
Vana yang sedang duduk di sofa seraya main game, di panggil Vano."
"Vana..., sini cepat!"
Vana berjalan mendekat "Ada apa Kak?!
"Kau masih ingat flashdisk yang kau temui di depan gerbang rumah Oma?!
Vana sedang mengingat...
"Ohh flashdisk itu, yang aku temui di deket pintu gerbang. iya kak, kalau tidak salah vana taruh di kamar ada di tempat pensil."
"Kau simpan flashdisk itu, dan jangan kasih tahu siapa-siapa termasuk Daddy dan Mommy."
"Memangnya, ada apa dengan benda kecil itu? kenapa Daddy dan Mommy tidak boleh tahu?
"Pasti banyak rahasia di dalamnya, kakak akan mengeceknya di laptop, bila sudah pulang dari rumah sakit."
'Oke kak, Vana akan tutup mulut dan tidak akan cerita dengan siapapun."
"Bagus, Dek." mengacak rambut adiknya dengan gemes.
Seminggu telah berlalu, Vano dan Helena sudah kembali ke mansion Reno. Delena meminta ibunya untuk tinggal bersamanya kembali, setelah kejadian perampok itu. ia tidak ingin kejadian di rumah ibunya terulang lagi sampai waktu yang dirasa aman.
"Dena, kau masak apa pagi ini?! suara Davin sudah berada di belakang punggungnya.
"Haiii kak, lihat tangan ku penuh terigu. Aku sedang membuat adonan pastel, Kaka bisa bantu aku masukkan mie spaghetti di air mendidih itu?
"Tentu saja, biar sekalian Kaka yang buat saos nya." ujar Davin seraya memasukkan mie spaghetti berbentuk lidi kedalam panci.
"Oke, makasih kak!
"Apa suami-suami kita masih belum selesai fitness."
"Sepertinya, belum selesai."
"Boleh ibu membantu kalian?!
"Ibu..."
Davin dan Dena menyahut bersamaan, seraya menoleh kebelakang. Tersungging senyuman merekah di bibir Helena. Seperti inilah yang ia harapkan, kedua anak kembarnya hidup rukun dan damai. Di masa tuanya Helena akan hidup tenang bersama kedua putri dan cucunya.
"Dena sedang membuat pastel bu, ibu boleh membantu mencetaknya."
Delena mengambil kursi kayu untuk Helena duduk. Karena ia tidak ingin ibunya berdiri. Apalagi penyakit rematik nya sering kambuh.
"Dena, dimana kau taruh penggiling daging?! tanya Davina seraya mengeluarkan daging dari lemari pendingin.
"Ada di rak atas kichen set, kak!
"Nyah, biar saya ikut bantu." dua orang pelayan yang biasa memasak di dapur membantu Delena, tak enak hati melihat majikannya memasak.
"Mbak sari dan Mbak Amy lebih baik membantu menyiapkan piring dan gelas, dan bantu mencuci perabot saja. Semua biar kami saja yang memasak, kebetulan ini moments masak bersama keluarga."
"Baik Nyah!
__ADS_1
"Wah, senangnya melihat kalian masak bersama." suara berat Robert mengagetkan mereka bertiga.
"Kak Robert, sudah selesai fitness nya?!
"Sudah, suamimu si Doraemon meminta kopi." canda Robert terkekeh.
Delena mendelik, "Ko Doraemon, apa suami ku sejelek itu?! timpal Delena mengerucutkan bibirnya.
Davina menahan tawanya, melihat kelakuan suaminya yang jahil. Helena yang sibuk mencetak pastel tersenyum dikulum.
"Sayang, kau pagi-pagi sudah membuat Istri CEO tampan itu merajuk." sindir Davina gelengkan kepala.
"Ibu mertua sayang." Robert merangkul pundak Helena "Benar yang aku katakan bukan? Reno pantas di sebut Doraemon, ia memiliki kantong ajaib, apapun yang kami minta pasti ia tinggal mengambil dalam kantongnya dan terkabul."
Helena dan Davina sudah tidak bisa menahan tawanya lagi, mendengar ocehan Robert. Delena yang mengerucutkan bibirnya ikut terkekeh.
"Yank, bisa buatkan Mas kopi ya? sekalian buat Tuan Doraemon." Robert terus menempel pada Istrinya, seraya mencari kesempatan mencium pipinya.
"Ish geli Mas, cukurlah kumis mu dulu." gerutu Davina, sambil tangannya mengaduk saos spaghetti diatas wajan.
"Kamu kalau lagi masak bikin gemes sayang." mencium sekali lagi.
"Mas, apa tidak malu di lihat ibu dan Dena, sudah sana pergi, kopinya biar Mba sari yang antar."
"Muehehehe... Maksih sayang." Robert melangkah pergi meninggalkan dapur.
"Ternyata kak Robert itu, selain penyayang dia juga humoris, ya kak! beda loh dengan Mas Reno yang tidak bisa di ajak humoris dan selalu serius. Tapi penyayang kelurga, dan keluarga prioritas nomor satu."
