
Mereka saling berangkulan.
"Wahh kau tambah tampan Frans." puji Erland tersenyum lebar, sebenarnya Erland kaget melihat berjalan Frans yang berbeda, tapi ia urung bertanya karena takut menyinggung sahabatnya yang sudah bertahun tahun lamanya berpisah.
"Kaupun sangat tampan bahkan lebih tampan dari SMA dulu."
Erland tergelak "Ayo aku kenalkan dengan calon tunangan ku."
"Kau bersama calon tunanganmu?"
"Iya tentu saja, ayo aku kenalkan."
Mereka berdua berjalan mendekat kearah meja yang sudah dipesan Erland.
Saat sudah berada didepan meja bundar, Erland perkenalkan calonnya dengan frans, wanita itu sedang tertunduk, tangannya sedang mengetik diatas ponsel.
"Sayang, kenalkan sahabatku sudah datang."
Wanita itu mngangkat kepalanya dan menoleh pada dua pria didepannya. wanita itu terperanjat kaget tak percaya dengan apa yang ia lihat, jantungnya hampir saja berhenti.
"Deg! jantung itu hampir saja meledak. tak jauh beda dengan frans, hatinya bagai teriris belati sembilu, hatinya begitu sakit dan terluka tapi tak berdarah. "Fanny!" gumam frans dalam hati. "Apakah aku tidak salah lihat, pria yang dijodohkan oleh mu adalah sahabatku sendiri!" tiba-tiba mata frans sudah berembun.
"Frans! kau kah itu, kenapa kau berada disini? bathin fanny menatap nanar.
"Frans, kenalkan ini calon tunangan ku Fanny, cantik bukan? Erland tersenyum bangga.
Mereka berdua saling bersitatap, bagai deburan ombak yang menghancurkan batu karang yang kokoh, hati frans hancur seketika. Begitu juga dengan fanny tidak pernah menyangka pria yang dikenalkan oleh Erland sebagai sahabatnya dulu, adalah kekasihnya Frans. pria yang sangat ia cintai. Fanny masih menatap tak percaya.
"Haii kenapa kalian pada diam? ayo fan kenalkan ini adalah frans, Sabahat ku walau di SMA yang aku ceritakan padamu."
"Frans! akhirnya aku mendapatkan jodoh di negaraku sendiri, kau harus bangga padaku." celoteh Erland terkekeh.
Dengan lapang dada Frans mengulurkan tangannya "Aku Frans Afredo."
Batin fanny sudah menangis dan meraung raung, ia menarik nafas dalam-dalam menahan agar airmata nya tak jatuh, akhirnya Fanny menerima uluran tangan Frans.
"Fanny!" ujarnya dengan suara tercekat.
"Ayo silahkan duduk frans."
Frans duduk di samping Erland. Tak lama seorang pelayan datang, Erland memesan banyak menu makanan untuk empat orang, frans sedikit bingung dan bertanya-tanya.
"Apa kau mengundang seorang teman selain aku land?
__ADS_1
Erland tersenyum "Tentu saja, tak lengkap rasanya kalau ia tidak turut hadir disini bersama kita."
Frans terdiam sambil terus berfikir dan menerka nerka. Sementara Fanny terlihat bingung dan canggung sambil tertunduk memainkan ponselnya, dadanya terus berdebar tak karuan, ia tak sanggup berada diantara dua pria yang ternyata saling mengenal satu sama lain.
Kenapa kau diam saja fanny? ayolah kita ngobrol bersama jngan sungkan, frans adalah sahabat juga teman satu gank ku."
Fanny hanya menoleh sebentar lalu tersenyum tipis dan tertunduk memainkan ponselnya kembali, sesekali frans menatap wajah Fanny yang terlihat gugup sambil berbicara dengan Erland.
"Hallo.. maaf aku terlambat, ternyata kalian sudah berkumpul." tiba-tiba suara seorang wanita membuyarkan lamunan Fanny yang sedari tadi diam membisu. Mata fanny terbelalak saat wanita didepannya.
"Dia......!" batin nya.
Frans menoleh kesamping, melihat sosok wanita yang baru datang.
"Riska! kau disini juga?" Frans terkejut.
"Hallo.. Riska? wah kau tambah cantik ya." puji Erland, mereka saling berangkulan. Seperti itulah Erland mengikuti gaya kehidupannya di barat, baginya berpelukan Pria dan wanita sudah terbiasa.
"Oh ya Ris, kenalkan calon tunangan ku."
