ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Kejujuran Fanny


__ADS_3

"Ambillah darahku sebanyak yang dibutuhkan anakku Reno, karena dia adalah segalanya bagiku dan keluarga kita semua, jangan sampai anakku tidak tertolong!


Baru kali ini Andini melihat suaminya meneteskan airmata untuk Reno anak laki satu satunya, Reno adalah penerus dan segalanya bagi Ramon.


"Baiklah Tuan Ramon, ayo kita keruangan pengambilan darah, karena tuan Reno harus segera di operasi."


Ramon mengangguk dan mengikuti langkah Dokter Iskandar untuk mengambil darah.


"Tuan Ramon, pengambilan darahnya sudah selesai, Untungnya golongan darah Tuan Reno masih ada persediaan di rumah sakit ini, jadi tidak perlu mengambil darah tuan sebanyak delapan kantong.


"Terima kasih Iskandar, kau memang sahabat terbaik ku yang selalu ada untukku."


"Tentu saja itu sudah tanggung jawab ku." tersenyum lebar "Sekarang kau istirahat lah, kondisi mu mulai lemah."


Ramon beranjak dari ranjangnya "Tidak, aku akan menunggu sampai anakku selesai di operasi."


"Baiklah kalau itu permintaan mu Tuan!


"Jangan panggil aku Tuan, kita ini sahabat!


"Kau atasan ku Ramon, aku bekerja padamu rasanya tidak pantas hanya panggil nama."


"Terserah kau saja! Ramon mengalah.


Tim Dokter masih mengoperasi Reno, lampu tombol di depan pintu masih berwarna merah, itu tandanya operasi belum selesai. Sudah satu jam berlalu, Delena, Ramon dan Andini masih setia menunggu didepan pintu.


Delena terus mundar mandir didepan pintu, ia terlihat gelisah dengan ekspresi cemas, Andini berjalan mendekat dan memberikan ketenangan pada mantunya.


"Delena sabar Nak, kau duduk saja ya."


"Mama aku tidak bisa diam seperti ini, sementara suamiku sedang berjuang melawan maut." hiks...


"Mama sangat mengerti kau begitu menghawatirkan Reno nak, tapi Mama juga tidak ingin kau sakit, lihat kondisi mu terlihat lemah."


"Aku tidak apa-apa kok Mah, aku berusaha kuat untuk suamiku, aku tidak bisa kehilangan Mas Reno." hiks... Andini memberikan pelukan hangat pada mantu kesayangan nya itu.


Lampu tombol depan pintu berubah warna hijau, itu artinya operasi sudah selesai. Pintu ruangan terbuka lebar, keluar Dokter Iskandar dengan senyum tipis pada dua wanita di depannya.


"Bagaimana dengan Mas Reno Dok..." tanya Delena tak sabar.


Dokter Iskandar melepas kacamata minusnya, ada lingkaran coklat dibawah matanya yang terlihat lelah "Operasi nya berjalan lancar."


"Alhamdulillah..." Andini dan Delena berucap syukur bersamaan.


"Boleh aku menemui Mas Reno?"


"Belum dulu, tunggu sampai dipindahkan ke ruangan rawat inap."


"Terima kasih Iskandar." ujar Ramon menepuk pundak sahabatnya.


"Sama sama Tuan."


Reno ditempatkan di ruangan rawat inap khusus, ia masih terbaring lemah diatas ranjang dengan selang infus di tangannya. Delena berjalan mendekat dan duduk disamping ranjang, menggenggam erat tangan suaminya dan menciuminya berkali kali.


"Mas Reno..." suara Delena tercekat menahan tangisannya yang sejak kejadian malam itu selalu menangis, menatap iba wajah Reno yang masih belum siuman pasca di operasi. istri mana yang tidak sedih melihat suaminya terkapar tak berdaya, istri mana yang mau kehilangan suaminya, istri mana yang rela melihat suaminya menderita demi membela kelurga dan kehormatannya, coba tanyakan pada semua istri di dunia ini? karena sejatinya cinta, ketulusan dan pengorbanan akan membawa suatu hubungan dalam keluarga yang bahagia dan harmonis.

__ADS_1


Delena tak kuasa lagi untuk menahan tangisannya, bola matanya terus berkaca-kaca dan airmata itu mengalir bebas begitu saja. "Mas aku sudah berjanji bukan? akan selalu berada di sisimu." berbisik lembut ditelinga Reno, lslu mencium keningnya.


"Aku tidak akan meninggalkan mu sampai kau terbangun, Mas." Delena membenamkan wajahnya di pinggir ranjang dan tertidur pulas.


Sebuah tangan kekar mengusap lembut pucuk kepala Delena "Sayang jangan menangis lagi, sudah cukup airmata mu terbuang dengan sia sia, aku tidak akan meninggalkan mu secepat itu! suara itu terdengar nyata di telinga Delena, dengan perlahan ia membuka mata dan mengangkat kepalanya, terlihat senyuman mengembang dari bibir Reno.


"Mas Reno kau sudah bangun!" Delena berlonjak senang dan tersenyum sumringah.


"Terima kasih sayang, kau selalu ada di dekat ku, menemaniku dalam suka dan duka, kau telah menepati janjimu, kau bukan hanya seorang istri, tapi juga malaikat tanpa sayap."


Delena tak kuasa untuk tidak memeluk suaminya, Reno merentangkan kedua tangan, Delena masuk dalam dekapan hangat suaminya.