"Sifat orang tidak ada yang sama Dena, karakter suamimu Reno keras, dan Robert memiliki karakter humoris, ia bisa menetralkan suasana. Makanya Reno dan Robert bisa jadi sahabat. Mereka bisa mengimbangi karakter mereka masing-masing. Tapi ibu sangat sayang dan bangga pada kedua mantu ibu, mereka sangat menyayangi istri dan anaknya."
Semua masakan sudah selesai di hidangkan di atas meja. Mereka semua sudah berkumpul di meja makan dan sarapan pagi bersama.
"Vano, apa punggung mu masih sakit?" tanya Davina perhatian.
"Masih suka ngilu, Mih! tapi tidak usah khawatir, sebentar lagi juga sembuh."
"Aku mengutuk perbuatan mereka yang sudah melukai ibu dan keponakan kesayangan ku." sergah Davin kesal.
"Biarkan saja, mereka sudah mendapatkan balasannya dengan hukuman seumur hidup." kata Robert menimpali.
"Lalu bagaimana dengan flashdisk itu Ren, apa kau sudah menemukan nya?!
Seketika Vano dan Vana saling bersitatap. Vana masih belum menemukan flashdisk itu, ia lupa menaruhnya. Dikamarnya begitu banyak pernak pernik dan mainan, Vana masih terus mencarinya.
"Nanti biar aku bantu Carikan." bisik Vano yang duduk berdampingan dengan adiknya.
"Vana bilang ia sempat menemukan dan di buangnya kembali, ia tidak begitu mengerti dengan isi flashdisk itu. Aku juga penasaran apa isinya, aku menyuruh anak buahku untuk mencari di sekitar rumah ibu."
Semoga secepatnya ketemu dan bisa tahu kenapa mereka menyerang ke rumah ibu."
Mereka berdua asik mengobrol sambil menikmati sarapan pagi, yang lain hanya menjadi pendengar tanpa ada yang menyahut.
Kebetulan pada hari Sabtu Reno tidak masuk kantor, semua berkumpul di taman belakang dan duduk di kursi taman. Reno masih terus mengobrol dengan Robert di temani kopi hitam. Chika dan Vana bermain bersama, Delena dan Davina merapikan bunga-bunga yang mulai bermekaran di sekitar taman.
"Dena, besok kami akan pulang ke Bali, Mas Robert ada seminar para Dokter hari Senin."
__ADS_1
"Kenapa kak Davin dan Chika tidak menginap seminggu lagi, Chika masih libur kan."
"Mana bisa kakak ipar mu ditinggal jauh dariku, semua kebutuhannya aku yang urus, dari mau tidur sampai bangun tidur pasti dia mencari aku."
"Ternyata kita memiliki suami yang super bucin ya kak! Mas Reno juga tidak bisa jauh dariku." mereka berdua tertawa kecil.
"Iya Dena, aku sangat yakin dan percaya cinta Reno padamu. Walau sifat Reno dingin dan Angkuh di luar rumah, tapi ia akan jadi macam betina yang penurut dan penyayang kelurga di dalam rumah."
Delena tersenyum "Kita harus bahagia ya kak! juga harus bahagiakan ibu yang semakin tua."
"Tentu saja Dena, umur telah mendewasakan kita berdua. Maaf dulu aku pernah menyakiti mu dan ibu. Demi keegoisan ku juga, Vano hampir meregang nyawa." Davina tertunduk sedih, Ia mengusap tetesan airmata yang sudah meluncur bebas.
"Kaka Kenapa menangis? Aku juga minta maaf, kak! sudah melukai kakak, dan hampir geger otak."
"Tidak apa-apa. Ada bagusnya juga bukan?" Davina tersenyum "Semua sudah terjadi dan kita harus saling memaafkan." ucapnya bijak.
Davina dan Delena saling berangkulan. Mereka bagai sepasang saudara kembar yang tidak pernah punya masalah, mereka saling kompak dan saling menyayangi. Biarlah masa lalu menjadi sebuah kenangan dan akan terkubur dalam.
Esoknya, setelah kepulangan Davina dan Robert. Vano dan Vana mulai sibuk mencari benda kecil yang ia cari di dalam kamar Vana.
"Krekk...
"Vana, Vano kalian sedang apa? kenapa kamar Vana jadi berantakan begini?! kedatangan Mommy nya yang tiba-tiba, mengagetkan mereka berdua.
"Mommy....?!" mereka berdua berseru.
"Vano hanya bantu Vana, beres-beres kamar Mom"
"Oke, tapi jangan lupa tidur siang."
"Oke Mom..!"
Pintu sudah tertutup, setelah Delena pergi dari kamar Vana. Mereka mulai sibuk mencari kembali.
"Ketemu! teriak Vana seraya menunjukkan benda kecil itu pada Vano.
"Benar ini yang kita cari, Dek!"
"Cepat kak, kita lihat isinya?
"Vana, kunci dulu pintunya, jangan sampai Mommy dan Daddy masuk tiba-tiba."
"Oke, Kak!
Setelah pintu terkunci, Vano mengeluarkan laptopnya dan menyalakan.
Lalu apa yang terjadi,,??
🙄
🙄
🙄
BERSAMBUNG........
__ADS_1
Untuk menambah semangat Author Up lagi, jangan lupa bantu LIKE, VOTE/GIFT, RATE BINTANG 5, SERTAKAN KOMENTAR KALIAN 😍😘😘