Dan saat tatapan Riska tertuju pada sosok wanita cantik didepannya, matanya terbelalak sempurna, seketika senyuman nya memudar, ia bukan hanya kaget tapi juga tak percaya, hampir saja jantungnya melompat keluar. Bagaimana tidak, yang ia tau fanny adalah kekasih Frans dan mereka saling mencintai, tapi kenapa tiba-tiba Fanny menjadi tunangan Erland, sementara frans ada diantara mereka dan duduk bersama.
"Bagaimana mungkin? gumamnya pelan.
"Bukan kah dia....fan.."
"Eheem..." Frans berdehem mengalihkan perhatian Riska, Riska menoleh pada frans dan mereka saling bersitatap, frans menggeleng pelan tatapannya penuh permohonan, Riska lngsung mengerti.
"Aku Riska sahabat Erland." Riska mengulurkan tangannya dengan senyuman manis dibibirnya. dengan senyuman terpaksa Fanny menerima uluran tangan Riska. "Fanny."
Mereka duduk bersama dalam meja bundar, Riska tampak senang karena akhirnya frans bisa terlepas dari Fanny, ia merasa penantian nya tak sia sia. Tak berapa lama dua pelayan datang menghidangkan makanan yang sudah Erland pesan dan menaruhnya diatas meja. Mereka memulai oboran masalalu saat di SMA dulu, gelak dan tawa pun menghiasi cerita mereka bertiga, Fanny hanya diam dan menikmati hidangan diatas piringnya tanpa selera. sesekali frans menatapnya terlihat wajahnya yang sedih dan murung.
"Fanny kenapa diam saja, ayolah ikut ngobrol bersama kami." Erland yang duduk disampingnya lngsung merangkul pundak fanny. sontak Fanny kaget dan melepas sendok dan garpu yang ia pegang.
"Uhuk,, uhuk,, uhuk,, " Fanny tersedak, ia mngambil air putih didepannya dan meminumnya.
"Kau tidak apa-apa fan?"
Terlihat wajah cemburu frans yang tegang dan memerah, ia hanya bisa menghela nafas dalam.
"Tidak apa apa Justin" tersenyum tipis "Maaf, aku ketoilet sebentar." Fanny beranjak dari duduknya dan berjalan kearah toilet.
Mereka bertiga meneruskan oborannya, tapi frans seperti kurang tertarik mengingat kenangan masa lalunya dulu.
__ADS_1
"Justin?" tiba-tiba Frans menyebut nama itu.
"Kau memanggilku frans?
"Sejak kapan kau berubah nama jadi Justin?"
"Sejak aku tinggal di Jerman, kau tau bukan ayahku keturunan Jerman ibuku asli pribumi, setelah aku dan ayahku meneruskan bisnis kakekku disana, ayah memanggil nama kecilku Justin, Erlangga nama ku di KTP"
"Lalu kapan kalian meresmikan Pernikahan kalian berdua?"
"Maksud mu?" frans mengeryitkan dahinya.
"Ya tentu saja kau dan Riska?
Riska tentu saja tersenyum sumringah.
Frans tercengang mendengar ucapan Erland, buru buru ia klarifikasi "Ahh maaf Erland, aku dan Riska hanya hubungan pertemanan biasa, dan kami sudah putus sejak lama, bukan begitu Ris?" meminta Riska untuk jujur.
"Kau benar Frans." tersenyum terpaksa.
"Tapi tidak ada salahnya kalian berhubungan kembali bukan?"
"Maaf Land, aku ingin ke toilet sebentar." Frans beranjak dari duduknya dan berjalan menuju toilet.
Didalam kamar mandi fanny membasuh wajahnya yang sudah penuh tetesan airmata. "Kenapa harus begini frans? hiks... "Ternyata kau adalah sahabat Justin masa sekolah dulu,. aku harus apa sekarang?" hiks...
"Aku tidak ingin menyakiti mu Frans, tapi kenapa datang Riska kekasih masalalu mu!" Fanny terus menangis mengeluarkan isi hatinya, tak peduli berapa orang yang menatap kearahnya. Sadar jadi bahan tontonan orang yang berada di toilet, ia merapikan riasannya dan berjalan keluar toilet. Saat fanny keluar toilet sebuah tangan menariknya.
"Frans! pekik Fanny terperanjat kaget.
"Fanny ayo ikut aku." ujar frans sambil terus menggandeng tangan Fanny menjauhi toilet.
'
'
'
'
'
BERSAMBUNG 😍
__ADS_1