di operasi."
"Apa..? tidak dokter .. hiks.. hiks... Zevano!
Delena hampir jatuh karena lemas dengan cepat Reno merangakulnya.
"Dokter boleh aku melihat anakku?"
"Silakan Tuan, tapi Zevano belum sadarkan diri, infusan ditangannya untuk menguatkan tubuhnya yang lemah, ia sedang dalam masa kritis dan kami harus menjaganya dengan ekstra."
Reno, Delena dan Tommy masuk kedalam ruangan Zevano. Delena langsung mendekat dan menciumi anaknya yang terkapar lemah tak berdaya.
"Zevano... Maafkan mommy Nak.." hiks.. hiks.. "Biar mommy saja yang menggantikan mu, daripada kau harus menderita." tangisan Delena semakin dalam bibirnya gemetar menahan sakit dihatinya melihat penderitaan anaknya.
"Sayang.. sudah jangan seperti ini, Zevano akan baik baik saja."
"Kau jangan membohongi diriku Mas, kau dengar Dokter Iskandar bilang vano dalam masa kritis! aku yang bersalah tidak bisa menjaga anak ku sendiri! hiks.. hiks..
"Aku nggak sanggup mas melihat anakku tak berdaya?" hiks.. hiks...
Tiba-tiba seluruh tubuh Delena lemas, penglihatannya gelap dan ia jatuh dalam pelukan Reno.
"Delena... Delena...!"
"Delena pingsan Reno, kau baringkan di ranjang, sepertinya ia begitu syok."
Seorang Dokter memberikan ruangan khusus untuk Delena, Reno mengangkat tubuh istrinya untuk di periksa.
"Dimana cucu ku! tiba tiba Andini datang bersama Ramon, fanny dan Siska.
"Kak Andini, Mas Ramon." Tommy menghampiri dan memberi ketenangan pada Andini yang sudah terisak.
"Sabar ya kak, doakan Zevano sehat kembali."
"Bagaimana aku bisa sabar menghadapi ini, Cucu ku terjatuh dari lantai lima, dan untungnya masuk kedalam kolam renang, masih bisa selamat." hiks.. hiks...
"Mas, bagaimana keadaan keponakan ku." Siska ikut bersedih dan menitikkan air mata.
"Sangat memprihatikan, kita harus berdoa untuk kesembuhan Zevano."
Mereka semua masuk kedalam ruangan Zevano, tak lama Dr Iskandar datang dan memberikan keterangan pada Ramon dan Andini. keluarga Reno begitu berduka melihat kondisi Zevano dan mengutuk perbuatan Davina.
"Dimana Reno..? tanya Ramon
__ADS_1
"Berada di ruangan perawatan, Delena pingsan saat melihat kondisi Zevano."
Sebenarnya Ramon dan Andini tidak pernah tahu kejadian yang sedang dialami Reno dan Delena, pertukaran posisi Davina dan Delena pun mereka tidak tahu, setelah kejadian Zevano barulah mereka tahu dari cerita Tommy.
"Kelurga Reno sedang menghadapi masalah dan ujian, tapi kita sebagai orang tuanya tidak pernah mengetahui nya." ujar Andini merasa bersalah, ia terus menangis.
"Begitulah sifat anakmu Reno, dari dulu tidak pernah mau merepotkan kita."
"Tapi pah, ini menyangkut cucuku!" hiks...
"Ya sudah Mah, kita jangan larut dalam kesedihan yang mendalam, kasihan Reno dan Delena, mereka perlu dukungan kita."
Sementara dirumah sakit yang sama, Davina sedang berada di ruangan UGD, Helena bersama seorang pelayan menunggu di depan ruangan UGD. seorang Dokter keluar setelah satu dua menunggu.
"Dokter bagaimana keadaannya?
"Apa ibu keluarga korban?!
Helena terdiam, seburuk apapun Davina pada nya, tetap saja seorang ibu memiliki hati nurani dan ia tidak mungkin menghilangkan darah dagingnya sendiri.
"Dia anak ku!"
"Bisa keruangan ku, kita bicara disana."
Helena mengangguk dan mengikuti langkah Dokter itu masuk kedalam ruangannya. Helena duduk setelah di persilahkan.
"Begini bu.. mengenai kondisinya, ada pendarahan di otaknya dan kami sudah ronsen bagian kepalanya, ada batok kepalanya yang retak, istilah kedokteran menyebutkan geger otak!"
"Apa...?! Helena terkejut "Apa anakku bisa normal kembali Dok, atau pendarahannya bisa disembuhkan."
"Kami akan menjalani operasi bila ibu bersedia menandatangani, karena resikonya sangat fatal, anak ibu bisa hilang kesadarannya atau koma, bisa juga selamat tapi bisa mengalami stres dan kejiwaan, atau ilang ingatan."
Helena terus meneteskan airmata, rasanya ia sudah pasrah melihat kondisi anaknya yang mengalami tragis.
"Dokter, lakukan untuk operasi anakku, apapun hasilnya aku pasrah."
"Baiklah bu!"
"Aku permisi dulu Dok." Helena beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Dokter, berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit.
'
'
'
'
'
'
'
Bersambung.....💃💃💃
__ADS_1