Dari depan pintu Andini dan Ramon tersenyum sumringah melihat kebahagiaan anak dan mantunya, cinta keduanya begitu kuat hingga tidak terpisahkan lagi. walau badai terus menghantam keduanya, tapi mereka sanggup berdiri kokoh.


*****


Sore itu usai pulang kuliah, fanny mengadakan pertemuan kembali dengan Justin. jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Fanny sudah berada di sebuah cafe tempat yang sudah disepakati bersama Justin, ia memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam cafe mengambil posisi duduk paling pinggir, membuka jaket dan menaruhnya di punggung kursi, fanny sengaja posisi duduknya dekat kaca agar terlihat dirinya sudah sampai di tempat itu.


Seorang pelayan datang menyodorkan menu.


"Sore Nona, anda ingin pesan apa?


"Juice sirsak ya."


"Ada lagi?


"Tidak ada!


Pelayan itu pergi meninggalkan tempat Fanny.


"Itu seperti Shella! wanita yang ribut dengan ku waktu di clubs itu, mau apa dia kesini? apa aku samperin saja ya, ada perlu apa ke cafe ini! saat Fanny ingin beranjak dari duduknya, dari arah belakang seseorang memanggil namanya.


"Fanny!


Fanny menoleh asal suara itu, dan.melihat Justin sudah berdiri di belakang nya.


"Maaf fanny aku telat, jalanan sangatlah macet di jam pulang kerja."


"Tidak apa-apa, aku baru dua puluh menit sampai!"


Justin mengambil posisi duduk di depan fanny. tanpa banyak basa-basi ia bertanya pada intinya "Apa yang ingin kau bicarakan padaku fan?! sepertinya sangat penting!" melirik wajah fanny yang sedang menyedot juice sirsak di depannya.


"Justin atau Erland? seharusnya aku memanggil namamu apa?


"Kedua duanya adalah nama ku, kau panggil Justin atau Erland bagiku sama saja!"


"Oke! menyedot kembali juice sirsak itu. "Aaachh.. aku lupa! kau belum memesan minuman, apa aku panggilkan pelayan?


"Tidak perlu! katakan lah apa yang ingin kau bicarakan? tanya Justin tak sabar, menyipitkan matanya dengan melipat tangan di dada.


"Ehem! Fanny berdehem untuk merealisasikan keadaannya saat itu, karena ia terlihat gugup untuk membicarakan keputusannya tentang perjodohan kedua keluarga itu.


"Boleh kah aku bertanya padamu! tanya Fanny lagi.


Sebuah anggukan kepala mewakili hatinya. kalau Justin setuju.

__ADS_1


"Apa kau tidak merasa canggung dengan perjodohan kita ini!


Justin menyondongkan tubuhnya kedepan, "Apa maksudmu fanny?! Justin mengeryitkan dahinya, seakan bingung dengan pertanyaan fanny.


"Kau jangan pura-pura bodoh just! kau tau bukan?" kalau aku tidak menyukai perjodohan ini sejak awal, jadi...


"Jadi apa?! Justin memotong ucapan fanny dengan ekspresi dingin "Kau ingin memutuskan perjodohan kita ini!


Fanny menggigit bibir bawahnya "Iya just! aku tidak bisa meneruskan perjodohan ini!


"Why...?"


"Karena aku tidak pernah mencintai mu!


"What! ucapan Justin terhenti. "Aaaccchh! Justin mendesah kasar.


"Oke.. oke.. kau sabar dulu, aku tau kita belum mengenal dan mendalami perasaan kita masing-masing, tapi tidak ada salahnya kita mencoba?! berbicara dengan makna yang tersirat dan terus meyakinkan fanny.


"Tidak bisa Justin! kau jangan memaksa ku! suara fanny mulai meninggi.


"Apa kau ingin menyakiti kedua orang tua kita dengan batalnya perjodohan ini?!"


"Lebih sakit lagi bila aku menikah dengan orang yang tidak pernah aku cintai!


"Kau bisa mencintaiku dengan berjalan nya waktu fan! terus meyakinkan fanny dengan ekspresi memohon, menggenggam tangan fanny yang mulai dingin "Aku sangat mencintaimu fan!


Menarik kedua tangannya "Tapi aku tidak mencintaimu! aku mencintai pria lain just!


"Siapa Pria yang kau cintai itu? menatap tajam wajah fanny "kau jangan pernah berdusta hanya untuk menggagalkan perjodohan kita ini!


Fanny beranjak dari duduknya "Aku tidak pernah berdusta! karena aku sudah berpacaran dengan kekasih ku sebelum kau datang dalam kehidupan ku just!


"Kau tidak bisa lakukan ini padaku, fanny!


"Terserah padamu, aku mau perjodohan kita cukup sampai disini! ucapan Fanny bagaikan bom atom yang meledak dengan dahsyat, hati Justin begitu terluka dan sakit, dadanya bergemuruh, Fanny mengambil tas selempang yang berada diatas meja dan berjalan pergi meninggalkan Justin yang terpaku dalam diam.


"Sial! Justin mengepal kedua tangannya.


"Brakk! suara geprakan meja mengagetkan semua orang yang berada didalam cafe, semua mata menatap kearahnya.


"Siapa Pria itu! aku harus mencari tahu siapa pria yang fanny cintai! akan ku habisi dia! ucap Justin geram, ia berjalan pergi meninggalkan cafe dengan amarah yang mendalam.


'


'


'


'


'


'


@Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2